Episode 174 - Kotak Kayu


Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak! 

Pertahanan suara ditembus, kemudian gelombang kejut pun tercipta di kala Bintang Tenggara melepas jurus nan digdaya di mulut goa nan luas. Suara menggelegar bergema sampai jauh ke dalam. Bahkan, Bintang Tenggara sendiri merasakan telinganya pengang, dan berdengung sampai beberapa saat. 

Ratusan, bahkan mungkin ribuan, kawanan Kelelawar Taring Darah yang sangat peka terhadap gelombang getaran, berjatuhan dari tempat mereka bergelanyutan ibarat daun yang berguguran di tiup angin. Sebagian besar dari mereka terbang simpang-siur karena tak dapat menentukan arah. Tabrakan di antara kelelawar-kelelawar tiada dapat terhindarkan. 

Segera setelah itu, Bintang Tenggara bersama Aji Pamungkas melesat masuk ke dalam goa. Aji Pamungkas dengan langkah ringan kesaktian unsur angin bergerak memimpin di depan. Di dalam kegelapan, ia menebar jalinan mata hati sambil menentukan arah dan mengamati sekeliling. Teknik dimana anak remaja ini menebar indera keenam secara berlapis tiada mungkin dimiliki oleh ahli Kasta Perunggu. Lapisan pertama adalah tebaran jalinan mata hati yang melingkari diri ibarat radar, dan lapisan kedua adalah jalingan mata hati yang fokus jauh ke depan. 

Bintang Tenggara, dengan langkah tak beraturan dari kesaktian unsur petir, melejit mengekori Aji Pamungkas di belakang. Ia juga berupaya mencermati sisi-sisi goa dengan menebar jalinan mata hati, walau utamanya ia menjaga agar tak ketinggalan jejak Aji Pamungkas di dalam goa nan gelap gulita. Terbersit di dalam benak Bintang Tenggara untuk mempelajari teknik menebar jalinan mata hati secara berlapis layaknya Aji Pamungkas. Akan tetapi, segera ia tepis jauh-jauh rencana tersebut. Adalah prosedur berlatih Aji Pamungkas yang tak layak ditiru, yaitu dengan rutin mengintip setiap malam hari. Risiko yang teramat sangat besar untuk memperoleh kemampuan yang juga digdaya! 

Hampir limabelas menit waktu berlalu. Kedua remaja masih menyusuri liang goa. Dengan kecepatan mereka membelah kegelapan, dapat dipastikan bahwa goa tersebut teramat sangat dalam. 

“Sedalam apakah goa ini…?” gumam remaja di hadapan. Sekilas, benak Aji Pamungkas memaki taktik Bintang Tenggara dalam menjebak dirinya.

“Tidak sedalam relung hati Citra Pitaloka…,” tanggap Bintang Tenggara cepat. Mereka telah melangkah masuk cukup jauh, jangan sampai Aji Pamungkas berubah pikiran, lalu memutar haluan. Meski, harus diakui, bahwa Bintang Tenggara mencibir diri sendiri karena menerapkan Taktik Tempur No. 87: Tertambat Hati Terpaut Sayang. *

“Komodo Nagaradja dikau keparat!” tetiba Ginseng Perkasa berujar. “Dikau mengajarkan Taktik Tempur busuk itu kepada muridmu!” 

Komodo Nagaradja tiada menanggapi. Taktik Tempur No. 87: Tertambat Hati Terpaut Sayang adalah di antara taktik yang cukup keji. Taktik Tempur ini memanfaatkan kelemahan hati lawan terhadap seseorang yang ia sukai, sebagai cara untuk membuat lawan tersebut menuruti perintah pengguna taktik. 

“Dikau terus-menerus menuduhku diriku meracuni pikiran muridmu. Sementara dikau… Dikau mengajarkan taktik-taktik busuk!” 

“Bedakan antara taktik bertempur dengan tindak cabul!” bantah Komodo Nagaradja. “Yang kuajarkan adalah cara-cara untuk bertahan hidup, bukan memuaskan nafsu birahi.” 

“Sama saja!” hardik Ginseng Perkasa. “Untuk bertahan hidup, nafsu birahi merupakan kebutuhan dasar. Tanpa nafsu birahi, bagaimana makhluk hidup dapat berkembang biak!?”

“Kau sudah gila! Tak ada sangkut-pautnya!” 

Sungguh Bintang Tenggara tak tahu apa yang sedang diperdebatkan kedua tokoh nan digdaya, para penyandang gelar Jenderal Bhayangkara di masa lalu. Susah membayangkan seperti apa dulu kiprah mereka di kala Perang Jagat… Mungkinkah Sang Maha Patih salah menetapkan pilihan jenderal? Yang pasti, kedua kesadaran tersebut mengganggu konsentrasi dalam menebar jalinan mata hati. 

Kedua anak remaja terus memacu langkah. Bintang Tenggara masih mengekor di belakang Aji Pamungkas. Langkah mereka hampir tanpa hambatan berarti. Tak seekor pun kelelawar yang mendiami goa menyerang mereka. Sesuai kata-kata Komodo Nagaradja, binatang siluman Kelelawar Taring Darah memang teramat sangat lemah terhadap gelombang getaran. Hal ini terjadi kemungkinan karena mereka memiliki kesaktian unsur getaran bunyi, yang sekaligus merupakan kelemahan mereka. 

“Apakah itu…?” tetiba Aji Pamungkas berujar. 

Jauh di hadapan mereka, kini mulai terlihat berkas cahaya. Cahaya itu semakin lama semakin membesar ketika didekati. Sepertinya liang goa akan segera berakhir dan mereka akan tiba di suatu tempat tak dikenal. 

“Tunggu!” sergah Bintang Tenggara ketika merasakan keberadaan formasi segel. 

Terlambat! Aji Pamungkas telah merangsek keluar dari liang goa. Apanya yang tiada akan berbuat gegabah, gerutu Bintang Tenggara sambil mengingat kata-kata Aji Pamungkas atas tindakan Panglima Segantang dan Canting Emas di kala masuk ke dalam goa tanpa pikir panjang. Semuanya sama saja, ahli-ahli muda memang memiliki bakat gegabah. 

Menggeretakkan gigi, Bintang Tenggara segera melangkah melewati formasi segel. Sepertinya formasi segel tersebut merupakan lorong yang membawa menuju ruang dimensi lain dan tiada terkunci. Bintang Tenggara belum begitu memahami. 

Melewati mulut goa, kedua anak remaja tiba di sebuah taman yang bergelimang pencahayaan sinar mentari. Berbagai jenis tumbuhan siluman hidup subur dan tertata. Meski, terdapat kesan bahwa taman tersebut kurang terawat, terbukti dari banyaknya tetumbuhan yang merambat dan menjalar. 

“Kakek Gin, apakah ini merupakan ruang dimensi di dalam ruang dimensi…?” aju Bintang Tenggara sambil mengamati sekeliling.

“Tepat sekali!”

“Bintang! Lihat ini!” tetiba Aji Pamungkas berteriak. 

Bintang Tenggara segera menghampiri. Di hadapan mereka, adalah sebuah pohon beringin berukuran besar. Di batang pohon tersebut, terdapat sebuah lubang berukuran sebesar topi bercaping. Kemudian, di dalamnya terlihat sebuah kotak kayu berukuran sebesar dua genggaman tangan dan berwarna cokelat. Kotak kayu tersebut memberikan kesan sangat tua, dan di saat yang bersamaan mulai melapuk. 

Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas melangkah mendekat. Lalu, keduanya melongok ke dalam. Pada permukaan kotak kayu, tertera dua baris ukiran yang sudah terlihat kabur. Pada baris pertama, dapat segera ditebak sebagai ukiran yang bertuliskan ‘Cetik Niskala’. Akan tetapi, pada baris kedua, hanyalah menyisakan guratan-guratan yang sudah tiada dapat dibaca lagi. 

“Cetik dibagi menjadi Cetik Sekala dan Cetik Niskala,” tetiba Ginseng Perkasa mengingatkan. “Kedua jenis cetik, berdasarkan bahan-bahan pembuat beserta tujuannya, lalu terbagi-bagi lagi menjadi berbagai macam.” 

Bintang Tenggara masih memandangi kotak sambil mendengar penjelasan Ginseng Perkasa. Tak diragukan lagi, ini adalah racun milik salah satu Raja Angkara. Kedatangan mereka memang untuk menemukan racun ini. Akan tetapi, apakah aman membawanya pergi begitu saja. Bintang Tenggara kembali mengawasi sekeliling. 

“Hm… mungkinkah keadaan ini mirip dengan salah satu petualangan Ndiyana Jomblo Ngenes…?” tetiba Aji Pamungkas berujar. 

Bintang Tenggara menoleh. Keduanya matanya menyipit, “Siapakah itu Ndiyana Jomblo Ngenes…?”

“Ndiyana Jomblo Ngenes adalah seorang maha penjelajah reruntuhan kuno dari salah satu dunia palalel,” jawab Aji Pamungkas setengah berbisik. “Ia mengenakan topi bercaping, tas selempang, serta memiliki seutas cambuk digdaya.”

Bintang Tenggara mengerutkan dahi. Mulai lagi…, keluhnya dalam hati. Aji Pamungkas mulai berkhayal lagi. Lalu, mengapa pula harus berbisik? Tiada sesiapa pun ahli lain di tempat ini. 

“Jikalau kita mengambil kotak ini, maka sebuah perangkap akan terpicu. Seluruh taman ini lalu akan hancur berantakan.” Aji Pamungkas mengusap-usap dagu. “Jikalau terlambat melarikan diri, maka kita akan terperangkap hidup-hidup!”

Bintang Tenggara mencerna dalam diam. Cerita alam khayal, mungkin saja. Akan tetapi, bukan tak mungkin perihal perangkap yang menyertai kotak itu, mengingat Cetik Niskala ini adalah barang langka milik Raja Angkara. Betapa terasa pilu hati Bintang Tenggara, ketika terpaksa mengakui bahwa kata-kata Aji Pamungkas mungkin juga ada benarnya.

“Kita harus menyiapkan sesuatu yang beratnya sama dengan kotak kayu itu. Di saat yang bersamaan dengan mengambil kotak, segera kita gantikan dengan pemberat buatan.” 

“Bagaimana mengetahui kisaran berat kotak itu…?” aju Bintang Tenggara. 

“Kira-kira saja. Itulah yang dilakukan oleh Ndiyana Jomblo Ngenes.” Aji Pamungkas lalu mengeluarkan sebuah kantung kain dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. 

“Apa yang hendak kau lakukan?”

“Aku akan mengisi kantung ini dengan pasir,” tanggap Aji Pamungkas sambil melangkah pergi. 

“Super Guru, Kakek Gin…? Mungkinkah ada perangkap?” Bintang Tenggara hendak memastikan. 

“Bisa jadi,” jawab Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa di saat yang bersamaan. 

“Jangan mengulangi kata-kataku!” hardik Komodo Nagaradja. 

“Dikau yang meniru pikiranku!” sergah Giseng Perkasa. 

Meski sulit mengakui, kedua ahli digdaya tersebut tentu sepakat tak menginginkan Bintang Tenggara bertindak gegabah, lalu mati konyol. Jiwa dan kesadaran, serta kelangsungan hidup mereka, terikat pada anak remaja tersebut. 

Pertarungan umpat-mengumpat kembali berlangsung sengit di antara kesadaran kedua ahli. Bintang Tenggara menghela napas panjang, lalu mengabaikan saja. Ia pun segera menyusul Aji Pamungkas. 

“Tunggu!” tetiba Ginseng Perkasa berseru. 

“Ada apakah gerangan, Kakek Gin…?” Bintang Tenggara waspada. 

“Pohon itu… Itu adalah pohon Gaharu Semerbak!” teriak Ginseng Perkasa.

“Gaharu Semerbak…?” Bintang Tenggara lalu mengeluarkan kertas lusuh. Anak remaja tersebut lalu menelusuri daftar bahan-bahan yang diperlukan dalam membuatkan tubuh baru bagi Ginseng Perkasa.

“Ranting dari pohon Gaharu Semerbak yang berusia 501 tahun…,” gumam Bintang Tenggara. Ia pun lalu melangkah ke pohon itu dan hendak mematahkan ranting. 

“Tunggu! Belum waktunya!” Kembali Ginseng Perkasa berseru. 

“Bagaimana mengetahui usia pohon ini…?” Bintang Tenggara kehabisan akal. 

Tetiba, Bintang Tenggara merasakan kehangatan di telapak tangan kanan dan di dalam mulutnya. Ia segera membuka jemari, dan menemukan lambang sebuah lesung batu yang dilingkari oleh seekor ular. Selain itu, walau tiada dapat melihat, dirinya yakin bahwa terdapat lambang sebilah tongkat yang dilingkari oleh seekor ular di permukaan lidahnya. Ginseng Perkasa sedang meminjamkan kedua keterampilan khusus miliknya!

Bintang Tenggara menempelkan telapak tangan kanan ke permukaan pohon Gaharu Semerbak. Tanpa menyadari, ia berujar… “176,569 hari.” 

“Betul!” sergah Ginseng Perkasa. 

“Usia pohon ini 496 tahun kurang sepekan. Jadi, kita hanya dapat mengambil ranting pohon Gaharu Semerbak ini pada… 5 tahun dan satu pekan dari hari ini.” 

“Betul!” sergah Ginseng Perkasa lagi. 

Bintang Tenggara tertegun. Rinci sekali dimana ia dapat memperkirakan usia pohon. Hitung-hitungan pun dapat dilakukan dalam seketika. Inikah keterampilan khusus sebagai peramu milik Ginseng Perkasa. Tidak. Ini hanyalah sebagian sangat kecil dari kemampuan yang dapat dilakukan oleh kakek tua itu! 

“Hei! Bintang Tenggara! Apa yang kau lamunkan!?” tetiba Aji Pamungkas menegur. Ia terlihat sedang menenteng sebuah kotak kayu. 

“Itu…?” 

“Di kala engkau melamun tiada berguna, aku telah berhasil mengambil kotak ini,” dengus Aji Pamungkas. 


“Cetik Niskala….” ucap Canting Emas membaca ukiran yang masih terbaca. “Kalian berhasil!” 

“Yeah!” Aji Pamungkas berseru sambil mengangkat kotak menggunakan kedua lengan tinggi ke atas kepala, ibarat hendak mengangkat sebuah piala kemenangan. Akan tetapi, kemungkinan karena terlalu bersemangat, gerakan tangannya sungguh cepat dan bertenaga, sehingga pegangan terhadap kotak spontan terlepas. Kotak kayu terlontar dan melambung tinggi di udara!

“Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang!” Spontan Panglima Segantang menggandakan kecepatan langkah dalam mengejar kotak. 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting! Tanpa suara, Bintang Tenggara melakukan teleportasi jarak dekat.

“Srek!” Jalingan rotan menebar deras sesuai perintah Kuau Kakimerah.

“Brak!” Canting Emas menendang Aji Pamungkas di hadapannya. “Apa yang kau lakukan!?” 

“Srak!” Kotak kayu yang melayang tinggi di udara, tetiba disambar oleh seekor binatang siluman Elang Laut Dada Merah. 

Kelima Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung, yang baru-baru ini mencapai Kasta Perunggu Tingkat 9, terpana menyaksikan sang elang membawa kotak kayu terbang melayang.


“Apakah yang kau pikirkan!? Sekarang kita harus kembali ke padang rumput, menggiring rusa, menjebak tikus, dan memancing elang agar keluar dari sarang mereka!” 

Aji Pamungkas tertunduk lesu. Pundaknya lemah bak kehilangan tulang belakang, langkah kakinya gontai ibarat tiada arah dan tujuan. Setelah ditendang sampai tersungkur, Canting Emas tak henti-hentinya mengomeli. 

“Janganlah khawatir, wahai Kawan Aji. Kita akan mendapatkan kembali kotak itu dengan mudahnya,” ujar Panglima Segantang yang berupaya mengangkat semangat. 

“Kau hanya hendak bermain-main dengan binatang siluman di tengah padang!” hardik Canting Emas. Panglima segantang pun menjadi sasaran amuk. 

Kuau Kakimerah hanya diam menatap. Raut wajahnya menunjukkan perasaan iba. Akan tetapi, tak sepatah kata pun terucap dari bibir tipisnya. 

“Peran Aji dalam mendapatkan kotak itu sangat besar.” Giliran Bintang Tenggara membela. 

“Apa gunanya!? Untuk diberikan kepada elang!? Lagipula, mengapa engkau bergerak untuk menyambut di kejauhan!? Mengapa engkau tiada melenting tinggi ke atas menangkap di udara!?” Amuk Canting Emas berpindah tujuan. 

“Citra Pitaloka akan bangga padamu…,” bisik Bintang Tenggara, mengabarikan Canting Emas. 

Seberkas cahaya kehidupan kembali mencuat dari sorot mata Aji Pamungkas. 

Walhasil, kelima remaja kembali mengulang proses yang sama dengan sehari sebelumnya. Bintang Tenggara masuk ke dalam hutan seorang diri. Panglima Segantang dan Kuau Kakimerah menggiring rusa di tengah padang rumput. Canting Emas bersiaga di bawah menara bersama Kartu Satwa yang memuat Siamang Semenanjung. Aji Pamungkas dihukum agar menunggu di dalam kubah jalinan rotan. 

Untunglah binatang-binatang siluman tersebut masih dapat dikibuli dengan mudahnya. 

“Mengapa harus aku yang turun tangan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan lancar…?” Canting Emas menenteng sebuah kota kayu dalam gangaman.”

“Ca-Em…,” Aji Pamungkas berlari riang ke arah Canting Emas. 

Di kala Aji Pamungkas mendekat, Canting Emas menyentak lengan yang memegang kotak kayu ke arah samping atas. Ia tak hendak memercayaakan kotak tersebut kepada…

“Brak!” 

Kotak kayu menghantam dada Panglima Segantang yang tiba-tiba muncul di samping Canting Emas. Seketika itu juga kotak yang sudah lapuk, hancur berhamburan!

Di saat yang sama, sebuah botol kecil yang tadinya berada di dalam kotak kayu, jatuh menggelinding di atas tanah. Pada permukaan botol tersebut, tertera tulisan ‘Cetik Niskala’ pada baris pertama, dan ‘Croncong Polo’ pada bari kedua. Perlahan, kemudian tutup botol terbuka dengan sendirinya… 

Kelima anak remaja terperangah, namun tak satu pun dari mereka bergerak barang sejengkal pun. Bahkan, bernapas saja mereka tak hendak. Suasana sunyi sepi. 

“Sepertinya, bukan cetik ini yang mendera dikau, wahai Komodo Nagaradja,” ujar Ginseng Perkasa. 

“Maksudmu…?”

“Cetik Niskala Croncong Polo menyerang otak korbannya. Gejala dari racun dengan kesaktian unsur air ini, adalah mata merah, tubuh panas tinggi, telinga pengang, dan kepala seperti hendak pecah. Perlahan, otakmu akan larut menjadi cairan. Bukankah sangat berbeda dengan gejala yang dikau alami…?”

“Benar,” jawab Komodo Nagaradja cepat. 

“Lagipula, Cetik Niskala Croncong Polo di dalam botol itu sudah kadaluarsa adanya.”

Bintang Tenggara bernapas lega di kala mendengar bahwa racun di dalam botol kecil yang tergeletak di atas tanah dinyatakan sebagai kadaluarsa oleh Kakek Gin. Walaupun, dirinya sedikit kecewa karena bukanlah racun tersebut yang mendera Super Guru. 

“Mungkin karena sudah teramat lama, Cetik Niskala Croncong Polo ini sudah kadaluarsa,” ucap Bintang Tenggara meniru Ginseng Perkasa. Ia pun membungkukkan tubuh hendak mengambil botol kecil tersebut. 

“Tunggu!” teriak Aji Pamungkas. “Bila suatu racun telah kadaluarsa, maka apakah ia menjadi tak ampuh lagi…? Ataukah malah menjadi semakin berbahaya!?”

 


Catatan:

*) Peribahasa ‘tertambat hati terpaut sayang’, berarti: sangat cinta. 


Cuap-cuap:

Jikalau para ahli baca sekalian memiliki saran nama-nama tumbuhan siluman khas daerah, yang dapat menjadi bahan dasar pembuatan tubuh baru Ginseng Perkasa, dipersilakan untuk mengajukan. 

Terima kasih karena masih terus mengikuti.