Episode 3 - Mustika Karang Abang


Setelah berjalan kearah selatan melewati alun-alun, kemudian berbelok mengikuti arah matahari terbenam, akhirnya kami tiba di rumah Empu Parewang. Sebuah rumah joglo yang sudah kusam dengan posisi pintu menghadap ke arah selatan. Di halaman rumah Empu Parewang yang cukup luas terhampar kerikil-kerikil kecil yang berguna untuk membuat jalan tidak licin dan becek ketika hujan datang. Tidak jauh dari rumah, tepatnya di sisi barat rumah terdapat sebuah sungai kecil. Sedangkan di sebelah timur bagian belakang rumahnya aku melihat ada sebuah bilik bambu yang tingginya kira-kira setinggi dadaku.

"Masuklah anak muda, jangan sungkan, anggap saja rumahmu sendiri. Oh iya, siapa namamu tadi?" ujar Empu Parewang sembari membuka pintu dan kemudian ia masuk ke dalam rumahnya.

"Terima kasih Empu, kulonuwun. Nama saya Kuntjoro dari Pangkubayan," aku masuk ke rumahnya sambil memberi salam dan setelah itu aku perkenalkan diriku kembali.

"Baru kubilang jangan sungkan, kau sudah bersikap seperti itu,"

"Aku diajarkan oleh bopoku untuk bersikap sopan, Empu,"

"Sepertinya Bopomu itu orang baik, Oh iya, satu lagi…. Mulai sekarang jangan panggil aku empu, panggil saja aku kakek. Sebenarnya aku lebih suka dipanggil kakek daripada empu,"

"Baiklah Kakek Empu, Eh.. Maksudku… Kakek,"

"Welah dalah... Duduklah anak muda, akan aku ambilkan air untukmu, kelihatannya kau sangat lelah,"

Empu Parewang memintaku untuk duduk di sebuah bale-bale yang terbuat dari bambu yang ada di ruang tamunya. Empu Parewang membawakanku kendi berisi air minum dan beberapa singkong rebus yang kelihatannya sudah dingin.

"Minum dan makanlah ini supaya perutmu terisi," ujar Empu Parewang sambil memberiku minuman dan makanan lalu kemudian ia duduk di sampingku.

"Terima kasih, Kakek Empu,"

"Weleh weleh.... Kakek saja, ya. Jangan pakai empu lagi!"

"Baik, Kakek,"

"Kau lahap sekali, apa dari kemarin kau belum makan?" tanya Empu Parewang yang heran melihat caraku makan dengan lahapnya.

Memang, semenjak aku meninggalkan Pangkubayan, seingatku baru sekali aku beristirahat dan mengisi perutku dengan makanan.

"Benar Kek, terakhir aku makan kira-kira dua hari yang lalu, saat beristirahat di hutan Wanatirta,"

"Dan kau masih bisa bertahan serta terlihat segar seperti ini?"

"Ah... Kalau masalah tidak makan itu sudah biasa untukku Kek, aku dan Bopo sering tidak makan berhari-hari bila sedang paceklik."

Aku penasaran dengan kisahmu, bisa kau ceritakan perjalananmu dari awal hingga kau tiba di sini?"

Empu Parewang memintaku untuk menceritakan perjalananku dari Pangkubayan hingga tiba di Watugaluh. Dengan senang hati kuceritakan semua yang kualami ke Empu Parewang. Hingga di satu titik cerita Empu Parewang menghentikan ceriteraku.

"Tunggu... tadi kau bilang ia mengenakan kalung berwarna merah yang terus menyala?"

"Benar, Kek. Kalung itu terus memancarkan cahaya merah. Jika benar yang kuingat, Adipati Soka Dwipa Pernah bercerita bila ia diserang dengan Mustika Karang Abang yang membuatnya kehilang seluruh ilmu kanuragannya. Jadi, mungkin yang dikenakan oleh Jayalodra sebagai kalung itu yang di sebut Mustika Karang Abang,"

"Benar sekali, cucukku. Itu adalah Mustika Karang Abang," Ki Parewang berdiri dari tempat ia duduk sambil mengusap janggut putihnya yang melambai tertiup angin.

"Eh... ngomong-ngomong, bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan cucu? Ya... Soalnya aku ini kan sudah tua, aku agak sulit menghafalkan nama," tanya Empu Parewang yang tiba-tiba menoleh ke arahku sambil tetap mengelus jangutnya.

"Silahkan saja, kek. Oh iya, sebenarnya, Mustika Karang Abang itu apa, Kek?"

Empu Parewang terdiam sejenak sambil memandang langit-langit rumahnya seolah tengah menerawang jauh ke dalam ingatannya. Aku pun ikut menatap langit-langit rumahnya siapa tau bisa tiba-tiba terhubung dengan pikiran si Empu.

"Begini!"

"Aduh biyung! Kakek mengagetkanku saja! Bilang-bilang dong kek kalau mau berbicara padaku, hampir copot jantungku," aku terkejut karena tiba-tiba Empu Parewang berbalik badan dan mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Hehehe... Maafkan aku, Cu. Aku tadi sedikit lupa tentang Mustika Karang Abang, kemudian tiba-tiba aku mengingatnya kembali,"

"Lalu, apa sebenarnya Mustika Karang abang itu, Kek?"

"Jadi begini... Dahulu kala, ada seorang pendekar sakti mandraguna bernama Rakyan Pamungkas. Dia selalu berkelana, mencari pendekar-pendekar sakti untuk diajaknya berduel. Ilmunya yang tinggi ternyata mendatangkan keangkuhan di hatinya. Bahkan pernah suatu ketika, saat ia bertarung dengan seorang pendekar, ia menaklukan pendekar tersebut dengan beberapa jurusnya, pendekar lawannya itu jatuh tersungkur di hadapannya. Sesaat sebelum Rakyan Pamungkas menghabisi pendekar malang itu, si pendekar berdoa kepada Jagat Dewa Batara. Kau tahu apa yang dilakukan oleh Rakyan Pamungkas? Ia malah menghujat para dewa dan mencemooh doa pendekar itu!"

"Lantas apa yang terjadi, Kek?" tanyaku sambil ngemil singkong rebus yang agak sedikit keras ketika digigit.

"Tentu saja para Dewa murka," ujar Empu Parewang sembari membuka jendela di sebelah selatan, timur dan barat ruang tamu.

"Apa para dewa langsung membianasakannya?"

"Tidak semudah itu. Kesaktian yang dimiliki oleh Rakyan Pamungkas adalah hasil pemujaannya kepada Batara Kala selama bertahun-tahun. Bisa dibilang, ada kekuatan kegelapan di dalam dirinya. Bahkan dia pun memiliki Pancasona, yang artinya dia tidak dapat dibunuh, bahkan oleh para dewa sekalipun,"

"Lantas apa hubungannya dengan Mustika Karang Abang Kek?"

"Sanghyang Manikmaya memerintahkan Bathara Rama Yadi Untuk membuat senjata yang mampu menghentikan Rakyan Pamungkas. Akhirnya Bathara Rama Yadi membuat sebuah pusaka di atas puncak Gunung Sindoro. Senjata pusaka itu dibuat dari Jantung Taksaka yang berwarna hitam dengan ukuran kira-kira sebesar kepalan tangan orang dewasa. Bathara Rama Yadi merendam Jantung Taksaka dengan Tirta Amertha di dalam sebuah cawan selama tujuh purnama. Lalu di purnama ke tujuh, Jantung Taksaka yang telah berubah warna menjadi biru itu kemudian diangkat dari cawan yang berisi Tirta Amertha dan diletakkan di atas meja batu. Kemudian Bathara Rama Yadi melukai tanganya sendiri hingga mengucurlah darahnya yang kemudian darahnya itu diteteskan ke Jantung Taksaka. Kemudian Jantung Taksaka perlahan kembali berubah warna dan menyusut. Jantung itu kini berubah menyerupai batu karang berukuran kecil berwarna merah yang terus menyala."

"Jadi, itu Mustika Karang Abang?"

"Benar sekali, itu Mustika Karang Abang. Mustika ini dapat menyerap ilmu kanuragan siapa pun yang menyentuhnya, termasuk para dewa."

"Lalu? Bila benar begitu, berarti Bathara Rama Yadi juga tidak bisa menyentuh mustika itu... Lalu bagaimana cara para Dewata mengalahkan Rakyan Pamungkas dengan Mustika itu kek?"

"Iya, jika Bathara Rama Yadi menyentuh mustika itu, maka seluruh kesaktiannya pun akan terserap ke dalam mustika itu. Maka dari itu, Bathara Rama Yadi masuk ke dalam mimpi Pertapa Resmawan dan memintanya untuk datang mengambil Mustika Karang Abang di Gunung Sindoro,"

"Wah... Kenapa Bathara Rama Yadi memilih Pertapa Resmawan kek untuk menjalankan tugas ini,"

"Pertapa Resmawan adalah orang suci, hatinya tidak tersentuh oleh nafsu angkara. Selain itu juga dia tidak punya ilmu kanuragan sehingga aman baginya untuk menyentuh Mustika Karang Abang."

Empu Parewang menghentikan ceritanya, berjalan ke arahku, kemudian mengambil kendi yang ada di sampingku dan menenggak air di dalamnya. Sepertinya bercerita membuat kerongkongannya kering. Setelah melepas dahaga dan menaruh kendi itu di sampingku, ia kembali melanjutkan ceritanya.

"Pertapa itu kemudian datang ke puncak Gunung Sindoro dan menerima tugas dari Bathara Rama Yadi. Hingga akhirnya, takdir mempertemukan Pertapa Resmawan dengan Rakyan Pamungkas. Awalnya Rakyan Pamungkas tidak menghiraukan Pertapa Resmawan yang mengajaknya bertanding, karena dia merasa bahwa pertapa tua itu bukanlah tandingannya. Namun, ia berubah pikiran setelah Pertapa itu menunjukkan Mustika Karang Abang. Darah di tubuh Rakyan Pamungkas memamanas dan ambisinya untuk menaklukan dan menguasai mustika itu pun muncul, meskipun sesungguhnya dia tidak tahu mustika apa itu sebenarnya. Pertapa Resmawan kemudian meletakan mustika itu di telapak tangannya dan menantang Rakyan Pamungkas untuk mengangkat mustika itu dari tangannya."

"Wah... Semudah itu kek membuat Rakyan Pamungkas menyentuh batu itu?"

"Kesombongan dan keserakahan telah membuat matanya menjadi gelap, dia tidak dapat berpikir jernih, bahkan mungkin dia berpikir jika pertapa tua itu tidak akan tahu cara menggunakan mustika itu. Tapi sesungguhnya memang tidak ada cara khusus untuk menggunakannya, siapa pun bisa asal tidak memiliki ilmu kanuragan. Rakyan Pamungkas yang terbawa nafsu langsung menggengam mustika itu, dan yang terjadi adalah seluruh ilmu kanuragannya terhisap oleh Mustika Karang Abang. Tubuhnya lemas seketika, roboh di hadapan sang pertapa. Mustika itu terlepas dari genggamannya dan jatuh tepat di sampingnya,"

"Kemudian apa yang dilakukan oleh Rakyan Pamungkas, Kek?"

"Dia belum sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya, dia tidak tahu bila ilmu kanuragannya telah hilang. Merasa diserang oleh pertapa itu, dia kemudian berusaha mencoba menyerang pertapa tua itu dengan tenaga dalamnya namun tidak bisa. Di situlah dia baru menyadari bahwa ilmu kanuragannya terhisap oleh mustika itu. Dia berbalik arah ketempatnya roboh tadi dan berusaha mengambil mustika itu, berharap ilmu kanuragannya akan kembali bila menyentuh mustika itu lagi. Dia merangkak mengambil Mustika Karang Abang yang tergeletak di tanah. Namun apa yang terjadi? Tubuhnya seketika mengering seperti bersisik dan berubah menjadi hitam seperti terbakar. Tubuhnya terus menciut hingga menjadi kecil dan kaku."

"Kenapa bisa seperti itu, Kek?"

"Iya, memang orang yang ilmu kanuragannya sudah terhisap oleh Karang Abang tidak boleh tersentuh oleh Mustika itu lagi, bila menyentuhnya atau terkena mustika itu lagi, hal itu lah yang akan terjadi,"

"Lantas apa yang dilakukan pertapa itu dengan Mustika Karang Abang kek?"

"Dia membawa mustika itu dan jasad Rakyan Pamungkas ke Gunung Sindoro, dia meletakan mustika itu dan jasad Rakyan Pamungkas di sebuah goa dan menutup goa itu dengan batu besar."

"Kenapa mustika itu ditaruh di dalam goa kek?"

"Karena mustika itu harus tetap terjaga, tidak boleh rusak. Karena jika rusak, maka ilmu kanuragan yang telah dihisap oleh Mustika Karang Abang akan kembali ke si empunya ilmu itu. Dan kau tahu apa yang akan terjadi? Rakyan Pamungkas akan bangkit, karena dia memiliki Ilmu Pancasona. Hanya saja jika ia bangkit, wujudnya akan sangat mengerikan karena tubuhnya tidak dapat kembali seperti semula, hanya ukuran tubuhnya saja yang kembali namun tidak dengan bentuknya. Pancasona hanya akan menghidupkannya kembali, tapi tidak memperbaiki bentuk fisiknya yang telah rusak, menghitam dan bersisik,"

"Iihh... Bulu kudukku berdiri mendengarnya. Lantas, mengapa dia tidak simpan saja Mustika Karang Abang itu?"

"Karena dia tau bahwa Mustika itu adalah benda yang berbahaya, orang yang tidak memiliki ilmu kanuragan, bila memiliki mustika itu akan sangat berbahaya. Dia akan mampu menghisap ilmu kanuragan milik orang lain dan mampu menggunakan ilmu kanuragan itu untuk senjatanya, termasuk ilmu Pancasona milik Rakyan Pamungkas."

"Jadi, maksud Kakek, bila orang biasa memiliki mustika itu, maka ia mampu mengeluarkan jurus ilmu kanuragan milik orang-orang yang ilmu kanuragannya dihisap oleh mustika itu? Jadi, Jayalodra sekarang juga mampu menggunakan ajian Pancasona milik Rakyan Pamungkas, kek?"

"Benar, itulah yang terjadi pada Jayalodra. Mangkannya dia tidak mati terbakar saat keraton Pararaton dibakar oleh kalian."

"Memangnya Jayalodra tidak memiliki ilmu kanuragan kek? Mengapa dia bisa menggunakan mustika itu?"

Empu parewang membuka pintu tengah rumahnya kemudian memintaku untuk membersihkan diri.

"Sebelum aku menceritakan lebih banyak tentang Jayalodra, sebaiknya kau membersihkan diri terlebih dahulu. Bau asam ketiakmu sudah mulai menyebar memenuhi seisi ruangan ini."

Aku mencium bajuku dan memang baunya tidak sedap. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku mandi. Aku memang jarang mandi, karena dulu rumah bopoku cukup jauh dari kali sehingga aku malas untuk mandi.

"Hehehehe... Maafkan saya, Kek. Baiklah, kalau begitu saya pamit ke sungai dulu untuk mandi, ya Kek."

"Untuk apa jauh-jauh ke sungai, Cu? Di belakang, di samping timur rumahku ada sumur, tertutup bilik bambu, kau bisa mandi di sana."

Kali ini aku merasa sangat bersemangat untuk membersihkan diri. Iya, jawabannya sudah jelas. Bopoku tidak punya sumur di rumah. Jika ingin mandi, aku harus pergi ke kali. Empu parewang mengantarkanku ke sumurnya melalui pintu tengah, kemudian berbelok ke kanan ke arah dapur. Lalu di dapur itu ada sebuah pintu di sebelah timur. Empu parewang membukakan pintu dapur sambil tersenyum ke arahku, alisnya naik turun, hidungnya kembang kempis.

"Kau bisa membersihkan dirimu di sana," ujar Empu Parewang dan aku pun bergegas untuk membersihkan tubuhku.