Episode 19 - Win, But Not Win


Sementara itu di bangku penonton Umbra.

"Tuhh lihat gak!? Siapa lawanku waktu itu! Dia lawannya! Dia! Si raksasa seram itu. Kalau aku gak menyerah waktu itu, bisa remuk badanku nih!"

"Iya... tapi, gak langsung nyerah juga,” balas Velizar datar.

"Hahaha... Velizar benar!" sambung Nicholas. "Masih mending dia, masih mau bertanding. Badan udah remuk juga tetap bangkit."

"Cih! Kalau sudah 2 lawan 1 mah susah!" Sinus kesal. “Iya-iya deh…”

"Sudah diam kau Sinus!” bentak Volric. “Sudah kalah sebelum bertanding saja masih banyak gaya!"

"I-Iya pak... haish… tambah 1 orang lagi."

***

Kembali ke Arena pertandingan,

"Bagaimana melawannya? Sampai seterdesak ini, aku masih belum ketemu caranya." Chandra perlahan bangkit kembali dengan tubuh berdarah-darah.

“Hoo… untung saja kau masih hidup! Kalau tidak… Ya aku tidak peduli juga!”

Namun belum selesai Chandra bangkit kembali, Joran sudah meninjunya lagi dengan kekuatan yang tak kurang dari sebelumnya.

Hal itu terus terulang tiga kali, dan ketiganya mengenai Chandra... ia hampir-hampir kehilangan kesadarannya.

"Hei! Ini penyiksaan namanya!" sahut salah seorang penonton

"Huuuuuu !! Cepat hentikan! Anak itu bisa mati!"

"Bunuh saja anak itu! Bunuh! Biar si Golem itu dipenjara!"

Penonton khawatir dengan keadaan Chandra. Bahkan lantai tempat Chandra terbaring, sudah hancur-hancur.

"Dasar penonton berisik..." ucap Joran pelan, ia kesal dengan komentar tak bertanggung jawab dari para penonton. “Sudah dituruti satu, minta yang lain juga.”

“Hah… hah…” Chandra masih berusaha bangkit.

"Haha! Dasar si kecil bodoh. Menyerah saja dan kau tak perlu sampai begini. Jujur saja aku bukan orang yang senang menyiksa orang. Tapi aku juga bukan orang yang akan pernah meremehkan lawan, separah apapun kondisi lawan." Joran terus berkata-kata karena ia khawatir kalau ia sampai membunuhnya.

"Baiklah," Chandra tersenyum menatap Joran yang berdiri di depannya, dalam kondisinya yang tengkurap dan terluka parah sambil menahan luka-luka. Debu dan darahnya seperti tercampur jadi satu di lantai Arena Chandra. "Aku..." Chandra mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Nah... begitu dong! Cukup akui kekalahanmu dan kau tak perlu menderita lagi. Lihat dirimu, terluka parah sampai sejauh itu. Dasar kau ini-"

Selagi Joran terus berbicara. Chandra sudah membentuk gumpalan air berukuran besar dari pinggir kolam dan menyeret Joran jatuh ke pinggir kolam dengan tiba-tiba.

"Haa? Apa ini!?" Joran terseret oleh gumpalan air. “HWAAA !!” 

Sebelum jatuh ke kolam, Joran menggapai pinggir arena, dengan tangan kanan yang dilapisi elemen tanahnya itu, untuk menggapai arena kembali.

Chandra bangkit secepat yang ia bisa, meski tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa parah. Ia berjalan mendekat ke Joran.

“Bisa-bisanya kau ini!”

Lalu sebelum Joran sempat menggapai arena kembali. Chandra menembakan Fireball dengan tinjunya, tepat ke arah wajah Joran.

"Kurang hajar !!" Joran menggunakan tangan batu yang ia gunakan untuk menggapai arena, terpaksa harus dilepas untuk melindungi wajahnya. Hingga Joran terjatuh sepenuhnya ke dalam kolam.

“HWAAA !! SIALAN !!”

“Kau bilang kau tak pernah meremehkan lawan?” kata Chandra. “Sedari tadi kau menatapku dengan tatapan meremehkan. Kau juga bilang kau tidak suka menyiksa lawan? Kau menghantamku berkali-kali dengan tersenyum dan terlihat begitu menikmatinya. KAU BENAR-BENAR RAKSASA MUNAFIK !!”

Chandra pemenangnya.

"Puah!" Joran berenang ke permukaan kolam dan membentak Chandra. "Hei! Kau curang! Kau menggunakan 2 elemen!"

"Ugh! Sebenarnya aku juga." ucapnya dalam hati.

Chandra sudah sangat kelelahan dan kesakitan. "Aku tak peduli... " Chandra sengaja menjatuhkan dirinya ke belakang dan berbaring dengan wajah puas.

"Pemenangnya sudah diputuskan! Meskipun yang jatuh ke kolam adalah Joran. Tapi karena Chandra menggunakan lebih dari satu elemen yaitu elemen air. Maka Chandra dengan terpaksa, didiskualifikasi. Dan hasil akhirnya! Joran dari kelas Terra pemenangnya! Tapi harus kuakui! Ini pertandingan yang luar biasa!"

Selagi berbaring ke atas langit biru yang cerah, Chandra tersenyum dengan penuh luka sambil mengatakan. “Maaf Alzen, kita tak jadi... berduel,” dan ia-pun terlelap.

***

Di bangku penonton Ignis,

"Yahh... Chandra kalah!" ucap Lio dari kelas Ignis. "Sial sekali dapat lawan segede-gede gaban begitu."

"Dia sudah berusaha sekuat tenaga. Bahkan sampai menggunakan elemen air juga." ucap Ranni. "Mungkin kalau aku diposisinya aku tak mungkin sampai sejauh itu. Biar kalahpun, Chandra kau hebat!"

Sedang Alzen hanya terdiam, dengan mata terbuka lebar-lebar. Gelisah menyaksikan yang terjadi pada sahabatnya ini .

"Dia hebat..." Lasius tersenyum. "Tapi dia dan juri pasti tidak sadar. Wanita besar itu, yang jadi lawannya, berbuat curang."

"Curang!? Apa maksudnya? Si golem itu curang apanya?" tanya Lio penasaran.

"Kalian juga pasti tak sadar. Lawannya itu, Joran dari kelas Terra. Sebenarnya bisa menggunakan 2 elemen seperti Chandra."

"Hah? Tapi yang kulihat dia cuma pakai elemen tanah saja."

"Iya... Elemen Joran yang satu lagi adalah Elemen Metal. Menurutku ia tak terlalu mahir dalam elemen sekunder miliknya. Menurut data siswa dia hanya mengusai satu spell saja. Iron Body namanya.”

"Iron Body? Apa fungsinya?"

"Kemampuan membuat tubuh penggunanya jadi sekeras besi untuk beberapa detik saja. Baik dari pertahanan dan pukulan untuk menyerang, keduanya jadi meningkat pesat.” Kata Lasius. “Tapi sebagai resikonya. Tubuh penggunanya juga jadi seberat besi dan tak bisa bergerak banyak. Tapi karena kasat mata jadi tak ada yang menyadarinya."

"Kapan itu terjadi?” pikir Lio. “Ohh!? Jangan-jangan!?"

"Itu terjadi sewaktu Chandra menghancurkan sisi depan tembok yang membungkus penuh Joran. Karena tertutup tembok itu. Jadi Juri tak menyadarinya. Tapi mana mungkin tubuh manusia biasa bisa tahan sama tangan api yang dilakukan Chandra tadi."

"Manusia biasa? Badan lebih dari 2 meter begitu kau sebut manusia biasa?"

"Sudah, sudahlah! Tak usah dipikirkan yang telah berlalu,” balas Lasius. "Alzen,” tepuknya ke pundak Alzen. “Kau yang akan membalas kekalahan Chandra di ronde berikutnya." 

Alzen tak menjawab dan masih merenung diam. 

***

Setelah beberapa saat, Chandra yang tak sadarkan diri, langsung dibawa untuk di rawat. 

Tak berapa lama Alzen kembali menatap ke depan. “Maaf pak, aku pergi dulu. Aku ingin melihat kondisi Chandra.”

“Hei! Aku ikut,” sahut Lio yang segera menyusulnya.

“Aku juga,” kata Ranni yang ikut menyusul mereka.

“Jangan lama-lama ya. Sebentar lagi giliranmu Lio.” pesan Lasius.

“Loh? Bapak tidak ikut saja?” tanya Lio.

“Aku mau, namun tidak boleh.”

***

Di ruang rawat Chandra.

Chandra perlahan membuka mata dan melihat pandangan samar-samar, ia berada di ruang rawat. Tempat yang tak ia kenal tapi ia tahu. Lalu ia menggoyang-goyangkan kepalanya dengan pandangan buram yang perlahan semakin jelas. Sampai akhirnya ia melihat Alzen, Lio dan Ranni berdiri di samping kanannya.

"Ahh... maaf Alzen! Aku kalah…,” kata Chandra bertatap muka di depan Alzen dengan wajah lemas namun tetap tersenyum. "Kita tak jadi bertarung deh. Hahaha. Ohog! Ohog! Ohog!" 

Tak membalas sepatah katapun. Alzen langsung memeluknya. Sambung dengan Lio dan selanjutnya Ranni. Memeluk Chandra bersama-sama.

"Soal itu. Tak usah kau pikirkan. Bukan masalah yang penting lagi." ucap Alzen padanya dengan sedikit air mata yang keluar.

"Sekalipun kalah, kau tetap hebat!" ucap Lio.

Chandra tersenyum. “Haha... Terima kasih sudah menghiburku.”

"Aku salut padamu!,” sambung Ranni dengan tersenyum dan mengepalkan tangan seperti berkata Merdeka!

"Meski kalah..." kata Alzen sambil menahan tangis. "Tapi kau menang..."

Mendengar semua ucapan dari teman-temannya. Chandra langsung merasa dunia sesaat seperti berhenti, udara menjadi sejuk dan lambat bergerak. Segalanya jadi pudar kecuali ketiga orang yang saat ini didekatnya.

"Terima kasih. Teman-teman."

***

Pertarungan selanjutnya... "Sintra dari Lumen Vs Cefhi dari Liquidum!"

"Ahh... beruntungnya aku. Lawanku Liquidum Support ya?" Ejek Sintra meremehkan, sesosok wanita elegan bermata merah dan berambut hitam panjang. Bersenjatakan Dual-Wielding Sword (Pengguna 2 pedang).

"Aku sudah melihat dari pertarungan sebelumnya. Elemen air juga bisa bertarung tahu! Seperti yang dilakukan anak Ignis tadi." balas Cefhi seorang pengguna elemen air tipe Support yang hebat dalam sihir penyembuhan. Ya rata-rata orang Liquidum memang tipe support jadi kurang banyak menguntungkan dalam pertandingan satu lawan satu seperti di turnamen ini.

Ia mengenakan kacamata besar dengan frame merah. Rambutnya berwarna coklat berponi, dengan dua kuncir kepang di atas pundaknya. Matanya berwarna ungu pudar dan senjatanya adalah Magic Staff. Ia adalah wanita mungil yang selalu terlihat gugup dan sering menutupi mulutnya yang gemetar takut dengan kepalan tangan di depannya.

"Ya... ya... terserahlah!" Sintra mengangkat bahu dan memejamkan mata untuk menyindir dan meremehkan lawannya. "Ngomong-Ngomong ironis juga ya, anak Liquidum belajar sihir elemen air dari anak Ignis."

"Ugh!? Benar juga!" ucap Cefhi dalam hati, “Ta-tapi kan. Kit-”

Lalu di belakang Sintra dibentuk sebuah gumpalan air yang mirip seperti yang dilakukan Chandra sebelumnya.

"Ohh... jadi kau betul-betul meniru anak Ignis itu ya?" Sintra mencabut kedua pedangnya dan bergerak cepat mencabik-cabik air itu dengan bantuan elemen cahayanya.

"Ehh!?" Cefhi panik.

"Cara seperti itu tak akan berguna!" ucapnya tegas. Lalu Sintra langsung bergerak cepat ke depan Cefhi. "Sudah ya ..."

"Ahh!?" Cefhi ditendang perutnya secepat kilat dan sekejap terdorong jatuh ke tengah-tengah arena. "Auhhhh!"

"Huhh!” Sintra menepuk-nepuk tangannya untuk meremehkan lawannya. “Ini akan mudah sekali. Kenapa Liquidum hanya menyertakan pemain yang tidak bisa bertarung. Sia-sia saja."

Dengan tertatih-tatih, Cefhi beranjak naik dengan pakaiannya yang berdebu dan ditopang tongkat.

“Jelas turnamen ini masih panjang.” Sintra menepuk-nepuk tangannya dan menyarungkan pedangnya kembali. "Masih ada 3 pertarungan lagi. Tapi untukmu sih, tak perlu rasanya kugunakan pedang."

Sintra langsung berlari cepat.

“Ehh!!?” Cefhi yang baru saja berdiri tiba-tiba di tarik lengannya.

“HYAAAA !!” Sintra menyeret Cefhi dengan begitu kasarnya, hingga ia bergesekan dengan lantai batu arena. Terlihat Cefhi begitu kesakitan. Begitu sampai di ujung arena, Sintra melepaskan cengkramannya itu dan menjatuhkan Cefhi ke kolam. “Nah! Enyahlah!”

“KYAAAA!” 

Byuuuurrrr!

Sahut komentator. "Sungguh pertarungan yang cepat sekali berakhir! Pemenangnya... Sintra dari Lumen!"

Sintra menepuk-nepuk tangannya lagi dan melambaikan tangan ke teman-temannya. “Hah! Ini mudah sekaligus masalah. Aku jadi tak belajar apa-apa sebelum akhirnya bertarung dengan dia,” katanya dengan suara kecil sambil berjalan keluar arena.

***

Pertarungan selanjutnya... "Leena dari kelas Lumen Vs Velizar dari kelas Umbra!"

"Aw... Umbra!? Elemen darkness ya." ucap Leena.

"Hehehe...” kata Velizar yang kali ini dengan ekspresi senyum sinis. “Bad Luck... Bad Luck! Hari ini betul-betul Bad Luck."

“Hah?” Leena tak habis pikir.

"Tadi pagi aku kehilangan 5000 Rez sewaktu jalan kesini. 2 jam kemudian jatuh dari tangga di bangku penonton dan sekarang harus melawan kamu lagi. Yang terbaik di Stellar. Tidak-tidak, lebih tepatnya adalah yang terbaik dari angkatan kita. Hah... benar-benar bad luck."

"Ya memang, kau benar-benar sial.” sahut Leena. “Karena ada aturan mutlak dalam sihir cahaya dan kegelapan yang aturannya sangat berbeda dari elemen yang lainnya."

"Itu betul. Kalau elemen Mainstream sih sederhana saja." balas Velizar. "Api dikalahkan air, Air dikalahkan petir, Petir dikalahkan... Ahh apa ya? Aku sering tidur saat pelajaran sih. Terlebih jika membahas hal-hal membosankan."

"Belum tentu, semua tergantung situasi kondisi."

"Nahh, sedangkan antara cahaya dan kegelapan itu agak berbeda. Hukumnya mutlak dan aku sangat mengerti ini." balas Velizar. "Kau sudah tahu itu kan? Kegelapan tak akan bisa menang melawan cahaya. Kecuali kalau kekuatan-nya 3 kali lebih besar dari elemen cahaya lawannya. Atau dengan kata lain..."

Sambung Leena. "Elemen cahaya memiliki kekuatan 3 kali lebih besar jika melawan kegelapan."

"That's right!" balas Velizar yang baru kali ini menunjukkan ekspresi. "Makanya... mendengar itu saja sudah membuatku malas bertarung denganmu. Tak bisa bawa teman. Tak bisa menggunakan dua elemen. Dua elemen? Hah! Seperti aku bisa elemen lain saja." 

Leena langsung menghunuskan pedangnya dan memasang kuda-kuda. “Jadi apa kau mau terus bicara dan membuang-buang waktu?  

“Huh! Yang daritadi aku bicarakan bukan sebuah omong kosong tahu. Hah... bikin bosan saja.” Ucapnya sambil menghela nafas, dan ekspresinya kembali menjadi seperti Velizar yang biasanya. “Kalau begini jadinya..." Velizar mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan bilang-

"Aku menyerah,” ucapnya datar.

***