Episode 172 - Durjana


Strategi telah tersusun matang. 

Panglima Segantang dan Bintang Tenggara memiliki pengalaman dalam berburu Rusa Tanduk Perunggu saat berada di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani. Peran mereka adalah menangkap seekor rusa, dan di saat yang bersamaan memancing keluar kawanan Tikus Pemburu Darah serta menarik perhatian Elang Laut Dada Merah. 

Canting Emas dan Kuau Kakimerah akan menyusup ke dalam hutan. Mereka akan bergerak menuju rawa dan mencari Lengkuas Rawa. Sebisa mungkin mereka akan menghindar dari kawanan Tikus Pemburu Darah. Bila Panglima Segantang dan Bintang Tenggara menjalankan peran mereka dengan baik, maka selayaknya kawanan binatang siluman rakus itu tidak akan mengganggu kedua gadis. 

Aji Pamungkas bergerak seorang diri. Ia akan memanjat menara dan mengambil Lumut Rambat Hijau dan telur Elang Laut Dada Merah…

“Mengapa diriku yang harus menempuh bahaya terbesar!? Mengapa diriku mengemban dua tugas secara bersamaan!? Seorang diri pula!” Aji Pamungkas berteriak sambil menyeringai. 

“Karena aku percaya hanya engkau yang mampu…,” ujar Canting Emas. Sepasang lesung pipit menghias wajah, sehingga melipatgandakan kecantikan gadis itu di kala tersenyum.

“Benarkah…? Ca-Em….” Aji Pamungkas luluh. “Eh… tunggu dulu! Kau hanya tersenyum bilamana hendak menyiksa lawan!” Aji Pamungkas tetiba tersadar. 

“Lagipula, bukankah kita telah bergeser dari tujuan utama? Bukankah tujuan kedatangan kita hendak menelusuri Cetik Niskala? Unsur kesaktian racun?” Aji Pamungkas berpikir jernih, setengah memohon.

“Tidakkah kau mengerti bahwa tanpa meningkatkan tingkatan mustika tenaga dalam, maka kita tak dapat bergerak leluasa di wilayah yang banyak didiami binatang siluman Kasta Perak?” tanggap Canting Emas. 

Di saat yang sama, Panglima Segantang dan Bintang Tenggara telah melangkah pergi. Bintang Tenggara bergegas masuk ke dalam hutan, sedangkan Panglima Segantang mendatangi kawanan Rusa Tanduk Perunggu yang sedang merumput. 

Canting Emas dan Kuau Kakimerah bersiaga sudut batas hutan. Aji Pamungkas tertunduk lesu. Ingin rasanya ia menangis tersedu. 

Tak lama berselang, dedaunan gugur dan ranting patah terlempar ke udara ketika Bintang Tenggara menyeruak keluar dari dalam hutan. Kedua kaki anak remaja itu dibalut kilatan listrik dengan langkah kaki zig-zag tiada beraturan, kini berlari ke tengah padang rumput. Di belakangnya, adalah sekawanan Tikus Pemburu Darah. Di hadapan, adalah Panglima Segantang yang telah menggiring beberapa ekor Rusa Tanduk Perunggu. 

Menyaksikan Rusa Tanduk Perunggu yang besar di depan mata, kawanan Tikus Pemburu Darah mengubah arah. Berkerumun mereka berupaya menyergap rusa-rusa itu. Di saat yang bersamaan, beberapa ekor Elang Laut Dada Merah terlihat mengudara. Makanan kegemaran elang-elang memangkah tikus-tikus itu, yang kadang kala keluar dari hutan untuk berburu di padang rumput. Bagi elang, Rusa Tanduk Perunggu terlalu besar untuk disambar dan dibawa terbang. 

Canting Emas dan Kuau Kakimerah merangsek masuk ke dalam hutan. Aji Pamungkas pun melesat ke arah menara! 

Kemelut segera berlangsung di tengah padang rumput. Tikus-tikus yang rakus mengepung rusa-rusa yang perkasa. Elang menukik mengincar mangsa. Panglima Segantang dan Bintang Tenggara menggiring rusa-rusa agar bergerak ke arah kubah perlindungan yang terbuat dari jalinan rotan. Kubah itu nantinya akan berfungsi sebagai kandang. 

Di dalam hutan, Canting Emas bergerak lincah. Menyusul di belakangnya adalah Kuau Kakimerah yang waspada memantau situasi. Sebagai seorang gadis yang lahir dan tumbuh di dalam hutan rimba, nalurinya cukup terasah. 

“Tidak semua tikus keluar dari hutan…,” bisik Kuau Kakimerah. Mata sipitnya bertambah sipit.

Benar sekali. Sesuai perkiraan, kedua gadis segera terkepung oleh puluhan Tikus Pemburu Darah. Indera penciuman mereka sangatlah tajam adanya. Mana mungkin aroma manusia yang baru beberapa jam lalu mereka buru, dapat terlupakan begitu saja. 

Canting Emas mengeluarkan sebuah Kartu Satwa. “Harimau Bara!” teriaknya memanggil dan membuka segel kartu tersebut. 

Kepemilikan Kartu Satwa Harimau Bara telah dipindahtangankan kepada Canting Emas. Betapa senangnya sang kucing besar itu di kala melompat keluar dari lorong dimensi. Suka cita berlipat ganda, ketika ia menyaksikan demikian banyak tikus yang dapat diajak bermain! 

“Siamang Semenanjung!” 

Seekor kera besar terlihat melompat dan memanjat lincah. Ia bergelayutan dari satu bagian ke bagian yang lain. Di pundaknya, seorang remaja lelaki berwajah tampan dengan rambut belah tengah menempel erat. Menggeretakkan gigi, Aji Pamungkas terombang-ambing ke kiri dan kanan ketika binatang siluman melompat dan terus memanjat menara. 

“Kera! Sudah berapa lama engkau tiada mandi!?” sergah Aji Pamungkas sebal. Mengapa yang dipindahtangankan kepada dirinya adalah Kartu Satwa Siamang Semenanjung!?

“Kera! Apakah engkau biasanya mandi bersama Kukame dan Ca-Em!?” Raut wajah Aji Pamungkas terlihat tambah sebal ketika membayangkan Siamang Semenanjung itu dimandikan oleh gadis-gadis. 

Kawanan tikus berhamburan ke semerata penjuru ketika elang-elang menukik dan menerkam. Akan tetapi, terlalu banyak jumlah mereka sehingga perhatian kawanan tikus-tikus tetap terpusat kepada Rusa Tanduk Perunggu. Tiada satu pun tikus rakus yang memedulikan anggota kawanan yang disergap dan dilambungkan elang-elang. 

Berkat kehadiran elang-elang, gerakan mengejar kawanan tikus sedikit terhambat. Panglima Segantang dan Bintang Tenggara terus berlari menggiring beberapa ekor rusa. 

“Panglima, kita hanya memerlukan seekor!” sergah Bintang Tenggara. 

Menanggapi Bintang Tenggara, Panglima Segantang segera memisahkan seekor rusa dan kemudian menggiring terus ke arah kandang jalinan rotan. Bintang Tenggara membawa rusa-rusa lain, kemudian berbelok arah. Peternak tangguh Bintang Tenggara, kembali beraksi. 

Tak lama, Canting Emas dan Kuau Kakimerah melompat keluar dari dalam hutan. Mereka disusul oleh Harimau Bara yang seperti tak hendak pergi meninggalkan teman-teman bermain. Akan tetapi, begitu melihat banyak tikus di tengah padang rumput, sorot matanya kembali bersemangat. 

Aji Pamungkas terlihat bergelayutan tinggi di atas menara. Di pundaknya, terikat sebuah buntelan besar berbentuk lonjong. Sementara, dirinya masih memeluk erat pundak Siamang Semenanjung. Mereka meluncur turun sangat cepat.

Tak lama, kelima sahabat telah kembali berada di dalam kubah jalinan rotan. 

“Seekor Rusa Tanduk Perunggu siap disembelih!” Panglima Segantang penuh semangat. Seekor rusa terikat tak berdaya di dekatnya.

“Lengkuas Rawa tinggal diiris!” Canting Emas terlihat senang saat menyodorkan tumbuhan siluman yang dirinya temukan. 

“Huehehehe… Kupersembahkan kepada kalian…,” Aji Pemungkas mengangkat sebutir telur yang berukuran sedikit lebih besar dari buah semangka ibarat menjunjung sebuah piala nan megah, “telur Elang Laut Dada Merah!” 

“Bagaimana dengan Lumut Rambat Hijau…?” aju Kuau Kakimerah. 

“Telah kuputuskan… bahwa jauh lebih mudah mendapatkan Lumut Rambat Hijau yang sama sekali tak terpapar sinar mentari… di malam hari!” 

“Tetapi… bila mengambil Lumut Rambat Hijau di malam hari, kita tak akan mengetahui apakah ia pernah terpapar matahari atau tidak…,” tanggap Kuau Kakimerah. 

“Eh….” Aji Pamungkas gelagapan. 

“Aku dan Bintang Tenggara yang akan mengambil Lumut Rambat Hijau yang belum terpapar sinar mentari,” sahut Canting Emas. 

Aji Pamungkas masih menjunjung tinggi telur besar di atas kepala. 

“Tugasmu kini adalah menunggu pucuk Ilalang Pagi yang berusia sehari!” 

“Hah!?” 


===


“Hah!” Seorang pria dewasa melompat bangkit dari tempat duduknya. “Apa yang kau lakukan!?” Ia mengacung jari telunjuk lurus ke depan. 

“Ayahanda…. Kumohon untuk tidak menyalahkan Kakak Lintang,” tegur seorang gadis nan anggun. 

“Cih! Kau kira aku tiada mengetahui tentang jati dirimu!?” Gubernur Pulau Dua Pongah demikian berang. “Ayah dan ibumu adalah pahlawan negeri! Pribadi-pribadi terhormat! Sedangkan engkau… engkau adalah Petaka Perguruan!”

“Ayahanda…”

Lintang Tenggara sudah memperkirakan akan kemungkinan kejadian ini. Dengan susah-payah Lampir Marapi diungsikan keluar dari Pulau Dua Pongah, kemudian dititipkan di Sanggar Sarana Sakti. Tindakan tersebut dilakukan agar Pulau Satu Garang tiada memiliki alasan kuat untuk menyerang mereka. Keselamatan warga pulau demikian penting bagi sang Gubernur. Kini, Lintang Tenggara justru datang membawa kembali Lampir Marapi. Bukankah akan mengundang bencana? 

Sungguh ironis, pikir Lintang Tenggara. Si anggun yang memicu malapetaka….

Meskipun demikian, ada dua hal yang berada di luar perkiraan Lintang Tenggara. Pertama, bahwasanya Gubernur Pulau Dua Pongah mengetahui dirinya sebagai Petaka Perguruan di Perguruan Gunung Agung. Kedua, lelaki dewasa itu juga mengenal Bunda Mayang dan Ayahanda Balaputera. 

Demikian, Lintang Tenggara segera menyimpulkan bahwa Segel Benteng Bening yang mengelilingi Pulau Dua Pongah, adalah benar buatan Ayahanda Balaputera. Memeriksa segel tersebut, kemungkinan besar akan memberi petunjuk seputar Segel Mustika yang mendera di ulu hati. 

“Enyah engkau dari hadapanku!” usir Gubernur Pulau Dua Pongah. 

“Ayahanda… Kakak Lintang telah menyelamatkan diriku…,” bujuk Lampir Marapi.

“Dan sekarang ia membahayakan seluruh penghuni Pulau Dua Pongah!” 

“Ayahanda… Bila Ayahanda bersikeras mengusir Kakak Lintang, maka diriku akan ikut pergi bersamanya.” 

“Omong kosong!” 

“Yang Terhormat Gubernur Pulau Dua Pongah, maafkanlah kekeliruan hamba,” ujar Lintang Tenggara tenang sambil membungkukkan tubuh. “Hamba akan bertanggung jawab dan mengantarkan Adik Lampir Marapi kembali Sanggar Sarana Sakti.” 

“Hmph…”

“Adik Lampir Marapi. Bila tujuan bertemu muka dengan keluarga telah terpenuhi, adalah keputusan yang paling bijak untuk segera kembali ke Sanggar Sarana Sakti.” 

“Apa yang membuatmu demikian percaya diri bahwa aku akan menitipkan putriku kepadamu!?”

“Suamiku….” Seorang perempuan dewasa menegur dari sudut ruangan. Ia lalu memberi kode kepada sang suami.

Gubernur Pulau Dua Pongah teramat sangat kesal untuk terus bertukar kata-kata. Ia lalu memutar tubuh, dan segera pergi meninggalkan ruang singasana. 


Malam sebentar lagi tiba. Sepasang suami istri memandang langit berwarna jingga, melepas kepergian mentari. 

“Suamiku…”

“Aku tahu apa yang hendak dikau katakan…,” tanggap Gubernur Pulau Dua Pongah. 

Sang istri menahan diri. Ia menyadari bahwa suaminya masih terbawa emosi.

“Kita telah sepakat untuk menikahkan Lampir Marapi dengan putra Kakak Balaputera. Akan tetapi, sebagaimana yang kita ketahui, pasangan itu memiliki dua putra,” ujar sang Gubernur.

“Putra kedua mereka dibawa Kakak Mayang mengasingkan diri dari dunia persilatan dan kesaktian,” ujar sang istri pelan. “Kemungkinan besar tiada mendalami keahlian.”

“Jauh lebih baik daripada menikahkan dengan si Petaka Perguruan itu! Bahkan Kakak Balaputera memasang Segel Mustika terhadapnya.” 

“Putri kita telah menyampaikan bahwa Lintang Tenggara benar-benar menyelamatkan dirinya. Lintang Tenggara pun bersusah-payah mengantarkan Lampir Marapi kembali ke Pulau Dua Pongah.” 

“Lalu…?”

“Terlepas dari tragedi Petaka Perguruan, Lintang Tenggara masih memiliki hati nurani,” lanjut sang istri. “ 

“Jangan mudah terbuai dengan tipu muslihat dunia keahlian!” sergah sang Gubernur. 

“Justru itulah yang kumaksud… Kita tak pernah mengetahui persis apa yang sesungguhnya berlangsung di Perguruan Gunung Agung di kala tragedi itu. Lintang Tenggara tiada pernah memperoleh kesempatan menjelaskan dan membela diri dalam sebuah persidangan yang adil. Ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan jiwa dari amuk segenap ahli.”


“Putriku, dengarkanlah dengan seksama.”

Berkas mentari pagi merangsek masuk dari jendela besar-besar. Demikian hangat seolah membelai dengan gemulai. Kehangatan yang serupa, juga terpancar dari pandangan mata seorang ayah.

“Diriku dan ibundamu selalu berupaya melindungi sejak engkau terlahir dengan unsur kesaktian putih. Segala daya upaya telah kami lakukan, termasuk meminta pertolongan untuk membangun Segel Benteng Bening. 

“Sekarang engkau telah tumbuh dengan baik. Aku tiada hendak mengekangmu. Akan tetapi, adalah harapanku sebagai seorang ayah, agar engkau terbebas dari mara bahaya. Adalah keinginanku agar engkau menuntut ilmu di Sanggar Sarana Sakti, sekaligus bersembunyi dari ancaman Pulau Satu Garang.”

“Ayahanda, diriku memahami kekhawatiran ayahanda. Putrimu ini akan segera kembali ke Sanggar Sarana Sakti.”

“Nasehatku sebagai seorang ayah, jangan terlalu dekat dengan si Lintang Tenggara itu. Ia tiada dapat dipercaya.”

Wajah Lintang Tenggara sedikit kecut. Gubernur Pulau Dua Pongah berbicara di hadapannya langsung. Meski, terbersit pula dalam benaknya mengapa sang Gubernur ini dinilai sebagai pribadi yang mulia. Pulau Dua Pongah aman dan tenteram didiami oleh ahli-ahli yang melarikan diri dari dunia luar, mereka yang tersudut oleh situasi. 

“Sebagaimana yang telah kusampaikan, diriku tiada akan mengekangmu. Kau tentu saja memiliki alasan tersendiri.”

“Terima kasih, Ayahanda.” 

“Hei, Lintang Tenggara!” Raut wajah sang Gubernur tetiba berubah dari lembut menjadi sangar. “Hasratmu akan ilmu pengetahuan terlalu besar. Seorang ahli hendaknya mawas diri. Janganlah sampai terbawa ambisi semu.” 

Lintang Tenggara mengangguk. Walaupun tak sepenuhnya setuju, dirinya memilih untuk diam saja. 

“Aku meminta engkau mengantarkan putriku kembali ke Sanggar Sarana Sakti,” lanjut sang Gubernur. “Meski demikian, aku tak hendak berutang budi padamu… Oleh karena itu, apakah ada yang engkau inginkan sebagai imbal jasa?”

“Segel Benteng Bening,” ujar Lintang Tenggara tanpa ragu. “Diriku hendak mempelajari formasi segel tersebut.” 

“Engkau hendak mencari cara mengangkat Segel Mustika?” 

“Benar.” 

Sang Gubernur terdiam sejenak. Tapan matanya tak lepas dari Lintang Tenggara. “Setidaknya engkau berani bertutur jujur.” 


Kepulan asap membumbung tinggi. Gumpalan debu menyibak tebal. Bata-bata dan butiran batu berserakan di beberapa tempat. Ini adalah pemandangan yang menyambut kepulangan Lintang Tenggara dan Lampir Marapi di Graha Bupati Pulau Lima Dendam. 

“Kakak Lintang!” Anjana berlari tergopoh-gopoh. “Kita baru saja diserang!” 

“Siapakah gerangan yang lancang menyerang kediamanku?” sahut Lintang Tenggara. Meski demikian, raut wajahnya tiada berubah. Tetap tenang bak sungai nan jernih yang mengalir sejuk. 

“Tiada yang mengetahui… Kejadiannya berlangsung teramat cepat. Sesosok bayangan merangsek, meledakkan beberapa tempat…”

“Meledakkan bagunan-bagunan kecil di seputar Graha…?” Lintang Tenggara kemudian membantin. Raut wajahnya mulai sedikit berubah. 

“Benar! Sosok tersebut kemudian pergi begitu saja. Tiada pula memakan korban…”

Belum sempat Anjana rampung memberikan laporan, Lintang Tenggara telah melesat pergi dari hadapannya. Lelaki dewasa muda itu melangkah masuk ke dalam graha. Tiada banyak kerusakan. Ia kemudian bergegas menuruni anak tangga, dan tiba di hadapan sebuah pintu yang menganga terbuka. 

Lintang Tenggara melompat masuk ke dalam ruang penyekapan. Kemungkinan terburuk yang hinggap di dalam benaknya tadi, terbukti benar. Saudagar Senjata Malin Kumbang, si kelinci percobaan, telah melarikan diri!

“Kakak Lintang… maafkanlah kelalaian diriku…” Anjana berhasil menyusul. 

“Ruangan ini telah dilengkapi dengan Segel Kamar Kosong….” Lintang Tenggara mengabaikan kata-kata Anjana. Artinya, tak sembarang ahli yang dapat menemukan lokasi penyekapan si Saudagar Senjata yang memiliki kesaktian unsur langka itu. 

Kedua mata Lintang Tenggara menatap seluruh penjuru ruangan. Mata hatinya menebar deras dalam memeriksa. Tak satu pun detil yang akan terlepas dari pengamatannya. 

Lintang Tenggara kemudian melangkah ringan ke salah satu sudut ruang. Sebuah lukisan sepasang mata binatang siluman nan berwarna keemasan digantung menempel di dinding. Ia lalu memejamkan mata, seperti sedang mengantuk… 

“Kejadian di dalam ruang penyekapan ini berlangsung dalam sekelebat mata…,” gumam Lintang Tenggara. Ia berupaya mengambil kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan. “Setelah mengalihkan perhatian dengan membuat keributan di luar, sesosok tubuh masuk dan melepas borgol Intan Abadi….”

“Hm…?” Anjana terlihat penasaran, sekaligus heran bagaimana kakak seperguruannya itu dapat mencapai kesimpulan yang sedemikian rinci.

“Sungguh pelik… Bahkan si Malin Kumbang itu sempat terkejut akan datangnya pertolongan…,” gumam Lintang Tenggara pelan. 

“Oh, Anjana… janganlah menyalahkan diri sendiri.” Akhirnya Lintang Tenggara kembali dari lamunan dan menjawab Anjana. “Sosok yang datang dan pergi sesuka hati, bahkan sambil membawa tubuh tambun tanpa terdeteksi… bukanlah ahli yang dapat engkau hentikan.” 

Anjana hanya diam menyimak. 

“Sosok itu pun dapat menebar mata hati sampai menembus Segel Kamar Kosong. Mungkinkah ahli yang berada pada Kasta Bumi? Apakah anggota Kekuatan Ketiga?” Lagi-lagi Lintang Tenggara berujar pada diri sendiri. 

“Mungkinkah ada menyusup ke dalam wilayah Partai Iblis?” ucap Anjana. 

“Mungkinkah ‘Si Durjana’ telah memutuskan untuk mulai bergerak?” tanggap Lintang Tenggara kepada kepada Anjana yang terlihat kebingungan. *



Catatan: 

*) Episode 43, disebutkan bahwa Markas Besar Partai Iblis terletak di Kepulauan Jembalang, yang terdiri dari gugusan enam Pulau. Pulau di tengah dikenal dengan Pulau Pusat Durjana. Disusul oleh pulau-pulau sedang dengan sebutan sebagai Pulau Satu Garang, Pulau Dua Pongah, Pulau Tiga Bengis, Pulau Empat Jalang, dan Pulau Lima Dendam.