Episode 4 - Empat


Dalam samar ia masih sempat merasakan, kucing raksasa itu kemudian menggendong Lani entah ke mana. Pandangannya sudah gelap.

*****

Jalu tak berhenti meneriakkan nama Lani hingga pandangannya bersirobok dengan jurang menganga di hadapannya. Dalam kepanikan yang merayap cepat dan tanpa diduga, sepasang tangan membelokkan kemudi mobil. Kaki kanan menginjak rem sekuat tenaga. Memunculkan suara decit dan deru debu yang tersapu roda. Jalu tersengal. Dadanya naik turun. Kedua bola matanya bergerak ke kiri dan kanan.

Ia mengumpulkan keyakinan bahwa saat ini ia tengah berada di dalam mobil jip yang sangat ia kenal. Berada dalam tubuh yang sangat ia hafal. Matanya memperhatikan lengan kekar bertato, penuh gurat otot yang menonjol dibalut gelang kulit. Kini ia tak lagi meragukannya. Jalu sudah kembali ke tubuhnya sendiri.

“Yeaaaaa!”

Jalu tak mampu membendung kebahagiaannya. Ia tebahak dengan lantang sambil tak henti meraba badannya, bulu-bulu halus yang tumbuh menutupi rahangnya. Wajahnya. Bibir tebalnya. Ia embuskan segala macam kelegaan dengan kuat, lalu mulai mengingat petualangan yang ia alami sebelumnya. Sebuah petualangan paling gila dari yang pernah ia alami sepanjang hidupnya. Sampai-sampai ia lupa, baru saja terbebas dari kecelakaan yang bisa merenggut nyawanya.

*****

Jalu tak akan lupa, pernah masuk ke tubuh Uak Giroh, Kang Somad dan Lani, gadis mungil yang diculik seekor kucing jadi-jadian. Mengingat itu semua, membuat ia mengernyitkan dahi. Kejadian saat ini, persis seperti yang ia alami sebelum memasuki Bulak Tonjong dan menginap di motel busuk itu. Ya, benar. Saat ini ia kembali ke waktu awal saat perjalanannya terjebak kabut.

Batinnya mengatakan, ini saat yang tepat untuk meninggalkan Bulak Tonjong bila ingin terbebas dari mimpi-mimpi buruk itu. Namun itu pun bukan hal yang mudah. Meninggalkan tempat ini juga mengundang bahaya. Sebab setelah hatinya mulai tenang, ia bisa melihat pemandangan di depan matanya. Dari kaca mobil yang dijatuhi butiran air, terhampar jalan sempit di pinggir jurang yang tertutup kabut tebal. Jarak pandang tak lebih dari dua meter saja.

Dalam sekejap hatinya diliputi kebimbangan. Meneruskan perjalanan, berarti akan kembali ke Bulak tonjong. Memutar balik, mungkin saja terbebas dari mimpi buruk, tapi belum tentu terbebas dari bahaya lain yang mengancam.

Jalu meraba saku jaket tentaranya. Setelah menemukan sebungkus rokok, ia cabut sebatang dan menyalakannya. Embusan asap yang keluar dari paru-parunya sedikit melegakkan kegundahan hatinya. Disusul batuk kencang karena tersedak sisa asap rokok, begitu ia mendengar suara berat dan serak dari jok belakang.

“Jasad aselimu masih di motel, Tergolek di atas ranjang besi reot.”

Kepalanya menoleh ke belakang dan tak menemukan siapa pun di jok belakang, tapi suara itu kembali muncul. Begitu jelas terdengar.

“Kau tak akan bisa melihatku karena kau belum menyatu dengan jasadmu yang sesungguhnya.”

Matanya yang melihat kaca spion, menangkap sosok samar pemilik suara serak dan berat itu. Agak gelap namun terlihat tua dan memiliki janggut yang panjang, berwarna keperakan.

“Uak Giroh?”

“Kau telah terjebak di dalam kota yang tak pernah ada. Apa yang kau alami waktu itu, adalah ulah Sibli yang ingin menarikmu menjadi penghuni Bulak Tonjong.”

Bulu kuduk Jalu meremang usai mendengar penjelasan Uak Giroh. Kebahagiaan yang baru saja ia alami seakan rontok berkeping-keping. Sungguh tak masuk akal bila saat ini ia berada dalam jasad yang semu.

Jalu menyedot lagi rokok di tangannya dan memastikan bahwa ia bisa merasakan asap tembakau yang ia hisap. Ia bisa merasakan sedang memegang kemudi.

“Bukankah Sibli sudah mati di tanganmu? Aku sendiri melihatnya saat masuk ke dalam jasadmu.”

“Sibli tak bisa dibunuh. Ia adalah raja diraja dedemit, penguasa Bulak Tonjong.”

“Kang Somad dan Lani juga bukan manusia?” tanya Jalu seraya menyusun kepingan puzzle di benaknya. Begitu banyak hal yang tak ia mengerti. Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan, untuk mengurangi rasa jerinya.

“Kecuali Lani. Dia gadis kecil yang kerasukan dan akan dijadikan penghunni Bulak Tonjong. Beruntung aku masih bisa menyelamatkannya.”

Mendengar itu, isi perut Jalu langsung menggelegak seperti akan mendesak keluar. Ia belum bisa menerima kenyataan yang dijelaskan Uak Giroh.

 “Kau sendiri siapa?”

Pertanyaan terakhir Jalu tak mendapat jawaban. Ia kembali menatap kaca sopin dan mencari sosok samar Uak Giroh. Yang didapati hanya jok belakang yang kosong.

Kepala Jalu bagaikan dihantam palu godam. Ia meremas rambut tebalnya dengan keras. Jalu segera keluar dari mobil untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Kabut tebal yang semakin pekat segera menyambutnya. Udara dingin yang diembuskan kabut, menggigilkan tubuh lelaki tegap itu. Jalu menghisap lagi sebatang rokok, kemudian merapatkan jaketnya. Deretan pepohonan yang mengelilinginya seakan ikut cemas.

Ada rasa sesal yang menyelinap. Seharusnya ia mendengar peringatan ibu sebelum berangkat tempo hari. “Perasaanku tak enak.” Dengan angkuhnya Jalu malah menimpali, “Bukankah manusia dilahirkan untuk bertualang, Bu? Mencari jalan hidupnya sendiri.” Segala penjuru bumi sudah ia jelajahi dan sialnya ia tak menyadari ibunya tak pernah sekhawatir itu.

 Jalu benar-benar berada dalam puncak kebimbangan. Jika benar apa yang diucapkan Uak Giroh, maka ia harus kembali ke Bulak Tonjong dan menjemput jasadnya yang masih tergolek di kamar motel busuk itu. Sementara batinnya mengatakan sebaiknya tinggalkan saja tempat celaka ini, dengan risiko ia akan menjadi hantu gentayangan.

Setelah hisapan terakhir, Jalu kembali ke dalam mobil. Terdiam. Menatap sesuatu yang mendadak muncul. Sebuah gapura kayu bertuliskan, Selamat Datang di Bulak Tonjong.

Beberapa menit kemudian mulutnya menguap lebar dan kelopak matanya perlahan mengatup, disusul terkulainya kepala Jalu di atas kemudi mobil. [*]