Episode 6 - Menjemput Bola

Seminggu lewat, tetapi ponsel Bastian belum juga mendapat panggilan dari Claudya. Padahal, poster jebakan cetak undangan yang mencantumkan nomor ponselnya sudah disebar di jalan-jalan yang biasa dilalui Claudya.

Sabtu yang dikepung hujan ini, Badut, Claudya, dan Bastian berusaha memikirkan rencana alternatif mengingat upaya mereka masih buntu.

“Kita harus jemput bola!” ucap Bastian, intonasinya terdengar meyakinkan. “Kalau Claudya mengabaikan semua poster kita, berarti kita mesti mengetuk pintu rumahnya dan memaksa dia membacanya.”

“Setuju, Bas. Waktu terus berjalan, dan kita nggak bisa hanya menunggu.” Kirana menimpal.

Badut hanya duduk, memberi tatapan setuju ke arah Kirana.

“Oke. Aku yang akan mengetuk sendiri rumah Claudya dan membawa poster sialan itu!” Bastian mengembuskan asap rokoknya. “Aku akan berpura-pura sebagai sales cetak undangan.”

“Apa masuk di akal? Setahuku, nggak pernah ada sales cetak undangan yang datang dari pintu ke pintu.”

“Mas Badut,” Bastian menajamkan tatapannya, “apa keinginan seorang lelaki gendut, jelek, miskin, dan bau untuk menggagalkan pernikahan ‘putri’ dan ‘pangeran’ bisa disebut masuk akal?”

“Bas! Aku ini memang gendut, mungkin jelek, dan jelas miskin. Tapi demi apa pun,” Badut menarik kausnya sendiri ke hidungnya, “aku nggak bau!”

No take it seriouslai.” Bastian mengucap datar.

Don’t take it seriously,” timpal Kirana.

“Na!” bentak Bastian.

Badut pasrah pada keputusan Bastian. “Oke. Jadi kapan kita mulai jalankan rencana?”

“Hari ini, Mas Badut. Kita berangkat ke rumah Claudya.”

**

Badut menatap lekat Bastian. Hatinya menggerutu menghadapi lelaki keras kepala itu. Badut memahami, bahwa setiap sales harus tampil rapi. Berkemeja, celana bahan, pantofel, dan berdasi. Tetapi, Bastian menambahkan jas hitam, dan itu bisa membuat Claudya merasa janggal. Namun, protes Badut beberapa jam lalu hanya dianggap angin lewat. Dan, sekarang, di sudut tersembunyi tak jauh dari rumah Claudya, Bastian siap menjadi sales cetak kartu undangan, meskipun Badut lebih merasa lelaki itu mirip mafia.

Bastian pamit, kemudian melangkah penuh percaya diri ke arah rumah Claudya. Di bahunya tersampir tas laptop yang sebenarnya hanya berisi beberapa lembar sisa poster.

Badut terus menatap Bastian. Dia tak juga tenang. Beberapa kali Kirana berusaha meredakan kecamuk di pikirannya, namun memercayakan nasib cintanya kepada Bastian rupanya gagasan yang salah. Setelah lebih seminggu mengenal Bastian, Badut tahu bahwa lelaki itu penuh improvisasi dan sulit diatur.

Bastian sudah sampai di depan pagar rumah Claudya. Dia menarik napas. Pandangannya menjengkali rumah mungil bercat putih bersih itu. Di dekat pagar minimalis berwarna hitam, dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Mobil ada, berarti bisa dipastikan pemiliknya juga ada. Bastian mengucap dalam pikiran.

“Permisiiii!” serunya, sembari menciptakan bunyi ketukan menggunakan grendel pagar. “Spadaaa!” ulangnya. Namun, pintu tak kunjung terbuka. “Anybody hoooorn?”

Tak lama, keluar seorang perempuan. Wajahnya tampak terganggu. Meskipun begitu, kecantikannya tetap terlacak. Dari rol rambutnya, Bastian tahu perempuan itu baru separuh berdandan dan hendak keluar.

Bastian belum melepas pandangnya pada wajah berlekuk tegas yang kini berdiri di hadapannya. Lekuk tegas itu tampak memikat tersapu warna kulit cokelat yang kilap meski ditimpa cahaya seadanya. Meskipun Badut belum sekali pun menunjukkan foto mantan kekasihnya, dia yakin, ciri perempuan di hadapannya memang mendekati yang pernah diucapkan Badut tentang Claudya.

“Ada apa, ya?” tanya perempuan itu. Bibirnya yang padat bergerak terpaksa.

“Ma-may name its Bastian. I from my office. And my office want to you to see my office product. What it’s name?” Bastian mencoba memastikan nama perempuan itu.

What?” Claudya yang tak mengerti balik bertanya.

You have name.”

Of course.

So, what it’s name?

“Claudya,” jawab perempuan yang rupanya Claudya itu, jengkel.

Mendengar nama tersebut, Bastian tersenyum lantaran targetnya sudah di depan mata. Senyum itu membuat Claudya merasa terancam.

“Maaf, Mas, saya nggak tertarik dengan produk apa pun yang Anda tawarkan.” Claudya menegaskan bahwa dia tak ingin diganggu untuk alasan apa pun.

“Tapi ini sangat menarik, lho, Mbak.”

“Tapi saya nggak punya waktu, Mas!”

“Sayangnya saya punya, Mbak.”

Claudya membanting pagar kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya. Bastian terpaku.

Kemudian, belum genap niatnya beranjak, sebuah sedan BMW parkir. Seorang lelaki bertubuh tinggi tegap berambut klimis keluar. Mungkin itu Daniel, pikir Bastian.

Lelaki itu melempar senyum kepada Bastian, dan secara otomatis Bastian memberi ruang untuk dia lewat.

“Cari siapa, Mas?” tanya lelaki itu, ramah.

“Saya, Bastian, Pak.” Bastian anehnya secara spontan malah memperkenalkan diri seraya mengulur tangan. Lelaki itu menjawab ulur tangan Bastian. “Daniel.”

“Ada yang bisa dibantu?”

“Saya mau menawarkan jasa cetak dan desain undangan, Pak.”

Daniel merasa janggal sebab seingatnya, tak pernah ada sales jasa desain dan cetak undangan yang bekerja dari pintu ke pintu. Namun, daripada menunjukkan sikap tak menghormati, dia lebih memilih tersenyum. Sikap Daniel membuat Bastian semakin yakin bahwa pilihan Claudya meninggalkan Badut sudah tepat, apabila tak mau dibilang masuk akal.

“Saya ambil brosurnya, dan saya kabari nanti, boleh? Kebetulan saya buru-buru mau pergi, Mas.”

Bastian menyerahkan selembar poster, sebab dia tak punya brosur. Daniel menerimanya dengan hangat, kemudian memilih masuk ke rumah. Tak punya pilihan, Bastian segera berjalan cepat ke tempat Badut dan Kirana duduk.

“Gila!” ucap Bastian, tepat saat dia berdiri di hadapan Badut dan Kirana.

“Kenapa, Bas?” tanya Kirana.

“Ini benar-benar gila!” ucap Bastian, sekali lagi.

“Bas?” Kirana memberikan penekanan pada pertanyaannya.

“Aku baru menyaksikan sendiri, kalau Daniel dan Claudya adalah pasangan serasi!”

Rasa penasaran Badut seketika lindap. Wajahnya termenung. Kirana berusaha membesarkan hati Badut dengan mengusap punggungnya. Badut merasa tenang, meskipun rasa percaya dirinya sudah pecah berantakan.

“Peduli setan soal serasi, Bas! Banyak pasangan yang serasi akhirnya pisah juga!”

“Aduh, aduh.” Bastian menggeleng. “Mas Badut ini paling pintar membela kemauannya sendiri, ya.”

Badut bergeming. Dia sadar bahwa sikapnya memang salah.

“Tapi tenang, Mas Badut. Aku tetap berusaha profesional dan menolong Mas Badut. Aku ini orangnya mudah berpihak pada orang-orang jelek.”

“Bas …” Kirana berusaha mengingatkan bahwa Bastian sudah keterlauan.

Bastian tak memedulikan peringatan Kirana.

“Aku sudah menyerahkan poster kepada Daniel. Jadi, kita tunggu saja sampai dia meneleponku.”

“Oke. Berarti hari ini selesai, ya, Bas?” tanya Kirana, yang dibalas angguk oleh Bastian. “Kamu mau ke mana sekarang? Kita cari makan, yuk.”

Mendengar kata ‘makan’ tiba-tiba perut Badut berbunyi. “Yuk,” Badut berusaha mengalihkan fokus Kirana dan Bastian pada perutnya. “Aku yang traktir.” Badut merasa berkewajiban mengucapkan itu.

“Aku pulang saja, Na. Aku sudah paham akal-akalan semacam ini. Orang akan mentraktirku makan di warung padang kelas kambing, kemudian momen itu akan dimanfaatkan mereka untuk mencecarku dengan banyak pertanyaan soal strategi dan lain-lain. Mereka akan dapat banyak masukan bagus, dan aku cuma dapat kenyang sesaat. Kemudian, besok pagi, aku baru sadar bahwa kecerdasanku cuma dihargai dengan seonggok tai.”

Kirana menggeleng. Badut mati-matian menahan keinginannya untuk menghajar lelaki kurus di hadapannya.

**

Usai berpisah jalan dari Bastian, bibir Badut masih saja kehilangan senyum. Kirana, yang berjalan di sampingnya sudah berulang kali menjelaskan bahwa mulut Bastian memang jarang enak didengar. Namun, ucapannya tak juga mengembalikan senyum Badut yang minggat.

“Dut, jangan terlalu diambil hati ucapan Bastian.”

“Aku nggak memikirkan ucapan Bastian. Aku hanya memikirkan betapa aku justru menyerahkan diriku pada kekecewaan dengan berusaha menggagalkan pernikahan Claudya.”

“Lalu, kamu mau berhenti sekarang?”

Badut menghentikan langkahnya. Matanya meniupkan dingin ke dada Kirana. “Aku punya rasa sakit yang bisa membuatku ingin mengakhiri hidup. Sekarang, aku butuh rasa sakit yang bisa membuatku ingin melanjutkan hidup.”

Kirana bergeming. Hanya getar dadanya yang bisa memahami maksud ucapan Badut.

Tiba-tiba, sebuah gagasan terlintas di pikiran Kirana.

“Kamu harus ikut aku!”

Kirana menarik tangan Badut, sementara Badut tergopoh dengan pikiran menduga-duga.