Episode 38 - Menang Telak (3)


“Apa yang terjadi, Gildur?” Red ganjil mendapati rekannya tampak berlelisih. Juga, suatu keanehan luar biasa melihat Gildur meringkus teman seasramanya sendiri.

“Lari, Bane!” Lelaki besar itu menyeru, tak peduli pada Red yang akhirnya paham situasi. “Jangan sedikitpun menoleh padanya!”

“Sialan!” Red menggeram. “Harusnya aku tahu kau akan mengacau di pertandingan ini.”

Bane memimpin perjalanan, berusaha sebisa mungkin melewati Sang musuh yang kian berapi-api. Mereka coba mengambil jalur berbeda, berharap Red terlalu malas untuk mencegat kelinci-kelinci malang yangh kemampuannya tidak seberapa. Namun, tabiat lawan mereka bukanlah semacam itu.

“Reflect Eyes!”

“Gawat!”

“Whoaaa!”

Bane terjerembab. Zirahnya menggilas tanah amat kuat. Baru kali ini dirasakannya energi yang kelewat besar, begitu mengerikan sampai-sampai kakinya tak kuasa melangkah. Tatkala Red mengira dirinya menang telak, lagi-lagi Bane menunjukkan semangatnya. Pemuda itu bangkit, masa bodoh seberapa berat tubuhnya atau seberapa lunglai kaki-kakinya. Dia bersikeras berdiri, sedikit meringis sebab cemas akan nasib asramanya.

“Kau takkan mampu menghambatnya, Red,” ujar Gildur.

“Diamlah!” Red membentak. “Aku tidak sudi mendengar nasihat seorang pengkhianat.”

“Maafkan aku. Sebuah kebenaran, aku tak mampu menyangkalnya. Ambisi orang itu sangat mulia, sangat kental akan esensi mimpi yang sesungguhnya.”

“Bicara apa kau, Gildur?! Otakmu telah dicuci.” Red berang. “Inilah yang diinginkan musuh-musuh kita. Mereka sadar betapa kuatnya asrama malam, dan tiada cara selain membuat kita berselisih.”

“Kau salah. Kita memang kuat, secara kemampuan. Akan tetapi, semangat kita terlalu rendah. Kita ini egois, terlalu berambisi. Kita asyik meributkan kemenangan, sementara asrama lain saling memupuk persaudaraan.”

Red mendengus, tiada mau berbincang lagi. Kendati agak melirik Gildur, fokus pemuda itu seutuhnya terarah pada Bane. Bersama semangat sekokoh baja, dia akhirnya sanggup bangkit. Sedikit menarik napas, Bane memecah pedangnya menjadi pisau-pisau kecil seraya bertumpu pada perisai besar. 

Ia tahu trik semacam ini takkan sukses pada Gildur. Ya, puluhan pisau kecil hanya serasa menggilitik di kulitnya. Namun, mungkin bagi Red berbeda. Meski kuat, pemuda berambut merah itu tetaplah manusia biasa. Matanya, cuma itu yang patut diwaspadai, pikir Bane.

Gugus pisau memelesat ke depan, coba menghujani Red dengan sisi lancip mereka. Bane sangat yakin usahanya akan berhasil, atau paling tidak sukses menggertak musuh. Sebaliknya, mimik wajah Gildur seolah mengisyaratkan gentar. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Reflect Eyes!”  

Dalam hitungan detik, pisau-pisau Bane berbalik arah menyerang tuannya. Di luar dugaan! Bane terperangah menyaksikan sosok yang begitu mudah mengubah nasib. Bahkan, matanya saja mampu menguasai apa pun.

“Menjauh, Bane!” Gildur berteriak sekuat tenaga.

Terlalu syok, Bane terpaku, bergeming di saat puluhan pisau coba menghujam dirinya. Dunia mimpi yang berbeda, teramat jauh dari kesan menyenangkan. Ini bukan mimpi, pikir Bane. Ini neraka. 

“Bertahan!”

TING! TING!

“Bane sontak tercekat, sadar dari lamunnya manakala sulur perak Shota menangkis semua pisau. Dia selamat, setidaknya untuk sementara. Napas pemuda itu masih mengawang, dan matanya sekosong korban bencana. Nyaris, sebuah pisau nyaris menghunus kepalanya. Itu baru gertakan, Bane yakin. Masih banyak potensi yang belum diunjuk Red.

“APA YANG KAU PIKIRKAN, KAK BANE?!” Tiba-tiba saja suara itu menusuk telinganya. “JANGAN CEROBOH!” Shota berteriak, merah padam menyemangati rekan sekaligus kakak seperjuangannya.

Seakan dilempar keluar dari samudra ganas, Bane tercekat, batuk, meluapkan segala kekesalan di hatinya. Dia mungkin terlihat pesimis, tetapi kalimat Shota sukses menyulut api semangat baru. Apa pun risikonya, mereka telanjur mengambil langkah, dan semuanya harus dihadapi bersama-sama.

“Aku tidak akan kalah!” Bane melempar sorot tajam ke hadapan sang musuh. 

“Buktikan padaku.” Red menatap angkuh.

Gemetar memanglah gemetar. Gentar memanglah gentar. Akan tetapi, Bane punya terlalu banyak beban di pundaknya. Beban dari rekan-rekan yang telanjur mempercayainya sebagai ketua asrama. Mau tida mau, ia musti maju, menggempur semua musuh demi mewujudkan impian semua orang.

“Dunia mimpi yang sesungguhnya. Dunia mimpi yang bebas dari ego dan kekerasan. Dunia yang benar-benar menghargai imajinasi. Aku ingin semua itu!”

Tergopoh-gopoh, Bane menyeret kakinya mendekati Red. Dia sama sekalian upaya. Tiada cara melawan, selain mengerahkan segenap tenaga yang tersisa. Rekan-rekannya sudah tumbang di belakang, terpuruk akibat tatapan Red yang teramat memuakkan. Sementara, Gildur masih menunggu waktu yang tepat untuk menggencarkan aksinya. Kini, hanya tersisa Bane bersama dirinya sendiri, bersusah payah memperjuangkan impiannya.

“Kau terlalu lemah untuk banyak bicara.” Red maju dua-tiga langkah, hingga berjarak setengah meter dari lawan bicaranya. “Reflect Eyes!”

“Si-sial!” Bane jatuh, sekali lagi. Kaki-kakinya sudah tak sanggup bergerak. “A-aku ti-dak boleh ka-kalah!” Ajaibnya, alih-alih menyerah, orang itu justru rela merayap di tanah demi mencapai ujung kaki Red.

“Keras kepala takkan menjadikanmu pemenang!” Red berlari, langsung saja menyepak kepala Bane amat keras. Lawannya meringis.

“Kurang ajar!” Shota yang kelewat geram lantas menggiring sulur peraknya menyerbu Red.

Tanah bengkang, membiarkan sepasang sulur menyeruak ganas. Tak berjeda, keduanya spontan menghujam sang musuh, bergantian, tiada henti. Red melompat ke sana-kemari, dari pijakan ke pijakan, hingga tak ada satu pun ujung runcing yang sukses menggores kulitnya.

Belum sampai di sana, kedua sulur tersebut kembali meluncur cepat, menjadikan dada kiri Red targetnya. Ada harapan, setidaknya secuil, bagi asrama pagi. Red tampak enggan memakai kemampuannya, dan ia bukan tipe orang yang suka berlama-lama. Pasti lucidity-nya tinggal sedikit, pikir Shota.

“Jangan remehkan aku! Reflect Eyes!” Sedetik, dan kedua sulur perak Shota seketika menggenang di tanah. 

“A-apa-apaan itu!” Dia sontak terkaget-kaget.

“Sejujurnya, aku menunggu kejutan dari kalian. Kukira aka nada aksi besar-besaran yang melibatkan rekanku yang berkhianat ini.” Red melirik Gildur. “Tapi tidak. Kalian memang kehabisan upaya.”

Memang begitulah adanya. Shota sudah menghabiskan sebagian besar lucidity-nya untuk membungkam pergerakan Sully yang kelewat cepat. Berbekal tenaga seadanya, tentulah ia tak kuasa menekan pergerakan Red. Lagi pula, Red memang terlalu kuat bagi mereka.

“Kau ceroboh, Sully!” Mata beriris zamrud itu mengerling ke arah pemuda berkupluk di sisi kiri, terbelit sulur sepanjang tiga meter.

“Maaf, Red. Ini semua karena Gildur!”

“Reflect Eyes!” Sontak saja, Sully menapak di tanah setelah sulur yang membelitnya meleleh. “Hancurkan menaranya! Aku ingin bicara pada orang ini sebentar.” Red memandang Bane.

Sully terkikik, sangat-sangat senang bisa merusak harapan orang lain. Ia lekas-lekas meringkus Shota, menghajarnya sampai tak kuasa berkutik lagi.

“SHOTA!” Bane meraung. “Takkan kumaafkan!” 

“Ujung tombak asramamu cukup kuat. Roland, bukan?” celetuk Red.

“Diam kau, Bajingan!”

“Sialan!” Red lagi-lagi menyepak wajah Bane, lebih kuat. “Kurasa sebaiknya kau menyerah saja.”

“Berhentilah bicara! Jangan paksa aku menjadi sepertimu. Jangan jadikan aku pecundang sepertimu!”

Red kian berang. Ditengadahkannya kepala Bane, sejajar dengan sorot mata dingin nan menggetirkan. Kala menatapnya, walaupun cerah, mata tersebut seolah membawa banyak bencana. Begitu banya penderitaan, begitu banyak korban yang menderita karenanya. Bane, sebagai korban selanjutnya, tentu bisa menebak apa yang akan terjadi. 

“Banyak hal yang kupertaruhkan agar bisa berkompetisi di turnamen ini. Lebih banyak darimu. Lebih banyak dari sekadar tanggung jawab dan semangat.” Semakin larut pembicaraan, semakin tenggelam pula Bane dalam samudera penderitaan. “Orang yang cuma bermodalkan keberuntungan takkan pernah mengerti pengorbananku. Kau sama sekali bukan sosok yang pantas dipuji.”

“Bane! Bane! Jangan dengarkan ucapannya!” Gildur coba mengimbau.

“Katakan padaku! Apa yang membuatmu sekeras kepala ini? Apa yang memaksamu terus maju?”

Bane tercekat. Itu persis seperti pertanyaan Gildur. Pertanyaan yang sempat menggoncang tekadnya. Sebuah alasan, hanya itu. Namun, lidah Bane terasa amat berat mengutarakannya. Bahkan, akalnya tak mampu menafsir apa yang musti dicecar.

“Kau tidak punya alasan. Kau hanya pemuda malang yang tidak mau kalah.”

“Bu-bukan!” Bane sontak menyergah. Kacamatanya berkilat-kilat. “Aku tahu asrama pagi tidak sehebat asramamu. Kami lemah, kami tidak berkuasa. Tapi, setidaknya kami tidak bercerai-berai. Kalaupun harus kalah, maka kami akan kalah bersama-sama.”

“Cih! Kau benar-benar naïf. Pandora merupakan medan pertempuran. Tiada teman, tiada rekan, kita semua adalah musuh. Saat ini mungkin kalian masih bersatu. Tapi tak ada jaminan untuk beberapa hari ke depan. Perpecahan pasti akan datang, dan pada akhirnya orang yang paling egois ialah yang paling mendominasi.”

ZRASH!

Red melompat, sukses berkelit dari hantaman tangan kiri Gildur. Selesai melumpuhkan dua rekan yang sedari tadi dibekapnya, Gildur nekat menyerang Red terang-terangan. Lelaki itu menghujani mantan temannya dengan puluhan tinju.

“Jangan ceroboh, Gildur.” Red menyiagakan pandangan. “Reflect Eyes!” 

“Brengsek!” Gildur mengumpat sesaat kedua lengannya lunglai ke tanah. “Jangan remehkan aku!” Ia menciutkan tubuh, hampir-hampir setipis bilah lidi.

Bersama embus angin kencang, Gildur melayang mendekati musuhnya. Tidak seberapa lama bagi Red untuk menyadari dirinya tengah diincar. Apalagi, ia paham betul potensi macam apa yang dimiliki Gildur.

“Teknik yang sama. Aku takkan tertipu lagi.” Ia mengambil langkah mundur, satu-dua langkah. Tatkala angin mulai mengawang, Red bersiap menyerang.

Benar saja! Kehadiran Gildure yang tiba-tiba pastilah sangat mengejutkan. Untunglah Red berhasil membaca pergerakannya. Lelaki itu mendadak muncul di angkasa, jatuh ke bawah dalam ukuran sebesar gajah.

Ada dua kiat guna menangkal teknik ini, menurut Red. Pertama, ia musti lari ke tanah lapang sembari memerhatikan angkasa. Sebab, apabila lari ke hutan, pepohonan yang tumbang bisa saja menimpanya. Kedua, jangan pernah gemetar. Satu-satunya alasan adalah indra sensorik Gildur yang mampu membaca ekspresi tubuh musuhnya. 

“Indra sensorik itu akan membawa tubuhnya otomatis ke arah target. Aku sudah tahu.”

“Rasakan ini!” Tak disangka-sangka, Bane berhasil bangkit dan coba menyerang Red membabi buta. Tanpa pedang, tanpa perisai, ia hanya berbekal dua kepalan. “Aku takkan kalah!”

“Reflect Eyes!” Detik itu juga, Bane terpental, terkapar untuk kesekian kalinya ke tanah.

Tak sudi membiarkan pertahanannya kendur, Red kembali menengok ke atas. Ia pikir Gildur masih dalam perjalanan menuju ke bawah, tetapi nyatanya tidak. Lelaki besar itu lesap, tak berbekas, tak bersuara. Bahkan, Sully yang cermat menyaksikan pertarungan sampai tidak sadar.

“Ke mana dia?”

“Ke mana?” Red bergeming, coba menelusuri keadaan di sekitarnya.

(Bersambung)