Episode 20 - Monster yang Kesakitan


“Rem!” teriak Neil membuang senjatanya dan segera berlari. 

Navi yang melihat Neil berteriak tidak mengerti sedikit pun. Untuk apa dia memanggil Rem? Kenapa dia berlari ke ara Noxa? Selagi Navi bertanya-tanya, suara keras terdengar menyadaran pikirannya. 

Yang pertama senjata, berikutnya peluru kecil itu menembuts pundak kanannya hingga bercipratan.”A—AAagh…” Baron berteriak. Ia berlutut karena serangan kejutan, tapi itu tidak membuatnya menyerahkan apa yang ada di tangannya.

Seseorang menembak Baron dari tempat yang sangat jauh. Siapa? Dengan kondisi seperti ini bahkan bagi seorang sniper pun akan sangat kesulitan kecuali dari jarak yang cukup dekat. Hanya satu orang saja yang terlintas di pikiran Navi. Namun, kenapa?

“Huh, Ba—Baron, kau…?” Raut wajah Navi berubah. Matanya yang menajam melihat ke arah Baron yang masih berlutut dengan tangan penuh darah. Benda kecil yang ada di tangannya menjadi alasan utama kenapa Neil berlari dan Rem menembaknya.

Bagi Rem untuk membunuh Baron sangatlah mudah dengan sniper, tapi gadis itu dengan jarak yang cukup jauh sambil melawan angin mau dengan repot-repotnya menghitung kalkulasi hanya untuk memeberikan luka kecil pada pundaknya. 

Navi tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia tidak tahu kenapa Neil sendiri tidak menghentikkan Baron sendiri. Ia juga tidak tahu bagaimana cara Rem melakukannya, tapi… ia harus membantu mereka berdua.

Dengan kesempatan yang sudah diberikan, Navi tanpa pikir panjang melakukan putaran 360 derajat berniat memberikan tendangan tepat di kepala Baron seperti yang pernah ia lihat di film-film. Dirinya tidak pernah melakukan latihan bela diri seperti Neil, tapi menendang seseorang yang kesulitan bergerak akan sangat memalukan jika ia sampai gagal. Kakinya yang panjang mendaratkan sepatu hitamnya pada kepala Baron dengan sangat kuat akibat bantuan putarannya. Navi melakukannya dengan sempurna.

“Eeh…?!” Navi terkejut. 

Dengan tangan yang penuh dengan darah akibat luka di pundak, Baron berhasil menahan kaki Navi. Bahkan meskipun tanpa senjata, pria besar itu memiliki otot yang kuat. Navi hampir lupa kalau Baron bukan hanya anggota pelengkap. Dia ada di Aster Glass bukan hanya sekedar mengandalkan keberuntungan, tapi kemampuan. 

Navi menggerak-gerakkan kakinya, tapi tidak bisa lepas.Walaupun dengan kondisi itu, cengkramannya masih sangat kuat. Mau bagaimana lagi? Dalam hal kekuatan, tidak mungkin seorang wanita bisa mengalahkan pria terutama yang tubuhnya dilatih.

“Maaf…“ Sambil mengucapkan itu, Baron tersenyum. 

“Huh…? Kau?!”

Baron terlihat sangat tulus saat mengatakannya, tapi justru karena itu juga Navi paham kalau dia benar-benar akan melakukannya. Meski ia tidak ingin, ia harus tetap melakukannya. Siapa yang menyuruhnya untuk melakukan hal ini? Siapa pun dia, orang itu membuat Navi sangat kesal.

“Jangan—“ Dengan satu kaki yang tersisa, Navi melompat. “bercanda kau!” Dengkul kirinya mendorong kepala Baron dengan kuat. Pemicu yang ada di tangan kiri Baron terlepas dan menggelinding di tanah, tapi Navi sudah tidak mempedulikannya lagi. Meski hidungnya baru saja dipatahkan, Baron masih sadar.

Sambil duduk di atasnya, Navi menarik kerah Baron dengan tangan kiri. Bukan hanya Noxa, Neil juga mungkin bisa mati karenanya dan pria yang ingin melakukannya meminta maaf sebelum hal itu terjadi. Meski karena dipaksa atau diancam, meminta ampun untuk hal itu tetaplah tidak bisa dimaafkan. Terlebih lagi sambil menunjukkan senyum tanpa harapan. Itulah yang membuat tangan kanan Navi bergerak cepat meninju wajahnya. 

“Dasar brengsek!” Tangan kecil Navi memukulnya lagi dan lagi. “Berani sekali kau mengatakan maaf setelah berniat membunuh temanmu sendiri!” Navi menggertakkan gigi, ia tak berhenti memukul Baron. Setiap kali ia memukulnya tangannya melemah, setiap kali ia melakukan itu juga amarahnya meningkat. Meski menggunakan sarung, tangannya mungkin sudah merah saat ini. “Jika kau tidak ingin melakukannya, maka jangan melakukannya!”

“Cih…” Navi berhenti. Baron yang ada di hadapannya saat ini sudah tak sadarkan diri. Meski masih menyimpan rasa marah, tidak ada gunanya melanjutkan. Wajahnya penuh dengan memar, tapi semua itu bisa disembuhkan hanya dengan beberapa hari. 

Di saat Navi berniat bangkit, suara keras yang mungkin saja menghancurkan telinganya membuat gadis itu tersadar.

“Huuh? K-kenapa…?”

Diikuti dengan gelombang dan debu yang bertebaran. Ekspresi Navi yang sebelumnya marah berubah diliputi rasa takut. 

Ia melihat pemicu yang tergeletak di lantai. Tidak ada yang menggunakannya. Tidak ada yang mengaktifkannya. Tidak ada yang menyentuhnya. Kalau begitu, kenapa bomnya masih meledak?

“N-Neil…?”

Karena terlalu fokus dengan Baron, Navi tidak tahu apa yang terjadi pada Neil dan Noxa. Di saat ia kira berhasil menghentikkan Baron, bomnya tetap meledak. Ia tidak mengerti. Dengan debu yang masih bertebaran dan jarak pandang terbatas, dirinya tidak bisa mengatakan dengan jeas apa Neil selamat. Meski tubuh Neil kuat tidak seperti manusia biasa, sebuah bom tetap akan membunuhnya.

Bersamaan dengan teriakan Noxa yang dipenuhi rasa marah memanggil Baron, Sky Chaser ikut mengaung keras. Perhatian Navi teralihkan sekali lagi. Makhluk bersayap itu terbang melengkung mendekati tempat ledakan terjadi. Seperti ada sesuatu yang memanggilnya. Jika dibiarkan akan sangat berbahaya mengetahui Noxa dan Neil tidak sedang dalam kondisi terbaik. Namun, apa yang bsia dilakukannya? Tidak ada. Seandainya Rem menembak dan berhasil menarik perhatiannya seluruh orang yang berdiam di dalam gedung akan berada dalam masalah karena hanya sedikit ruang yang tersedia.

“Haah…?” Neil yang bangkit memasuki ruang visual Navi. Meski dari jauh, ia tahu kalau Neil sedang dalam keadaan kacau. Sangat kacau sampai-sampai kalau dibiarkan mungkin ia akan terjatuh dan tak sadarkan diri selamanya. Setelah berkali-kali melihat Neil menggunakan Berserk Mode, mungkin ini yang pertama kalinya Navi merasa sangat ketakutan. Di sisi lain, Neil terlihat sangat mengerikan.

Ledakan kedua terjadi, tapi terlihat lebih kecil dari yang pertama. Itu pasti bom yang diberikan pada Neil sebelum berpisah dengan Noxa. Meski digunakan, tidak terlihat efek jelas bahwa ledakan atau apinya menyakiti Sky Chaser. Yang Navi tahu, Outsiders yang sedang terbang itu tumbang, menabrak jembatan membuat getaran, dan akhirnya jatuh ke sungai.

Semua yang dilihatnya tidaklah penting. Nyawa Neil yang satu-satunya ia pikirkan menjadi alasan utama kenapa Navi berlari sekuat tenaga mengabaikan Baron yang tergeletak di lantai.

Akibat dari ledakan yang terjadi, hampir seluruh bagian punggungnya terbakar termasuk syal merah milik Neil. Saat dia bangun, entah apa yang akan terjadi nantinya. Navi berani membayangkannya. Walaupun Neil masih bernapas, itu tidak membuat perasaan lega sedikit pun muncul.

Navi jongkok di samping Neil dengan ekspresi bingung dan cemas. “A-apa yang harus kulakukan? B-bagaimana ini?” Dengan pengetahuannya yang sangat terbatas, ia ragu bisa melakukan pertolongan pertama.

Noxa yang merasa kehabisan napas, bangkit dengan kedua kaki yang gemetaran. Kepala meneteskan darah. Punggung terasa sangat menyakitkan. Ia bernapas ngos-ngosan agar kesadarannya tidak menghilang. Dengan susah payah, kedua kaki yang pendek itu membawa Noxa ke tempat Neil dan Navi.

“N-Noxa… a-apa yang harus kulakukan?” tanya Navi dengan suara gemetar pada Noxa. Bagi Noxa, mungkin ini pertama kalinya melihat gadis bodoh yang ada di depannya itu sampai seperti ini. Navi benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

“Ugh…” Noxa memegangi kepala yang terasa pusing. “Aku sudah memanggil bantuan. Tapi, untuk amannya kita harus memindahkan Neil. Kau bisa membawanya, ‘kan? Tidak, kau harus membawanya! Aku tidak tahu bagaimana caranya melakukan pertolongan pertama. Hanya Faye saja yang tahu.” perintah Noxa. Meski keadaannya terlihat parah, Noxa masih berbicara dengan tegas.

Yang diberikannya bukanlah sebuah pilihan. Navi memegang satu tangan Neil, kemudian menariknya hingga naik ke punggung. Dengan tenaga miliknya yang tersisa, ia bangkit dengan kedua kakinya sambil menjaga keseimbangan. 

“Ugh… b-berat.”

Navi menyesal. Mungkin ia seharusnya tidak menggunakan banyak tenaga untuk memukul Baron beberapa menit yang lalu. 

“Bertahanlah.” Noxa menyigapkan tubuh. Kakinya berhenti bergetar. Ia menyeka darah yang ada di kepala dengan lengan jaketnya. “Ngomong-ngomong, di mana Baron?”

Navi menundukkan kepala. “A-aku memukulnya sampai tak sadarkan dan meninggalkannya.” Dirinya memalingkan kepala. “Sepertinya aku sedikit berlebihan.”

“Tidak apa. Akan kuselesaikan masalah Baron nanti.”

Noxa bisa melihat semua orang datang ke jembatan. Beberapa orang berhenti di tempat Baron, sisanya Reina, Faye, Kazu, dan Rem berari ke arah mereka. Tidak ingin membuat waktu, Navi mulai berjalan beberapa meter di depan Noxa.

“Hahaha…” Noxa tertawa pelan. “Kau ini sebenarnya apa?” 

Merasa ada sesuatu yang aneh, Navi membalikkan tubuh untuk meihat keadaan.

Di belakang Noxa, berdiri seorang gadis setinggi sekitar 175 senti berambut putih dan bergelombang. Melihat perbedaan tinggi mereka berdua saat saling berdekatan sebenarnya sedikit lucu. Namun, kondisi lain membuat Navi sekali lagi merasa waswas.

“Noxa…” suara Navi lemah sambil memperhatikan mereka berdua dari jarak beberapa meter.

Pisau yang berada di leher Noxa membuat gadis pendek itu tidak bergerak. Dengan Navi yang sedang menggendong Neil, ia tidak bisa melakukan apa pun, kecuali hanya melihat. Tidak, bahkan meski Navi tidak terbebani apa pun, ia masih tidak bisa menyelematkan Noxa yang sedang ditawan.

“Aku tidak menyadarinya sedikit pun. Kenapa bisa begitu?” Noxa memaksakan diri untuk terus berbicara. “Atau, jangan bilang… kau tidak mengerti ucapanku? Sungguh merepotkan. Kita perlu penerjemah di sini.” Noxa memasang senyum kecil.

“Kau… terlau banyak bicara.” Gadis berambut putih bicara. Pisau yang ada di leher Noxa menempel pada kulit ketika yang lain sampai di tempat. “Banyak orang yang mengatakan itu, tapi melawan empat orang sekaligus adalah hal yang musthil bagiku.”

“Hmm, ternyata bisa mengerti, ya? Yah, ini akan jadi semakin mudah kalau begitu.”

“K-kalian—kenapa lama sekali datangnya?” tanya Navi tanpa memalingkan pandangan dari gadis berambut putih. Sebisa mungkin, ia menahan Neil agar tidak terjatuh dari punggungnya.

Faye yang baru datang, maju paling depan. “Siapa kau? Apa yang kau inginkan?” Jika ada kesempatan, tentu saja ia tidak ingin mengatakan hal itu. Namun, negosiasi adalah satu-satunya pilihan yang bisa diambil sekarang. 

“Kalian semua menganggu. Pergi dari sini sekarang juga!” Gadis itu membuat wajah serius dengan nada datar sebagai bukti bahwa ia tidak bercanda.

“Tidak akan.” Noxa menghela. “Kau sebagai unit OFD juga seharusnya mengerti. Sky Chaser yang kami buru belum mati, jadi jawabannya akan tidak.”

Rem yang mendengarkan ucapan dari seseorang yang bertanggung jawab atas semuanya memasang penutup telinga. Ia mengangkat sebuah pistol dengan kedua tangan, mengarahkannya pada gadis putih yang sedang menawan Noxa.

“Tunggu, Rem!” tangan Faye menghalangi, tapi hal itu tidak membuat Rem untuk menurunkan senjata. “Jika Noxa mati karena ulahmu, aku akan membunuhmu juga!” peringatan dari Faye untuk gadis sniper di belakangnya.

“Ini bukan negosiasi.” Gadis putih itu memotong pembicaraan. “Aku memaksa kalian untuk meninggalkan tempat ini. Kalian mengganggu ketenangan.” 

“Kau tahu, kan kami bukan berasal dari sini?” ucap Faye. “Meski kami menyetujuinya, kami tetap tidak bisa pergi begitu saja.”

“Kalau begitu, jangan pancing Sky Chaser untuk mengamuk. Batalkan misi kalian. Apa pun itu, jangan pernah memburu semua Outsiders yang ada di sini!” Seketika Faye ingin membuka mulut, ia mengurungkan niat saat gadis putih itu melanjutkan. “Dan jangan bertanya kenapa! Kalian… kalian semua menggangu!”

Faye kehabisan kata-kata. Tak seorang pun mengerti maksud dari yang diucapkan gadis itu.

“Kau…” Gadis putih itu melihat ke arah Rem yang masih memegang senjata. “tidak serius untuk menggunkannya, ‘kan? Menurutmu kenapa aku bisa menahan pemimpin kalian saat ini?”

Rem tahu Noxa tidak selemah itu, bahkan meski dalam kondisi terluka seperti ini. Namun, gadis pendek itu saat ini benar-benar tidak memberikan perlawanan sama sekali. Dari hal sekecil itu, Rem bisa tahu kalau gerakan gadis putih itu benar-benar cepat hingga sebuah peluru akan kalah oleh gerakan pisau yang jaraknya kurang dari satu senti itu. Tidak ada kesempatan sedikit pun untuk menembak.

Setidaknya, untuk saat ini.

“Jika pemimpin kami mati, kau pun akan ikut mati. Seandainya dia hidup, kau pun akan hidup,” ucap Rem. “Aku sudah sering menunggu, jadi menunggu cukup lama sampai kau kelelahan pun tidak akan jadi masalah untukku.” 

“Rem, sudah kubilang! Jika karenamu Noxa sampai mati, aku akan membunuhmu juga!” 

“Faye, tenanglah sedikit!” ucap Noxa. 

Kazu dan Reina yang daritadi memperhatikan hanya bisa terdiam saja. Tidak ada kesempatan bagi mereka berdua untuk masuk ke dalam sedikit pun.

“Kalau begitu, bagaimana jika kau membantu kami sedikit?” Rem berbicara. “Salah satu anggota kami sedang sekarat. Butuh waktu lama untuk pergi ke kota menggunakan mobil, jadi pilihan kami sangat terbatas saat ini.”

Mendengar dari ucapan gadis itu, Rem setidaknya yakin kalau dia sangat mengenal tempat ini. Memikirkan pertolongan pertama tidak akan memperbaiki keadaan, Rem harus memikirkan cara lain untuk keluar dari situasi buruk ini.

“Kalimatmu barusan menyatakan kemenanganku. Bukan hanya kau saja yang bisa bersabar dan menunggu. Aku pun tidak keberatan untuk melakukannya.” 

Mendengar bagaimana gadis putih itu bisa berbicara dengan sangat tenang, membuat Rem sedikit naik darah.

“Meski… kalian berdua sama?”

“Hmm…” Gadis itu terdiam. Hanya pembohong sejati yang bisa mengatakan kalau orang lain sedang berbohong. Situasi saat ini mirip seperti itu. “Kau—“

Rem menarik pelatuk. Semua orang terkejut, terutama gadis berambut putih itu. 

“Huh…?” Kenapa? Dia sudah menguatkan niatnya untuk tidak ragu, tapi tubuhnya tidak bergerak sedikit pun. Bagaimana bisa seperti itu? 

Peluru kecil itu menggores pisau yang sedang dipegang oleh si gadis putih hingga membuat pisaunya terjatuh, kemudian menggesek lengannya lurus hingga membuat luka garis yang cukup panjang.Merasa mendapatkan kesempatan, Noxa memundurkan sikunya dengan keras. Masih belum selesai. Noxa menarik tangan yang lain, menggunakan punggung sebagai titik pondasi, gadis kecil itu mengeluarkan semua tenaganya yang tersisa untuk membanting gadis yang jauh lebih tinggi darinya ke lantai. 

Noxa menahan tangan gadis putih itu ke belakang agar tidak bisa bergerak sambil mendorong tubuhnya ke lantai. Setelah apa yang terjadi, Noxa tidak perlu sungkan untuk menahan diri.

“Hmm… memang tidak ada kesempatan.” Gadis itu bergumam. “Memang tidak mungkin bagiku untuk melawan seorang monster.”

Rem berdiri di hadapannya. “Jika kau sudah sadar tidak ada kesempatan, kenapa masih mencoba? Satu lagi. Aku bukan monster. Tolong, jangan samakan aku dengan dirimu.” Rem menatap rendah.