Episode 20 - Counter-Element


"Haa...?" Leena terheran-heran. "Kita bahkan belum bertanding."

"Untuk apa? Buang-Buang tenaga saja. Aku bahkan tak lebih kuat darimu sedikitpun. Ditambah aturan cahaya dan kegelapan tadi, yang menuntutku 3 kali lebih kuat darimu. Hah... Bikin malas bertarung saja." balas Velizar datar sambil membalikkan badan untuk kembali. "Apapun itu hasilnya sama sajalah. Semoga beruntung di pertandingan selanjutnya. Bye-Bye."

Lalu sahut komentator. "Sungguh hasil yang tidak diduga-duga. Ada lagi peserta yang menyerah sebelum bertanding. Namun apapun keputusannya. Pemenangnya... Leena dari Lumen!"

“HUUU!” sahut sorak-sorai penonton. “Umbra payah! Umbra payah!”

“Masa dua kali menyerah sebelum bertanding. HUU !! Payah!”

***

Sementara itu Velizar dengan teman-teman di kelas Umbra.

"Wahahahaha... ahahahaha.” Sinus mentertawainya. “Ternyata kau sama saja. Setelah meledekku sampai sekarang. Ternyata kau sama saja. Wahahahaha..." 

Velizar berjalan duduk dengan tenang, benar-benar mengabaikan Sinus sepenuhnya sampai dalam tahap merasa tidak ada Sinus disana.

"Ugh! Diabaikan itu sakit ya." Sinus kecewa. “Hei Velizar! Jawab dong!”

“Haa? Kamu tanya apa tadi?” jawabnya datar.

“Aishh! Kau ini! WAAGGHH!!” Sinus kesal dan mengacak-acak rambutnya.

"Sinus! Jangan bicara seolah kau lebih baik dari Velizar!" Bentak Volric, sang instruktur elemen kegelapan.

"Kau tak usah banyak komentar Sinus! Itu keputusannya,” sambung Nicholas.

“Konspirasi macam apa ini?!” Sinus kesal. “Aku menyerah aku di kata-katain. Velizar menyerah, tapi...”

“Dia punya alasannya,” jawab Nicholas. 

"Nicholas, kalau si besar itu bertemu kamu di Final nanti. Kau harus habisi dia." kata Volric.

"Ya, siapapun yang bisa bertahan sampai Final. Aku akan menyiksanya." ucap Nicholas dengan tersenyum jahat.

"Begitukah? Kamu bicara seperti sudah pasti sampai ke Final saja. Masih ada Kelas Ignis yang masih menyisakan 3 orang.” kata Volric. “Ya... sejauh ini Ignis yang paling ung-"

"Guru!” Bentak Nicholas. “Kau tak percaya aku bisa sampai Final?!" tanyanya dengan sedikit mengancam. 

Balas Volric ketakutan. "Percaya kok, percaya..."

“Guru tinggal diam dan lihatlah. Aku ini keluarga Obsidus.”

“Galak amat sih bos!” keluh Sinus.

“Hmm? Kau bilang apa tadi?”

“Enggak, enggak, enggak, enggak. Pis.” Sinus sambil mengacungkan dua jari.

"Sinus... Sinus... Kau seperti baru mengenal Nicholas saja. Padahal kita sudah berteman bertahun-tahun dari sejak kita junior di Vheins,” ucap Velizar datar. "Nicholas ini sama hebatnya dengan Leena. Percayalah padanya."

“Jika wanita itupun yang sampai ke Final. Aku tidak akan kalah. Aturan mutlak cahaya dan kegelapan tidak berlaku untukku,” balas Nicholas dengnan nada sombong. "Tapi aku dapat urutan bertanding di paling akhir. Sial!"

***

Pertarungan selanjutnya... "Lio dari kelas Ignis Vs Gunin dari kelas Liquidum!"

"Sial! Elemen air ya..." Lio kesal.

Ya, Lio yang adalah pengguna elemen api tulen, terpaksa harus melawan pemilik elemen air yang jadi kelemahan elemen api. Meski begitu, Lio sebagai seorang ahli bela diri dapat keuntungan dari gaya bertarung battlemage. 

Sosoknya yang berambut hitam jabrik, memakai baju silat berwarna hitam dengan perban yang membalut lengannya. Lengan bajunya robek-robek, memperlihatkan tangannya yang kecil namun kekar.

"Aku bukan tipe support seperti teman-temanku. Dan lagi lawanku pengguna elemen api. Akan jadi lebih mudah kalau begini caranya,” ucap Gunin sambil memutar-mutar tongkatnya sambil bergerak secara lincah dari kanan ke kiri.

Gunin juga seseorang yang mengambil gaya bertarung Battlemage, dengan senjata tombak yang memiliki pahatan naga air. Ujung tombaknya adalah pedang seperti senjata tiongkok Guandao atau Glaive, yang mendukung pengendalian sihir airnya baik dari jarak jauh maupun dekat. Rupa dan pakaiannya yang ia kenakan adalah pakaian ala tiongkok berwarana biru. Ia berambut putih panjang dan dikuncir di belakang.

"Ya meski lawanku adalah Counter-Element. Aku tak akan menyerah sebelum bertanding seperti pertandingan sebelum-sebelumnya,” tegas Lio.

***

"Ughh!? ... Dia menyindirku." Reaksi Sinus di bangku penonton.

"Maksudnya Sinus?" komentar Velizar. “Kalau bukan dia siapa lagi.”

***

"Elemen Air..." Gunin meng-cast sihirnya.

"Water Dragon !!" 

Gunin mengayunkan tongkatnya ke atas dan membentuk naga air raksasa menggunakan seluruh air pinggir kolam yang ada di belakangnya sebagai medium, sehingga pinggir kolam kini hanya menyisakan sedikit air, yang tersisa hana genangan saja.

"Di-Dia langsung menyerang!" ucap Lio sambil berpikir cara meng-counternya. "Kita gak basa-basi dulu nih!?" katanya sambil melihat sekeliling mencari peluang.

"Kau akan kukalahkan secepatnya!" sahut Gunin dengan tatapan serius.

"Sial! Kalau terbanting serangan airnya, aku bisa langsung dibenturkan ke tanah dan berdarah-darah nih!" reaksi Lio. “Air memang tidak berbahaya tapi kalau sebesar itu sih... Lain cerita.”

Gunin mengendalikan alur serangan naga airnya itu dengan alunan tombaknya.

"Water Dragon Bite !!" Naga airnya langsung mendekati Lio. Bergerak meliuk-liuk seperti ular.

"Wa-wa-wahh!? Besar sekali!" lalu Lio menarik nafas.

"Dragon Breath !!" Lio menangkis datangnya naga air itu dengan hembusan api besar dari mulutnya. Dan serangan barusan membuat naga air tersebut menguap seperti air mendidih.

"Phew! Hampir saja!"

GRAAA !!

Naga air itu tetap menerkam dan menelan Lio dalam tubuh airnya. Sekalipun kepalanya hancur, Gunin mampu membentuk kembali dari bagian tubuh lain yang tersisa.

“Air itu tak berwujud.” kata Gunin.

“BRWGGHHTTT!” Lio menutupi mulutnya mencoba bernafas sekalipun ia tenggelam di dalam perut naga air itu. “Sswakk, sswakk...”

“Sudah selesai.” Gunin memutar tubuhnya sambil bergerak bersama dengan tongkatnya. Naga airnya itu bergerak berputar-putar mengikuti arah gerak Gunin.

“Dia... BRWGGHHTTT! Aku tak bisa buka mata, tapi kok rasanya aku bergerak-gerak.” pikir Lio sambil terus menahan nafas. “Ahh!!? Dia mau menenggelamkan aku sekarang juga.”

Gunin terus menari berputar-putar secara teratur dengan tombaknya, naga air yang dalam kendalinya kini mengitari pinggir arena secara sempurna. “Dan aku pemenangnya...” ucapnya sebelum menghilangkan kendali pada naga air.

BRSSSTTTT!

Naga air itu kembali menjadi air biasa. Turun kembali ke kolam seperti hujan besar mengguyur.

“PUAAHHHH! Akhirnya!” Lio terbebas dari tubuh naga air itu. “Ini saatnya!” Lio mengepalkan kedua tangannya digerakkan ke atas hingga ke belakang kepalanya. Lalu...

“IMPACT !!” 

Lio menembakkan api besar ke bawah untuk mementalkan dirinya ke arah sebaliknya. Ia di posisi melayang sekarang.

“Hah!? Dia?!” Gunin tak menduga-duga, pertandingan belum berakhir. 

Lio yang melayang kembali turun dengan tubuh berputar-putar dan mendarat secara sempurna dengan posisi tangan meninju lantai dan kaki melebar layaknya kedatangan superhero.

“Hah... hah... sekarang, giliranku!” ucapnya dengan percaya diri.

***

Di bangku penonton Ignis.

“Kok bisa sih guru!” kata Ranni. “Timingnya tepat banget dan mendaratnya juga pas sekali. Guru ajarkan apa pada dia?”

Lalu jawab Lasius. “Banyak hal.” sambil dirinya tersenyum.

***

“Haha! Kau sudah kelelahan ya!”

“Ya! Sama sepertimu!” Tanpa menunggu lama, Gunin melancarkan serangan berikutnya.

"Aqua Lance..." 

Gunin membungkus ujung tombak pedangnya dengan air lalu diarahkan ke depan.

"Ka-kali ini apa lagi!?" Lio menebak-nebak serangan berikutnya.

"...Rifle !!"

Gunin menikam ke depan dan tembakan air kecepatan tinggi mengenai Lio.

"Haah!? OHOGGG!" Lio terpental sampai ke ujung tembok Arena karena serangan Gunin yang melesat cepat dan bertekenan tinggi.

Lio terlempar ke belakang hingga ke ujung arena, hampir terjatuh ke kolam. Namun dengan cepat ia melompat dari tembok ke tembok secara zig-zag untuk naik kembali ke Arena tanpa terjatuh ke dasar kolam kering ini.

"Ahh... hampir saja,” ucapnya lega seketika kembali ke lantai Arena. “Haduh, badanku sakit semua nih.”

Gunin dibuat kesal dan berancang-ancang menyerang kembali. Ia menggenggam tombaknya kuat-kuat lalu diayunkan secara horizontal untuk serangan jarak jauh.

"Hei Gunin... Kau tahu. Kalau aku punya Aura tipe apa?"

“Masa bodoh!" Gunin membentaknya dan tetap fokus.

Syussshhh!

Lio hanya melompat dan menghindarinya dengan mudah.

“Grr!” Gunin dibuat semakin kesal tapi kembali mengontrol diri.

"Kalau bisa memilih, Aku ingin bisa Aura tipe Weapon. Karena praktis tak perlu bawa-bawa senjata.” Ucapnya sambil berjalan mendekati Gunin. “Dan kekuatannya bertumbuh sejalan dengan kemampuan penggunanya. Tapi karena aku tak bisa dan hanya dianugrahkan Aura tipe Magic ini, Jadinya... "

Lio membentuk sebuah senjata katar dari kobaran api di tangan kanannya.

"Seperti ini saja!” Lio membuka tangannya lebar-lebar lalu dari lengannya berselimut api yang pelan-pelan berubah jadi suatu senjata. “Sihir ini, Lasius yang mengajariku."

"Apa itu membuat perbedaan?" Gunin tetap tenang tanpa emosi.

"Kau lihat saja!" Lio berlari kencang ke depan Gunin dan menyerangnya dengan katar apinya.

"Percuma... senjata manipulasimu itu bisa dengan mudah aku padamkan." Gunin langsung menggerakan tombaknya untuk membuat pertahanan dari air sambil terus menyerang Lio secara jarak jauh.

Lio menghindari berbagai serangan yang dilancarkan Gunin dengan terus berlari dan mengelak. "Persis seperti dugaanku, dia juga kelelahan. Aku tinggal mengelak ke kiri atau ke kanan saja."

"Di-dia mendekat!?" Gunin terlihat panik.

"Aqua Protection!"

Lio meninjunya dengan katar api di kedua tangannya, namun apinya padam setelah menembus dinding pertahanan milik Gunin.

"Hoo... ia membungkus dirinya dengan air supaya katar apiku tak bisa menggapainya ya?"

"Apinya tak akan bisa menembus air di sekitarku ini,” ancam Gunin.

Meski senjata apinya padam, tapi tangan Lio tetap bisa menembusnya dengan mudah.

"Gunin! Soal Aura Weapon itu...” Lio tersenyum senang seperti berhasil membodoh-bodohi orang. “Aku bohong kok!" 

“Huh!?”

Tangan Lio mencengkram leher Gunin.

“Hehe... posisi kita berbalik sekarang.”

***

Tentu Gunin tidak diam saja. Cengkraman Lio terlepas namun tendangan dari sisi kira Gunin tidak terelekan. Posisi Gunin yang goyah langsung disusul serangan Lio yang berikutnya. Mulai dari perut, hingga kepala tanpa elemen api sama sekali. Murni beladiri semata.

"Aku bukan tipe orang yang bergantung pada sihir saja. Jadi... " kata Lio sambil terus menghajarnya.

"UAGHHH !! Dasar sialan!” Gunin mengangkat tombaknya dan segera membalas.

Namun lagi-lagi dengan mudah Lio hindari. Lalu ia menepuk dada Gunin dan mementalkannya dengan elemen api hingga tercebur di kolam.

"Pemenangnya Lio dari Ignis! Dengan begini... Perwakilan dari kelas Liquidum semuanya sudah dikalahkan. Sayang sekali."

***

"Tuh... Velizar lihatlah. Dia bisa menang melawan Counter-Element dirinya." Sinus masih terus mengejeknya.

"Diamlah... aku tak peduli." Velizar keluar dari bangku penonton.

"Hei ... Mau kemana?" tanya Sinus

"Pulang... "

"Kau kesal?"

"Tidak...” ucapnya datar seperti biasa. “Bye..."

***

Lio kembali ke bangku penonton.

“Kerja bagus Lio,” puji Lasius.

“Sama-samalah guru. Aku banyak berkembang sejak beberapa bulan lalu.” balasnya sambil duduk. “Duh, aku basah kuyup begini.”

“Timingmu bagus sekali loh tadi,” puji Ranni. 

“Hehe... makasih Ranni, tapi wajarlah, aku sudah coba itu ratusan kali sewaktu latihan, untung bisa ketika di arena.” Balasnya sambil meneguk minuman. “Loh Alzen mana?”

“Dia masih di ruang rawat Chandra,” jawab Ranni.

“Yah... dia gak nonton dong.”

“Hee? Sudah selesai ya?” sahut Alzen yang baru datang.

“Baru diomongin,” kata Lio.

“Apa? Sudah selesai ya? Cepet banget.”

“Bukan cepet, kamunya yang telat,” balas Lio.

“Yah... maaf deh.” Alzen merasa bersalah.

***

Pertarungan selanjutnya... "Hael dari kelas Umbra Vs Bartell dari kelas Terra!"

"Wahahaha! Mampus kau Hael... ketemu lawan orang topnya Terra." kata Sinus.

"..." Hael diam saja. Ekspresi murung tak membalas. Tapi raut mukanya tidak flat seperti Velizar. Ia lebih seperti anak kecil yang mau nangis karena sebangku dengan tukang bully no.1 di kelas.

"Guru! Kau bisa sumbat mulut Sinus ini?" kesal Nicholas.

"Hee... kau tak memihakku?"

"Sinus kau diam sebentar! Kau terlalu banyak bicara!" bentak Volric.

"Hehh! Padahal kamu yang kalah paling pertama,” Ejek Nicholas.

“Teganya... aku pikir Velizar saja yang begitu,” balas Sinus kecewa. “Ternyata, kalian juga.” 

"Hael... kau kupilih karena terpaksa saja." bisik Volric pada Hael. "Kalau ada pilihan lain sih aku gak mau pilih kamu... kamu cuma cadangan saja sebenarnya. Ehh tahunya menang. Yang ini gak menang juga gak apa-apa. Karena kamu gak bakalan menang juga. Jadi tahu diri saja ya... Kamu itu lemah. Ingat itu, kamu... lemah."

"..." Seperti biasa, Hael tak menjawab sama sekali. Ia menundukkan kepala, menyembunyikan emosinya di bawah topi penyihir yang ia kenakan.

***

Hael dan Bartell menuju Arena.

“Wahh sudah mulai lagi ya... Huh!?" Alzen berkomentar di bangku penonton Ignis. "Itu anak yang malam itu dibully kan? Dia ikut bertanding juga. Kelas apa? Umbra ya..." Alzen melihat bangku penonton Umbra. “Geez orang itu.” Kesal Alzen hanya dengan melihat Sinus dari jauh.

"Haaa? Siapa lawanku ini? Siapa kamu kuntet?" Ejek Bartell. “Hahaha!”

"..." sedang Hael tetap tak berkata apapun hanya murung menunduk ke bawah.

Bartell adalah seorang yang jangkung dengan tinggi hampir 2 meter (Sekitar 190 cm). Ia mampu menggunakan Elemen tanah dengan sangat mahir. Meski masih berumur 20 tahunan, tampangnya boros dan terlihat tua. Dengan janggut coklat tua dan kepala botak. Ia terlihat seperti biksu.

Sedang Hael adalah pria berumur 17 tahun dengan tubuh kecil dan pendek. Hael orang yang sedikit bicara, selalu murung dan bahan bully paling empuk untuk Sinus. Tahun ajaran ini adalah kali ketiga Hael mengulang Tingkat 1 di Vheins. Karena sebelumnya, sudah dua kali ia tidak berhasil lulus di Tingkat 1.

"Kau mau aku habisi dalam satu serangan? Atau kuremukkan perlahan-lahan." Bartell membungkus tangannya dengan tanah. “Ohh iya, tidak boleh membunuh ya. Sayang sekali.

"..." Hael masih tak menjawab. Tapi tubuhnya gemetar ketakutan.

"Ohh! Gak mau jawab ya! Tapi kakimu yang gemetar seperti itu sudah menjawabnya!" Bartell berlari mendekati Hael dan langsung menyerangnya dengan tinju dari tangan kanan yang dibungkus tanah yang keras.

"HUAAAWWAAAA !!" Hael ketakutan sekali, ia menunduk dan menutupi matanya dengan topi.

"Hahahaha... Dasar!" Bartell hanya mengerjainya, Tinjunya terhenti sebelum mengenai Hael. "Kenapa kamu dipilih untuk ikut tanding sih? Lemah dan gak berguna seperti kamu."

Lemah dan gak berguna seperti kamu. Kata-kata itu terulang terus di pikiran Hael.

Alzen menontonnya dari bangku penonton. "Wahh ini bakal siksa-siksaan lagi. Aku malas lihatnya. Guru aku turun dulu ya."

"Hei mau kemana?" tanya Lasius. “Baru juga sampai.”

"Ke tempat Chandra dirawat lagi." balas Alzen.

"Baiklah..."

SREESSSHHTTT !!

Sahut komentator, “Ti-tidak disangka-sangka, pertandingan usai dalam sekejap! Pemenangnya Hael dari Umbra!"

***