Episode 61 - Hari-Hari Mereka Tanpa – Bagian 6



“Kau udah banyak kali loh bantu keluargaku, tahu gak?”

Rian bertanya kepada Euis dengan wajah penasaran, yang benar-benar tak mengerti apa yang dia lihat dan rasakan setiap kali Euis datang ke rumahnya.

“Emm, entahlah, aku cuma datang dan melakukan apa yang ingin aku lakukan. Kupikir itu bukan bantuan seperti yang kamu pikirkan.”

“Tapi itu kan tetap...”

“-Sstt, bantuan adalah kegiatan yang dilakukan ketika orang lain menginginkan dan membutuhkannya, mengerti.”

Di jalan utama menuju ke sekolah, mereka mengobrol, menghabiskan waktu yang dihabiskan untuk berjalan. Mereka pergi di waktu standar yang digunakan oleh hampir seluruh anak berangkat ke sekolah. Dan saat itu juga, ada banyak murid lain yang berada di sekeliling.

Tak aneh kiranya mereka dikira berpacaran atau memiliki hubungan yang istimewa, karena Euis yang terkenal sangat jarang berada dekat dengan laki-laki, sering dijumpai mengobrol dan berjalan akrab dengan Rian. 

“Ya, terserah kau lah, tapi aku tetap kepikiran gimana harus membalas jasamu.”

“Hei sudahlah, bukannya sudah biasa bukan kalau tetangga saling membantu. Lagipula sering membantu keluargamu tak semerepotkan seperti yang dipikirkan orang-orang.”

“Merepotkan?”

“Ya, aku cukup sering mendengarkan obrolan para gadis tentang, mereka yang memiliki tetangga yang selalu meminta pertolongan kepada mereka dan hal itu benar-benar merepotkan, memikirkan kalau mereka tak bisa melakukan apa yang mereka inginkan dengan usaha mereka sendiri.”

“Terus, apa bedanya sama aku?”

“Ya, bedalah. Lagipun kamu teh sama sekali gak pernah minta bantuan. Dan membantumu, membuatku merasa sedikit nyaman.”

“Nyaman?”

“Ya, begitulah. Di rumah, aku jarang banget bisa mengerjakan pekerjaan rumah, karena ibu selalu menyewa jasa pembantu rumah tangga.”

“Bukannya lebih enak gitu?”

“Mm, bagaimana ya... menurutku itu cukup berlebihan. Toh kami bisa aja menanggung semua pekerjaan kalau kami bekerja sama. Toh rumahku juga gak terlalu besar dan sulit untuk dibersihkan.”

“Iya juga ya”

“Dan bisa membantu keluargamu, itu buat aku merasa menjadi seorang perempuan.”

Rian tak menyambung perkataan Euis yang menyangkut tentang keluarganya. Di dalam hatinya, dia tak tahu harus merasa senang atau aneh memiliki sahabat dan tetangga seperti Euis.

“Hei... hei!”

Dia tenggelam dalam renungan, sampai akhirnya tersadar saat Euis mulai memanggil namanya.

“Hmm?”

“Jangan ‘hmm’ aja dong, kamu buat aku merasa aneh tau bilang hal memalukan kaya barusan!”

Euis kelihatannya merasa marah—meskipun itu malah membuatnya semakin kelihatan manis—saat Rian tak menyambung pembicaraan. Rian yang merasa tak ada yang salah, bertanya karena apa Euis merasa seperti itu.

“Memangnya kenapa?”

“Orang-orang nampaknya mulai salah paham sama pembicaraan kita barusan.”

Euis yang tak tahan dengan suasana di sekitar berbicara kepada Rian dengan berbisik. Dia juga merasa marah, tetapi entah bagaimana pipinya malah berwarna merah semu, menandakan kalau dia merasa malu karena keadaan yang cukup ramai. 

Rian melihat ke sekeliling, memastikan perkataan Euis sebelumnya. Dan benar, kalau orang-orang di sekitar kelihatannya salah paham dengan pembicaraan—hubungan mereka. Tatapan mereka ada yang merasa iri, malu karena mendengar pembicaraan mereka, atau takut dengan tatapan Rian.

Meskipun begitu, dia tak tahu apa yang sebenarnya salah dengan pembicaraan mereka di telinga orang-orang. Sampai akhirnya dia melihat kembali ke arah Euis yang wajahnya telah bertambah merah dan bersembunyi di balik punggung lebarnya.

“Kenapa sih kau?!”

“E-enggak. Engak apa-apa kok!”

Kelihatannya Euis tak menyadari tingkah lakunya, sampai Rian menyingkir dan membiarkannya berada pada zonanya sendiri.

Rian tak tahu bagaimana harus merespon perilaku abstrak Euis, dan pada akhirnya, mereka mulai kembali berjalan dengan kebisuan. 

Rian tak merasakan apapun dengan suasana yang cukup aneh itu. Di sisi lain, Euis merasa dadanya berdetak lebih kencang dari biasanya. Jantungnya terasa mau keluar dari tempatnya. Dan wajahnya kelihatannya tak mau berhenti memancarkan warna merah.

“H-hei?”

“Hmm...”

Meskipun dia—Euis masih belum bisa mengendalikan diri, dia memberanikan diri untuk memulai kembali pembicaraan yang terputus.

“A-apa, apa kau pernah merasakan jatuh cinta?”

Sangat aneh kiranya, kalau di dalam masa muda seorang remaja tak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Meskipun begitu, akan selalu ada orang-orang unik yang berbeda dengan yang lainnya.

“Enggak, kenapa rupanya?”

Tetapi remaja laki-laki di sampingnya, yang sedang berjalan berdampingan dengannya saat itu juga, benar-benar tak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. 

“O-oo~hh!”

Rian tak menanggapi balasan Euis dengan rasa penasaran, justru dia malah merasa aneh karena Euis mengangkat topik yang dia tak tahu bagaimana harus menanggapinya.

“Memangnya kenapa pulak kau tanya kaya gitu?”

“Ya~, cuma penasaran aja. Tapi apa kamu benar-benar gak pernah merasakan apa yang namanya cinta. Minimal suka sama sama gadis gitu? Kasihan juga kamu.”

Rian berhenti melangkah, menatap Euis dengan ekspresi yang tak dapat terbaca. Euis merasakan tatapan itu, tetapi dia tak ingin merespon dan hanya lanjut berjalan. 

Tak seberapa lama, beberapa teman yang telah mengamati mereka sejak berada di jalan utama menuju sekolah memanggilnya, membuatnya beralih dari Rian menuju mereka.

Euis berlari kecil dan masuk ke dalam geng itu.

“Pagi semua!”

“Pagi Neng Euis.”

Begitulah balasan yang hampir sama yang dia terima dari kelompok itu, yang berjumlah tiga orang. Euis telah beberapa kali meminta, atau bahkan menyuruh mereka untuk tak menggunakan panggilan sopan kepadanya. Tetapi mereka selalu mengulang kesalahan itu sampai akhirnya Euis mewajarkan perilaku mereka.

“Neng-neng!”

Salah satu dari mereka bertiga, yang kelihatannya sangat ingin tahu tentang sebuah keadaan sebelum Euis bergabung, memanggil Euis dengan panggilan yang bersemangat.

“Ya!”

“Sebenarnya kami udah tanyain ini bolak-balik, tapi apa benar dari kalian ga ada hubungan istimewa apapun?”

“Mm, selain bersahabat sejak kecil, kupikir kami tak punya hubungan istimewa apapun.”

“Tapi kenapa Neng selalu datang ke rumah Rian untuk membantu pekerjaan rumah?”

Gadis lain menanyakan hal yang dia dengarkan sebelumnya. Euis sedikit bingung dengan respon apa dia harus menjawab pertanyaan itu, karena dari pemahamannya, bukannya sudah biasa membantu mereka yang membutuhkan dan apalagi itu adalah tetangga sendiri.

“Mm, antara aku harus melakukannya atau aku memang ingin melakukannya. Bagaimana menurutmu?”

“Yah, bagaimana aku tahu kalau Neng sendiri engga tau.”

“Hmm, iya juga ya. Ya, pokoknya gitu deh.”

“Gimana atuh eneng ini.”

***

Para gadis di depan terus melakukan perbincangan bahkan sampai berada di atas kaki bukit. 

Rian yang berada di belakang tak memiliki masalah dengan itu, tetapi, satu hal yang membuatnya sangat penasaran. Ada apa dengan Euis hari ini, dia sama sekali tak pernah mempermasalahkan apapun mengenai hubungan mereka dengan orang lain, tetapi kenapa dia mengungkitnya sekarang?

Terlebih lagi, topik yang dia angkat itu bukanlah sesuatu yang dapat dia atasi. Karena seperti yang Euis katakan, dia sama sekali tak pernah mengalami atau bahkan merasakan yang namanya cinta, atau bahkan merasa suka kepada seorang perempuan, dalam artian khusus tentunya.

Dia terus berjalan ke sekolah, sampai dia menemukan dirinya telah berada di lantai dua, lantai di mana kelasnya berada. Suara ribut ruang kelas dapat terdengar bahkan sebelum dia dapat membuka pintu.

Pintu kelas telah terbuka, dia mengambil jalur belakang—meskipun dia biasanya mengambil jalur depan karena lebih dekat dengan kursinya—kali itu dia memiliki urusan yang harus dia bicarakan dengan seseorang yang duduk di kursi paling sudut belakang.

“Yo, Lek, gak biasanya bisa datang cepet!”

Itu adalah Beni dan dua orang yang biasanya dekat dengannya, yang bersandar di jendela dan duduk di kursi sebelah Beni.

“Apa kau bangun pagi banget, lagi?”

Salah satu teman yang bersandar di dinding bertanya.

“Enggak.”

“Ouh, apa jangan-jangan, Mimi Peri udah nyiapin segala urusanmu sewaktu kau masih tidur.”

“Woi, itu jahat banget!”

“Hahaha!”

Kelihatannya sebuah nama yang disebutkan si duduk di kursi barusan merupakan topik yang sedang mereka bertiga bicarakan. Dapat diketahui dari bagaimana mereka bertiga tertawa dengan topik yang diangkat berulang-ulang.

“Euis dateng ke rumah lagi hari ini.”

“...”

Tiba-tiba saja tawa mereka bertiga terhenti ketika Rian menyebut nama seseorang yang menjadi salah satu primadona sekolah. Hal itu pula memicu sesuatu yang tak dapat dibiarkan oleh murid-murid lain, terutama murid laki-laki, apalagi dari teman-teman di kelasnya, untuk didengarkan.

“Oi, aku memang udah dengar ini dari kemaren-kemaren ya. Tapi apa dari kalian bener-bener gak ada hubungan istimewa apa gitu?”

Rian sedikit bingung bagaimana harus menjawabnya. Karena selain hanya seorang sahabat dari kecil, dan seorang tetangga yang baik, mereka merasa tak memiliki hubungan istimewa apapun.

“Enggak.”

“Apa benar tuh, Ceng?”

“Ya, kaya yang kau dengar. Kalaupun mereka memulai suatu hubungan istimewa, seharusnya aku sih udah tahu bahkan sebelum mereka berdiri di garis start.”

Beni mengatakan apa yang memang bisa dia katakan. Hal itu sedikit membuat kedua temannya depresi karena rasa penasaran yang tak kunjung sembuh.

“Tapi, dia pernah bilang kalau dia sebenarnya udah punya orang yang dia suka.”

“...”

Keheningan untuk yang kedua kalinya menahan suasana itu. Dan hal aneh terjadi dengan ketiga temannya sewaktu dia mengatakan sesuatu yang jelas di satu sisi, dan kurang jelas di sisi lain. Membuatnya ditatap oleh mata yang marah? kesal? padanya.

“Siapa...?”

Beni bertanya dengan wajah yang masih sama, tetapi kali itu sedikit tertekan karena sesuatu.

“Siapa, katakan?!”

Dia bangkit dari duduknya dan mendekat padanya, yang lainnya—dua orang—juga melakukan hal yang sama.

“Bodoh, manalah kutahu.”

“Kenapa gak kau tanya?!”

“Ah, mana urusanku itu!”

Beni semakin mendekat, dan menekan Rian agar cepat menjawab pertanyaanya. Rian yang merasa terganggu menyingkirkan wajah Beni yang benar-benar dekat dengan mendorong lewat wajah.

“H-hei, kenapa – kenapa kau gak kasih tahu kami dari dulu.”

“Kenapa pulak aku harus kasih tahu kalian?”

“Ya biar mencegah kami patah hati lah, dasar kau tuan tidak punya perasaan.”

Sebelumnya Beni, dan selanjutnya dua temannya yang merasa kalau hati mereka telah terkoyak-koyak karena mendengar kenyataan pahit.

“Apa sih yang kalian omongin?”

Rian yang benar-benar tak tahu arti dan maksud dari perilaku dua temannya itu bertanya dengan perasaan tidak peduli.

“Udahlah, yang lebih penting, aku mau konsultasi sesuatu.”

“Hoo, sepertinya Tuan Tidak Pernah Menyerah akhirnya meminta bantuan mengenai sesuatu. Jadi, apa yang kau mau untuk kami beri nasihat?”

Beni bertingkah seperti seorang yang telah berpengalaman dengan konsultasi dan sosialisasi. Membuatnya duduk kembali dengan menggabungkan kedua tengannya di depan dada.

Rian tak lekas menjawab pertanyaan Beni, terlebih dahulu dia melihat ke arah jam dinding yang terpasang di atas papan putih di depan kelas dan di belakang kelas. Jam menandakan kalau sudah waktunya bel sekolah berbunyi.

“Tapi nanti ajalah, udah mau masuk juga. Di waktu istirahat, kalian bisa kan?”

“Waktu, tempat, dan situasi apapun akan kami berikan asalkan itu untukmu, Ketua.”

“Heleh, bacritmu. Entar kalau udah punya pacar pasti kau bakal gak ingat dunia.”

“Oi-oi, itu kejam tau?!”