Episode 11 - Embun Kahyangan


Hujan gerimis turun sejak dua malam lalu. Angin bertiup ringan, seolah memberi kesempatan agar setiap rintik air dapat turun dengan sempurna. Hanya riak kecil dari tiap rintik hujan yang terlihat ketika menyentuh laut, sebelum berbaur disambut dalam hening. 

Seorang gadis berusia 13an tahun berdiri di tepi pantai. Sepasang matanya sembab, namun menatap tajam ke laut penuh asa. Rambutnya yang keriting, setengah basah, menolak dibuai angin. Angin tidak dapat membawa pergi kesedihan hatinya. Sudah dua hari ia berdiri di tepi pantai, menatap laut. 

“Lamalera…” suara perempuan dengan lembut menyapanya. 

Suara tersebut menarik Lamalera kembali dari keinginan untuk terjun ke laut dan berenang mencari Bintang. Lamalera segera memutar tubuhnya.

“Bunda, maafkan aku…” air mata kembali mengalir di kedua belah pipinya. 

Bunda Mayang memeluk Lamalera, lalu berbisik pelan, “Bintang baik-baik saja. Ia akan segera kembali.” 

Bunda Mayang sudah menyampaikan kata-kata ini berkali-kali kepadanya. Tapi ia enggan percaya. Air matanya kembali mengalir. Baginya kata-kata Bunda Mayang hanyalah kata-kata untuk menenangkan hatinya. Ingin sekali ia mempercayai kata-kata itu, tapi mana mungkin bisa. Ia melihat langsung, bahkan dari jarak dekat, Bintang jatuh ke laut dan dilibas ekor Paus Surai Naga. 

Perburuan paus kali itu menemui kegagalan. Setelah menghantam peledang Lamalera, paus kedua merangsek maju membalikkan beberapa peledang yang ditumpangi para penikam paus. Di tengah keterkejutan munculnya paus kedua, dan beberapa peledang yang terbalik, perhatian para lamafa buyar. 

Peledang yang terakhir mencapai paus pertama, dimana Lembata Keraf sang Kepala Dusun Peledang Paus berperan sebagai lamafa, berupaya mengejar. Malangnya, satu peledang berisi sekumpulan matros dan seorang lamafa tua tak akan mampu menaklukkan Paus Surai Naga. Harapan beberapa dusun pun perlahan pergi menjauh. 

Saat kejadian itu, Bunda Mayang baru tiba di pesisir pantai. Dari kejauhan ia melihat anaknya melompat dari peledang yang dihantam paus sambil melontarkan Lamalera. Ia juga melihat Bintang terjatuh ke laut, dan merasakan aura anak laki-lakinya tersebut meningkat, lalu hilang begitu saja. 

Saat itu, seluruh isi Dusun Peledang Paus gempar. Ibu-ibu dusun menghampiri Bunda Mayang untuk menemani dan berbagi kesedihan. Peledang Lembata Keraf bahkan belum sampai berlabuh ketika ia mendengar tragedi Bintang. Segera ia memutar peledang dan memimpin pencarian sampai larut malam. 

Bunda Mayang hanya memandang laut dalam tenang. Empat buah liontin di dadanya tetap bersinar lembayung. 


***


Ratusan kilometer dari Pulau Paus, berdiri gunung tertinggi di Pulau Jumawa Selatan. Puncaknya merupakan salah satu dari delapan yang tertinggi di Negeri Dua Samudera. Gunung berapi yang terletak di belahan timur Pulau Jumawa Selatan ini dikenal dengan nama Gunung Kahyangan Narada. 

Oleh penduduk setempat, Gunung Kahyangan Narada terkenal akan keangkerannya. 

Pernah suatu ketika lima pemuda murid sebuah perguruan silat mendapat giliran berlatih di Gunung Kahyangan Narada. Meski disebut berlatih, paling jauh mereka hanya akan mengunjungi kaki gunung. Karena bila terlalu dalam, maka banyak binatang siluman yang buas bertempat tinggal. 

Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang perempuan muda nan cantik jelita yang juga hendak mendaki. Beranggapan bahwa tidak aman bagi seorang perempuan bepergian sendiri di gunung, kelima pemuda mengundang perempuan tersebut bergabung bersama mereka. 

Perjalanan pun berlangsung lancar. Sepanjang jalan mereka bercengkerama. Kelima pemuda cepat akrab dengan perempuan yang ramah dan periang. Tersirat pula keinginan dari kelima pemuda menjalin hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan. 

Malam pun turun, lima pemuda dan seorang perempuan memutuskan untuk berkemah. Khawatir serangan binatang siluman, kelima pemuda bergantian berjaga malam. Saat malam semakin larut, tiba-tiba perempuan tersebut berjalan sendiri ke arah hutan. Pemuda yang sedang berjaga berpikir saat itu adalah kesempatan untuk memetik bunga, jangan sampai ia didahului oleh pemuda-pemuda lain. Nafsu birahinya mengambil-alih kesadaran, ia pun mengejar perempuan tersebut. 

Saat giliran jaga pemuda selanjutnya tiba, ia tidak menemukan teman yang seharusnya berjaga. Perempuan cantik jelita pun tak terlihat di tempatnya. Ia segera membangunkan ketiga pemuda lain yang sedang bermimpi indah menghabiskan malam bersama sang perempuan. 

Mereka lalu mengejar jejak ke hutan, berharap mendapat giliran memaksa kasih dengan perempuan cantik jelita. Bagaimana bisa mereka melepaskan kesempatan langka ini? Sehari-hari di perguruan mereka selalu berlaku santun dan berwibawa. Saat perjalanan keluar dari perguruan sajalah mereka berkesempatan merengkuh nafsu dunia. 

Mereka berlari saling susul ke arah hutan. Namun, apa yang mereka temukan adalah sesuatu yang di luar nalar. Pemuda yang mengejar perempuan tadi... pemuda tersebut... 

...

Berkat keangkeran Gunung Kahyangan Narada, semakin banyak ahli-ahli silat dan sakti yang kerap berkunjung dan berharap dapat mengasah ilmu mereka. Tantangan merupakan cara cepat untuk mengatasi kebuntuan ilmu. 

Namun, bukan keangkeran saja yang menjadi daya tarik Gunung Kahyangan Narada. Pemandangan nan indah dan asri, juga sering mengundang banyak bangsawan dan saudagar kaya berplesir bersama keluarga atau bersama selir. 

Seniman pun sering menyempatkan diri untuk singgah, berharap dapat mengabadikan keindahan gunung tersebut. 

Di lereng Gunung Kahyangan Narada, pada ketinggian sekitar 2.500 m, terdapat sebuah hutan cemara lebat nan indah. Pohon-pohon cemara tersebut menjulang tinggi. Pemandangan di sini begitu indahnya seolah berada di dimensi lain. Sebuah dimensi yang damai jauh dari hiruk-pikuk manusia. Dengan pemandangan hijau sejauh mata memandang, dan semilir angin pegunungan membelai sejuk. 

Seorang gadis belia melangkah anggun di antara pepohonan cemara. Tubuhnya dibalut kemben bermotif batik berwarna ungu. Bahu dan setengah dadanya terbuka, melukiskan lekuk leher yang ramping. Di balik balutan kemben, sepasang payudara sehat setengah menyembul. Kemben seolah tak mampu menahan kehendak sepasang payudara untuk menyuburkan dunia.

Pinggangnya… untunglah pinggangnya masih tertutup kemben batik, diikat seutas kain berwarna ungu tua. Di bawah pinggang, sepasang pinggul menari ke kiri ke kanan siap mengguncang dunia. 

Langkah kakinya gemulai. Tapi yang lebih menarik perhatian adalah lutut dan setengah pahanya yang terbuka di sela belahan kemben. Bawahan kemben tak mampu berbuat banyak. Paha mulus dengan dengan rambut-rambut halus siap menggelitik dunia. 

Kemben memang hanya berfungsi sekedar membalut tubuh sang dewi.

Tidak sampai di situ. Parasnya ayu. Bentuk muka oval dihiasi dengan hidung yang sepadan, tidak mancung. Bibirnya merekah merah muda dilengkapi dengan dagu yang lancip. Oh, tentu banyak lelaki yang rela mengorbankan jiwa hanya untuk membelai dagu tersebut. 

Alisnya tipis, bulu matanya panjang dan lentik. Kelopak matanya sayu. Meski membuka mata, seperempat kelopak mata membayangi sepasang bola mata yang indah. Sayangnya, sorot mata kosong memandang. Sama sekali tak ada motivasi dan emosi yang dipancarkan dari kedua bola mata tersebut. 

Meski umurnya baru beranjak 16 tahun, gadis belia ini sudah memancarkan pesona kedewasaan, siap untuk dipetik oleh lelaki yang beruntung. 

Dari arah berlawanan segerombolan bandit gunung berjalan sambil tertawa puas. Bandit gunung adalah dampak buruk dari banyaknya ‘wisatawan’ yang sering berkunjung ke Gunung Kahyangan Narada. Mereka menyergap siapa saja di kaki gunung. Memangsa, melucuti harta benda, lalu membunuh tanpa ampun. 

Pemimpin mereka berjalan paling depan. Tampangnya mirip kuda. Tangan kanan menenteng sebilah parang besar, yang masih bernoda darah. Di tangan kirinya sebuah kendi tuak yang ia tenggak disela-sela tawa. Pengikutnya, belasan orang, berbagi kendi tuak dari satu mulut ke mulut lain. Saling bertukar air liur tanda persaudaraan.

“Hasil hari ini lumayan bagus, Ketua,” ungkap lelaki ceking bermuka lancip di sebelah kirinya. Dari perilakunya, terlihat ia adalah tangan kanan ketua. 

“Hahaha…” ketua bertampang kuda kembali tertawa dan menenggak tuak. 

“Eh, siapa itu?” lelaki ceking bermuka lancip tiba-tiba melihat seorang perempuan berjalan santai.

Mata ketua bertampang kuda terbelalak. Ia melihat seorang perempuan dengan payudara setengah menyembul, pinggul melenggok, lutut dan paha terbuka. Perempuan itu hanya dibalut sehelai kain batik berwarna ungu, yang hanya menutupi setengah dada sampai setengah paha. 

Seketika itu juga tangan kiri ketua bermuka kuda menghantam dada lelaki ceking bermuka lancip. Terhuyung setengah langkah ke belakang, lelaki ceking bermuka lancip menangkap kendi tuak di dadanya. Kemudian, tangan kiri ketua bermuka kuda merogoh selangkangannya sendiri, menggeliat mengatur posisi. 

“Wahai gadis ayu, hendak kemana kamu? Hutan ini berbahaya,” teriak ketua bertampang kuda menyalak. 

Gadis ayu tak peduli dan terus melangkah tanpa emosi. 

“Ayo, gadis ayu. Ikutlah pulang bersamaku. Di sini terlalu sejuk. Di pondokku kau bisa merasakan kehangatan… Setiap siang dan malam… Hahaha…” ketua bertampang kuda tertawa lebar. 

Gadis ayu tak peduli dan terus melangkah tanpa emosi. 

Meski sedang dibalut nafsu, ketua bertampang kuda bukanlah tokoh baru dalam dunia perbanditan. Sebagai bandit gunung yang sudah banyak memakan asam dan garam, ia cukup waspada. Sambil mengolok-olok, indera keenamnya memastikan di sekitar wilayah itu tak ada aura lain selain aura mereka. Ia juga memastikan bahwa gadis ayu tersebut berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8. Ia sendiri, walau sudah 40 tahun lebih mengasah kesaktian, hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 7. 

Setingkat lebih tinggi. Pastilah puteri dari kalangan bangsawan, pikirnya. Kalau hanya berhadapan sendiri, tentu ia hanya akan menelan ludah. Tapi dengan belasan anak buah yang rata-rata berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4 dan 5, maka mereka menang jumlah. 

“Sergap dia!” teriak lelaki ceking bermuka lancip melompat sambil memberi aba-aba. 

Air liur mengalir dari sisi bibirnya. Ia tahu bahwa nanti bila ketua bertampang kuda sudah puas melumat tubuh gadis ayu, ia akan mendapatkan jatah sisa. Cukup bisa diterima. Tapi sebelum itu, ia ingin terlebih dahulu menerkam si gadis ayu, melucuti kembennya, lalu menggerayangi tubuh molek itu. Tentu ketua bertampang kuda akan sedikit marah dan meninjunya karena menelanjangi dan meraba-raba gadis ayu, namun ia rela berkorban sedikit.

Belasan anak buah lain juga segera melompat. Semua memiliki pemikiran sama dengan lelaki ceking bermuka lancip. Bahwa pengorbanan diperlukan untuk menuai hasil yang diinginkan. 

“Beraninya kalian!” teriak ketua bertampang kuda, terlambat membendung anak buahnya sendiri. 

Gadis ayu tak peduli dan terus melangkah tanpa emosi.  

Jarak mereka hanya terpaut kurang dari 10 meter. Ketika gerombolan mendekat hendak menyergap, gadis ayu berguman, “Kabut Ranu Kumbolo…”

Seketika itu juga kemben batik yang melilit tubuh gadis ayu berubah menjadi kabut ungu dan menyebar. Mata gerombolan bandit terbelalak. Gadis ayu seolah membuka kembennya dengan pasrah. Meski tubuh gadis ayu tertutup kabut, mata-mata melotot mereka masih bisa menangkap sebuah siluet tubuh molek nan sempurna. 

Lalu sekeliling menjadi gelap gulita… bernuansa ungu. Ketua bertampang kuda tidak bisa melihat dan mendengar apa-apa. Indera keenamnya pun tak menangkap apa-apa. Sungguh kegelapan tak berujung, hanya warna ungu yang dapat ditangkap mata. Indera keenamnya pun tak menangkap apa-apa.

Kemudian, satu per satu mereka semua merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulit leher, yang diikuti cairan hangat dirasa mengalir. Lalu sunyi. 

Belasan gerombolan bandit gunung tewas mengenaskan dengan kepala terpisah dari tubuh. Hanya dalam hitungan detik. Lebih pahitnya lagi, mereka tak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi sebelum menemui ajal. 

“Embun Kahyangan!” suara perempuan terdengar setengah menyapa setengah menyergah. “Mengapa engkau mengerahkan jurus Panca Kabut Mahameru, Bentuk Pertama: Kabut Ranu Kumbolo, hanya untuk segerombolan bandit gunung?!”  

Embun Kahyangan tak peduli dan terus melangkah tanpa emosi.  

“Meski engkau mewarisi pusaka perguruan, bukan seperti itu cara mengenakannya,” suara tersebut terdengar mencibir. “Sesuai namanya, pusaka Selendang Batik Kahyangan adalah selendang, bukan kemben…”

“Guru juga sudah sering mengingatkan agar engkau berpakaian lebih tertutup. Berpakaian seperti itu… itu bukan berpakaian namanya!”

Embun Kahyangan tak peduli dan terus melangkah tanpa emosi.  

“Misimu kali ini ke tempat nan jauh. Menyeberangi lautan. Sebagai kakak seperguruanmu, aku tidak setuju. Kau masih terlalu hijau. Entah apa pertimbangan guru mengirimmu ke Pulau Dewa.”

Embun Kahyangan tak peduli dan terus melangkah tanpa emosi.