Episode 173 - Peringkat 9


Kuau Kakimerah mengeluarkan sebuah lesung batu dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Sebagai ahli yang memiliki keterampilan khusus sebagai peramu, gadis mungil itu siap meracik bahan-bahan dasar ramuan yang telah terkumpul. 

Bintang Tenggara telah menyadari bahwa sebuah lesung batu merupakan syarat mutlak bagi seseorang dengan keterampilan khusus sebagai peramu dalam meracik segala macam ramuan apa pun itu. Hal ini selaras dengan yang dipertontonkan oleh Sesepuh Ketujuh dalam Episode 74 serta Ginseng Perkasa baru-baru ini dalam Episode 164, di kala beraksi meramu. 

 “Masukkan Lengkuas Rawa yang diiris setipis kertas,” ujar Bintang Tenggara. “Tambahkan setengah bagian kuning telur Elang Laut Dada Merah. Aduk perlahan.” 

Semua proses ini dilakukan menggunakan mata hati. Ada pun alasannya, tentu untuk menjaga ramuan agar steril adanya. Keringat atau kotoran yang menempel di jemari tangan tiada akan bercampur ke dalam ramuan. 

Ingatkah para ahli baca apa yang terjadi kepada rambut Melati Dara karena menggunakan lesung batu yang tak steril? Benar. Gadis itu tak sengaja melahirkan ramuan yang memicu berseminya kesaktian unsur rambut. Bah!

Demikian, Kuau Kakimerah menebar mata hati sebaik mungkin. Meski ini bukan kali pertama dirinya meramu, Jamu Tahap Perunggu merupakan ramuan tingkat menengah. Untunglah ia berada di bawah bimbingan Sesepuh Ketujuh dan telah melalui Lintasan Saujana Jiwa, sehingga kemampuan mata hati sudah berada di atas rata-rata ahli Kasta Perunggu.  

Bintang Tenggara mengamati dengan seksama. Baginya, kegiatan meramu adalah sebuah proses yang sangatlah mudah. Sangat mudah karena ia dapat berbuat curang dengan meminjam keterampilan khusus milik Kakek Gin, Sang Maha Maha Tabib Surgawi, seorang tokoh yang berada di puncak teratas dari keterampilan khusus ini. Meskipun demikian, ia tak hendak menimbulkan kecurigaan yang tiada perlu di antara teman-temannya sendiri. Selain itu, tentu memerlukan semacam tumbal, atau ancaman, agar si kakek cabul itu bersedia meminjamkan keterampilan khususnya. 

“Sambil mengaduk, tambahkan Lumut Rambat Hijau yang telah menjadi serbuk. Aduk selama tiga jam.” 

Canting Emas dan Bintang Tenggara terus menemani Kuau Kakimerah. Sementara itu, Panglima Segantang dan Aji Pamungkas memanggang daging Rusa Tanduk Perunggu. Aroma daging merebak harum dimainkan angin. Sejumlah tikus hanya mengamati dari dalam hutan, sambil menelan ludah. 

“Panaskan setengah bagian kuning telur Elang Laut Dada Merah bersama sumsum tulang belakang Rusa Tanduk Perunggu dengan api kuning,” lanjut Bintang Tenggara. 

Canting Emas segera menghasilkan bola api berukuran satu kepalan. Sebagaimana diketahui, unsur kesaktian api yang gadis itu miliki, memang masih berwarna kuning. Warna kuning memiliki panas terendah dari tingkatan api. Kuning, jingga, merah, biru, putih dan hitam… merupakan urutan tingkat panas di dalam skema kesaktian unsur api.

Kuau Kakimerah kini terpaksa memecah konsentrasi mata hati. Ia harus tetap mengaduk ramuan di dalam lesung batu, dan di saat yang sama menjaga agar sumsum dan kuning telur tiada terlalu matang. 

Panglima Segantang dan Aji Pamungkas melangkah masuk ke dalam kubah jalinan rotan. Bersama dengan mereka, adalah daging panggang Rusa Tanduk Perunggu yang telah matang sempurna. 

“Kukame, ijinkan Kakang Aji mengelap keringat yang membasahi sampai ke bagian lehermu…”

“Enyah! Jangan ganggu!” hardik Canting Emas. 

“Campurkan sekarang!” sergah Bintang Tenggara. 

Kuau Kakimerah segera memasukkan sumsum dan kuning telur setengah matang yang telah berubah mirip adonan kental. Lesung batu kemudian menyibak sinar temaram sejenak. Tak lama, masih menggunakan jalinan mata hati, Kuau Kakimerah mengangkat cairan kental berwarna kehijauan layaknya jamu. 

“Bakat anak ini cukup baik…” Ginseng Perkasa memberi penilaian. “Di usia muda ia telah dapat menghasilkan ramuan pada taraf kemanjuran sebesar 70%.”

Menurut kitab yang pernah Ginseng Perkasa pinjamkan kepada Bintang Tenggara di alam bawah sadar Lintasan Saujana Jiwa, ramuan yang dihasilkan oleh seorang peramu berbeda-beda taraf kemanjurannya. 90% adalah taraf kemanjuran tertinggi. Hal ini berarti bahwa setiap bahan dasar di dalam ramuan tersebut berperan maksimal, dan percampuran di antara bahan-bahan dasar tersebut berlangsung hampir sempurna. Oleh karena itu, meskipun beberapa ramuan memiliki bahan dasar dan menjalani proses meramu yang sama, kemanjuran ramuan sangat bergantung kepada bakat dan pengalaman peramunya. 

Sebagai catatan, jangan sekali-kali mengonsumsi ramuan yang berada di bawah taraf kemanjuran 50%. Selain khasiat tidak maksimal, kemungkinan ramuan tersebut malah dapat menimbulkan dampak samping yang tak baik bagi tubuh. Mohon kiranya para ahli baca benar-benar mencermati akan hal ini. Janganlah sampai sembarang membeli ramuan di toko-toko obat pinggir jalan hanya karena iming-iming ‘keperkasaan’. Berbanggalah kepada apa yang telah dimiliki, serta bersyukurlah selalu kepada Yang Maha Kuasa. Demikian, adalah pesan Ginseng Perkasa kepada para ahli baca sekalian, khususnya para lelaki, yang dituliskan sebagai catatan kaki di dalam kitab tersebut. 

Aji Pamungkah mengeluarkan lima gelas kaca berukuran kecil dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Jalinan mata hati Kuau Kakimerah segera menempatkan Jamu Tahap Perunggu yang baru selesai diramu secara merata. 

Kelima remaja saling pandang. Bintang Tenggara segera meraih salah satu gelas. Tanpa ragu, ia kemudian menenggak habis isinya. Tiada guna meragu, karena Maha Maha Tabib Surgawi telah memberikan penilaian terhadap hasil meramu Kuau Kakimerah tersebut. 

Cairan kental jamu terasa hangat mengalir di tenggorokan. Bintang Tenggara lalu merasakan sensasi yang baru kali ini ia alami, dimana ramuan seolah berhenti mengalir di ulu hati. Kemudian, mustika di ulu hati juga terasa hangat. Perlahan, cairan ilusi berwarna perunggu berubah semakin kental dan dinding kristal mustika tenaga dalam menebal. 

Dalam keadaan normal, seorang ahli menaikkan tingkat keahlian dengan menggelembungkan mustika tenaga dalam, memecahkannya, lalu merangkai mustika baru. Proses ini membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi, dan tak jarang waktu yang panjang. Kesalahan sedikit saja, maka mustika dapat terangkai tak sempurna, bahkan retak. Maka dari itu, sebagian ahli menaikkan peringkat hanya bila diawasi oleh ahli tingkat tinggi. Catatan tambahan, proses ini tiada berlaku bagi Panglima Segantang, dimana tubuhnya dapat merangkai mustika tenaga dalam dengan sendirinya. 

“Kasta Perunggu Tingkat 9…?” Bintang Tenggara sedikit ragu. 

“Kasta Perunggu Tingkat 9!” tegas Canting Emas, yang juga telah menenggak ramuan. 

“Semudah inikah…?” Aji Pamungkas bergumam. Ia juga merasakan kenaikan tingkat keahlian. 

“Yeah!” teriak Panglima Segantang. 

Kuau Kakimerah terakhir menenggak Jamu Tahap Perunggu. Dirinya tadi berisitirahat sambil bersiaga. Kalau-kalau terjadi sesuatu kepada teman-temannya, maka ia akan berupaya membantu mengeluarkan paksa ramuan dari tubuh mereka.  

“Bagaimana jikalau kita menyiapkan satu porsi lagi,” ujar Aji Pamungkas. “Siapa tahu kita dapat menerobos ke Kasta Perak…”

“Jamu Tahap Perunggu adalah ramuan dasar bagi ahli Kasta Perunggu. Jamu ini hanya bermanfaat di kala berada pada Kasta Perunggu Tingkat 1 sampai Tingkat 8,” papar Kuau Kakimerah. 

“Menerobos ke Kasta Perak merupakan proses yang sama sekali berbeda dengan yang selama ini kita jalani,” sahut Canting Emas. Sepintas, benaknya mengingat akan Guru Muda Anjana. Kegagalan naik kasta dapat berakibat pada rasa putus asa yang demikian mendalam, sampai dapat mengubah karakter seorang ahli. 

“Kakek Gin, apakah tiada ramuan untuk menerobos ke Kasta Perak?” aju Bintang Tenggara menggunakan jalinan mata hati.

“Sungguh pertanyaan yang tidak tepat… untuk diajukan kepada Maha Maha Tabib Surgawi,” sahut Ginseng Perkasa. Bibir tebalnya mencuat di antara kumis panjang dan janggut putih tebal, sehingga membuat wajahnya kelihatan lucu. 

“Bila demikian…”

“Gadis imut dengan ketiak yang belum matang itu belum memiliki kemampuan dan pengalaman yang memadai,” sambung Ginseng Perkasa, mengacu kepada Kuau Kakimerah.

“Akan tetapi, Kakek Gin dapat meminjamkan keterampilan khusus sebagai peramu kepada diriku….” Bintang Tenggara mencoba mencari celah. Ketika dihadapkan dengan jalan pintas, mengapa harus menyusahkan diri sendiri dengan berlari memutar, pikirnya dalam hati. 

“Kunyah dahulu, barulah menelan. Segala sesuatu ada aturan yang perlu dilalui secara bertahap. Jangan selalu mencari jalan pintas.” Niat Bintang Tenggara terbaca jelas oleh sang Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara itu. “Lagipula, Nak Bintang tidak memiliki lesung batu untuk meramu.”

Bintang Tenggara hanya diam. Bila permasalahan lesung batu, bukankah dapat meminjam milik Kuau Kakimerah...? 

“Lesung batu biasa tiada dapat menjembatani keterampilan khusus digdaya milikku,” tambah Ginseng Perkasa seolah dapat membaca pikiran. “Sebelum dapat membuatkan tubuh baru, kita pun terlebih dahulu harus mencari Senjata Pusaka Baginda milikku.” 

Demikian, kelima murid Perguruan Gunung Agung menelusuri ruang dimensi bercocok tanam yang dahulunya milik Pasukan Penyembuh, yang berada di bawah komando Ginseng Perkasa. Luas sekali tempat tersebut, seolah tanpa batas. 

“Betapa tempat ini mengingatkanku pada sekian banyak ketiak… ehem… kenangan….”

“Apakah aku harus memohon padamu agar menjaga kata-kata dan tindak-tanduk…?” gerutu Komodo Nagaradja. “Kau semakin meracuni pikiran muridku.”

Sebelumnya, kawanan Tikus Pemburu Darah berhasil menangkap seekor Rusa Tanduk Perunggu. Mereka lalu memboyong hasil buruan tersebut kembali ke hutan. Kelompok Elang Laut Dada Merah yang telah memperoleh cukup banyak Tikus Pemburu Darah, hanya memantau dari puncak menara. Mereka bahkan tiada menyadari kehilangan sebutir telur. Oleh karena itu, keadaan di dalam ruang dimensi sampai sejauh ini aman-aman saja.

“Benarkah ada Cetik Niskala di tempat ini? Tidakkah ada petunjuk sama sekali tentang di mana lokasinya…?” Canting Emas mulai terlihat tak sabar. 

Meski menelusuri ruang dimensi tanpa hambatan berarti, kelima remaja mulai kebingungan. Betapa tidak, sudah beberapa jam lamanya waktu yang mereka lalui, tanpa tujuan dan arah pasti. 

“Sebaiknya kita segera kembali,” ujar Aji Pamungkas. 

“Kakek Gin, bilamana ruang dimensi ini sempat diambil-alih oleh Raja Angkara, di manakah kiranya mereka akan menyembunyikan sesuatu yang demikian berharga?” Bintang Tenggara berupaya mencari tahu sebelum mengambil keputusan yang sama dengan Canting Emas dan Aji Pamungkas. 

“Hanya satu tempat yang terlintas di dalam benakku,” sahut Ginseng Perkasa. “Di sisi timur hutan tempat Tikus Pemburu Darah berdiam, terdapat perbukitan dengan air terjun. Di balik air terjun itulah sebuah tempat yang dapat meningkatkan taraf kemajuran ramuan sampai batasan tertentu.” 

“Kita akan kembali ke hutan dan keluar melalui lorong dimensi di dekat sarang Tikus Pemburu Darah.” Tetiba Bintang Tenggara berujar kepada teman-temannya. “Akan tetapi, kita akan bergerak memutar ke arah timur, sebagai upaya terakhir menelusuri ruang dimensi ini.” 

“Sepertinya dahulu di tempat ini pernah terdapat air terjun, dan mengalir sebuah sungai…,” simpul Canting Emas. 

Rupanya air terjun yang disebut-sebut Kakek Gin telah lama mengering. Yang tersisa hanya bekas aliran sungai yang becek dan sebuah goa nan gelap dan lembab. Bintang Tenggara melangkah mendekat ke arah goa. 

“Sebaiknya kita tidak masuk ke dalam sana….” Kuau Kakimerah berujar. 

“Sekawanan Binatang Siluman setara Kasta Perak mendiami goa itu…,” tambah Aji Pamungkas. “Ratusan jumlah mereka.” 

Bintang Tenggara spontan menghentikan langkah. Mungkin sebaiknya menyusun rencana terlebih dahulu, pikirnya. Akan tetapi, Panglima Segantang dan Canting Emas melangkah cepat melewati dirinya. Kedua ahli tersebut sudah tak sabar hendak menguji kemampuan diri setelah berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. Segera mereka masuk ke dalam goa. 

“Srak!” 

Panglima Segantang dan Canting Emas melompat keluar dari dalam goa. Sekujur tubuh bagian atas Panglima Segantang, yang memang senang bertelanjang dada bersimbah darah, demikian pula kedua lengan dan kaki Canting Emas! 

“Cih! Goa ini didiami binatang siluman Kelelawar Taring Darah!” hardik Canting Emas sebal.

“Kurang dari sepuluh langkah ke dalam, mereka menyerang membabi buta,” lanjut Panglima Segantang. 

Kelelawar Taring Darah, sesuai dengan namanya, memiliki sepasang taring panjang setajam silet. Mereka melesat terbang sambil menghunuskan taring membeset kulit sehingga menimbulkan luka. Meski luka-luka tiada dalam, air liur mereka memiliki semacam racun yang dapat mencairkan darah. Dengan demikian, darah dari luka mengalir terus-menerus karena luka lambat mengering. Pada kesempatan tersebut, kelelawar-kelelawar kemudian akan meminum darah buruan. 

Sebagai tambahan, Kelelawar Taring Darah terbang sambil memekikkan unsur kesaktian gelombang bunyi, yang mengacaukan indera keenam. Demikian, di dalam goa nan gelap, para ahli tiada dapat mendeteksi keberadaan kelelawar-kelelawar itu. 

Kuau Kakimerah segera merawat Canting Emas dan Panglima Segantang. 

“Hm… Diriku masih mengingat betapa menyulitkannya Kelelawar Taring Darah di saat Perang Jagat dahulu,” gumam Ginseng Perkasa. 

“Perkara mudah…,” tanggap Komodo Nagaradja. 

“Maksud Super Guru…?” sahut Bintang Tenggara.

“Gelombang kejut Tinju Super Sakti dapat dengan mudah mengacaukan gelombang getaran bunyi binatang siluman itu, menyebabkan mereka menjadi buta arah.” 

“Aji, diriku merasa bahwa Cetik Niskala berada di dalam goa ini,” ujar Bintang Tenggara. “Hanya kita berdua yang memiliki kesempatan memeriksa lebih jauh ke dalam.” 

Sebagaimana diketahui, Aji Pamungkas memiliki kemampuan indera keenam jauh di atas ahli Kasta Perunggu, bahkan di atas rata-rata ahli Kasta Perak. Secara teori, tak akan mudah gelombang getaran bunyi yang dihasilkan oleh Kelelawar Taring Darah mengacaukan jalingan mata hati Aji Pamungkas. 

Terkait Cetik Niskala, sudah sangat jelas bahwa hanya Bintang Tenggara yang memiliki kepentingan untuk menelusuri racun yang dikatakan memiliki unsur tertentu. Bilamana dapat dipastikan bahwa racun tersebut adalah yang mendera tubuh Super Guru Komodo Nagaradja, maka bukan tak mungkin Kakek Gin dapat membuat penawar. Pemikiran ini telah menempel di benak Bintang Tenggara sejak mendengar tentang Cetik Niskala. 

“Hai, Bintang Tenggara,” ujar Aji Pamungkas. “Pertama, aku tiada gegabah seperti mereka berdua,” ia mengacu kepada Panglima Segantang dan Canting Emas. 

“Kedua,” lanjut remaja tampan itu sambil menyeka rambut belah tengah, “aku tak hendak masuk ke dalam goa gelap bersama dengan sesama lelaki.” 

“Dalam waktu dekat, aku berencana mengunjungi istana Kemaharajaan Pasundan,” pancing Bintang Tenggara. Ia memang masih mengingat bahwa ada seseorang di istana tersebut yang hendak bertemu muka. Siapa pun itu. 

“Wahai Bintang Tenggara, uraikan rencanamu….” Aji Pamungkas berujar cepat. 

“Aku akan membuka kesempatan masuk dengan mengacaukan gelombang getaran bunyi kelelawar-kelelawar itu. Berbekal unsur kesaktian petirku dan unsur kesaktian anginmu, maka kita dapat bergerak dengan cepat dalam menelusuri goa. Bahkan, kemungkinan kita dapat mencapai bagian terdalam goa.” 

“Bukan, bukan rencana itu,” sahut Aji Pamungkas. “Uraikan kepadaku rencanamu dalam mengunjungi istana Kemaharajaan Pasundan. Engkau tentunya mengetahui, bahwa Putri Mahkota Citra Pitaloka mendamba kedatanganku.”