Episode 2 - Awal Mula di Yogya


Satu minggu setelah penemuan kamar bawah tanah, Yashwan belum membereskan rumah kacanya kembali. Benih bayam rusak karena tidak mendapat pengaturan sirkulasi cahaya dan air yang semestinya. Yashwan telah mematikan sistem pengairan dan pencahayaan otomatis dalam rumah kaca. Sistem ini secara otomatis menyiram tanah dan tumbuhan dengan air ketika terdeteksi kurang air dan atapnya dilengkapi sensor untuk mengaktifkan tudung tirai tipis berbahan vinyl coated polyester yang menghalangi sinar matahari serta mendinginkan rumah kaca apabila terdeteksi terlalu panas.

Meski sementara ini Yashwan mengabaikan rumah kaca tetapi ia merapikan kamar bawah tanah. Kulkas sudah diisi dengan buah-buahan, jus, makanan, dan minuman energi. Yashwan memasang televisi besar di dinding, exhaust, eco-cooler -penyejuk udara tanpa listrik dengan tenaga dari limbah plastik- dan mengintegrasikan remote digital dengan pintu bawah tanah yang sekaligus menghubungkan sensor keamanan dalam rumah kediaman dan rumah kaca.

Saatnya menghubungi teman-teman untuk minta bantuan, gumam Yashwan.

Menemukan keturunan Sultan Hamengkubuwono IX adalah pekerjaan sulit. Tapi perintah ayahnya tak bisa lebih jelas lagi. Temukan keturunan Sultan Hamengkubuwono IX dan bantu beliau, bantu sampai penghabisan, sampai ke puncak! Begitu yang ditulis ayahnya dalam buku tulis.

Bantu sampai ke puncak apa maksudnya? Tahta kerajaan atau kepresidenan? Dua-duanya terasa mustahil.

Sultan Hamengkubuwono IX wafat lebih dari 50 tahun lalu dan punya 22 anak. Dari anak-anak yang manakah keturunan sultan yang harus dicari? Dari Hamengkubuwono X? Kalau dari beliau rasanya terlalu gampang karena hampir semua penduduk di Pulau Jawa tahu.

Kenapa pula ayahnya menulis dibuku dan bukannya di laptop atau rolltop? Pastha menebak mungkin supaya Yashwan percaya itu tulisan ayahnya dan bukan rekayasa orang iseng.

Tapi Yashwan membantahnya. Kalau rekayasa orang iseng tidak mungkin buku itu ada di kamar bawah tanah, kamar yang dibangun kakek dan ayahnya secara rahasia.

Sesuai perintah dalam catatan ayahnya ia telah memberikan kompensasi karena selama membantu Yashwan teman-temannya harus cuti kuliah dan mengabaikan pekerjaan mereka. Yashwan yakin kompensasi uang puluhan juta memuaskan teman-temannya.

"Mang Kasman, tiket dan hotelnya sudah beres?" tanya Yashwan sambil melihat posisi teman-temannya di GPS.

Mang Kasman sedang membuat kopi saat ditanya Yashwan, "Sudah, tinggal berangkat besok pagi."

"Trims, Mang."

Yashwan menghubungi Pastha dan Damar melalui smart watch. Yashwan lebih suka menggunakan smart watch untuk berkomunikasi karena lebih praktis. Fiturnya sama dengan ponsel, tapi punya kelebihan tahan air, anti debu, dan terhubung dengan sensor sistem keamanan rumahnya. Praktis tinggal pasang ditangan karena juga berfungsi sebagai jam tangan.

"Pastha, Damar, besok pagi insya Allah kita ke Yogya. Semua sudah disiapkan. Bisa kalian kesini sekarang? Menginap sekalian ya," kata Yashwan.

"Apa yang harus kita bawa?" tanya Pastha.

"Baju ganti dan pakaian dalam secukupnya," jawab Yashwan sekenanya.

"Maksudku peta atau laptop atau rolltop," sambung Pastha.

" Ohh, tidak perlu, tadi kubilang semua yang kita perlukan sudah disiapkan disini."

"Oke, aku kesana sekarang." Pastha bergegas.

"Idem ditto," sahut Damar.

Baru saja Yashwan mematikan sambungan dengan Pastha dan Damar, Desitra muncul dilayar.

"Yashwan, aku di depan rumahmu. Tolong bukakan pintu ya," sahut Desitra.

"Desitra, aku baru mau menghubungimu tapi kau sudah di rumahku. Tunggu sebentar ya," jawab Yashwan mengambil remote digital disakunya dan membukakan gerbang.

Desitra masuk dan langsung menuju kamar bawah tanah. Ia takjub melihat kamar itu telah berubah 180 derajat dari pertama kali ia melihatnya.

"Wow! This room has changed! Keren sekali, Yashwan!" Desitra memuji.

Yashwan tersenyum simpul.

"Kau mau minum?" Aku punya jus di kulkas," Yashwan menawari.

"Ahh, Yashwan, aku kemari bukan untuk minum jus! Aku ingin kita melakukan sesuatu dengan alat-alatmu ini," kata Desitra sambil merentangkan dan memutar-mutar tangannya menunjuk ke sekeliling kamar.

Yashwan lagi-lagi tergelitik antara senang dan terkesima. Ia sebenarnya tidak suka tipe perempuan manja ala Barbie. Tapi nada bicara manja milik Desitra seperti ada nada ketegasan seperti milik Profesor Sinna, tutor sekaligus mentornya yang ahli fisiologi tanaman. Desitra juga cantik tapi ia tak mengeluh jika rambut indahnya tersiram hujan deras, atau wajahnya kotor kena debu jalanan. Mungkin karena itu Desitra jadi terlihat menarik di mata Yashwan.

"Aku mau ikut ke Yogya," tukas Desitra. "Kapan kita berangkat?".

Yashwan agak terkejut akan permintaan Desitra.

"Aku baru mau akan menghubungimu soal itu. Insya Allah besok pagi aku, Pastha, dan Damar berangkat ke Yogya. Tapi..." Yashwan menghela napas mencari kalimat yang tepat.

"Tapi aku tidak boleh ikut, begitu?! Kenapa aku tidak diajak? Apa kau kira aku akan merepotkan dan menyusahkan?" potong Desitra sambil menunjukkan ketersinggungan.

"Erhh, bukan begitu. Hanya saja aku belum memesan tiket untukmu. Aku pikir kau tidak mau ikut," jawab Yashwan.

Yang sebenarnya adalah memang Yashwan tidak berniat mengajak Desitra. Ia membayangkan akan repot kalau mengajak perempuan. Perempuan perlu dandan, tertarik belanja kalau melihat barang-barang bagus, dan tidak bisa makan disembarang tempat. Apa mau Desitra menginap di hotel bintang dua?!

"Flight kalian jam berapa?" tanya Desitra sambil memencet-mencet layar ponselnya.

"Jam 6.15, Garuda," jawab Yashwan.

"Menginap di hotel mana?"

"Citra Sari."

"Garuda, flight 6.15 WIB, done!" seru Desitra senang karena telah berhasil membooking penerbangan yang sama dengan Yashwan.

Tapi kemudian wajahnya berubah kaget.

"What?! Hotel Citra Sari itu bintang dua!" serunya.

"Kalian menginap di kamar apa?" Desitra memastikan.

"Standar, twin bed," sahut Yashwan.

"What?! Yashwan, kalian tidak layak menginap di bintang dua. Tidak nyaman. Kau booking pakai nama siapa?" cecar Desitra.

Heuh.

"Namaku," jawab Yashwan.

"Aku batalkan ya!" Desitra memaksa. Ia dengan cepat menemukan nomor kontak hotel dan membatalkan pesanan kamar.

"Desitra, kau tidak perlu melakukan itu," kata Yashwan setengah gemas.

Desitra tidak menjawab karena sedang menelepon.

Dasar perempuan. Keras kepala. Semaunya saja. Untung kau cantik, Desitra, kalau tidak sudah kusuruh kau minggat keluar angkasa, gerutu Yashwan.

Tak lama kemudian.

"All done! Yashwan aku sudah canceled kamar Citra Sari. Aku booking di Hotel Arjuna, bintang tiga, suite room, aku minta extra bed supaya kita bisa sama-sama berempat. Meeting, menyusun rencana, dan beristirahat bisa di satu tempat," cerocos Desitra tetap dengan nada agak manjanya. "Menginap di bintang dua tidak enak. Kamarnya kurang nyaman. Minimal bintang tiga kalau kita mau nyaman."

Heuh, suite room, extra bed, macam-macam seperti mau tamasya. Memangnya kenapa kalau bintang dua. Toh hanya untuk tidur bukannya mau bertelur dalam kamar suite, gerutu Yashwan dalam hati. Yashwan tidak menjawab meski keberatan dengan intervensi yang dilakukan Desitra. Ia sedikit gusar tapi malas untuk berdebat dengan Desitra karena pasti akan panjang dan buang-buang energi. Diam adalah jalan terbaik supaya rasa kesalnya tidak keluar.

"Nanti aku yang mengatur soal transportasi kita ya," tambah Desitra.

"Sudah diurus Mang Kasman," kata Yashwan datar. Ia keluar kamar bawah tanah meninggalkan Desitra sendirian. Yashwan menyalakan rokok dan berniat menunggu kedatangan Pastha dan Damar di halaman.

Keesokan harinya selepas Subuh, Yashwan dan ketiga temannya berangkat ke Bandar Udara Soekarno Hatta menuju Bandar Udara Kulonprogo. Kali ini Desitra tidak banyak bicara karena melihat gelagat Yashwan sengaja menjaga jarak darinya.

Sesampainya di Hotel Arjuna. Yashwan dan Damar memasang rolltop -laptop yang dapat digulung- pada meja dan mencoba menghubungkannya dengan perangkat komunikasi GPS di kamar bawah tanah rumah Yashwan di Cinere.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kita berhubungan dengan Markas Cinere? Apa Mang Kasman berjaga disana?" tanya Damar pada Yashwan. Ia menyebut kamar bawah tanah sebagai Markas Cinere.

Yashwan tersenyum. Tanpa menjawab ia menyalakan fitur yang menghubungkan rolltop dengan komputer GPS di Markas Cinere.

Beberapa detik kemudian.

"Halo Narin, is everything okay there?" sapa Yashwan ramah.

"Hei Yashwan. Hei guys. Apa kabar?" sapa Narin dengan suara yang sengaja dibuat seperti sok berwibawa.

"Narin!" pekik Desitra. "Kamu di rumah Yashwan?!"

Narin tertawa, "Yah, kompensasi yang diberikan Yashwan setimpal dengan tawarannya supaya aku standby disini dan meninggalkan Tanjung Puting."

Desitra menatap Yashwan tajam. Yashwan tak acuh karena masih tersinggung dengan intervensi Desitra soal hotel.

"Fiuhh! Baiklah, kita harus cepat bergerak," Damar memusatkan perhatian pada rolltop lagi.

"Narin, tolong perlihatkan posisi kami dan visualkan proyeksi GPS dari satelit," kata Yashwan sambil memegang gelangnya.

Setelah Narin melakukan apa yang diminta Yashwan, Damar mengambil alih lagi.

"Hmm, kalau melihat detailnya satelit ini menampilkan visual, aku perkirakan kita terhubung ke satelit Navstar milik Amerika," kata Damar sambil jarinya terus lincah bergerak diatas rolltop.

"Satelit jadul, sudah tidak dipakai pihak militer. Sementara ini kita beruntung memakai satelit Navstar karena hanya digunakan untuk komunikasi layanan GPS, sehingga kita aman dari pantauan pihak berwajib. Mungkin masih beberapa tahun lagi satelit ini bisa digunakan sebelum dimatikan dan jadi sampah antariksa." jelas Damar kemudian bangkit dari kursinya dan mengambil jus dari kulkas.

Tak ada yang menimpali Damar karena Pastha dalam kondisi setengah terlelap diranjang dan Yashwan sedang membongkar ranselnya.

"Aku lapar. Kalian mau pesan room service atau makan di resto?" Desitra memecah keheningan sampai Pasthapun terbangun.

Yashwan, Pastha, dan Damar tersadar bahwa mereka tidak sempat sarapan dan sekarang merasa lapar.

"Room service saja. Kalian mau apa?" Yashwan mengambil keputusan sambil mencari nomor sambungan ke room service dari telepon di dinding.

"Nasi goreng seafood," Pastha menyambar cepat. "Dan kopi tubruk"

"English breakfast," kata Damar.

"Biar aku yang pesan, Yashwan. Kalian fokus saja mencari yang kalian butuhkan untuk mencari keturunan sultan," tukas Desitra lembut sembari mengambil alih telepon dari tangan Yashwan.

Tangan Yashwan yang bersentuhan dengan Desitra membuat Yashwan gugup. Kenapa pula ia harus gugup, Yashwan jengkel pada dirinya sendiri.

"Kau mau makan apa?" tanya Desitra masih dengan nada lembut tanpa manja.

"Apa saja," jawab Yashwan.

"Spageti?"

"Boleh,"

Pastha dan Damar cekikikan.

Lalu dua buah bantal sukses didaratkan dengan keras oleh Yashwan ke wajah Pastha dan Damar.

Waktu menunjukkan pukul 12 ketika mereka naik mobil sewaan menuju keraton.

Yashwan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi daripada hanya diam dikamar hotel ia memilih untuk mendatangi lokasi keraton.

Tur ke keraton sudah dihilangkan pada tahun 2022 untuk keamanan keluarga kerajaan. Ketika itu terjadi kudeta di Jakarta terhadap masa jabatan kedua Presiden Joko Widodo yang berujung pada pembakaran istana. Meski tidak terjadi kerusuhan tapi timbul kecemasan pada masyarakat di hampir semua tempat. Jam malam diberlakukan. Pelajar diliburkan sampai batas waktu yang tak ditentukan, kampus-kampus ditutup dan mahasiswa luar kota dipaksa pulang. Kantor pemerintahan tetap melayani seperti biasa, tapi kantor swasta dijaga aparat bersenjata.

Kondisi mulai normal setelah para pelaku makar ditangkap, hartanya dirampas negara dan diasingkan ke Papua Barat. Anak-anak dan cucu-cucu para pelaku makar harus mengikuti wajib militer selama setahun untuk menjalani indoktrinasi agar tidak mengulangi makar seperti orangtua mereka.

Yashwan dan kawan-kawannya berjalan menyusuri Malioboro. Tempat ini masih jadi tujuan wisata favorit para turis. Karena sudah lapar mereka makan siang di warung nasi pecel kaki lima dekat toko Mirota Batik.

Desitra takjub dengan rasa nasi pecel. Healthy food dia bilang. Maklum saja, Desitra memang belum pernah makan nasi pecel.

Pastha dan Damar bergantian menggoda Desitra karena tingkah Desitra selama menyantap nasi pecelnya terlihat norak tapi lucu. Desitra acuh tak acuh menanggapi godaan mereka. Pastha dan Damar sendiri menghabiskan dua porsi nasi pecel dan dua gelas es jeruk.

"Pak, nasi pecelnya enak sekali. Ini pasti makanan raja-raja ya," kata Desitra memuji penjual nasi pecel.

Penjual nasi pecel itu tertawa," Bukan makanan kesukaan raja, tapi raja mungkin pernah menyantap nasi pecel di istananya, Mbak," kata penjual nasi pecel amat ramah dengan logat Jawanya yang medok.

"Ohh begitu ya, kalau Raja Hamengkubuwono IX suka nasi pecel juga?" tanya Desitra santai sambil menyeruput jus semangka tanpa gula.

"Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono ke-IX konon punya makanan kegemaran namanya bebek suwar-suwir. Daging bebek dimasak bersama kedondong disiram dengan saus kedondong," jelas penjual nasi pecel.

Desitra melanjutkan obrolannya, "Sepertinya lezat sekali bebek suwar-suwir itu," katanya sambil membayangkan bagaimana rasa masakan itu. Tangannya memperagakan orang yang sedang makan bebek dengan tangan.

Pastha tertawa sedangkan Yashwan hanya tersenyum simpul. Sementara Damar tetap asyik menyeruput es jeruknya.

"Apa para cucu Hamengkubuwono IX doyan bebek suwar-suwir juga, Pak?" tanya Desitra lagi, "Oya, apakah semua cucu raja juga tinggal di dalam istana?"

Penjual nasi pecel itu tertawa, "Hahaha, soal makanan kegemaran para cucu Ngarso Dalem Hamengkubuwono IX saya tidak paham. Mereka juga tidak tinggal di keraton. Masing-masing punya tempat tinggal sendiri di luar keraton." jawab penjual pecel dengan sabar.

"Begitu ya. Kira-kira ada atau tidak ya cicit Hamengkubuwono IX laki-laki yang berumur 30 tahunan? Seandainya ada mungkin dia akan jadi raja yang muda gagah dan tampan serta doyan nasi pecel," kata Desitra berusaha terlihat bergumabm.

"Cicit laki-laki Ngarso Dalem Hamengkubuwono IX banyak. Tapi yang umurnya 30 tahunan mungkin cucu dari almarhum Gusti Bendoro Pangeran Haryo Joyokusumo, dari anak pertamanya yang namanya Nyi Raden Ria Jayaningrum," raut muka penjual nasi pecel tampak menggali ingatannya dengan keras.

Yashwan, Pastha, dan Damar tetap menyimak dengan serius tanpa ikut berkomentar atau bertanya karena mereka khawatir akan merusak suasana obrolan hangat Desitra dengan penjual nasi pecel.

"Siapa nama cicit... ahh, cicit dari..." Desitra kesulitan mengingat nama Joyokusumo karena si penjual nasi pecel menyebut gelarnya secara lengkap tidak dengan singkatan GBPH.

"Pangeran Joyokusumo," sambung penjual nasi pecel.

"Hehe, iya Pangeran Joyokusumo. Siapa nama cicit beliau, Pak? Apakah cicit Pangeran Joyokusumo tinggal di keraton?" Desitra sengaja menunjukkan rasa penasarannya.

Si penjual nasi pecel berusaha menggali ingatannya lagi.

"Raden Mas Cakrakinaryo seingat saya tinggal di Rejowinangun, Magelang kota, tapi persisnya saya tidak tahu," sambung penjual nasi pecel.

Yashwan, Pastha, dan Damar saling bertukar pandang karena Desitra luwes sekali memulai obrolan sampai pada akhirnya bisa menggali informasi yang mereka butuhkan.

"Menarik ya, Pak, cerita soal keluarga keraton. Terima kasih sudah mau berbagi cerita, Pak," Desitra mengucapkan terima kasihnya dengan tulus.

"Kalau begitu kami pamit dulu, mau lanjut jalan-jalan lagi," pamit Desitra.

Total tagihan makanan dan minuman dari penjual nasi pecel hanya sebesar Rp73rb, tapi Yashwan membayarnya dengan Rp150rb. Si penjual nasi pecel kaget dan memaksa untuk mengembalikan kelebihan uang. Tapi Yashwan yang merasa berterima kasih karena mendapatkan informasi yang dibutuhkan malah menambahkan uang Rp50rb lagi ke tangan penjual nasi pecel. Yashwan, Pastha, Damar, dan Desitra langsung pergi meninggalkan penjual nasi pecel yang terbengong-bengong.

"Kau hebat, Desitra. Kau lebih berguna daripada Damar dalam hal mengorek informasi," canda Pastha sambil melirik Damar berharap Damar tak marah namanya dibawa-bawa untuk memuji Desitra.

Desitra tertawa tanpa menjawab tapi melihat ke arah Yashwan penuh arti.

Ya, dalam hati Yashwan mengakui bahwa ia tak enak hati karena awalnya menganggap keikutsertaan Desitra akan merepotkan dan menghambat tujuan perjalanan. Tapi sekarang Desitra ternyata memudahkan jalan mereka.

"Kita sebaiknya kembali ke hotel dan menghubungi Narin. Besok baru kita pergi ke Magelang," kata Yashwan. Yang lain mengamini.

Sesampainya di kamar hotel, Damar dan Pastha yang kekenyangan langsung jatuh tidur. Sementara Desitra memilih mandi.

Yashwan ingin sekali menyuruh teman-temannya untuk bersiap-siap ke Magelang, tapi tak mungkin memaksakan diri. Mereka belum tahu alamat lengkap Raden Mas Cakrakinaryo. Jarak dari hotel ke Magelang makan waktu satu jam lebih. Kalaupun memaksakan diri Raden Mas Cakrakinaryo akan bingung karena kedatangan tamu tak dikenal ke rumahnya.

Kemudian Yashwan menyalakan rolltop dan menghubungi Narin. Tapi segera smart watchnya berdering. Jardis menelepon.

"Kau dimana, Yashwan? Kata Mang Kasman kau ke Yogya bersama Desitra," kata Jardis tanpa menyapa basa-basi.

"Jardis, kapan kau datang dari Bandung? Aku tidak hanya bersama Desitra, aku bersama Pastha dan Damar juga. Mereka sedang istirahat," jawab Yashwan.

"Sedang apa kau di Yogya? Oya, rumah kaca kacau sekali. Mang Kasman bilang ada gempa. Tapi yang rusak hanya benih-benih tanamanmu," Jardis mengutarakan rasa penasarannya.

Gawat, ia lupa kalau Jardis tidak tahu apa-apa soal kamar bawah tanah. Bagaimana dengan Narin, apakah ia harus sepanjang waktu berada di kamar bawah tanah supaya tidak ketahuan Jardis? Ah, Jardis kuliah sampai sore. Sebelum Jardis pulang Narin bisa keluar dan pulang ke rumah Desitra. Narin sudah pasti butuh bantuan Mang Kasman untuk memberitahu Narin agar terhindar dari pertemuan dengan Jardis.

"Yashwan!" panggil Jardis. "Kau sedang melamun atau apa? Aku tanya kenapa rumah kaca kacau dan sedang apa kau di Yogya?" cecar Jardis.

"Ya, sistem sensor rumah kaca rusak, belum kuperbaiki. Aku ke Yogya liburan saja, mencari suasana baru," jawab Yashwan yang merasa jawabannya kurang memuaskan.

"Bagaimana Desitra bisa ikut?" tanya Jardis lagi.

Yashwan tidak punya jawaban maka ia memutuskan untuk mengakhiri percakapan dengan Jardis.

"Baterai jamku habis. Aku putus dulu, kapan-kapan kita sambung lagi."

Narin yang rupanya sudah tersambung di rolltop sejak Yashwan menerima telepon Jardis tertawa terkekeh.

"Mungkin dikira Jardis kau ke Yogya dalam rangka kencan," celetuk Narin masih terkekeh.

"Untung Mang Kasman sudah memperbaiki toilet di kamar bawah tanah ini jadi aku tak perlu ke atas dengan risiko terpergok Jardis," sambungnya dengan nada lega.

Yashwan ikut tertawa sambil minta maaf.

"Narin, bisa kau visualkan daerah Rejowinangun di Kota Magelang?" pinta Yashwan.

"Right away!" Narin mencari yang diminta.

Sesaat kemudian muncul peta Kota Magelang diperbesar menjadi hanya terlihat Desa Rejowinangunnya saja.

Tiba-tiba ada bau harum sabun samar-samar menguar dari kamar mandi. Desitra selesai mandi dengan rambut yang sengaja tak dikeringkan.

Yashwan sedikit berdebar melihat Desitra yang kelihatan segar dan wangi.

Heuh, harusnya memang laki-laki tidak boleh sekamar dengan perempuan. Mengganggu konsentrasi saja.

"Kau sedang mencari lokasi Raden Mas?" Desitra menghampiri Yashwan. Dianginkan-anginkan rambutnya menggunakan jari tangannya. Bau harum rambutnya menguar ke hidung Yashwan.

"Desitra, aku tidak bisa konsentrasi," keluh Yashwan.

Desitra mengerutkan dahi tanda tidak mengerti maksud Yashwan.

"Ah, sudahlah," Yashwan kemudian pergi ke balkon dan merokok. Susah sekali mengenyahkan debaran-debaran didada kalau berada dekat Desitra. Apalagi kalau ia habis mandi. Tubuhnya jadi wangi. Yashwan mengisap rokoknya dalam-dalam.

Yashwan masuk sebentar untuk mengambil kopi dan keluar lagi untuk menghabiskan rokoknya. Dibiarkannya Desitra bicara dengan Narin karena saat ini ia memilih untuk menghilangkan rasa berdebar yang menggayuti dadanya daripada harus mencari alamat Raden Mas Cakrakinaryo di rolltop.

Heuh, repot sekali kalau harus menyebut gelarnya juga. Aku akan meminta teman-teman menyebut Cakrakinaryo saja demi kepraktisan, kata Yashwan dalam hati. Diisapnya rokok dalam-dalam.

"Kau sepertinya banyak merokok," Desitra tiba-tiba muncul di balkon membuat Yashwan agak kaget.

"Tidak juga. Aku jarang merokok."

"Aku melihatmu sering merokok. Apa kau tidak takut sakit?" suara Desitra menunjukkan perhatian.

Yashwan hanya menggeleng tanpa menjawab. Dalam hati Yashwan mengumpat karena kedatangan Desitra membuat dadanya jadi tambah berdebar dan pikirannya berkabut.

Hmm, kubangunkan sajalah Damar dan Pastha, daripada aku harus berduaan dengan Desitra terus, pikir Yashwan.

"Aku masuk dulu ya, aku harus membangunkan Pastha dan Damar supaya mereka bisa membantu mencari lokasi Cakrakinaryo," kata Yashwan. Kelihatan kalau ia kikuk.

Desitra mengangguk mempersilahkan.

"Pastha, bangun! Damar ayo bangun!" Yashwan mengguncang-guncang tubuh Pastha dan Damar sampai keduanya terbangun, "Ayo bangun! Kita harus buru-buru." paksa Yashwan.

Pastha dan Damar setengah bangun sambil menggerutu dan bergumam, tapi Yashwan pura-pura tidak dengar lalu ia kembali ke meja tempat rolltop berada.

"Bagaimana mencari tempat tinggal hanya bermodalkan nama orang dan desanya saja?!" tanya Narin dari kejauhan.

Yashwan tersenyum," Kita tanya kepala desa." sambil mencari letak kantor kepala desa Rejowinangun. "Kalau belum ketemu kita datangi semua kepala dusun di Rejowinangun dan tanya apakah ada warganya yang bernama Cakrakinaryo. Lagipula desa Rejowinangun hanya punya 13 RW. RW di desa biasanya bernama dusun atau dukuh. Apa susahnya menanyai 13 kepala dusun?!" paparnya, "Kepala dusun biasanya kenal satu persatu warganya." tangan Yashwan bolak-balik mencatat alamat-alamat di kertas lalu mencari lokasi di peta tempat mana saja yang kira-kira perlu didatangi.

Pastha garuk-garuk kepala karena ide itu sepertinya makan banyak waktu dan butuh kesabaran tinggi. Lagipula apa kepala dusun tidak penasaran ada urusan apa orang asing sampai mencari Raden Mas Cakrakinaryo sementara mereka sendiri tidak kenal siapa Raden Mas Cakrakinaryo itu.

"Besok pagi kita berangkat ke Magelang," sambung Yashwan melihat bahwa jam tangannya menunjukkan pukul tujuh malam.

"Narin, rasanya besok kami tidak memerlukan bantuanmu di kamar bawah tanah. Kau tak perlu datang besok," kata Yashwan.

Pastha menyambar, "Yeah, besok kau boleh libur, Narin. Silahkan pelesir kemanapun kau suka," dengan nada dibuat seperti bos.

Narin tertawa, "Hahaha, terima kasih! Dengan adanya Jardis aku jadi seperti tahanan bawah tanah. Tidak bisa keluar dari kamar ini kecuali kalau dia tidak dirumah. Menyedihkan."

Yashwan tersenyum lebar sambil mengangkat bahunya, "Sorry, Narin. Apa boleh buat," kemudian ia pamit pada Narin dan mematikan rolltop.

Yashwan sedang menjatuhkan badannya ke sofa ketika Pastha berkata dengan semangat, "Yuk guys, kita ke cafe di lobby, senang-senang dahulu sebelum besok kita bekerja," ajak Pastha sambil menggamit tangan Damar. Damar terlihat kurang antusias karena sebenarnya ia ingin tidur. Tapi diturutinya ajakan Pastha dengan harapan bisa berkenalan dengan gadis cantik.

"Ayo Yashwan, Desitra." ajak Pastha lagi.

"Tunggu sebentar, Pastha," Desitra mengambil sisir dan merapikan rambut lalu mengambil tas selempang kecilnya, "Ayo kita turun!" katanya lalu menyibakkan badan dan menghilang di balik pintu.

Yashwan bersikeras menolak ikut dengan alasan capek. Ia kemudian menyeduh kopi, menyalakan rokoknya lagi lalu menggonta-ganti channel televisi mencari acara yang menarik untuk ditonton. Tapi tidak ada acara yang ditonton karena pikiran Yashwan terus berputar tentang apa yang harus dilakukannya jika ternyata Cakrakinaryo tidak tinggal di Rejowinangun. Bagaimana jika keturunan Hamengkubuwono IX yang dimaksud dalam catatan ayahnya itu bukan Cakrakinaryo?

Yashwan jadi cemas. Kecemasannya itu bertambah kala ia mulai menduga bahwa Raden Mas Cakrakinaryo bukan disiapkan untuk menjadi sultan tapi presiden. Benarkah?!

Ahh, seberat itukah, ayah?! Yashwan tiba-tiba merasa tidak percaya diri.