Episode 1 - Rumah Kaca


Yashwan selesai menanam benih bayam di dalam rumah kaca miliknya yang seluas 250 meter persegi. Ia mengelap peluh di dahinya dengan punggung tangan. Setelah memandangi hasil kerjanya dengan rasa puas, ia menghabiskan air dalam botol dengan rakusnya. Pembantunya yang bernama Mang Kasman kemudian menyiram benih-benih tersebut, menyebar cairan nutrisi, dan mengatur cahaya matahari yang masuk menembus rumah kaca. Sementara itu Yashwan masuk ke dalam rumah kediaman untuk mandi.

Rumah kaca itu berbentuk persegi panjang, atapnya dibuat dari kaca fiber sementara dindingnya dari kaca tempered warna biru. Rumah kaca itu juga memakai panel surya sebagai daya saat matahari terbenam dan menyimpan energi panas bumi untuk pendinginan. Tempat Yashwan bercocok tanam ini terletak di belakang rumah kediaman di antara halaman rumput, semak bunga dan gerumbulan tanaman putri malu.

Seluruh rumah kediaman, rumah kaca, dan halaman rumput serta pepohonannya yang seluas 1500 meter persegi itu dikelilingi tembok setinggi 4 meter dan dirambati tanaman soapwort. Berada di kawasan Cinere, wilayah yang masuk Kota Depok di Jawa Barat namun berhimpitan dengan Jakarta Selatan itu, seluruh bangunan yang ada dalam tembok sudah ada sejak Yashwan belum lahir. Ia mewarisi semua dari ayahnya tiga tahun lalu.

Yashwan ingat ayahnya pernah mengatakan bahwa setahun sebelum ia lahir atau 22 tahun lalu, kakeknya, kakek Sadir, membangun rumah kaca setelah gagal panen terus terjadi di seluruh wilayah Indonesia pada kurun waktu 2019-2024. Pada masa itu hanya sedikit tanaman yang bisa panen karena anomali cuaca dan krisis air. Hari ini terik, besok hujan deras, lusa panas terik membakar datang lagi. Kondisi itu membuat binatang hama berkembang biak tak terkendali karena tak ada predator. Pestisida buatan pabrik lama-kelamaan lebih sering membuat orang terkena kanker daripada melenyapkan hama. Ibunya, yang kata ayahnya vegetarian dan senang main voli, bahkan kehilangan nyawa karena kanker payudara kala Yashwan berusia 5 tahun. Ayahnya juga bilang bahwa gagal panen juga berkaitan dengan politik. Tapi Yashwan yang dulu masih kecil tak mengerti apa yang dibicarakan ayahnya soal kudeta, pembakaran istana negara, juga pengungsian.

Ayahnya meninggal mendadak tanpa didahului sakit. Selepas shalat Subuh ayahnya bilang ingin tidur lagi, tapi sampai menjelang siang ayahnya tak bangun-bangun. Yashwan baru sehari lulus dari sekolah kejuruannya ketika ayahnya meninggal dunia. Di tempat ini ia tinggal bersama Jardis, kakak sepupunya yang kuliah di Universitas Indonesia dan Mang Kasman, pembantu setianya. Jardis sedang pulang ke rumah orangtuanya di Bandung dalam rangka libur akhir semester.

Tidak seperti Jardis yang kuliah, Yashwan memutuskan untuk tidak kuliah. Ia memilih mengembangkan sayur-mayur dan buah-buahan dalam rumah kaca. Ia belajar langsung dari profesor ahli teknologi rumah kaca, Profesor Suyudi, melalui video conference. Ia juga punya tutor seorang ahli fisiologi tanaman, Profesor Sinna. Dua profesor itu bersedia membagi ilmu karena Yashwan menanam sayuran dan buah secara tradisional. Saat ini hampir semua tanaman yang dimakan manusia adalah hasil rekayasa genetik. Buahnya besar-besar dan anti-busuk, sayurannya anti debu, dan cepat panen hanya dalam beberapa minggu waktu tanam.

Yashwan baru selesai mandi. Rambut hitamnya yang pendek agak ikal lepek karena basah. Wajahnya yang berbentuk hati punya garis rahang yang tegas pas dengan postur tubuhnya yang terbentuk khas laki-laki berkat kesibukan sehari-hari di rumah kaca.

Saat ia memakai kaosnya terdengar dering smart watch yang tergeletak di atas meja makan berbunyi. Wajah Pastha muncul di layar.

"Ya," Yashwan menjawab sapaan Pastha.

"Kau masih punya tomat segar, tidak? Adikku ingin sop tomat pakai tomatmu katanya," kata Pastha.

"Ada sekeranjang. Kapan mau kau ambil?" tanya Pashwan.

"Sekarang. Bye!" tutup Pastha.

Yashwan memang menjual hasil pertanian rumah kacanya meski tak pernah mematok harga jual. Sering ia membagikan sayuran dan buah-buahan untuk anak-anak yatim piatu di yayasan-yayasan sosial.

Deringan berbunyi di jam tangannya lagi. Wajah Desitra muncul.

"Yashwan, tolong pindah ke tabletmu. Aku ingin menunjukkan resep padamu," pinta Desitra dengan campuran nada sedikit manja dan memohon.

"Resep?!" Yashwan mengernyitkan dahinya. Yashwan memencet tombol kecil di bagian bawah jam tangannya lalu memilih fitur sync all dan memencet pilihan menu smart watch.

"Lihat. Ibuku sangat menyukai tumis jamur brokoli. Bisakah kau menyediakan bahan-bahannya?" tanya Desitra sambil menunjukkan video sepiring tumis jamur brokoli yang mengepulkan asap tanda baru saja diangkat dari wajan.

Yashwan merasa tindakan Desitra menunjukkan sepiring tumis jamur brokoli padanya sebagai hal tidak berguna. Tapi tetap saja ia merasa senang Desitra menghubunginya meski hanya untuk minta bahan makanan. Desitra cantik, menurut pendapat Yashwan. Alisnya pas dengan bentuk oval wajahnya, tanpa senyumpun wajahnya enak dilihat, apalagi kalau senyum, kulitnya putih, rambutnya kecoklatan lurus sebahu berkibar-kibar menutupi wajahnya kala tertiup angin. Desitra bisa dibilang blasteran karena ibu dari ayahnya orang Belgia tulen.

"Ya. Silahkan datang kesini, Desitra, ambil bahan makanan yang kau mau," jawab Yashwan sambil menampakkan senyumnya. Susah untuk tidak tersenyum kalau bicara dengan gadis cantik.

Tak lama kemudian Pastha datang, yang ternyata bersama Damar. Pastha dan Damar bersekolah di tempat yang sama di sekolah kejuruan. Hanya saja Pastha dan Damar mengambil jurusan teknik industri sedangkan Yashwan teknologi pangan. Sementara Yashwan mengenal Desitra karena ia adik teman Jardis.

"Mana tomatnya?" tanya Pastha.

"Oya, sekalian mochaccino ya buat Damar supaya kusutnya hilang," tambah Pastha sambil menepuk bahu Damar. Damar membalas dengan memukul bahu Pastha tanpa berkata apapun.

"Hehee, kau ambil sendiri sana," jawab Yashwan sambil melempar kacang macadamia panggang ke mulutnya.

Pastha menuju dapur dan memanggil Mang Kasman untuk minta tolong diambilkan tomat dari lemari pendingin. Yashwan melihat dari dekat raut wajah Damar ternyata benar-benar kusut. Ia menyuruh Damar untuk duduk sambil menunggu ia meracik mochaccino dari mesin espresso.

"Kau baru ditolak perempuan lagi?" tanya Yashwan kepada Damar sambil menebak.

Damar mengangguk lesu. Tawa Yashwan pecah.

Belum sempat Yashwan membuka mulutnya lagi Desitra sudah datang. Tapi ia tak datang sendiri melainkan ditemani seorang gadis berambut panjang ikal kemerahan, bermata besar, dan berhidung sama mancung dengan Desitra, hanya saja kulitnya tidak seputih Desitra.

"Hei Yashwan, apa kabar?" sapa Desitra ketika masuk kedalam rumah.

"Alhamdulillah baik, Desitra. Kita baru bicara online tadi tapi kau sudah menanyakan kabarku," jawab Yashwan berusaha bercanda tapi tetap ramah.

"Hahaha, tidak apa-apa kan namanya juga basa-basi," tukas Desitra tertawa. Ia kemudian memperkenalkan gadis yang diajaknya yang ternyata sepupunya bernama Narin.

"Narin baru datang dari Kalimantan," tambah Desitra.

"Dia ini zoologist di Taman Nasional Tanjung Puting. Mumpung dia disini sekalian aku ajak mencicipi sayuran dan buah dari rumah kacamu. Boleh ya?" lagu-lagi nada setengah manja itu terdengar menggelitik di telinga Yashwan.

"Tentu boleh, Desitra, ambil sebanyak yang kau mau. Silahkan Narin. Mari kuajak ke rumah kaca kalau kau mau?" Yashwan menawari.

Narin mengangguk senang dan antusias, "Senang sekali kalau boleh melihat isi rumah kacamu, Yashwan!".

Rumah kaca memang bukan hal langka. Tapi Narin selalu senang melihat aneka bentuk rumah kaca dimanapun ia temui.

Rumah kaca dibangun dimana-mana menggantikan lahan pertanian konvensional. Meski masih dijumpai sawah dan areal perkebunan, tapi hanya mereka yang bermodal besar yang berani mengolah tanah. Menanam sayuran dan buah-buahan di tanah biasa tanpa rumah kaca sangat berisiko karena matahari yang terik bisa tiba-tiba hilang dalam hitungan detik berganti hujan deras berhari-hari. Belum lagi hama seperti trips, uret, kutu daun, dan uteng-uteng, yang hanya bisa dibasmi dengan pestisida kualitas super yang harganya juga super mahal, membuat tanaman lebih cepat mati dan petani merugi.

Percobaan penanaman tumbuhan hasil persilangan antar varietas dan rekayasa genetik juga dilakukan di rumah kaca milik pemerintah dan perusahaan.

Yashwan memimpin Desitra dan Narin menuju rumah kaca. Pastha dan Damar ikut bergabung meski tujuan mereka hanya supaya bisa berkenalan dengan Desitra dan Narin.

"Rupanya rumah kaca bisa digunakan untuk memikat gadis-gadis. Kau jadi petani rumah kaca saja, Damar, daripada jadi mahasiswa jenius tapi ditolak para gadis," Pastha menggoda Damar sambil menepuk-nepuk punggungnya. Desitra dan Narin tertawa, diikuti Yashwan yang geleng-geleng kepala. Damar diam saja tapi sengaja mengeluarkan mimik wajah acuh.

Rumah kaca tinggal berjarak beberapa langkah ketika suara seperti ledakan kecil disertai kepulan asap putih muncul dari dalam rumah kaca mengagetkan mereka. Desitra dan Narin spontan menutup telinga mereka dan menjerit.

"Apa yang meledak itu, Yashwan?!" tanya Pastha dan Damar hampir bersamaan.

"Yashwan menggeleng, "Aku tidak tahu."

"Kalian tunggu di sini," katanya kemudian lari kedalam rumah kaca. Apa yang meledak tadi, pikir Yashwan, apakah double drum boiler atau thermohygro controller? Tapi seperti tanahnya yang meledak.

Yashwan masuk ke rumah kaca langsung menuju ke tanah yang masih mengepulkan asap putih tipis.

Tanahnya berlubang! Kenapa tanahnya berlubang?! Yashwan merasa was-was melihat lubang di tanah. Ia ingin memeriksa lubang itu tapi diselimuti keraguan akan adanya ledakan lain. Teman-temannya yang tadinya mengawasi dari luar kemudian ikut masuk perlahan-lahan karena penasaran.

"Yashwan, Mamang dengar ada bunyi mmeledak. Dari mana?!" Mang Kasman tergopoh-gopoh menghampiri Yashwan.

Yashwan hanya mengangguk. "Tolong ambil senter, Mang," perintahnya.

Mang Kasman lari ke rumah kediaman untuk secepat kilat mengambil senter. Ia memberikan senter ke Yashwan yang langsung menyorotkannya ke dalam lubang bekas ledakan.

Sinar dari senter yang mengarah jauh kebawah memberitahukan bahwa lubang itu dalam.

"Ada apa di bawah lubang itu?" Pastha penasaran.

"Duarrr!"

Ledakan kedua muncul lagi dari dalam tanah. Meski ledakannya tidak keras tapi mereka menjerit karena kaget.

Dengan dada masih berdebar, Yashwan memberanikan diri menyorotkan senter ke dalam lubang.

"Lubang yang ini juga dalam," kata Yashwan.

"Kalau dalam berarti ada sesuatu di bawah?" Damar penasaran.

Brukk!

Tiba-tiba tanah tempat mereka berdiri amblas. Mereka terperosok ke dalam tanah yang amblas. Teriakan kencang meluncur dari mulut mereka berlima sambil terbatuk-batuk menghirup debu halus tanah. Narin dan Desitra saling berpelukan berteriak kaget dan panik. Pastha dan Damar mempertahankan keseimbangan agar tidak jatuh.

Namun, yang amblas bukanlah tanah melainkan papan tebal berlapis besi seperti tutup bunker. Ya, mereka jatuh ke dalam bunker.

Mang Kasman yang tidak jatuh berusaha menolong Yashwan dengan mencoba menarik tangannya. Tapi mata Yashwan melihat ada tangga kebawah.

"Tunggu, Mang, ada tangga." Yashwan perlahan memijak anak tangga kecil yang berada di bawah kakinya.

Mang Kasman menyorotkan cahaya senter ke tempat yang ditunjuk Yashwan.

"Hati-hati, Yashwan!" seru Pastha yang khawatir tapi ingin sekali mengikuti langkah Yashwan.

Yashwan mengangguk membalas seruan Pastha. Dituruninya anak tangga satu-persatu dengan hati-hati. Tiba-tiba matanya silau oleh cahaya lampu yang terang menyala tiba-tiba.

"Lihat. Turun ke sini, kawan-kawan!" Yashwan setengah berteriak mengajak teman-temannya turun.

Pashta dan Damar turun mengikuti Yashwan. Desitra dan Narin yang hampir gemetar memberanikan diri turun dibimbing Pashta dan Damar.

Sesampainya mereka turun, dalam cahaya lampu yang benderang, ada ruangan berisi dua sofa kuning telur yang masih tertutup plastik transparan beserta mejanya, tiga unit komputer lengkap dengan tiga layar datar berukuran 40 inci tersambung kabel pada keyboard-nya, dua peti besar, empat laptop yang berjejer di meja panjang yang menempel ke dinding, dan kulkas. Ruangan itu lebih seperti kamar bawah tanah rahasia milik agen mata-mata daripada bunker tempat berlindung dari bencana.

Yashwan memeriksa dan mencoba menyalakan komputer. Ia minta bantuan Mang Kasman, Pastha dan Damar untuk membersihkan debu-debu yang menempel pada perangkat elektronik sementara ia menyalakan komputer dan jejeran laptop. Desitra dan Narin juga diminta bantuannya untuk mengecek isi peti.

Tiga komputer semua menyala. Tapi komputer itu bukan komputer biasa. Ada tulisan merah besar pada monitornya "Activate GPS and Satellite Now? Press Enter to Yes. Esc to Abort."

Yashwan terkesima. Mengaktifkan satelit?! Ditekannya tombol Enter pada keyboard lalu terdengar bunyi bip bip bip. Layar berganti tulisan menjadi "GPS and Satellite Activated".

Jantung Yashwan berdegup kencang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi monitor tidak menunjukkan apa-apa selain tulisan tersebut.

Pastha memberondong Yashwan dengan pertanyaan tentang apa fungsi komputer yang terhubung ke satelit, untuk apa ada kamar bawah tanah di bawah rumah kaca, dan selusin pertanyaan lain. Tidak satu pun yang bisa dijawab Yashwan. Sementara Damar menemukan detonator dari balik meja, Yashwan menyuruh Mang Kasman mengunci gerbang dan pintu rumah kediaman.

Mang Kasman mematuhi. Ia mengambil remote digital dari saku celananya. Memencet menu lock the gate dan lock the front door dalam fiturnya kemudian memasukkan remote itu ke sakunya lagi.

Tiba-tiba Desitra berteriak, "Yashwan, peti ini isinya emas! Ada 100 batang emas!"

Emas batangan! Mata mereka menyiratkan kekagetan, kesenangan, sekaligus kebingungan dan takjub.

Yashwan memastikan temuan Desitra, "Kau yakin?"

"Emas asli?" celetuk Pastha.

"Asli. Ada nomor serinya. Aku tahu ini nomor seri emas keluaran Bank Indonesia karena aku pernah dapat penjelasan dari tour guide Museum Nasional," sambung Damar antusias.

"Emas keluaran Bank Indonesia tidak untuk diperjualbelikan karena sebagai cadangan devisa. Bagaimana emas itu bisa ada di sini adalah suatu misteri," Damar melanjutkan.

"Aku tadi menemukan gelang," sahut Narin sambil menunjukkan gelang tembaga setebal benang nilon. "Aku sudah pakai satu, nih, warnanya bisa berubah-ubah. Masih ada 9 lagi gelangnya."

Desitra meminta satu gelang dari Narin dan memakainya. Warna gelang menjadi hijau dalam selang waktu beberapa detik setelah dipakai Desitra.

"Coba kalian pakai juga," ajak Desitra. "Gelang ini bagus!"

Tapi tidak ada yang mau karena para lelaki seperti banci kalau pakai gelang. Desitra memaksa. Hanya sebentar untuk membuktikan kalau gelang itu bisa berubah warna, kata Desitra. Para lelaki terus menolak. Akan tetapi ketika Desitra terus-terusan memaksa dan merengek akhirnya gelang itu terpasang di pergelangan tangan semua orang, termasuk Mang Kasman.

Layar monitor yang ada ditengah berubah menjadi peta tiga dimensi menunjukkan enam titik dengan warna berbeda seperti warna-warna yang ada di gelang.

"Gelang ini GPS! Gelang ini memindai panas tubuh kita dan menginformasikannya ke satelit. Itu sebabnya warna titik di layar sama seperti warna gelang di tangan kita masing-masing. Lihat, titik biru itu artinya aku," Damar berhasil menemukan arti dari warna di layar dan menunjuk gelangnya.

"Apa gunanya kita dipindai?" Desitra khawatir lalu berusaha melepas gelangnya.

Damar mengangkat bahu.

"Gelang ini tidak bisa lepas!" Desitra panik.

Semua orang kecuali Damar, berusaha melepas gelang namun sia-sia. Pastha memukul-mukul gelang dengan senter.

"Aku rasa gelang ini juga berfungsi sebagai alat penjejak supaya kita dapat dilacak," Damar berasumsi meski ada nada ragu dalam suaranya.

"Kenapa kita harus dilacak?" Pastha masih mencoba membuka gelangnya.

"Supaya kita tidak membocorkan apa yang ada dalam kamar ini. Jelas ini kamar rahasia karena isinya bukan barang-barang biasa. Kakek dan ayahku membangunnya pasti ada maksud," kata Yashwan tidak yakin.

Damar menambahkan, "Detonator ini dipasangi timer. Kemungkinan kakek atau ayahmu sudah menyetel detonator supaya meledak hari ini," ia menunjukkan detonator seukuran ponsel tipis.

"Tapi ayahku sudah meninggal tiga tahun lalu. Kakekku bahkan sudah meninggal lima tahun lalu," ujar Yashwan muram.

"Berarti timernya dipasang saat ayahmu saat beliau masih hidup," tambah Damar meyakinkan.

"Aku mau pulang," tiba-tiba Desitra berkata sambil menahan tangis.

Semua memandang Desitra seperti tersadar bahwa mereka juga sebenarnya ingin pulang. Yashwan merasa ia harus ambil keputusan.

"Kalian semua pulanglah. Tolong apa yang ada di kamar ini tetaplah ada di antara kita saja. Jangan sampai ada orang yang tahu karena kita akan menghadapi konsekuensi di luar kemampuan kita bila ada orang selain kita yang tahu tentang satelit, GPS, dan emas ini," Yashwan memberi penekanan pada kalimatnya agar teman-temannya mematuhi.

Tak ada yang menjawab Yashwan karena mereka terlalu bingung, khawatir sekaligus takjub dengan apa yang mereka temukan hari ini. Kemudian mereka pamit dan meninggalkan Yashwan dan Mang Kasman yang tetap bergeming di sana. Mereka membiarkan gelang tetap menempel di tangan.

Malam hampir larut dan Yashwan menghabiskan malam bersama Mang Kasman di kamar bawah tanah. Ditemani bercangkir-cangkir kopi mereka menemukan catatan-catatan Kakek Sadir dan ayah Yashwan dalam beberapa buku yang kertasnya sudah berwarna kuning. Catatan tentang yang harus Yashwan lakukan dengan emas-emas, perjalanan ke beberapa kota, petunjuk tentang keturunan Sultan Hamengkubuwono IX, juga penggunaan satelit. Satelit itu mampu menunjukkan secara detail apa yang ada di bumi. Kereta yang melaju, gedung-gedung pencakar langit, bahkan Burung Gereja yang bertengger di pohon.

"Pergilah istirahat dan tidur, Mang. Sudah tengah malam," kata Yashwan pada Mang Kasman. Mang Kasman menurut.

Disela-sela kelelahan fisiknya, Yashwan mencoba mengingat dan merangkai apa saja yang pernah diceritakan kakek dan ayahnya semasa mereka masih hidup. Yashwan menyimpulkan bahwa ada yang harus dilakukannya berkaitan dengan alat-alat canggih ini. Emas-emas dalam peti pasti nilainya ratusan milyar. Bagaimana mengamankannya. Yashwan takut semua ini di luar kemampuannya. Melakukan perjalanan, membuat perubahan, mengatur sejarah, melibatkan teman-temannya.

Ahh, teman-temannya harus terlibat. Apakah mereka bisa dipercaya? Apakah ia mampu, apakah teman-temannya mau? Semua rasanya terlalu tiba-tiba, terlalu berat. Seberat matanya yang membuatnya jatuh tertidur bersandar di sofa. Monitor komputer masih menunjukkan tanda aktif terhubung ke satelit melalui GPS.

"Bip... bip... bip ..."