Episode 1 - Pertama

Pada akhirnya aku berhenti berharap untuk musim salju yang akan menyambangi Indonesia dan di waktu yang bersamaan aku juga berhenti berharap untuk kesembuhan ginjalku yang sempat diiming-iming bahwa aku tidak akan melaksanakan proses cuci darah lagi dalam waktu dekat. Dan berhenti berharap itu sangat lega, sama leganya seperti orgasme hanya saja lebih kering.

Pada umur ke-7, aku sempat berharap salju akan turun di kota Jakarta sampai aku mempelajari bahwa Negara ini tidak dikaruniai hal semacam itu sebab letak geografis atau apalah—lebih mudahnya aku menyebutnya Kutukan. Yang pasti kota Jakarta bagian Barat ini mempunyai musim panas TERHEBAT—yang juga merupakan Kutukan. Dan di umurku yang ke-16 saat ini, aku juga sudah cukup pintar untuk tidak berharap lagi kalau ginjalku akan sembuh—yang juga kubilang sebagai Kutukan. Bukannya aku jatuh cinta pada klinik Kidney Care Center (KCC)—tempat itu sungguh buruk, maksudku, baunya yang menyengat rongga hidung dan suasana ‘sekarat’ sangat mendominasi.

 “Ma, bagaimana tentang gagasan ‘cuci darah di rumah’? Terdengar keren, bukan? Seperti les privat atau semacamnya tapi ini tentang menyambung kehidupan?” kataku pada ibuku yang sedang menonton acara tentang sebuah tim ekspedisi masuk ke suku pedalaman suatu pulau terpencil. Ia menoleh ke arahku dan alisnya nyaris menyatu andai saja tidak ada kerutan yang memisahkannya.

 “Kau akan kesepian selama lima jam. Aku tidak sanggup melihatmu kesepian. Lagi pula kau kan selalu tertawa mendengar lelucon kakek Elren.” Entah kenapa Mama selalu menganggap aku tertawa saat kakek Elren berkelakar. Kakek Elren adalah sesepuh di KCC sebab dia orang tertua di KCC—tujuh puluh tahun—yang masih menjalani perawatan cuci darah dan satu-satunya hal yang membuatku kagum adalah dia masih hidup. Kakek Elren mempunyai lelucon terburuk tentang Makhluk Penghisap Darah dan ia sudah mengulang lelucon itu terus menerus selama 10 bulan sejak aku harus terjebak di tempat itu. Atau jika sudah menjelang malam, ia akan membuat lelucon yang agak jorok tentang Wonder Woman telanjang, Invisible-Man, dan Super-Man.

 “Aku bisa bermain video game, membaca komik…,” Mama menatapku, dan buru-buru aku meralat, “membaca Chicken Soup, membaca biografi seseorang yang terkenal, atau buku-buku motivasi lainnya yang sudah Mama jejalkan di meja belajar.” Secara harfiah itu bukan meja belajar, itu meja Laptop yang harus disebut sebagai Meja Belajar agar seseorang percaya bahwa aku juga selalu belajar di kamar sebab aku mempunyai Meja Belajar. Astaga, apa hubungan antara kedua itu?

 Semenjak aku didiagnosis harus menjalani perawatan Hemodialisis—itu bahasa medis cuci darah—membaca komik sama seperti memakai narkoba. Aku harus sembunyi-sembunyi untuk membaca komik sampai ke kamar mandi—sampai akhirnya seleraku pada komik pun memudar.

Mama menganggap aku harus membaca buku-buku dengan judul kata-kata POSITIF dengan besar font 70 dan kali ini mama memproyeksikanku untuk membaca Chicken Soup for The Soul – Think Positive (meskipun font kata Positif-nya tidak sampai 70. Tapi tetap saja mencolok). Aku menurutinya dan membaca yang sebagian besar kisah nyata tentang orang-orang yang menghadapi kanker namun tetap bersikap positif dan tiba-tiba kankernya hilang! Tapi aku belum menemukan kisah di mana seseorang penyandang gagal ginjal tiba-tiba sembuh dan ginjalnya menjadi berfungsi kembali. Jadi sebenarnya aku berupaya bersikap seperti aku baik-baik saja, dan aku hanya perlu cuci darah dua kali seminggu. Apa ada kabar yang lebih baik? Ya, aku tidak terkena kanker. Sebab di salah satu buku yang kubaca mereka tidak menganggap ada masalah di keluarganya selama tidak ada yang terkena kanker.

 “Tapi kau tidak akan bisa mendengar paman Kabir menirukan suara dinosaurus jika menjalani cuci darah di rumah.”

 “Kabir tidak menirukan suara apa-apa. Itu suara seseorang saat sedang dicabut nyawanya.”

 “Dia hanya berusaha menghibur.”

 “Tapi aku tidak terhibur.” Dan, di situlah puncaknya. Saat aku mengatakan hal-hal seperti ‘aku tidak terhibur’ atau ‘aku tidak bahagia’, maka ibuku selalu menunjukkan wajah aku-akan-menangis.

 “Kau sudah bersikap positif hari ini?” tanya mama dalam upayanya tidak menangis. Mama ratunya positif. Karena mama seorang ahli psikologi yang sudah menangani beribu-ribu pasien yang tidak memiliki pikiran positif di dalam otak mereka—dan aku dianggap salah satunya karena ia merasakan ada yang berbeda pada diriku setelah menerima diagnosis gagal ginjal.

 “Yeah. Kurasa sudah.” Sebenarnya aku tidak terlalu yakin. Tapi jika memang bersikap positif itu artinya tidak memilih-milih makanan atau tidak membuang brokoli, maka aku berdusta, sebab aku membuang brokoli dari piringku.

 “Bagaimana tentang gagasan awalku? Maksudku, kita mampu membeli Dialyzer beserta komponennya dan menyewa satu perawat khusus untuk menyuntikku di sini dan di situ, kan?”

 “Ini bukan masalah uang, Robin. Ini demi pemulihan psikologismu.” Aku selalu dianggap stres oleh Mama akibat terapi cuci darah ini.

 “Yeah, baiklah. Aku mau ke kamar dulu. Mempelajari teori big bang atau semacamnya karena besok ujian.” Usai berdusta, aku berjalan menaiki tangga berpijakan lebar dilapisi karpet merah maron.

 “Kau sudah menghitung berkat hari ini?” tanya Mama, aku berupaya pura-pura tidak mendengar tapi suaranya lumayan kencang. Jadi aku menoleh ke bawah. “Akan kuhitung nanti malam.”

 Keluargaku cukup kaya untuk membeli dua paket wisata ke bulan untuk jangka waktu masing-masing seminggu. Tapi mereka tidak pernah cukup kaya untuk membeli mesin Dialyzer pribadi untukku agar aku tidak harus terus-terusan ke KCC. Rumah kami di kompleks elit Golf Lake Residence, dan kami mempunyai dua mobil SUV; BMW dan Audi, di mana keduanya tidak bisa kukendarai. Dan mereka adalah orang kaya tersial karena memiliki anak gagal ginjal sepertiku. Aku sempat membujuk Mama untuk memberiku adik tapi dia malah menganggapku akan meninggalkannya.

 Sebenarnya di sinilah masalahnya. Karena kedua orang tuaku sangat kaya, dan aku anak tunggal, dan mereka berharap aku akan mengikuti jejak mereka menjadi ahli psikologis atau ahli bernegosiasi—kenyataannya aku tidak ahli dalam apa pun kecuali berharap. Dan tidak akan ada perusahaan yang akan menerimaku hanya karena aku ahli berharap. Tapi di sisi lain, aku merasa terselamatkan karena ginjalku yang lemah ini. Diam-diam membuatku berdelusi akan kematian yang tidak akan bisa diprediksi kapan dan kadang itu juga menjadi masalah bagi kedua orang tuaku. Misalnya saja dokter memutuskan hidupku tinggal dua tahun, maka aku akan menjadi Bajingan Manja selama dua tahun dan minta keliling eropa serta berfoto sambil mencium Meghan Trainor. Dan itu tidak akan menjadi masalah lagi sebab Bajingan Manja ini akan menghilang setelah semua keinginannya terpenuhi. Tapi tidak, aku tidak dapat diprediksi secara teknis kecuali aku memutuskan bunuh diri dengan mengunci diri di kamar selama dua minggu dan aku mati keracunan darahku sendiri. Tetapi belum ada rencana seperti itu sejauh ini. Kerusakan ginjalku juga menjadi penyebab kedua orang tuaku merasa tidak berguna dengan seluruh harta yang mereka miliki.

 Kami pernah membicarakan tentang transplantasi tapi tidak ada ginjal yang cocok denganku dan aku juga enggan menggunakan ginjal orang lain. Konsepnya terdengar seperti memakai narkoba beramai-ramai dengan satu suntikan.

 Aku tidak suka KCC karena tempat itu terlalu dipenuhi orang berumur 28 tahun ke atas yang kadang berbicara dengan bahasa yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang seumurannya. Jadi kadang-kadang aku hanya mengangguk setelah mendengar pertanyaan mereka. Dan mama sangat menyukai tempat itu karena ia merasa aura sosial sangat terpancar dari setiap penghuninya. Aku bilang pada mama, “Itu karena mereka semua sekarat dan akan mati dalam waktu dekat.” Dan ia berkata, “Setidaknya mati bersama-sama lebih baik ketimbang sendirian.” Itu salah satu lelucon Ahli Psikologis yang sama sekali tidak ingin membuatku tertawa.

Aku tidak kehilangan kewarasanku karena kondisiku, aku juga masih mempunyai perasaan, aku tidak berubah menjadi boneka manekin, aku normal dan aku juga sering menghitung berkat sebelum tidur, membaca buku tentang motivasi, dan menambah daftar impian di Jurnal Impianku. Tapi, di situlah aku merasa aneh, saat aku merasa bahwa aku baik-baik saja, pasti ada yang tidak beres di dalam diriku dan aku tidak dapat menemukan penyebabnya. Yeah, setidaknya aku benar-benar merasa normal saat di sekolah, bertemu dengan Billy dan Akash. Terutama Akash, pria keturunan India dengan alis tebal yang selalu menjadi bahan Pujian-Serta-Hinaan, karena saat seseorang memuji alisnya yang tebal atau kumisnya yang tumbuh prematur, orang itu akan menambahkan kata ‘sialan’ di depannya. Pujian-Serta-Hinaan adalah model kejahatan terbaru dan sedang tren.

 Setelah memikirkan hal-hal pengantar tidur dan bangga pada diriku sendiri karena aku bisa menebak bahwa Mama akan menolak gagasanku dan itu benar. Aku terlelap sampai pagi seperti bayi.

Rabu pagi aku berharap cuaca mendung dan hujan dan petir menggelegar. Tapi yang kudapatkan matahari menyongsong di jam 6 pagi. Aku duduk di teras, memandangi bunga yang ditata begitu rapi oleh tukang kebun yang selera tata ruangnya tinggi. Aku menuju depan pagar, memandangi tanpa arti SUV Audi merah metallic yang sedang dipanaskan. Aku menuju kaca spionnya, memastikan tampangku sudah tidak menjadi tampang Bocah-Pengharap-Cuci-Darah-Di-Rumah. Yeah tampangku oke, meskipun aku ragu dengan oke tersebut. Rambutku sudah tertata dengan sendirinya ke sebelah kanan, mataku memang terlihat sedikit seperti selalu melotot padahal tidak, rahangku pas untuk ukuran wajah yang sedang, daguku nyaris membentuk huruf V dan aku tidak menemukan kumis tipisku. Aku bersyukur punya badan ramping—orang lain bilangnya kurus—karena jika saja aku mengalami kolaps dan di sampingku hanya ada anak perempuan atlit voli, dia pasti sanggup mengangkatku seorang diri menuju kamar Unit Kesehatan Siswa dan aku tidak akan mati hanya karena tidak ada yang bisa mengangkatku menuju Unit Kesehatan Siswa. Jadi kadang aku tidak merasa harus menambah berat badan.

 Pagi hari setelah sampai di sekolah aku selalu menuju kafeteria—atau biasa disebut kantin—dan sudah mendapati Billy serta Akash duduk di meja bundar dengan satu kursi kosong khusus untukku. Kami selalu menyempatkan diri Rapat Meja Bundar sebelum bel masuk berdering.

 “Robin! Bersyukurlah pada Tuhan sebab kau terlambat! Karena jika kau datang lebih dulu dan mendengar berita ini dari Billy yang artinya kau mengetahui ini lebih dulu dari-ku, pertemanan kita selesai,” ujar Akash. Sebagai makhluk yang bertubuh agak gempal dan dalam masa pubertas, dia berdiri dan nyaris melompat ke arahku. Bisa kupastikan aku akan mati kehabisan napas kalau Akash menindihku.

 “Berita apa?” tanyaku.

 “Aku yang cerita atau kau?” Akash berpaling dariku, memandang Billy. “Terserah saja,” kata Billy—dengan gaya mafia, menyesap kopinya. Billy itu kloningan Akash versi Cina. Hanya saja ia mengenakan kacamata yang ketinggalan zaman dan tubuhnya lebih kurus. Tinggi mereka—170 senti—dan ukuran sepatu mereka sama meski kadang tidak logis menurutku. Perbedaan signifikan di antara mereka adalah Billy penganut rambut jabrik berminyak sedangkan Akash sedang melestarikan rambut belah tengah yang nyaris punah.

 “Baiklah, begini. Kau tahu Audrey? Absen pertama di kelas kita? Perempuan yang hampir dinobatkan sebagai Perempuan-Tercantik-Se-Alam Semesta jika saja tidak ada Ollyne di situ yang akhirnya dia yang mendapat gelar tersebut. Baiklah, anggap saja dia gadis tercantik nomor dua walau penggunaan kata ‘Ter’ tidak bisa menjadi yang kedua. Audrey seorang penyalur ganja!” Aku hampir tidak ingin percaya pada ucapan Akash kecuali untuk penobatan Ollyne sebagai Perempuan Tercantik Alam Semesta.

 “Bahkan penulis yang memiliki sejuta khayalan tidak akan pernah berpikir bahwa Audrey seorang penyalur ganja,” kataku, berupaya tidak terpancing.

 “Dia menyimpan beberapa ganja di dalam celana stritnya!” seru Billy. “Kau mengambil bagian terbaik yang harusnya kukatakan!” kata Akash. Membuatku semakin tidak percaya. Ganja di dalam celana strit? Yang benar saja.

 “Aku melihatnya! Audrey membawa kantung hitam besar di dalam tasnya dan ia tidak membawa satupun buku pelajaran! Dan di dalam kantung hitam besar itu tertera nama serta alamat dan nomor handphone konsumen yang akan menerima ganja dari gadis tercantik itu! Aku melihat beberapa perekat yang dililit dan aku yakin itu usahanya untuk meminimalisir bau ganja yang akan tersebar di dalam kelas,” kata Billy.

 “Hei, Bung. Kau keberatan aku yang bercerita?” Akash tidak setuju.

Billy mengangkat bahu dan berkata, “Bagian terbaik tidak boleh dilewatkan oleh si penyebar cerita.”

 “Aku rasa kalian berdua yang baru saja menghisap ganja! Kalian berkhayal dan Audrey adalah gadis cantik yang tidak beruntung sebab ada Ollyne di dalam kelas dan ketidak-beruntungannya cukup untuk membebani hidupnya sampai kita lulus. Jadi tidak ada ganja.”

 “Oh, Robin, kenapa kau tidak bisa percaya? Aku sudah melihatnya dengan keempat mataku!” kata Billy, ia memakai kacamata.

 “Bagaimana kalau kita mengadakan Operasi Lanjutan? Bersama-sama kita akan mengoyak-ngoyak tas Audrey.”

 “Mengoyak-ngoyak kedengarannya mengerikan,” kataku.

 “Itu hanya perumpamaan, Bung.”

 “Uh, ada rencana yang bagus selain mengharapkan Dewi Kebetulan?” tanya Billy

 “Kita tunggu sampai pulang sekolah,” kata Akash.

 “Oke, kalau begitu aku tidak ikut. Aku ada urusan penting saat pulang sekolah,” ujarku

 “Apa? Memanjakan ginjalmu yang pemalas itu?” kata Billy seolah-olah itu adalah sebuah lelucon.

 “Itu tidak lucu. Dan jangan membuat lelucon soal ginjal.” Aku menyalurkan nada serius dalam setiap kata-kata.

 “Kau marah? Lihat, apa Robin, marah?” kata Billy. Akash mencari wajahku dan ia memandanginya seolah memandangi rumus “Tidak, dia tidak marah. Tapi sepertinya dia marah tapi tidak kelihatan marah.”

 “Aku benar-benar marah,” kataku. Dan di situlah kembali ada masalah. Aku tidak benar-benar bisa marah walau aku sudah mencoba menjadi benar-benar marah. Tapi, pada akhirnya, aku tidak kelihatan seperti sedang marah dan dalam sepersekian detik—anggap saja 15 detik, aku tertawa seperti orang gila setelah ‘marah’.

 “Lihat, kan, dia tidak marah,” kata Billy, melihat tawaanku yang entah kenapa aku selalu ingin tertawa setelah marah.

 “Oh, tapi serius. Hanya kalian yang tahu soal ginjal pemalasku.”

 “Sebenarnya itu bukan jenis rahasia,” kata Akash. “Tapi bagaimanapun juga Ollyne tidak akan jatuh cinta pada seseorang yang harus cuci darah dua kali dalam seminggu.” Dan entah kenapa kami semua tertawa setelahnya. Padahal itu penghinaan terhadapku.

 Dua menit kemudian bel tanda masuk berdering. Kami semua meninggalkan meja bundar tersebut dan keluar dari kafeteria tanpa membeli apa-apa.

 “Aduh aduh. Perutku, seperti ada yang sedang mengadakan konser di dalam perutku dan si pemain bass melakukan kesalahan kunci dan vokalisnya tidak senang lalu mereka berkelahi dan membuat bunyi-bunyi tidak enak dan perutku terasa sakit!” kata Akash dalam perjalanan menuju kelas.

 “Itu namanya Kau Sedang Lapar,” kataku. Aku sudah mengenal Akash sejak 1 SMA dan dia satu-satunya orang yang selalu memilih kata-kata panjang lebar untuk menggambarkan suasana ketimbang menuju inti utama. Singkatnya dia selalu berumpama dan kadang sulit dimengerti.

 “Akash, bisa kau katakan padaku—misalnya saja kau sedang bernafsu untuk bercinta. Apa yang akan kau katakan?”

 “Mm, ibu Billy begitu cantik dan masakannya—sunguh—Lezaaat..”

 “Brengsek. Dasar Skrotum!” kata Billy. Dan Billy adalah orang yang suka mengejek orang lain dengan Bahasa medis. Misalnya saja Skrotum yang artinya buah pelir.

 Kami sampai di kelas dan duduk di urutan paling belakang dan memilih bagian pojok dekat dinding. Kami memilih spot terpencil dengan beberapa alasan karena 1. Kami suka tidur di kelas, 2. Duduk di belakang akan jarang dipilih oleh guru untuk mengerjakan soal Matematika 3. Aku bisa memandangi Ollyne dari sini.

 Kehadiran Ollyne serta Audrey menjadi sebuah berkah tersendiri bagi semua laki-laki penghuni kelas Sebelas-Satu. Tapi aku, Billy serta Akash yang lebih brutal dalam mengeksploitasi kehadiran mereka sampai-sampai kami berkhayal tentang Kontes Kecantikan di Alam Semesta ini. Kami semua akan berjudi tapi sayangnya tidak ada yang memihak pada Audrey meskipun ia terlihat begitu cantik—dengan rambut ikalnya yang selalu dicat coklat kemerahan dan bola matanya yang proporsional—serta menggairahkan dengan roknya yang selalu tersingkap. Audrey seperti iblis yang cantik dengan seringai licik dan memabukkan, tubuh yang selalu menggoda dan cara berpakaian yang ketat selalu membuatnya semakin mendekati jalur kemenangan tapi tidak lagi saat Ollyne—malaikat yang cantik itu datang.

Ollyne adalah bentuk sejati dari kecantikan alamiah, rambut lurusnya yang nyaris sepinggang itu seolah membelah angin seperti tongkat Musa membelah laut dan mengharumkan seisi kelas dengan harum zaitun. Bola matanya seolah dilengkapi alkohol sebab setiap pria bisa mabuk jika memandangi bola matanya terus. Cara memandang Ollyne diatur untuk memicu perang yang memperebutkannya dan pakaiannya meski tidak ketat tapi ia berupaya terlihat menarik dengan pakaian tertutup sampai orang lainlah yang harus menganggap dia seksi tanpa harus diperjelas dengan pakaian ketat. Seringainya juga tipe seringai ramah serta tulus, kau akan menganggap dirimu mati saat mengobrol dengan Ollyne secara berhadapan karena mengira kau sedang mengobrol dengan malaikat. Dan tentu saja, malaikat selalu lebih menarik ketimbang iblis.

 Walaupun aku jarang mengobrol dengan Ollyne—terakhir kali kami mengobrol adalah sesuatu yang disebut Panggilan Absen, Ollyne menyebut namaku dan aku menyahut, tamat—tapi aku cukup sering memandanginya dari jauh—lebih sering daripada menghafal rumus matematika atau fisika. Dan penyebab aku jarang mengobrol dengan Ollyne adalah kemampuan intelektual kami yang cukup berbeda. Ollyne peringkat satu dalam kemampuan akademik, sedangkan aku peringkat 27 dari 36 siswa—urutan 28 sampai 36 adalah para berandal SMA.

Ollyne seolah mempunyai perisai tak kasat mata sehingga setiap lelaki tak akan mudah mendekatinya. Seolah jika kita melewati perisai itu kita akan terpotong-potong menjadi 25 bagian.

 Dan aku tidak bisa dibilang kalau aku jatuh cinta padanya, aku hanya senang memandanginya karena ia cantik dan aku menjadi mabuk setelah memandanginya. Itu saja.

 “Sejujurnya aku tidak terlalu suka pelajaran Pengembangan Diri. Ini lebih mengorek-ngorek kepribadian siswa dan mereka akan memanipulasinya. Lihat materi selanjutnya; Menggali Cita-Cita. Astaga, tanah mana yang harus kugali agar bisa menemukan cita-cita?” kata Billy, memperlihatkan handphonenya. Billy orang yang cukup pinta. Meski tidak bisa mencapai Ollyne, dia cukup berguna untuk menjadi penyalur contekan untukku dan Akash. Dia juga merupakan murid kesayangan para guru sebab sikapnya kadang seperti anjing penurut sehingga guru akan memberitahu materi selanjutnya kepadanya lebih dulu ketimbang seluruh orang di dunia ini.

 “Tugas?” tanyaku.

 “Format makalah. Berisi rencana hidup, tujuan hidup, karier, cita-cita. Tipe presentasi: INDIVIDU!”

 “INDIVIDU!” seruku dan Akash, kata-kata idividu selalu terdengar lebih menyeramkan ketimbang kau mendapat pengumuman terkena gagal ginjal.

 “Sendirian selalu mengerikan!” Akash paling takut sendiri sebab dia hampir menjadi korban penculikan sewaktu sendirian di pasar malam yang sepi. Anak-anak keturunan memang harganya cukup mahal untuk dijual.

 Lalu kami terdiam untuk waktu yang cukup lama sebab belum ada guru yang mengajar dan seluruh murid juga mempunyai kesibukan masing-masing. Kesibukan Kami; Diam. Entah memikirkan rencana kami atau tujuan hidup atau apa pun juga. Terutama aku sendiri, aku tidak memikirkan itu semua kecuali aku berpikir untuk merencanakan memandangi Ollyne untuk waktu yang cukup lama, kemudian aku tidak akan bilang kepadanya kalau aku memiliki ginjal yang rusak, dan aku akan kembali ke KCC, dan aku akan disuntik untuk menyambungkan selang penyedot darah, dan mesin Dialyzer akan menyala, dan suster akan berkata ‘semoga harimu menyenangkan’ dan aku harus menunggu selama lima jam sampai proses cuci darah itu benar-benar selesai. Rutinitas yang tidak akan membuatmu berpikiran Wow, itu kereen.