Episode 2 - Watugaluh yang Agung


Pekatnya malam mulai pudar, tergantikan oleh warna biru keunguan seiring terbitnya matahari di ufuk timur. Kuda yang dipacu oleh Adipati Soka Dwipa belum berhenti sejak semalam, begitu pula dengan kuda yang ditunggangi oleh para abdi dalem yang tersisa. Kami terus bergerak ke arah utara, keluar dari hutan Alas Kobong, melewati perbukitan Krakal, hingga tiba di sebuah jalan sempit yang menanjak. Jalan yang terjal dihiasi jurang yang dalam di sebelah kiri dan tebing-tebing kokoh di sebelah kanan.

"Mohon maaf Kanjeng Gusti. Apa perjalanan kita masih jauh?" tanyaku kepada Soka Dwipa.

"Tidak, sebentar lagi kita akan memasuki perbatasan Kota Raja," jawabnya seraya mempercepat laju kuda yang kami tunggangi.

Meski jalan yang kami lalui begitu berbahaya, namun bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda, panorama alam di sini cukup indah untuk dinikmati. Jurang lembah Arjuno yang dalam ternyata memiliki wajah yang jelita, subur ditumbuhi berbagai tanaman hijau dan pepohonan yang rindang di dasanya. Suara-suara alam mengalun merdu memainkan harmoni yang indah. Membuatku sejenak terlupa akan kejadian semalam. Burung-burung terlihat menari bermain bersama angin mengikuti alur lembah.

"Kita sudah samapai!" ujar Soka Dwipa sembari mengepalkan tangannya ke atas untuk memberi tanda kepada para abdi dalem untuk menghentikan laju kuda mereka.

Ya... Karena terpana oleh peson lembah Arjuno tadi aku sampai tidak sadar bahwa kami telah berada di depan Gapura Kota Wilujaya, kota Raja Watugaluh. Gapura Kota Wilujaya berbeda dengan gapura kota lainnya di Tanah Jawa. Bila biasanya gapura hanya terdapat di samping kiri dan kanan jalan, namun di Wilujaya ini di tengah gapura justru ada sebuah pintu raksasa terbuat dari bahan logam yang menutupi jalan. Ukurannya pun luar biasa, pintu logam itu selebar jalan dan tingginya menyamai tinggi tebing yang ada di sisi kanan.

Gapura megah itu diapit oleh dua menara tinggi, di sebelah kulon yang berbatasan dengan jurang dan di sebelah wetan menempel dengan tebing. Menara tersebut dijaga oleh banyak prajurit kerajaan. Di depan gapura yang tertutup pintu raksasa tersebut ada seorang penjaga gerbang dengan postur tubuh kekar mengenakan busana ala prajurit kerajaan, dengan membawa tombak di tangan kanannya dan perisai di tangan kirinya. Penjaga itu bejalan menghampiri kami.

"Adipati Soka Dwipa? Apa gerangan yang membawamu kemari?" ternyata penjaga tersebut mengenal Sang Adipati dan bertanya dengan raut wajah kebingungan.

Adipati Soka Dwipa pun turun dari kudanya, begitu pula aku dan diikuti oleh para pengikut Soka Dwipa yang bergegas turun dari kuda mereka.

"Kadipatenku telah runtuh saudaraku. Arya Jayalodra telah meghancurkan segalanya. Hanya kami yang tersisa. Maksud kedatanganku kemari adalah untuk menyampaikan kepada Prabu Reksa Pawira tentang apa yang terjadi pada Kadipatenku dan juga untuk bergabung dengan prajuritnya untuk menghadapi pasukan Arya Jayalodra," Soka Dwipa menjelaskan semua yang menimpa dirinya kepada penjaga itu.

"Baiklah, biar kuantar menemui Kanjeng Prabu," ajak penjaga itu sembari memberi tanda kepada prajurit yang berada di atas menara untuk membukakan pintu raksasa yang menutupi jalan itu.

Aku melihat beberapa prajurit di atas menara mengayuh tuas yang terbuat dari logam yang sama dengan logam di pintu raksasa itu. Suara gemuruh terdengar cukup keras saat pintu mulai bergeser dan perlahan pintu raksasa itu pun terbuka. Penjaga yang tadi menyambut kami masuk terlebih dahulu.

"Mari kanjeng," ajak penjaga itu. Adipati Soka Dwipa kemudian memberi tanda kepada kami untuk ikut masuk dan mengikuti si penjaga Gapura Watugaluh.

"Siapkan kuda untukku!" titahnya kepada seorang prajurit kerajaan sembari memberikan tameng dan tombaknya kepada prajurit itu. Semetara itu prajurit lainnya terlihat dengan sigap mengambil seekor kuda yang terikat di tiang di pinggir jalan. Penjaga itu naik ke atas kudanya, begitu pula dengan kami yang kembali naik ke atas kuda kami, lalu ia membimbing kami menuju Keraton Watugaluh.

Dari atas kuda aku melihat banyak pos-pos penjaga yang tersebar di sepanjang jalan, tepatnya di sisi sebelah kanan. Sementara sisi sebelah kiri jalan masih tetap sama, jurang lembah Arjuno. Hanya saja, jalan yang kami lalui terus menurun sehingga dasar jurang yang tadi terlihat begitu dalam kini mulai mendekat. Tebing di sebelah kanan kami pun mulai bersimpuh sejajar dengan jalan yang kami lalui.

Setibanya di ujung jalan, aku melihat pemandangan yang luar biasa. Ini kali pertama aku melihat kerajaan dan kota semegah ini. Kerajaan Watugaluh berada di lembah Purwo yang subur, menyambung dengan lembah Arjuno yang kami lalui tadi. Gunung-gunung yang mengitari kerajaan ini seolah menjadi benteng alam yang kokoh. Dari sini terlihat keraton Watugaluh yang dibangun di tengah kota.

Ada sungai yang cukup besar mengalir di sebelah barat keraton, di pinggir sungai tersebut berdiri dengan kokoh sebuah kompleks Candi untuk sembahyang. Kami terus menuju ke arah keraton, setiap orang yang kami jumpai memberikan senyum yang ramah tanpa rasa curiga maupun prasangka kepada kami. Sungguh negeri yang indah nan damai, ketenangan benar-benar kurasakan ketika memasuki kota ini.

Kami melewati sebuah pasar yang sangat ramai. Berbeda dengan pasar di Pangkubayan yang hanya beralaskan daun pisang ataupun tikar yang dirajut dari akar sebagai lapak untuk berdagang, di sini tersedia meja-meja kayu beratapkan jerami yang digunakan para pedagang untuk menjajakan dagangannya.

"Itu... Itu Adipati Soka Dwipa dari Pararaton!" seru seorang kakek tua yang tengah menjajakan dagangannya di pasar sembari menunjuk ke arah rombongan kami.

Semua yang ada di pasar terdiam dan menatap ke arah kami. Lalu perlahan, satu persatu dari mereka mulai berlutut dan memberikan hormat kepada Adipati Soka Dwipa.

"Jadi begini ternyata rasanya diberikan penghormatan oleh orang-orang," pikirku.

Secara tidak langsung orang-oramg di pasar juga berlutut ke arahku, karena aku menumpang kuda milik Adipati Soka Dwipa. Jadi setidaknya aku dapat merasakan bagaimana rasanya diberikan penghormatan oleh orang banyak.

"Berdirilah, penghormatan seperti itu tak lagi layak kudapatkan, setelah kegagalanku mempertahankan tahtaku," ujar Soka Dwipa dari atas kudanya.

Namun sepertinya rasa hormat dari rakyat Watugaluh tetap tinggi kepada Adipati Soka Dwipa, sehingga mereka enggan untuk berdiri sebelum kami pergi.

"Mari kanjeng, kita lanjutkan perjalanan," ajak si penjaga gapura yang hingga kini aku belum tahu siapa namaya.

Kami melanjutkan perjalanan menuju keraton dan meninggalkan rakyat Watugaluh yang masih berlutut memberikan penghormatan. Jalanan di Kota Raja Wilujaya ini begitu rapih, menggunakan batuan gunung yang sudah dibentuk persegi panjang dan tersusun simetris sepanjang jalan. Jauh berbeda dengan jalan di luar Wilujaya yang kami lalui tadi.

Mendekati Keraton Watugaluh, jalan mulai sedikit menanjak. Jalan yang kami lalui membelah sebuah alun-alun di depan keraton, tepatnya di sisi selatan keraton. Banyak pohon-pohon rindang menghiasi pinggiran alun-alun. Anak-anak kecil bermain riang di sana, melambungkan ingatanku kembali ke masa kecilku.

Sesampainya di depan gerbang keraton, imajiku terusik oleh benteng yang mengitari keraton Watugaluh. Benteng itu menimbulkan rasa heran di batinku. Benteng keraton Watugaluh tidak lazim! Yang kutahu, biasanya sebuah benteng dibangun dengan megah, menjulang tinggi ke atas dan dibuat dengan sangat kokoh. Namun, benteng keraton Watugaluh jauh berbeda.

Tingginya tidak lebih dari tinggi kuda yang kami tunggangi. Terbuat dari batuan gunung yang dibentuk kotak dan ditumpuk memyerupai candi yang terbentang dan mengitari keraton. Aku terus memperhatikan benteng tersebut. Saat semakin dekat aku melihat benteng ini memikiki banyak lubang, bukan karena rusak, tapi lubang yang sengaja dibuat.

Benteng macam apa ini? Kenapa Watugaluh membangun benteng seperti ini? pikirku.

Kami melewati gerbang keraton yang berada di tengah benteng itu. Meski tersambung dengan benteng, namun gerbang keraton terlihat lebih megah dari bentengnya, bentuknya hampir sama dengan gapura tadi hanya ukurannya yang jauh lebih kecil.

MEMAYU HAYUNING BAWONO,

AMBRASTO DHUR ANGKORO".

Tertera di atas gerbang keratin. Sebuah pepatah jawa yang pernah kudengar dari bopo, namun aku lupa apa maknanya. Saat melintasi gerbang itu, aku kembali melihat ke arah benteng keraton. Dari samping, benteng tersebut terlihat membentuk limas. Untuk melepas rasa penasaranku, kutanyakan hal tersebut kepada Adipati Soka Dwipa.

"Maaf Kanjeng Gusti, saya ingin bertanya. Mengapa bentuk benteng yang mengitari Keraton Watugaluh ini sedikit aneh? Dinding benteng juga terlihat tidak tebal bahkan ada ruang di dalamnya?" tanyaku kepadanya yang kini menolehkan wajah ke arah kiri sambil melihat ke arah benteng Watugaluh.

Dia tersenum dan menoleh ke arahku, "Lihat di sana… Ada pintu masuk ke dalam benteng itu bukan?" ungkapnya sambil menunjuk ke sebuah pintu kecil yang terdapat di bagian dalam benteng.

"Dan kau masih ingat rupa luar dari benteng ini? Dilihat dari luar terdapat lubang-lubang di benteng itu yang mengarah ke atas, bukan? Itulah keistimewaan dari benteng ini. Benteng ini merupakan benteng tempur." lanjutnya menjelaskan tentang benteng yang lebih terlihat seperti pagar itu.

"Dari lubang-lubang tersebut, regu panah Kerajaan Watugaluh siap melesatkan anak panah mereka kepada musuh yang hendak menyerang Watugaluh," tambahnya lagi.

"Ampun Gusti, bukannya hamba lancang, namun bukankah itu sama saja mengorbankan pertahanan? Meski setiap musuh yang mendekat akan dihujani oleh panah dari prajurit Watugaluh, namun bukankah benteng ini akan sangat mudah untuk dihancurkan?" tanyaku kembali kepadanya.

"Karena memang bukan untuk itu benteng ini didirikan. Benteng ini adalah pertahanan terakhir kerajaan. Sedangkan pertahanan kerajaan yang utama adalah gapura dengan pintu raksasa yang menyambut kita tadi, dan gapura-gapura lain di seluruh jalan masuk menuju Kota Raja, serta gunung-gunung dan lembah ganas disekitar Watugaluh yang sesungguhnya menjadi benteng bagi Watugaluh. Selain itu, Watugaluh juga sengaja melepas hewan buas di dalam hutan yang berada di dasar jurang sebagai sistem pertahanan mereka.

“Kamu masih ingat dengan jalan yang kita lalui tadi? Di sebelah kanan jalan ada tebing bukan? Bila ada musuh menyerang, para penjaga di sepanjang jalan yang tadi kita lewati pun akan memberikan isyarat kepada para penjaga lain di atas tebing untuk menjatuhkan bongkahan-bongkahan batu dan menutup akses jalan menuju Kota Wilujaya. Itulah pertahanan Watugaluh sebenarnya." ungkapnya kepadaku.

Aku hanya bisa maggut-manggut sok mengerti mendengarkannya. Iya, karena memang dari kecil kerjaku hanya membantu bopo sebagai petani, sehingga aku tidak mengerti strategi-strategi perang semacam ini.

Kami melintasi jalan yang dihiasi taman-taman kecil di sebelah kanan dan kiri jalan keraton. Taman yang mengitari keraton ini ditumbuhi berbagai macam bunga yang cantik jelita. Terlihat beberapa abdi dalem tengah mengurus taman. Sebagian menyapu jalan setapak yang melintas di sepanjang taman, sebagian lainnya merapihkan rumput dengan arit. Namun, ketika para abdi dalem Watugaluh menyadari kehadiran kami, mereka langsung berlutut seraya memberi penghormatan kepada kami. Mereka tidak melanjutkan aktivitas sampai rombongan kami benar-benar telah melewati tempat itu.

Setelah kami melintasi taman-taman, kami disambut oleh gapura kecil yang menyatu dengan bagian terluar dari bangunan keraton. Di depan bangunan yang mengapit gapura terlihat beberapa ptajurit keraton yang berjaga-jaga. Dari bagian tengah gapura yang ada di hadapan kami, dapat terlihat pendopo yang megah, berada di bagian dalam keraton, posisinya tidak terlalu jauh dari gapura. Dari atas kuda dapat kulihat bila di pendopo tersebut sedang ramai orang berkumpul. Dari busana yang mereka kenakan, sepertinya bukanlah rakyat biasa.

"Nampaknya tengah ada musyawarah besar di Pendopo Agung, Gusti," ujar Penjaga yang membimbing kami kemari.

"Iya, sepertinya begitu. Dari sini, samar kulihat ada beberapa Adipati dari Kadipaten yang berada di bawah kekuasaan Watugaluh. Ada pula para pendekar aliran putih berkumpul di sana," sahut Adipati Soka Dwipa.

Kami berhenti lalu turun dari kuda di depan gapura. Beberapa pengawal menghampiri kami dan membawa kuda kami ke kandang kuda yang terletak di barat keraton. Kami berjalan melintasi gapura mengikuti si Penjaga yang berjalan memimpin di depan. Dari kejauhan terlihat seorang pria berjalan keluar dari pendopo menghampiri kami.

Pria itu memiliki wajah yang ramah dengan tubuh tegap dengan perut yang terlihat buncit, mengenakan jubah putih dan kain bebetan yang menutupi pinggang hingga mata kakinya. Ia mengenakan mahkota dari emas yang dihiasi permata di atas kepala. Iya, dia adalah Kanjeng Gusti Prabu Reksa Pawira, Raja Watugaluh yang Agung. Bila dilihat dari wajahnya, seolah umurnya tidak jauh berbeda dari Adipati Soka Dwipa, namun setahuku Prabu Reksa Pawira jauh lebih tua ketimbang Adipati Soka Dwipa. Sang Prabu keluar dari pendopo, begitupula dengan orang-orang lainnya yang ada di dalam pendopo mengikutinya keluar dan mendekat ke arah kami.

"Hamba menghadap Kanjeg Gusti. Adipadi Soka Dwipa dari Pararaton bersama para abdi dalemnya mengungsi dari Pararaton ke Watugaluh. Pararaton telah ditaklukan," ujar si Penjaga sembari memberi hormat kepada sang Raja.

"Terimakasih Patih Lembu Sutta, laporanmu kuterima," ujarnya sembari menepuk bahu si Penjaga dan berjalan menghampiri Adipati Soka Dwipa.

Tunggu.... Patih? Aku baru tersadar bila tadi Prabu Reksa Pawira memanggil si Penjaga tadi dengan sebutan Patih? Ternyata orang yang sedari tadi bersama kami itu adalah seorang panglima perang, Mahapatih Kerajaan Watugaluh. Sepertinya keadaan memang sangat genting, hingga seorang Mahapatih pun harus turun ke garis terdepan pertahanan Watugaluh.

"Selamat datang saudaraku, aku turut berduka dengan apa yang terjadi dengan kerajaanmu," ujar Raja Reksa Pawira sembari memberi pelukan persahabatan kepada Soka Dwipa.

"Apa yang terjadi dengan Kadipatenku memang telah dituliskan oleh para dewa, itu adalah takdirku, takdir Pararaton,"

"Mari, masuk ke pendopo dan bergabung dengan yang lainnya untuk membahas strategi menghadapi Jayalodra. Dan untuk sementara, para Abdi dalemmu bisa beristirahat dan kemudian untuk sementara bekerja di sini sebagai abdi dalem Watugaluh."

"Sebelumnya saya meminta maaf Kanjeng Prabu, tapi di antara mereka ada yang bukan merupakan abdi dalemku," ujar Soka Dwipa sembari menoleh ke arahku.

"Dia sahabat saya, namaya Kuntjoro. Dia yang telah menyelamatkan hidup saya dan para abdi dalem lainnya. Bolehkah dia ikut tinggal di sini dan menjadi tentara Watugaluh?"

"Maaf Saudaraku, namun peraturan yang ada di Watugaluh kokoh laksana gunung Merapi, dan peraturan di Watugaluh tidak mengizinkan hal tersebut. Dia tidak bisa tinggal di dalam keraton. Bila dia ingin tinggal di dalam keraton dia harus menjadi prajurit ataupun abdi dalem. Jika dia berkenan menjadi prajurit, dia dapat mengikuti ujian untuk menjadi prajurit keraton yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini," jawab Prabu Reksa Pawira.

"Ampun beribu ampun, Kanjeng Gusti. Maaf bila saya memotong obrolan Kanjeng Gusti, tapi biarlah anak muda ini tinggal di rumahku untuk sementara waktu. Kelihatannya dia dapat berguna untuk membantuku menyelesaikan beberapa senjata yang dipesan oleh Kanjeng Prabu," sela seorang kakek tua berjanggut dan berambut putih yang tersanggul di atas kepalanya.

"Ada benarnya juga, lebih baik anak muda ini tinggal bersama Empu Parewang dan membantunya menyelesaikan beberapa senjata sembari menunggu waktu ujian calon prajurit keraton," ujar Sang Prabu.

"Bagaimana? Apa tidak masalah bila untuk sementara waktu kau tinggal dengan Empu Parewang?" tanya Soka Dwipa kepadaku.

"Tidak apa, Gusti. Saya akan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Kanjeng,"

"Baiklah kalau begitu. Tapi bila nanti sayembara itu tiba, kau harus mengikutinya, kau mengerti?" tegasnya sambil memegang kedua bahuku.

"Siap, Gusti. Hamba mengerti," jawabku tegas pula.

"Baiklah kalau begitu, saya rasa saya sudah selesai di sini. Saya akan pulang, beristirahat dan membawa bocah ini ke rumahku. Aku pamit undur diri. Permisi. Mari anak muda, ikut saya,"

Empu Parewang memberi hormat dan pamit dengan semua yang ada di sana lalu mengajakku untuk ikut dengannya. Aku pun pamit dan berjalan megikuti Empu Parewang meninggalkan lingkungan Keraton Watugaluh. Sesekali aku menoleh ke arah belakang dan melihat orang-orang mulai kembali ke dalam pendopo.