Episode 16 - Tinju Super Sakti


Dua pekan berlalu. Bintang semakin khawatir dengan kondisi gurunya, Komodo Nagaradja. Dua pekan adalah waktu terlama hibernasi sang guru. 

Kini Bintang sudah semakin piawai menggunakan mata hati, menyerap tenaga alam, dan mengalirkan kenaga dalam untuk melindungi kulit serta memperkuat otot. 

Jadi, kegiatannya lebih banyak berfokus untuk menelusuri Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Kitab tersebut sungguh membuat Bintang terkesima. Banyak informasi yang benar-benar baru baginya. 

Sesungguhnya, kandungan Kitab Pandai akan mencengangkan siapa pun di Negeri Dua Samudera. Bagaimana tidak, di masa kekacauan seribu tahun lalu, sungguh banyak kitab dan buku berharga yang hilang, rusak, bahkan sengaja dibinasakan. Di tangannya, kini sebuah kitab yang disusun pada masa kejayaan berada dalam kondisi baik. Kandungannya teramat banyak memuat informasi langka, bahkan yang telah punah sekali pun. 

Sebut saja informasi tentang segel. Bagi kebanyakan ahli yang hidup saat ini, kegunaan segel hanyalah mengunci, mengikat, mengurung, kemudian membuka sesuatu. ‘Sesuatu’ dalam hal ini terbatas pada benda-benda atas binatang siluman. Dari Kitab Pandai, sebagai tambahan, Bintang menemukan bahwa ahli segel tingkat tinggi sampai dapat menyegel unsur seperti air, api, tanah dan angin, atau dengan kata lain menyegel kesaktian dan jurus-jurusnya. 

Jadi, katakanlah seorang ahli sakti menyerang menggunakan bola api. Ahli segel di masa lalu bisa menyegel bola api tersebut, sehingga lawannya kehilangan kendali atas jurus sakti itu. Kemudian, bila berhadapan dengan seorang ahli silat yang bertarung menggunakan tendangan, maka ahli segel dapat menyegel kaki ahli silat sehingga tak lagi bisa melancarkan tendangan. Membayangkannya saja mampu membuat bulu roma merinding. Tentunya, terdapat banyak syarat dan ketentuan untuk bisa mencapai tingkat pemahaman yang setinggi itu. 

Kemudian, kandungan informasi terkait lamafa tak kalah menakjubkan. Lamafa di masa lalu tercatat banyak melakukan adaptasi dan mengembangkan teknik menikam tempuling. Tempuling tak hanya ditikamkan ke paus atau musuh. Ada lamafa yang melempar tempuling mirip tombak, ada pula yang menebas tempuling layaknya pedang. Ada pula lamafa yang mengimbuh tempulingnya dengan kesaktian unsur alam seperti air, es, bahkan api. Sebuah gambar memperlihatkan seorang lamafa bertubuh besar bermata satu menusukkan tempuling ke dada binatang siluman, dimana sekujur tubuh binatang siluman tersebut terbakar dibalut api. Ada lagi penjelasan tentang tempuling angin milik seorang lamafa tua, yang satu tebasan tempulingnya dapat mengiris binatang siluman kasta perak tingkat atas semudah mengiris bawang merah. 

Informasi tentang lamafa memakan tiga halaman sendiri. Di salah satu halaman, malah ada sebuah gambar yang terlihat lucu. Gambar tersebut memuat satu keluarga lamafa yang terdiri dari kakek, nenek, ayah, ibu dan empat orang anak yang masing-masing memegang tempuling. Anak terkecil adalah seorang gadis cilik berusia tak lebih dari 5 tahun, dengan tempuling bambu kuning panjang berkali-kali lipat tinggi tubuhnya. Pastilah gadis cilik tersebut hanya memegang tempuling sebagai pelengkap saat dilukis, pikir Bintang sambil membalik halaman.  

Sepekan kembali berlalu. Latihan telah menjadi rutinitas Bintang. 

Di antara hari-hari tersebut, Bintang pernah menyempatkan diri ke pantai. Ia berupaya mendeteksi segel yang menyembunyikan Pulau Bunga dari dunia luar. Akan tetapi, mata hatinya tak mampu menjangkau lokasi pusat segel. Pastilah pusat segel terletak jauh tinggi di atas pulau atau nun jauh di luar garis pantai. Terlalu jauh dari batas jangkauan indera keenam Kasta Perunggu Tingkat 2. 

Pada hari ke-25, Nagaradja menyapa Bintang. “Murid…”

Mendengar gurunya terbangun dari tidur, Bintang segera meletakkan Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Ia bergegas menghampiri. 

“Salam, Guru. Bagaimana kondisi kesehatanmu?” 

Nagaradja hanya diam. Lalu menebar indera keenamnya. Gelombang mata hati merangsek cepat ke arah Bintang. Bintang terkejut, tetapi memilih diam. Gelombang indera keenam tersebut lalu menghantam dahinya. Seutas benang cahaya berwarna putih kemudian terlihat menghubungkan mata hati Nagaradja dengan Bintang. 

Seketika itu pula Bintang merasakan rangkaian informasi mengalir deras masuk ke dalam benaknya… 

Tubuh Bintang lemas. Jantungnya berdetak keras. Napasnya terengah. Ini adalah kali pertama ia merasakan mata hatinya terhubung langsung dengan mata hati sang guru, atau siapa pun. 

“Aku wariskan maha jurus silatku…” bisik Nagaradja pelan. Seolah tidak ingin ada orang lain yang mendengar, pada saat yang sama berupaya membangun kesan misterius. Padahal, selama 20 hari terakhir ia sempat terbangun beberapa kali. 

“Tinju Super Sakti!”* suara Nagaradja kini bergema ke seluruh penjuru gua. “Terbagi dalam tiga gerakan,” suaranya makin membahana. “Gerakan Pertama: Badak, Gerakan Kedua: Harimau, Gerakan Ketiga: Elang.” 

Bintang terhuyung selangkah ke belakang. Kepalanya pening. Sungguh guruku kurang kreatif dalam menamai jurus, pikirnya. Istilah ‘Super Sakti’ pernah dipatenkan sebagai julukan oleh ahli lain, bahkan tercatat dalam Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. 

Selain itu, sebagai siluman sempurna yang berawal dari komodo, mengapa menamai tingkatan jurus yang ia ciptakan sendiri dengan nama-nama binatang lain? Bukankah ini merendahkan citra komodo secara umum? Orang akan banyak mempergunjingkan bahwa seekor komodo sakti malah menggunakan jurus milik badak, harimau dan elang… 

Terakhir, bukankah ini jurus 'silat'? Mengapa diberi embel-embel 'sakti'? pikirnya sambil mencari-cari alasan pembenaran.

Bintang hanya dapat menggelengkan kepala. Tak mungkin ia mengkritik gurunya sendiri. Tak mungkin pula ia mengganti nama jurus-jurus tersebut tanpa ijin penciptanya. 

Melihat reaksi Bintang, tatap mata Nagaradja semakin bersinar. Usaha yang telah ia bangun untuk mengenalkan maha jurus silat ciptaannya secara megah mencapai keberhasilan. Walau pun ia terlupa menambahkan efek suara gua bergetar dan angin bertiup saat menyebutkan nama jurus, secara umum ia menilai penampilannya cukup baik. Hanya satu yang mengganjal di hati, ada yang aneh dari gelengan kepada Bintang tadi.

Berlatihlah selama 40 hari,” ungkap Nagaradja dengan bijak. Setelah itu ia kembali memejamkan mata perlahan, menyibak aura keagungan. 

“Oh, ya… berlatihlah jauh dari gua ini. Sebaiknya berlatih di tepi pantai di selatan pulau,” tambah Nagaraja cepat, hampir terlupa. Aura keagungan tadi lutur seketika. 


***


“DUAR!” suara dentuman keras terdengar menggelegar di tepi pantai. Suara memekakkan tersebut muncul bukan karena hempasan ombak, pohon tumbang, atau bahkan karang pecah terkena hantaman pukulan. Suara tersebut ditimbulkan oleh sebuah gelombang kejut.**

Gelombang kejut adalah wilayah dimana terjadinya perubahan pada massa jenis, tekanan, serta suhu udara secara mendadak. Gelombang kejut tercipta karena sesuatu bergerak melebihi kecepatan suara, atau lebih cepat dari 344 m/detik (1.238 km/jam). Kecepatan melebihi kecepatan suara ini biasa dikenal dengan nama kecepatan supersonik. 

Dentuman keras memekakkan telinga itulah yang terjadi sesaat Bintang melepaskan jurus silat Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak. Waktu 40 hari sesungguhnya terbilang super cepat. Perlu ratusan tahun bagi Nagaradja mengasah jurus tersebut, dan lebih dari seratus tahun lagi untuk benar-benar mencapai hasil yang sempurna. 

Pada Gerakan Pertama jurus Tinju Super Sakti, kepalan tinju sebelah tangan dilancarkan beruntun, berkali-kali untuk mencapai kecepatan supersonik. Sebagai syarat, diperlukan paling sedikit lima rentetan tinju berkecepatan tinggi untuk mencapai kecepatan supersonik sehingga menghasilkan gelombang kejut di ujung kepalan tinju. Dari gelombang kejut itulah kemudian nama ‘Badak’ muncul. Hantaman tinju bermuatan gelombang kejut ibarat hantaman tanduk badak yang dapat menggegarkan bukit, meluluh-lantakkan batu karang menjadi kerikil-kerikil kecil. 

Selain itu, dari sudut pandang lawan yang dihantam jurus ini, mereka hanya akan mendengar suara dentuman memekakkan serta melihat, atau merasakan, satu pukulan saja. Kondisi yang sama juga akan dialami bagi penonton yang menyaksikan atraksi jurus. Hal ini dikarenakan rentetan tinju berkecepatan supersonik tentunya hanya akan terlihat samar-samar sebagai satu pukulan tinju. Satu pukulan memekakkan dan mematikan.

Saat ini Bintang sudah mampu melancarkan lima tinju secara beruntun sehingga menghasilkan kecepatan supersonik. Itu pun hanya bisa dengan tangan kanannya saja. 

Bukanlah hal yang aneh bila jurus maha dahsyat ini bisa dikuasai dengan cepat, hanya dalam 40 hari. Mengingat, Bintang diwariskan pencerahan jurus langsung ke benaknya. Ia tinggal menjalani langkah demi langkah paling efisien yang sudah digariskan Nagaradja. 

Setelah memahami dan mempraktekkan jurus ini, Bintang tak secuil pun meragukan keperkasaan Nagaradja berikut jurus silatnya. Sungguh penyebutan Tinju Super Sakti sebagai sebuah maha jurus bukanlah berlebihan. Tidak ada nama yang paling tepat mewakili jurus ini kecuali ‘Tinju Super Sakti’. 

Apalagi menurut informasi yang diwariskan dalam jurus, pada saat Nagaradja dalam kondisi prima, ia dapat meluncurkan satu pukulan jurus Tinju Super Sakti dengan rentetan 20 tinju. Bahkan gunung pun dapat terbalik akibat kedasyatan pukulan Nagaradja saat itu. Rasa hormat kepada gurunya semakin bertambah super. 

Meski demikian, ada dua kelemahan jurus Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak. 

Pertama, kecepatan supersonik yang menghasilkan gelombang kejut menembus hambatan suara. Artinya, suara menggelegar memekakkan telinga adalah efek samping yang tak dapat dihindari. Jurus ini tidak bisa digunakan sebagai serangan mengendap-endap. Terlalu menarik perhatian. 

Kedua, konsumsi tenaga dalam untuk melancarkan satu jurus saja sangatlah besar. Untuk satu hantaman yang terdiri dari lima rentetan tinju berkecepatan supersonik, maka hampir seluruh tenaga dalam di dalam mustika Bintang habis terkuras. Terlalu berisiko bilamana tinju luput dari sasaran. 


Catatan: 

*) Diilhami dari karakter Suma Han yang memiliki julukan sebagai ‘Pendekar Super Sakti’. Suma Han juga memiliki julukan lain, yaitu ‘Pendekar Siluman’. Ia adalah salah satu tokoh dalam serial silat Bu Kek Sian Su karya pengarang legendaris Indonesia: Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Ayo baca karya Indonesia. 

**) Shock wave