Episode 14 - Kitab Pandai


Sorot mata Bintang berbinar. Ia sudah menunggu-nunggu pelajaran jurus. Awalnya ia pikir belajar jurus adalah langsung belajar teknik pukulan mematikan. Jauh dari bayangannya bahwa harus mempelajari mata hati dan teknik menyerap tenaga dalam terlebih dahulu.

“Ehem…,” Nagaradja seolah berdehem melegakan tenggorokan. Padahal ia selalu berbicara menggunakan indera keenam.

“Sebelum aku mewariskan jurus pamungkas, kau harus terlebih dahulu memahami cara mengalirkan tenaga dalam dari mustikamu,” jelas terlihat gelagat Nagaradja mengulur-ulur waktu. Membangun suasana, sebelum akhirnya memaparkan kehebatan jurusnya.

Bintang lalu mendengarkan penjelasan panjang dan lebar tentang sejarah kesaktian Nagaradja.

Intinya, Nagaradja menjelaskan bahwasanya ia adalah ahli yang memusatkan diri dalam mengolah raga. Pada tahap awal, ia menempa raga untuk menguasai jurus-jurus silat. Akhirnya ia memperoleh pencerahan dalam tata cara menggunakan tenaga dalam untuk memperkuat jurus-jurus silatnya.

Lalu, Nagaradja mengulang lagi penjelasan tentang perbedaaan dan persamaan jurus silat dan jurus sakti, serta keterampilan khusus. Tentang kemampuan melampaui kodrat alam.

Saat penjelasan berlangsung hari beranjak malam. Nagaradja kelelahan berceritera. Bintang kelelahan mendengar.

“Terima kasih atas pencerahan Guru hari ini. Tak terbayang betapa beruntungnya muridmu ini,” sergah Bintang di saat ia mendeteksi Nagaradja hendak berceritera lebih panjang lagi.

“Guru…” Bintang sedikit ragu.

“Katakan saja apa yang kau ingin aku ceriterakan lagi,” ungkap Nagaradja dengan bangga.

“Aku merasakan bahwa tempat penyimpanan pusaka guru berserakan. Izinkan aku membenahi.” Bintang beberapa kali melongo ke dalam lubang tempat nagaraja menyimpan harta bendanya. Indera keenam mengisayaratkan banyak barang-barang luar biasa di dalam sana.

“Oh… Terpesona sejauh itukah kau dengan kisahku sampai-sampai hendak menelusuri lebih dalam jati diri gurumu? Sungguh benar perkiraaanmu. Apa pun hak milik Ahli, tentunya mencerminkan keagungan pemiliknya,” ungkap Nagaradja, tak lagi dapat membendung kesombongan diri.

“Masuk dan benahilah. Bawa keluar apa-apa saja yang ingin kau ketahui lebih lanjut.”

Bintang tidaklah berbohong ketika ia katakan hendak menata benda-benda di dalam ruang penyimpanan Nagaradja. Selain rasa ingin tahu yang terus bertambah dan kini memuncak, alasan yang lebih penting lagi adalah ketidakmampuannya menahan diri ketika melihat segala sesuatu yang berserakan.

Bintang teringat akan pondok mereka di Dusun Peledang Paus, ibunya tak pernah perlu direpotkan dengan barang-barang yang berantakan. Bintang selalu merapikan pondok, meletakkan segala sesuatu di tempatnya, sampai membuat rak susun sederhana untuk penyimpanan.

Bunda, apa yang Bunda pikirkan saat ini? Pastilah Bunda merasa kesedihan yang mendalam. Namun tak perlu dilamunkan, aku akan segera pulang.


...


Keesokan paginya, Bintang melongo ke dalam lubang di dinding gua. Gelap gulita. Ia lalu membuka mata hati, menyisir penjuru ruang. Ukuran ruang itu tak lebih luas dari 5 m persegi. Ada senjata, baju zirah, kitab, dan gulungan naskah. Ada pula bebatuan yang memancarkan aura misterius. Lalu ada sejumlah kantung, kotak dan peti, yang isi di dalamnya tak bisa ditembus oleh mata hati. Semuanya berserakan, seperti begitu saja disempalkan ke dalam ruangan.

Aku perlu membawa beberapa batu kuarsa dari luar, pikirnya.

Saat melangkah keluar, kaki Bintang tersandung sebuah kitab tebal. Ukurannya lebih besar dari kitab-kitab pada umumnya, tapi tebalnya bukan main, hampir setinggi lutut. Kitab seperti apa ini, pikirnya. Sungguh teramat tebal, pastilah sulit membacanya. Mata hati Bintang menangkap halaman muka kitab yang terkoyak menjadi dua bagian, kehilangan sisi bawah. Pada sisi atas halaman muka yang tersisa, tertulis ‘Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian’.

“Hm... kitab tebal itu...” Nagaradja mengamati Bintang. Samar-samar ia teringat seorang sahabat berbagi impian untuk mewariskan pengetahuan dalam tulisan. Lalu teman tersebut membuat sebuah daftar berbagai hal yang dilengkapi dengan uraian singkat dan kadang kala dilengkapi pula dengan gambar untuk lebih menjelaskan.

Impian sia-sia, pikirnya saat itu. Apalagi ketika teman tersebut memintanya membantu menulis dan mengisi kitab tersebut.

Bintang lalu membawa kitab tersebut ke depan gurunya. Dari halaman pertama saja kandungan kitab sangatlah luar biasa. Penjelasan singkat namun lengkap tentang ‘Abu’, berbagai jenis jurus silat dan sakti yang melibatkan abu, dan cara menggunakan abu dalam menunjang keahlian. Belum selesai halaman pertama, ia membalik ke halaman kedua. Sungguh terlalu banyak informasi yang layak dicerna. Ia kini tak lagi membaca secara menyeluruh, hanya membalik satu halaman ke halaman berikutnya. Mencari kata kunci yang menarik.

Sorot matanya berbinar. Kitab ini terstruktur dengan sangat baik. Bintang jatuh cinta. Kitab-kitab yang ia miliki hanyalah beberapa. Beberapa lagi belum layak disebut kitab, hanyalah buku biasa. Buku biasa saja harganya mahal dan sangatlah terbatas. Jika menginginkan buku, penduduk dusun harus memesan kepada saudagar yang berkeliling antar pulau. Kitab ini pastilah berharga lebih dari 300 keping perunggu,* pikirnya.

“Bukan demikian cara seorang Ahli dalam membaca,” tegur Nagaradja pelan. Sentuhlah kitab tersebut dengan telapak tanganmu, lalu arahkan mata hatimu melalui jemari. Seperti ketika kau hendak bermain dengan segel.”

Bintang menuruti. Ia kemudian merasa tenggelam dalam lautan informasi. Informasi terbagi dalam banyak kelompok. Dengan mengirimkan kehendak melalui mata hati, ia mencoba memilih dan memilah kelompok informasi terkait segel. Informasi yang terkandung kemudian mengalir perlahan ke dalam benaknya. Sungguh cara yang mudah dalam membaca.

“Kitab itu adalah daftar kumpulan berbagai informasi tentang dunia persilatan dan kesaktian saat Negeri Dua Samudera sedang berjaya. Meski belum rampung, informasi yang terkandung di dalamnya sangatlah berharga bagi dunia saat ini,” ujar Nagaradja bangga akan kitab yang ia miliki.

“Sudahlah. Kalau hanya membaca, bisa kau lakukan di lain waktu!” Nagaradja teringat bahwa kitab tersebut bukan miliknya. Hanya titipan agar ia juga membantu menambahkan kandungannya.

Bintang menangkap ketidaknyamanan dari nada bicara Nagaradja. Ia lalu menyingkirkan kitab, kembali berdiri di depan tubuh komodo raksasa tersebut.

Mata hati Nagaradja kemudian meletakkan tiga bongkah batu di hadapan Bintang. Ukuran masing-masing batu sebesar buah semangka. Jarak antara batu pertama dengan batu kedua lebih lebar dibandingkan antara batu kedua dengan batu ketiga.

“Dapatkah kau pecahkan batu pertama dengan tangan kosong?” tanya Nagaradja.

Bintang terlihat gelisah. Ia pun melangkah maju, menggeser batu pertama lebih dekat ke arah batu kedua. Kini jarak yang memisahkan ketiga batu menjadi seimbang. Kegelisahan dari wajahnya segera menghilang, lalu menjawab, “Sungguh murid tidak bisa memecahkan satu pun batu dengan tangan kosong, Guru.”

Lalu untuk apa reaksimu tadi dan untuk apa kau atur agar batu itu tersusun simetris? pikir Nagaradja sedikit kesal. Setelah menenangkan diri, Nagaradja berujar, “Gunakan indera keenammu untuk masuk ke mustika di ulu hati. Lalu bayangkan kau mengalirkan tenaga dalam dari mustika tersebut ke tangan kananmu.”

Bintang pun melakukan perintah gurunya. Ia melihat mustika berisi cairan berwarna perunggu di ulu hati, lalu mengalirkan cairan tersebut sesuai aliran darah ke tangan kanannya. Secara naluriah, Bintang menarik aliran tenaga dalam bila terasa berlebihan atau menambah aliran tenaga dalam lagi bisa terasa kurang. Kini seluruh kulit luar lengan kanannya dibungkus tenaga dalam.

“Bagus! Kau sudah bisa mengatur aliran tenaga dalam. Sekarang hantam batu pertama di depanmu!” sergah Nagaradja.

“Prak!” dengan keyakinan dan percaya diri bintang mengepalkan tangan dan menghantam batu pertama. Batu hanya menggelinding sedikit. Kepalan tangannya yang dilindungi tenaga dalam tidak merasakan sakit. Tapi ia merasa kecewa, bayangannya adalah batu akan hancur berkeping.

“Ulangi lagi langkah tadi. Pertahankan tenaga dalam yang menyelimuti lenganmu. Lalu alirkan lagi tenaga dalam ke otot dan sendi-sendi lenganmu.”

Bintang menuruti. Kini, tidak hanya lengannya dilindungi tenaga dalam, tapi otot dan sendinya juga memiliki kekuatan yang belum pernah ia rasakan. Jantungnya berdetak kencang.

“Brak!” batu kedua menggelinding lebih jauh. Setengah bagian batu pecah. Bintang mulai terlihat puas.

“Ulangi kedua langkah tadi. Kali ini, tambahkan juga tenaga dalam di pergelangan kaki, pinggang dan bahu.”

Tanpa ragu Bintang menuruti perintah gurunya. Langkah pertama melindungi lengan, langkah kedua memperkuat otot dan sendi lengan, langkah ketiga membangun kuda-kuda.

“Bang!” batu ketiga pecah menjadi beberapa bagian.

“Sekarang lakukan latihan yang sama di luar!” perintah Nagaradja. Ia setengah percaya bahwa semua perintahnya dilakukan hanya dengan sekali percobaan. Sebagai ahli yang memusatkan diri pada jurus silat, ia paham betul bahwa mengalirkan tenaga dalam, lalu menjaga kestabilannya, bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan pada percobaan kali pertama. Ia jadi sedikit muak melihat wajah Bintang yang kegirangan. Pada saat yang sama, ia juga merasa bangga pada kepintaran muridnya.

Bintang langsung mengangguk dan melangkah ke luar. Belakangan, ia melihat waktu istirahat gurunya semakin sering dan semakin panjang.

“Jangan mengarah ke selatan pulau,” Nagaradja mengingatkan.

Tiga hari berlalu, Nagaradja belum bangkit dari tidurnya. Bintang berlatih sendiri. Di pagi hari, ia tidak hanya meninju dengan tangan kiri, namun juga tangan kanan, serta kedua siku. Ia juga berlatih melompat tinggi dan tendangan yang diimbuh tenaga dalam. Tak terbilang sudah bebatuan di sisi luar gua yang hancur berantakan.

Setelah makan siang, Bintang lalu mempraktekkan jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Dengan dibatasinya tingkat serapan tenaga alam, sangat mudah baginya untuk mengisi kembali mustika yang terkuras akibat latihan di pagi hari. Satu persen efisiensi serapan dari jurus Delapan Penjuru Mata Angin sudah dapat memenuhi mustika Kasta Perunggu Tingkat 2 dalam waktu kurang dari lima menit.

Jelang petang, Bintang turun sebentar ke hutan di utara pulau untuk mengumpulkan bekal makanan. Di sela-sela kesibukan ini, Bintang masih sempat merapikan ruang penyimpanan Nagaradja. Di petang hari, Bintang kembali berlatih sampai malam tiba. Seusai makan malam, ia lalu menyerap informasi dari Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Jadwal keseharian ini ia susun sendiri, dan dengan disiplin menjalani hari.

Sepekan berlalu sejak Nagaradja terakhir memberinya petunjuk. Bintang mulai khawatir.

 

 Catatan:

*) Nilai tukar:

1 keping perunggu = Rp1.000

100 keping perunggu = 1 keping perak = Rp100.000

100 keping perak = 1 keping emas = Rp10.000.000

Pengumuman Kuis Episode 12

Selamat kepada Dino Indigo dan Anas Zukhra!

Kalian memenangkan kuis berhadiah masing-masing voucher belanja sebesar Rp100.000.

Admin Facebook Page ceritera.net akan menghubungi kalian untuk informasi pengiriman voucher. Jangan lupa like https://www.facebook.com/ceriteradotnet/

Terima kasih kepada sponsor!

Sebagai bocoran, Bintang akan memperoleh senjata pusaka pada Episode 19.