Episode 15 - Panglima Segantang


Sebulan berlalu sejak tragedi Bintang. Kehidupan di Dusun Peledang Paus kembali berjalan seperti biasa. 

Di sisi pantai, Lembata Keraf sang Kepala Dusun masih setia memandang laut. Ia menyesali kegagalan perburuan Paus Surai Naga. Sepuluh tahun menanti tak seekor paus pun berlabuh, namun kegagalan perburuan justru terjadi karena ada dua ekor Paus Surai Naga yang datang hampir bersamaan. Sungguh sebuah ironi. 

Yang lebih ia sesali lagi, adalah kehilangan seorang anak cerdas. Kecerdasan Bintang menorehkan secercah harapan bagi Kepala Dusun, dan Desa Peledang Paus secara umum. 

Bermodalkan kesaktian Kasta Perunggu Tingkat 3, Lembata sesungguhnya berencana mengajarkan kesaktian kepada Bintang. Walaupun hampir mustahil membangun Kasta Perunggu Tingkat 2 dalam waktu enam bulan, harapan itu tetap ada. Harapan untuk mengirim seorang anak ke ujian masuk Perguruan Gunung Agung, harapan untuk mengubah nasib dusun. 

Di mata Lembata, kecerdasan Bintang bukan tanpa dasar. Latar belakang kedua orang tuanya… 

Meskipun ibunya nanti menolak, Lembata siap meminta, memohon, bersujud bila mesti. Hatinya telah siap, hanya untuk sebuah harapan. Lencana yang diberikan murid Perguruan Gunung Agung erat dalam genggamannya. Ingin rasanya membuang lencana tersebut. Melempar kesedihan dan kekecewaan jauh ke laut. 

Kini, setiap hari, Lembata keraf ditemani oleh Lamalera memandang laut. Lamalera tidak meragukan bahwa Bintang telah tiada. Tidak pula ia hanyut dalam kesedihan. Ia hanya ingin tidak pernah lupa akan teman bermainnya. 


***


Istana Danau Api berada di sisi utara Pulau Barisan Barat, salah satu dari Lima Pulau Besar di Negeri Dua Samudera. 

Untuk mencapai Istana Danau Api, seorang ahli harus harus menapaki perbukitan sejauh ratusan kilometer. Di ujung perbukitan, terdapat sebuah danau yang sangat luas. Di tengah danau inilah sebuah pulau bercokol. 

Diceriterakan bahwa dahulu kala wilayah danau tersebut merupakan sebuah lembah yang subur nan asri. Sebuah sungai jernih mengalir tenang di tengah lembah, yang menjadi sumber pengairan alami. Karena jauh dari jangkauan manusia, keindahan dan keasrian tersebut bertahan berabad-abad lamanya. Tenaga alam pun tersedia dalam jumlah yang berlimpah. 

Syahdan, seorang ahli mengembara mengasah kesaktian. Tak terhitung jumlah tempat yang telah ia kunjungi sampai akhirnya ia tiba di sebuah lembah yang damai. Betapa ia terkesima menyaksikan tenaga alam murni, berlimpah-ruah. 

Sang pengembara sakti lalu memutuskan mengakhiri pengembaraannya dengan menetap di lembah tersebut. Ia membangun sebuah pondok. Hari ke hari ia habiskan dengan tapa dan latih. Karena tenaga alam yang melimpah, semakin hari kesaktiannya semakin tumbuh pesat. 

Di suatu hari yang cerah, pengembara sakti memutuskan untuk berlatih di bantaran sungai. Tiba-tiba seekor ikan berwarna emas terlihat berenang riang. Meliuk-liuk bermain bersama aliran sungai. Sang pengembara sakti terpesona, betapa indah ikan berwarna emas tersebut. Ia pun mengerahkan kesaktian. Rupanya tidak semudah itu baginya menangkap ikan yang lincah berenang di sungai. Setelah cukup lama berusaha, pada akhirnya, ikan berwarna emas berhasil ia tangkap. 

Pengembara sakti, yang tak lagi bisa disebut sebagai pengembara karena telah menetap, membawa ikan kembali ke pondok sebelum ia kembali berlatih. Namun, alangkah terkejut dirinya ketika kembali, ikan berwarna keemasan tidak ia temui. Di lantai, ia temukan jejak kepingan emas. Ia mengikuti keping-keping emas tersebut kembali ke sungai. 

Betapa terkejutnya sang pengembara melihat seorang gadis berdiri di dalam sungai. Setengah tubuh gadis tersebut berendam di air. Ketika sang pengembara tiba, sang perempuan memutar badan dan menatapnya. 

Pengembara semakin terpana. Tak sehelai pun benang melilit tubuh mulus bernuansa kuning langsat. Sepasang payudara indah tersibak di balik helai-helai rambut hitam panjang yang menari-nari bersama angin. Air sungai, sementara itu, membelai lembut pusarnya. Kejernihan air sungai membiaskan rambut-rambut halus di bawah pusar, nikmat bermain bersama belaian air. 

Pengembara semakin terpana. Kemolekan tubuh perempuan tersebut seolah mengalirkan darah pengembara hanya ke satu titik di bawah. 

Gadis tanpa busana menegurnya, “Aku adalah ikan keemasan yang tadi kau tangkap. Seluruh sisikku berjatuhan. Aku tak lagi bisa kembali ke sungai.” Kesedihan terlihat jelas dari raut wajahnya. 

Baru setelah mendengar suara halus, yang melukiskan kesedihan tak terperi, sang pengembara beralih menatap wajah perempuan itu. Kecantikan yang tiada tara. Tak satu pun perempuan yang pernah ia temui saat mengembara dulu, dapat menyaingi kecantikan gadis tersebut. 

Sang pengembara akhirnya kembali dari keterkejutannya. Hari ini dipenuhi berbagai kejutan. 

“Jika demikian, sudikah kau menjadi istriku dan menetap bersamaku di pondok di bantaran sungai ini?” ujar sang pengembara melamar. 

Perempuan tersebut menatap sang pengembara cukup lama. Kesedihan di wajahnya memudar. Dengan lembut ia berkata, “Tuan, aku bersedia menjadi istrimu. Seluruh tubuh ini akan menjadi milikmu. Hanya satu syarat yang kupinta…” 

“Apa permintaanmu, wahai sang dewi?” 

“Aku pinta Tuan bersumpah, bila suatu hari nanti, kita memiliki buah hati, janganlah kau sampaikan padanya bahwa aku merupakan penjelmaan ikan dari sungai.” 

“Baiklah, wahai dewiku.” Sang pengembara siap melakukan apa saja demi sang dewi, apalah artinya bila hanya dipinta menunaikan sebuah sumpah sederhana itu. 

Sang pengembara dan sang dewi segera menikah. Setelah bersama-sama berlatih ilmu silat di ranjang, mereka dikaruniai seorang putra. 

Waktu terus berlalu. Sang pengembara tak henti mengasah kesaktian. Kecantikan sang dewi tak pernah memudar. Buah hati mereka tumbuh menjadi remaja yang sehat. 

Sebagai seorang ahli, sang ayah ingin mewariskan ilmu silat dan sakti kepada anak remajanya. Namun sang anak hanya berlatih setengah hati. Ia tidak memiliki gairah yang sama dengan ayahnya terhadap persilatan dan kesaktian. 

Suatu hari, emosi sang ayah melihat anaknya yang enggan berlatih memuncak. Ditamparnya anak remaja itu, lalu dalam amarah ia berucap, “Kau anak ikan dari sungai sungguh tiada berguna!”

“Apakah gerangan maksud ayah...?” sang anak merintih sambil menoleh ke arah ibunya. 

Sang dewi yang kebetulan ingin menyemangati latihan ayah dan anak menatap suaminya dengan tajam. “Anakku, naiklah ke puncak bukit tertinggi.”

Seketika itu juga tanah bergetar, langit bergegar. Sang pengembara menyesali kata-katanya yang melanggar sumpah saat pertama suami-istri tersebut bertemu dulu. Ia mengungkap jati diri ibu kepada sang anak. Dalam sesal ia tidak berupaya berbuat apa-apa, pasrah. Nasi telah menjadi bubur. 

Tanah tempat ia berpijak seketika itu juga merekah. Dari celah-celah tanah, lahar panas berhamburan keluar. Dari atas langit air hujan turun sangat deras. Sepasang suami istri tersebut tenggelam dalam perpaduan lahar panas dan air hujan. 

Demikianlah hikayat terbentuknya Danau Api, yang airnya panas mendidih akibat lahar di bawah tanah bertemu dengan air hujan. 

Di tengah danau kini terdapat sebuah pulau yang dikatakan merupakan bukit tempat bernaung sang anak yang selamat dari bencana. Kisah sang anak setelah itu tiada pernah mengemuka. 

“Demikianlah legenda beribu-ribu tahun lalu. Sungguh semua telah awam bahwa sang dewi ialah siluman sempurna,” suara seorang anak remaja terdengar nyaring. 

Jika legenda tentang Danau Api benar adanya, maka sang dewi kemungkinan adalah siluman sempurna pertama di Pulau Barisan Barat. 

“Legenda itu semakin sahih. Bahwasanya Istana Danau Api menyandang sejarah panjang, bahkan lebih lawas dibandingkan Negeri Dua Samudera.”

Ceritera rakyat mengisahkan bahwa istana di pulau yang berdiam di tengah danau dibangun oleh sang anak setengah siluman dalam legenda, sebagai upaya mengenang sang ibu. Selanjutnya, meski dikenal sebagai ‘istana’, sesungguhnya Istana Danau Api merupakan salah satu perguruan persilatan dan kesaktian terkemuka di Pulau Barisan Barat. Semangat membangun perguruan merupakan penyesalan sang anak, dan untuk menebus harapan ayahnya. 

Namun tidak ada yang bisa memastikan kebenaran ceritera tentang upaya dan semangat sang anak yang berdarah setengah siluman itu. Yang nyata ialah istana tua nan megah di pulau di tengah Danau Api sudah berdiri sejak sebelum Negeri Dua Samudera berkuasa. Bahkan, sebelum siluman hadir secara masal ke dunia. 

Pada hakikatnya, Istana Danau Api tidak menggunakan gelar ‘perguruan’ dikarenakan ia hanya menerima murid dari Pulau Barisan Barat dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Adapun alasan penerimaan yang sedemikian dikarenakan tidak ingin kesaktian khas Istana Danau Api dikuasai pihak-pihak di luar Pulau Barisan Barat. Oleh karena itu, penerimaan dan ujian masuk perguruan tersebut pun sangatlah ketat dan berat. 

Sesuai namanya, Istana Danau Api mengajarkan kesaktian yang menekankan pemahaman pada unsur api. Senada dengan legenda, tenaga alam di wilayah Danau Api memang sangatlah berlimpah. Tambahan lagi, panas alami dari danau sangat memudahkan para ahli sakti yang mengamalkan kesaktian unsur api.

“Tak ada yang dapat mematahkan niatku untuk berguru ke Istana Danau Api,” suara anak remaja nyaring kembali terdengar dalam perdebatan.

“Adik Kedelapan, keluarga kita terkenal di seluruh Kepulauan Serumpun Lada karena menekankan pada teknik mengolah tubuh. Keluarga kita menekuni keahlian persilatan, kesaktian hanyalah sebatas kemampuan pendukung saja,” kata Kakak Ketiga. 

“Adik Kedelapan, sebentar lagi usiamu 13 tahun, mengapa harus membuang waktu belajar kesaktian unsur api jauh dari rumah?” kata Kakak Kelima.

“Kakak Kedelapan, engkau paling berbakat dari kita sebelas bersaudara, mengemban harapan keluarga besar,” kata Adik Kesembilan. 

“Adik Kedelapan, garis keluarga kita adalah garis keturunan prajurit, kita wajib mengabdi pada Yang Mulia Paduka Raja,” kata Kakak Keenam.

“Adik Kedelapan, apabila pun hendak menekuni jalur kesaktian, bukankah bakatmu terkait unsur tanah?” kata Kakak Kedua. 

“Kakak Kedelapan, ayo bermain bola ke pantai,” kata Adik Kesepuluh. 

“Kakak serta adik sekalian…. Aku akan menekuni keahlian silat dan kesaktian unsur api pada saat yang bersamaan. Karena di usia 13 tahunlah aku percaya masih belum terlambat untuk mengembangkan kesaktian. Bakat dan tekadku akan membanggakan keluarga besar dan meningkatkan kemampuan diri adalah bukti pengabdian kepada Yang Mulia Paduka Raja. Unsur yang ahli sakti kembangkan adalah yang sesuai dengan hatinya. Petang nanti kita akan bermain bola bersama.”

“Ananda Kedelapan, Panglima Segantang,* mengapa engkau begitu keras kepala?” keluh sang ayah. 

“Ayahanda, dibandingkan kepala, tekadku lebih keras.”

“Baiklah, baiklah. Jika memang sekuat itu tekadmu. Ayahanda akan menyampaikan kepada Yang Mulia Paduka Raja. Jika memungkinkan, Ayahanda juga akan memohon ijin penggunaan gerbang dimensi milik keluarga kerajaan untuk mengantarkanmu.” 



 Catatan:

*) segantang/se·gan·tang/ n seukuran; setakaran; secupak tak jadi ~ , pb sesuatu yang tetap dan tidak dapat diubah lagi