Episode 12 - Delapan Penjuru Mata Angin (1)


Berdasarkan penjelasan gurunya, Bintang menyimpulkan bahwa kemungkinan tanpa sengaja ia mengerahkan kesaktian di saat genting setelah menyelamatkan Lamalera. Tepat di saat ia terjatuh ke laut. Sampai-sampai membuka segel Pulau Bunga.

Jadi, Bintang sudah memiliki kesaktian tanpa ia sadari, atau kesaktiaanya terbuka saat kejadian tersebut. Hal ini menjelaskan perasaan akan adanya tekanan berat ketika tersadar di Pulau Bunga. Suatu hal yang biasa terjadi bila seorang ahli yang berada pada kasta rendah berhadapan dengan ahli yang kastanya lebih tinggi. Dalam hal ini ketika indera keenam, mata hati, Bintang menangkap kehadiran Komodo Nagaradja.

Selama dua hari kemudian, Bintang berlatih membuka dan menutup mata hatinya. Mata hati, atau indera keenam, berperan sebagai indera untuk menangkap informasi tentang dunia sekitar yang tidak bisa diperoleh dengan kelima indera biasa. Mata hati menyajikan persepsi baru. Kini Bintang bisa merasakan aura, melihat ke arah belakang tanpa menoleh, menyapu pandang ruangan gelap, dan berbicara langsung dari pikiran sehingga tak perlu membuka mulut.

Awalnya ia harus berkonsentrasi penuh, duduk bersila, sama sekali tak bergerak. Kemudian, ia mulai melakukan hal-hal kecil sambil membuka mata hati. Hanya dalam dua hari, Bintang kini bisa berjalan dan melakukan hal-hal kecil lain dengan mata hati terbuka.

"Jangkauan mata hatimu cukup jauh. Sejak berada di hutan, sepertinya kau telah menangkap kehadiranku," ungkap Nagaradja, masih menggunakan mata hati untuk berbicara, dalam sesi pengenalan kesaktian.

"Biasanya, mata hati Kasta Perunggu Tingkat 1 hanya bisa menyapu area dalam radius 10 m. Lanjut Tingkat 2 seluas radius 20 m, dan seterusnya berkelipatan 10 m."

Bintang tekun menyimak penjelasan gurunya.

“Penggunaan indera keenam sama dengan indera-indera lainnya. Setelah dibuka, jangan lagi ditutup, kecuali ada alasan penting sehingga kau harus menutup mata hati untuk sementara. Ingatlah, bahwa menutup mata hati bagi seorang ahli sama dengan mengundang celaka.

"Kau telah terbiasa dengan mata hati terbuka dan telah pula merasakan mustika Kasta Perunggu di dalam dirimu," sambung Nagaradja dengan datar. Seolah bukan sesuatu yang pantas dibanggakan.

"Mengingat usiamu yang sudah menginjak angka 12 tahun, sungguh merupakan ketertinggalan."

Perlahan Komodo Nagaradja mengangkat ekornya. Ekor yang besar dan panjang itu bergerak lambat dan, jika diperhatikan dengan seksama, sedikit bergemetar. Sungguh merupakan upaya yang luar biasa beratnya hanya untuk sebuah gerakan sederhana.

"Bam!" ekor komodo raksasa Nagaradja menimpa dinding di dekatnya. Seluruh penjuru gua bergetar. Bebatuan pun melompat ke segala arah. Kepulan debu berlomba mengudara. Perlu beberapa waktu sebelum debu mengendap dan menyibak sebuah lubang sebesar pintu rumah.

Bintang masih duduk bersila di depan gurunya. Ia menatap ke arah lubang tersebut. Ruang penyimpanan. Mata hatinya mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang luar biasa di balik lubang.

"Di balik lubang ini berbagai pusaka yang ada pada diriku saat terdampar di pulau ini," Nagaradja menjelaskan.

"Ada beberapa gulungan naskah daun lontar yang memuat jurus-jurus sakti."

Nagaradja menelusuri ruang penyimpanan. Menggunakan mata hati ia mengambil beberapa gulungan daun lontar yang kemudian mengapung tepat di hadapan Bintang. Aura yang keluar dari setiap naskah seolah menyedot udara dari sekeliling. Bintang segera mengatur pernapasan. Sebagai siluman sempurna, tentu Nagaradja tidak menenteng naskah jurus-jurus tingkat rendah.

“Aku tidak tahu mana yang paling sesuai untukmu. Pilihlah,” perintah Nagaradja.

Mata hati Bintang memeriksa. Ada tiga gulungan daun lontar melayang tepat di depannya. Dari naskah paling kiri, ia merasa ada semacam rasa nyaman dan kedekatan. Tanpa ragu, ia segera menjulurkan kedua tangan dan meraih gulungan naskah berwarna kecoklatan tersebut.

“Itukah pilihanmu?” tanya Nagaradja sedikit ragu.

Seribu tahun lalu, saat Negeri Dua Samudera dalam masa kejayaan, terdapat sejumlah artefak misterius. Artefak-artefak tersebut tidak diketahui asal-muasalnya, namun diperkirakan memiliki kesaktian maha dahsyat. Ada artefak yang telah dimaklumi kegunaan serta cara menggunakannya, ada pula yang sangat membingungkan. Beberapa Senjata Pusaka Baginda milik Sang Maha Patih merupakan artefak langka.

Gulungan naskah dari daun lontar yang kini berada dalam genggaman Bintang juga merupakan salah satu artefak misterius. Nagaradja membawa gulungan naskah tersebut dengan harapan dapat membangun pemahaman dan menguasai jurus yang terkandung di dalamnya. Sudah cukup banyak ahli yang mencoba mendalami, semuanya menemui kebuntuan. Yang mereka ketahui adalah naskah tersebut memuat jurus untuk menyerap tenaga alam.

“Benar, guru,” Bintang mengangguk dengan pasti.

“Seorang ahli membuka mustika, sebuah wadah penyimpanan, di ulu hatinya. Mustika tersebut perlu diisi dengan tenaga yang bisa didapat dari diri sendiri, dari alam, dari tumbuhan siluman, atau pun dari binatang siluman. Mustika juga bisa diisi dengan energi dari ramuan yang dibuat dari perbaduan tumbuhan atau binatang siluman, guna memudahkan proses penyerapan.”

Bintang menyimak dengan seksama.

Nagaradja kemudian menjelaskan bahwa tingkat kesulitan menyerap tenaga dimulai dari tenaga alam. Ketika menyerap tenaga alam, seorang ahli harus menyuling tenaga alam menjadi tenaga dalam, untuk kemudian ditempatkan dalam mustika di ulu hati. Untuk menyuling tenaga alam harus memahami teknik penyerapan. Ada berbagai macam teknik dan tingkatan teknik penyerapan tenaga alam.

Lebih mudah memburu binatang siluman, lalu mengambil mustika siluman dan menyerapnya ke dalam tubuh. Paling mudah adalah dengan bantuan Peramu yang mengolah tumbuhan siluman atau anggota tubuh binatang siluman menjadi ramuan mujarab berbentuk pil, tablet, serbuk atau larutan.

Tentu saja yang tadi adalah pembahasan tentang proses penyerapan. Tidaklah mudah memburu binatang siluman, semakin tinggi kasta binatang siluman, maka makin sulit diburu. Bahkan tidak sedikit nyawa ahli yang melayang di tangan binatang siluman. Begitu pula dengan ramuan mujarab. Mendapatkan bahan-bahan langka dari binatang dan tumbuhan siluman, lalu mengolah bahan-bahan tersebut menjadi ramuan mujarab, memerlukan usaha yang keras dan waktu yang panjang. Oleh sebab itu, harga ramuan mujarab sangatlah tinggi.

“Langkah menuju kesaktian tidaklah ringan,” Nagaradja setengah berguman, lalu menutup mata dan beristirahat.

Bintang menganggukkan kepala, lalu membuka gulungan daun lontar di tangannya. Gulungan tersebut terdiri dari lembar-lembar daun lontar yang dirangkai menggunakan dua utas benang tua, satu di sisi kiri dan satu lagi di sini kanan. Jangan bayangkan naskah daun lontar mirip dengan lembar-lembar kertas biasa. Daun lontar lebih mirip seperti bilah-bilah kayu tipis berbentuk persegi panjang.

Ada delapan lembar daun lontar tersusun. Namun, Bintang sama sekali tidak melihat tulisan apa pun. Bintang segera memfokuskan mata hatinya.

Daun lontar dipilih sebagai media merekam jurus-jurus sakti karena lembar-lembar daunnya dapat diimbuh dengan tenaga dalam. Tenaga dalam yang diimbuh tersebut dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan dengan media-media lain, kecuali mungkin kepingan tembaga atau prasasti batu.

Beberapa saat berlalu setelah memfokuskan mata hati, Bintang masih belum menemukan tulisan apa pun di permukaan naskah. Enam jam kemudian berlalu.

“Apakah terlalu rumit? Mungkin kau perlu mencoba naskah-naskah lain,” Nagaradja setengah terbangun dari istirahatnya.

“Aku masih mau mencoba, Guru” ungkap Bintang dengan tenang. Ia tidak mau cepat berputus asa.

“Janganlah terlalu banyak berpusat dalam mencari isi dari naskah tersebut. Perhatikan aura dari naskah itu sendiri.” Meski belum memperoleh pemahaman dari isi naskah, berbekal tingkat kesaktian dan pengalamannya, Nagaradja telah sejak lama dapat membaca isi gulungan tersebut. Hanya saja, ia belum memahami arti dari kata-kata yang tertera.

Dengan panduan tersebut, Bintang mengalihkan mata hatinya untuk memperhatikan gulungan secara menyeluruh. Kemudian ia menangkap semacam formasi, yang terdiri dari berbagai simbol bergerak secara teratur.

“Itu adalah formasi segel,” sergah Nagaradja ketika ia melihat raut muka Bintang yang mencerminkan reaksi menemukan sesuatu baru dan menarik.

Bintang lalu menyentuh formasi tersebut, menggerakkan jari ke kiri dan ke kanan. Sesekali bergerak melingkar, kadang ke atas kadang ke bawah. Dari sudut pandang Nagaradja, Bintang seperti sedang bermain teka-teki menyusun gambar. Terkadang dahinya mengernyit, mengerutkan alis, terkadang tersenyum sendiri. Jemarinya terus mengutak-atik segel.

“Tring,” terdengar suara seperti kaca pecah namun halus.

“Ha!” Nagaradja terperangah. Formasi segel yang oleh dirinya, dan oleh banyak ahli segel, perlu waktu berbulan-bulan untuk dipecahkan, terbuka hanya dalam hitungan menit oleh seorang anak yang baru berusia 12 tahun. Malahan, anak tersebut baru beberapa hari ini belajar tentang konsep kesaktian, persilatan, dan keterampilan khusus.

Dari lembar pertama naskah lalu muncul rangkaian tulisan. Paling atas tertera judul ‘Delapan Penjuru Mata Angin’. Lembar kedua dan terakhir kosong. Lima lembar di tengah memuat susunan kalimat-kalimat pendek.



Catatan:

KABAR GEMBIRA: Kuis Berhadiah!

Raih kesempatan memenangkan voucher belanja senilai masing-masing Rp100.000 untuk 2 orang pemenang. Caranya gampang, kembangkan kreatifitas kalian dengan menjawab pertanyaan berikut:

Baca lagi episode 1-11, kira-kira senjata pusaka seperti apakah yang akan didapat oleh Bintang Tenggara?

Contoh format jawaban:

Nama senjata: [Pedang Api]

Kelebihan senjata: [menghasilkan jilatan api berwarna biru saat ditebaskan]

Jawaban paling kreatif silakan diisi pada kolom komentar di bawah. Jawaban ditunggu sampai hari Kamis, 2 Feb 2017 pukul 23.00. 

Pemenang akan diumumkan pada Episode 14 (Jumat).