Episode 13 - Delapan Penjuru Mata Angin (2)


Bintang senang bukan main. Ia baru saja membuka segel gulungan naskah daun lontar itu. Rupanya proses membuka segel sangatlah mudah baginya. Terdapat formasi yang terdiri dari berbagai simbol. Formasi simbol ada yang berfungsi untuk mengunci, cara membukanya cukuplah sederhana. Ubah formasi mengunci menjadi formasi membuka. Terdapat banyak alternatif dalam menyusun formasi membuka. Jadi, tinggal menemukan kombinasi yang tepat saja.

Bintang sendiri tidak mengetahui darimana ia memperoleh pemahaman dasar tentang segel. Pemahaman datang begitu saja secara naluriah saat ia berhadapan dengan formasi segel. Kalau semudah ini, esok aku akan melihat formasi simbol yang menyegel Pulau Bunga, pikirnya.

“Jurus Delapan Penjuru Mata Angin,” gumam Bintang melihat lembar teratas dari gulungan naskah daun lontar. Lembar kedua dan terakhir kosong. Lima lembar di tengah memuat rangkaian bait-bait pendek. 

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak 

Lurus kaku pohonan. Tak bergerak 

Sampai di puncak. Sepi memagut,

Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti. Menanti. Menanti.*

Hanya kata-kata. Bintang mengernyitkan dahinya. Bukankah naskah jurus sakti seharusnya berisi panduan? Petunjuk? Tata cara? 

Nagaradja sedari tadi hanya menyaksikan tingkah polah Bintang dari kegirangan menjadi kebingungan. Wajar saja, pikirnya, ini kali pertama anak itu melihat naskah jurus sakti. 

"Di dunia ini umumnya ada dua jenis jurus, jurus persilatan dan jurus kesaktian," Nagaradja menjelaskan. 

Jurus silat adalah teknik mengolah tubuh untuk mengerahkan gerakan-gerakan tertentu, yang nantinya digunakan dalam pertarungan. Mengasah raga.

Jurus sakti adalah teknik memanipulasi unsur-unsur yang ada di muka bumi. Unsur dasar yang paling awam adalah tanah, air, udara dan api. Keempat unsur ini adalah yang paling mudah dikuasai. Selain unsur dasar ada juga unsur-unsur lain seperti petir, tanaman, bayangan, dan masih banyak lagi. Pengembangannya tak terbatas dan mengalahkan logika. Oleh karena itu pula, kemampuan melampaui kodrat alam ini disebut kesaktian. 

"Keduanya mengharuskan kemampuan mengumpulkan tenaga dalam untuk disimpan ke dalam mustika, lalu memanfaatkan tenaga dalam tersebut dalam jurus silat maupun jurus sakti."

Jadi, naskah jurus silat biasanya berisikan gambar atau panduan. Sedangkan naskah jurus sakti berisikan petunjuk membangun pemahaman dalam diri. Keberhasilan ditentukan dari seberapa dalam pemahaman dicapai. Pemahaman menjurus pada penafsiran. Pernafsiran yang tepat melahirkan pencerahan.

“Selain itu ada pula ‘keterampilan khusus’,” tambah Nagaradja. “Keterampilan khusus dimiliki oleh ahli khusus seperti pawang binatang siluman, peramu, tabib, pembuat senjata dan perisai, perapal segel, dan lain-lain. Biasanya keterampilan khusus merupakan keahlian bawaan sejak lahir. Mereka nanti memiliki jurus-jurus tersendiri pula. Penjelasannya akan kujabarkan di lain waktu."

Benak Nagaradja masih berkutat seputar naskah daun lontar. Ia mengingat sejumlah ahli, baik manusia maupun siluman sempurna, yang tak dapat meraih pencerahan meski telah membuka segel naskah Delapan Penjuru Mata Angin. Mereka adalah tokoh-tokoh dengan nama besar saat Negeri Dua Samudera masih berjaya. Termasuklah dirinya.

Berbagai daya upaya telah mereka tempuh. Menerjemahkan secara harfiah isi naskah. Ada yang menyepi ke dalam gua tertutup. Ada yang diam, kaku, tak bergerak bertahun-tahun. Ada yang naik ke puncak gunung tinggi. Bahkan, ada yang memanjat pohon, menanti pencerahan seperti burung jalak. 

Beberapa mencari makna tersirat dari naskah. Lebih aneh-aneh lagi interpretasi dan tindakan para ahli tersebut. Hasilnya nihil.

Bintang duduk bersila. Mengulang-ulang bait per bait naskah Delapan Penjuru Mata Angin.

Menggunakan mata hati, ia bisa merasakan mustika dan tenaga di dalam dirinya. Ia juga mampu merasakan tenaga alam, yang melimpah tersedia di sekelilingnya. Tapi, bagaimana cara menyerap tenaga alam, lalu mengisi mustika di ulu hati? 

Dua hari berlalu. Selain keluar mencari makanan dan beristirahat, Bintang menghabiskan waktunya duduk bersila, bertapa, berupaya menggapai pencerahan. 

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak 

Lurus kaku pohonan. Tak bergerak 

Sampai di puncak. Sepi memagut,

Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti. Menanti. Menanti.

Belum juga ada tanda-tanda pemahaman. Bintang bersikeras untuk tidak beralih ke naskah lain. 

"Seperti apakah sepi? Tak bergerak? Tak kuasa? Memuncak? Menanti?" gumamnya. Bintang lalu terbawa dalam perasaan dirinya merindukan sosok ayah. Mencari jawaban mengapa dan kemana ayah pergi. 

Ia tenggelam dalam emosi. Ia sedih, kecewa, marah. Berbagai emosi menjadi satu. Ia melihat dirinya berlari ke atas bukit di Dusun Peledang Paus. Sengaja berlari agar tubuhnya merasakan kelelahan, hanya untuk semakin merasakan sebuah... kehampaan.

"Hampa."

Pemahaman. Penafsiran. Pencerahan. 

"Wuss!"

Di saat berbagai perasaan berkecamuk di dalam hati dan seketika ia melafalkan kata 'hampa', tenaga alam di sekeliling Bintang bergetar lalu berputar cepat bak puting beliung merangsek ke dalam dirinya!

Nagaradja tersontak bangun. Ia melihat pusaran tenaga alam di sekeliling Bintang merangsek deras bak curahan air bah masuk melalui setiap pori-pori kulit. Lalu berubah menjadi tenaga dalam mengisi kristal mustika di ulu hati. 

Mustika Kasta Peringgu Tingkat 1 tak dapat menampung curahan tenaga alam, lalu bergetar dan menggelembung... seakan menunggu pecah!

"Celaka!" segera mata hati Nagaradja mengerahkan tenaga dalam menghantam Bintang. 

Bintang terpental empat sampai lima langkah ke belakang tak sadarkan diri. Nagaradja kemudian membantu sirkulasi tenaga dalam di tubuh Bintang. 

Nagaradja melihat mustika di ulu hati Bintang yang tadinya di ambang batas, perlahan mulai kembali stabil, menampung dan mengalirkan tenaga dalam. 

"Kasta Perunggu Tingkat 2," gumam Nagaradja. "Tapi nyaris sekali..." 

Kondisi dimana mustika bergetar dan menggelembung, lalu kembali stabil, adalah kejadian yang normal terjadi ketika seorang ahli akan naik tingkat atau naik kasta. Tapi, apabila mustika yang baru terbentuk itu terus menerima curahan tenaga alam dalam jumlah besar dan tanpa batas, bukan tak mungkin akan retak lalu pecah. Dampaknya adalah fatal. Ketika mustika retak, dipastikan kesaktian tak tumbuh sempurna. Bila pecah, tubuh lalu akan meledak karena tak sanggup menahan beban tenaga dari dalam. 

Baru kali ini ia melihat sebegitu besar tenaga alam mengalir melimpah ke dalam tubuh, melalui pori-pori di sekujur tubuh. Banyak cara menyerap tenaga alam: dari mulut, hidung, telapak tangan, dada, pundak, ubun-ubun... Tapi dari pori-pori di sekujur tubuh? Bahkan Nagaradja dengan pengalaman ratusan tahun terkesima.

Belum lagi proses penyerapan yang luar biasa cepatnya.... Sepanjang kariernya dalam dunia persilatan dan kesaktian, Nagaradja telah berhadapan dengan berbagai teknik, yang unik bahkan aneh. Tapi ini...

Lalu, proses menyuling, mengubah tenaga alam menjadi tenaga dalam agar bisa ditempatkan ke dalam mustika di ulu hati memerlukan waktu dan konsentrasi. Tapi yang baru ia lihat seperti terjadi serta-merta. Bila yang sebelumnya aneh, yang terakhir ini tak bisa dicerna nalar. 

Nagaradja memandang Bintang yang masih tergolek di tanah, "Inikah jurus Delapan Penjuru Mata Angin?" 

...

Sehari semalam berlalu sebelum akhirnya Bintang siuman. 

Tubuhnya serasa lebih ringan, jangkauan mata hatinya juga lebih jauh. Ia lalu melihat ada perbedaan sedikit pada mustika di ulu hati. Warna merah kehijauan terlihat sedikit lebih pekat dan konsentrasinya terasa sedikit lebih kental. 

"Kau lihat dan rasakan perbedaan?" tanya Nagaradja. "Kau berhasil mencapai pencerahan dan menggunakan jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Sekarang kau berada pada Kasta Perunggu Tingkat 2."

Bintang mengangguk kepada sang komodo raksasa di depannya. 

"Tapi jurus itu terlalu berbahaya bagi kondisimu saat ini. Tingkat penyerapannya melampaui daya tampung mustikamu. Karena itu, aku menyegel tingkat penyerapannya menjadi hanya satu persen."

Bintang baru menyadari kini ada segel di dadanya, yang menyebar ke seluruh penjuru tubuh.

"Dengan sifat jurus Delapan Penjuru Mata Angin yang dapat menyerap sekaligus menyuling tenaga alam dari seluruh pori di tubuh, kau tak akan kekurangan tenaga." 

Berkat panduan gurunya, Bintang menghabiskan waktu sepekan berlatih menyerap tenaga alam. 

Ia pun semakin terbiasa dengan penggunaan mata hati. Kini, hanya dengan lambaian tangan, ia dapat mengangkat dan memindahkan bebatuan kecil. Tanpa harus berkonsentrasi, ia bisa berbicara tanpa bersuara, dan dapat mengamati dengan cukup rinci wilayah dalam radius 30 m. 

Menyerap tenaga alam pun cukup mudah. Setiap kali, Bintang hanya perlu mengkondisikan emosi, lalu mengucapkan kata 'hampa' walau hanya dalam pikiran. Alam seolah bersimpati dengan perasaan di hati, lalu dengan suka rela mencurahkan diri ke dalam tubuhnya. 

"Perkembanganmu cukup pesat. Kurang dari sebulan kau sudah dapat menggunakan mata hati dan teknik penyerapan tenaga alam, bahkan sedikit pemahaman tentang segel. Meski belum sempurna," ungkap Nagaradja. 

Sesungguhnya tahap pertama dalam memupuk keahlian ini masih dalam batas yang wajar. Anak-anak manusia berbakat terdahulu, kala di usia enam tahun, sudah banyak yang dapat menggunakan indera keenam secara naluriah. 

Akan tetapi, pencerahan atas jurus Delapan Penjuru Mata Angin tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ditambah lagi, sesungguhnya bukanlah ‘sedikit’ pemahaman tentang segel. Baru kali ini Nagaradja menyaksikan bakat keterampilan khusus terkait segel sebesar ini. Mungkinkah ia memiliki garis keturunan dari tempat itu…?

“Mungkin sudah saatnya aku mewariskan sebagian dari keahlian silatku,” tambah Nagaradja. Ada nada keangkuhan dalam kata-katanya kali ini. Seolah tidak akan kalah dengan pencapaian muridnya. 


Catatan: 

*) Kutipan puisi ‘Hampa’ karya Chairil Anwar. Ayo baca karya sastra Indonesia.

Bagi pembaca yang penasaran dengan kemampuan Bintang dalam memahami keterampilan khusus terkait segel, mari bayangkan seorang anak yang mampu meretas sebuah situs web tanpa menjalani pendidikan formal terkait teknologi informatika....