Episode 3 - Dua


Gunung Patuha adalah suatu gunung yang dianggap sangat angker oleh banyak rakyat di Bumi Pasundan kala itu. Belum ada seorang pun yang berani menjamah apalagi menempati Gunung yang masih perawan tersebut sebagai tempat tinggalnya. Jangankan ada yang berani menghuni atau bercocok tanam, mengambil kayu saja atau memungut sebatang rumput pun tidak ada yang berani. 

Puncak gunung itu berupa danau kawah yang putih yang selalu mengepulkan asap putih, tidak ada seekor burung atau seranggapun yang berani melintas di sana, mereka pasti mati bila melintas diatas kawah tersebut! Gunung itu dikenal angker dan banyak dihuni oleh mahluk-mahluk ghaib yang jahat dan tidak bersahabat dengan manusia, namun ada suatu desas-desus bahwa diatas puncak gunung Patuha yang berupa danau kawah putih itu, dihuni oleh dua orang pertapa sakti penganut ilmu hitam yang sangat ditakuti oleh masyarakat Pasundan. 

Tidak jelas identitas mereka sebenarnya, namun bagi yang pernah mendengar nama besar mereka yang sangat angker, mengenal dua pertapa sesat itu dengan nama Topeng Setan dan satu lagi seorang nenek iblis teluh yang bernama Nyai Lakbok.

Pada suatu malam di sekitar gunung Patuha, terjadi satu pemandangan yang mengerikan bagi siapa saja yang menyaksikan. Bagaimana tidak? Di malam buta ketika tak ada rembulan dan langit tidak pula berbintang, di bawah kepekatan yang menghitam gelap disertai hembusan angin mencucuk dingin, ditambah dengan turunnya hujan rintik-rintik, seekor kuda hitam dengan ditunggangi seorang pria muda berlari kencang menuju puncak Gunung Patuha. Sambil lari binatang ini tiada hentinya keluarkan suara meringkik keras dari sela mulutnya yang berbusa.

Menjelang dinihari, kuda hitam itu mencapai puncak gunung yang sangat curam dan perjalanan tak mungkin diteruskan dengan menunggangi binatang itu. Menyadari hal tersebut, pria penunggang kuda itu yang tak lain adalah Prabu Kertapati turun dari kudanya. Setelah melepas pergi hewan tunggangannya itu, dia lalu bersidekap bersemedi sambil berdiri merapal ajiannya dan memusatkan pikirannya. Sebelum menggerakan tubuhnya lagi dia berkata dengan suara pelan namun jelas “Kepada seluruh penghuni Gunung Patuha yang keramat, hamba Kertapati prabu Mega Mendung mohon untuk diizinkan lewat, hamba ingin bertemu dengan penghuni puncak gunung ini, hamba rela menyerahkan apapun yang hamba miliki sebagai balasannya, punten!”

Seolah mengerti dengan ucapan Prabu Kertapati, alam disekitar sana menunjukan suatu keanehan, angin kencang yang dingin mencucuk tulang tiba-tiba bertiup dahsyat! Ranting-ranting pohon yang besar banyak yang berderak patah, pohon-pohon besar seakan hendak tercabut dari akarnya! Lalu terjadilah sebuah keanehan, udara dan langit dihadapan Prabu Kertapati bergetar hebat, lalu terbukalah suatu tabir ghaib di udara kosong itu, dengan jantung berdebar Prabu Kertapati masuk kedalam tabir tersebut.

Anehnya didalam tabir itu seolah-olah hanya nampak hutan biasa, sama seperti hutan yang tadi sebelum masuk kedalam tabir itu, tapi Prabu Kertapati dapat merasakan aura yang berbeda, belasan pasang mata seolah sedang memperahtikannya dengan buas, dengan menenangkan diri lalu mengucap punten, Prabu Kertapati mengerahkan seluruh tenaga dalamnya pada kedua kakinya lalu melesat menuju keatas puncak gunung!

Beberapa saat kemudian, sampailah Prabu Kertapati keatas puncak gunung Patuha. Nampaklah seorang nenek tua renta mengenakan tongkat, berpakaian hitam-hitam, rambutnya putih disanggul keatas, bermata merah melotot dan mulutnya merah mengunyah sirih, tampangnya sangat menakutkan! Prabu Kertapati dapat merasakan getaran aneh yang sangat kuat dari si nenek sehingga membuanya gentar.

"Siapa yang mengantar nyawa berani datang ke tempatku tanpa diundang?!" Tanya Nenek itu dengan suara bergetar. Prabu Kertapati terkejut bukan main, jantungnya berdegup kencang, tanah yang dipijaknya seolah bergetar oleh ucapan si Nenek, tanda tenaga dalam si nenek sungguh luar biasa.

Prabu Kertapati lalu berusaha menenangkan diri, "Saya Prabu Kertapati. Raja dari negeri Mega Mendung. Ingin bertemu dengan pertapa sakti bernama Topeng Setan dan Nyai Lakbok. Kabarnya beliau adalah penghuni goa ini!"

Si nenek menyeringai menakutkan, “Kau bisa menembus tabir, berarti kau cukup lumayan hingga diizinkan lewat oleh para penghuni ghaib Gunung Patuha dihutan, sekarang katakan apa keperluanmu!"

"Saya datang untuk mohon diambil jadi murid!" jawab Kertapati sambil membungkuk memberi hormat.

Si Nenek tertawa mengkikik menegangkan bulu roma “Hihihi… Aku Nyai Lakbok tidak pernah berniat untuk mengangkat seorang murid laki-laki, aku hanya mengangkat murid perempuan untuk kuajari ilmu teluh Ngareh Jiwa! Sekarang minggat sana kau!”

Prabu Kertapati terkejut dengan ucapan si Nenek, tapi tiba-tiba terdengar suara tawa yang lebih dahsyat daripada tawa si nenek, habis tawa yang seolah mengguncangkan seluruh gunung Patuha, terdengar suara serak dan parau yang besar dari dalam Goa yang berada di tepi kawah putih “Hahaha… Adikku Nyai Lakbok, ini adalah tamuku, aku sudah menantikannya beberapa purnama terakhir ini! Persilahkan dia masuk!”

Si Nenek mendelik membuat Prabu Kertapati bergidik ketakutan, “Ayo masuk!” ucapnya dengan kasar, lalu Prabu Kertapati pun mengikuti si nenek dari belakang masuk kedalam goa tersebut.

Didalam goa yang remang yang hanya mendapat cahaya dari sebuah obor, duduklah sesosok tubuh tinggi besar berjubah hitam-hitam, kuku ditangannya panjang-panjang dan berwarna hitam, rambutnya gondrong acak-acakan sebahu, kemudian baru nampaklah wajahnya dari balik kegelapan, ternyata wajahnya ditutupi oleh sebuah topeng yang sangat mengerikan! 

Topeng itu berwarna hitam kecuali dibagian matanya yang bolong berwarna merah darah, dibagian atas alis kiri-kanan ada tanduk yang mencuat keluar, tepat dibagian bibirnya terdapat dua buah taring yang sejajar dengan masing-masing tanduk diatasnya, dibagian keningnya mengkerut tiga buah garis bagaikan orang yang sedang mengernyitkan keningnya, topeng itu tampak menyeringai, sementara dibagian matanya yang bolong, nampak dua buah bola mata yang melotot merah dari dalam wajah si pemiliknya.

Prabu Kertapati sangat ketakutan melihat sosok itu, hampir saja ia jatuh lemas karena ketakutan, namun karena ia sudah nekat sebab keadaanya yang sangat kepepet ia memberanikan diri menatap sosok mengerikan yang duduk dihadapannya. Kembali suara serak yang menggetarkan goa itu bersuara “Aku sudah tahu maksud dari kedatanganmu, aku sudah mendapat bisikan ghaib dari beberapa purnama silam, tapi sebelum aku memberikan apa yang kamu mau, apakah kau membawakan sesuatu untukku?”

Prabu Kertapati membuka bungkusan yang tadi ia lilitkan di punggungnya, bungkusan kain itu belumuran darah, didalam kain itu terdapat sebuah jantung bayi laki-laki yang dibungkus lagi oleh daun pisang “Aku mohon ampun apabila apa yang aku persembahkan pada Eyang ini kurang berkenan di hati eyang” ucapnya pelan sambil menatap kebawah.

Topeng Setan tertawa melihat jantung bayi itu “Hahaha! Kau tepat membawakan aku jantung bayi laki-laki yang berusia tujuh hari!” Prabu Kertapati menarik nafas lega, dia tahu syarat untuk menemui Topeng Setan adalah jantung bayi yang masih berusia tujuh hari.

“Aku sudah tahu maksudmu, tapi katakanlah lagi, apa maksud kedatanganmu kemari!”

“Ampun Eyang, aku ingin meminta bantuan Eyang Topeng Setan dan Eyang Nyai Lakbok agar aku dapat menguasai seluruh tanah Pasundan ini di bawah kekuasaan Mega Mendung… Namun sebelumnya aku mohon bantuan Eyang untuk membebaskan Mega Mendung dari cengkraman pasukan Padjadjaran”.

Topeng Setan memanggut-manggut “Baik, aku akan memberimu bantuan kekuatan untuk dapat merebut kembali Mega Mendung dan membantumu untuk menguasai seluruh tanah Pasundan ini, tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi dalam satu bentuk perjanjian!”

“Apa itu, Eyang?”

“Kau harus tahu bahwa perjanjian yang bernama ‘Perjanjian Wasiat Iblis’ ini akan terus berlaku sampai anak keturunanmu, jadi anak keturunanmu juga akan memikul beban dari perjanjian! Syaratnya kau harus mengorbankan bayi laki-laki putra sulungmu! Kau harus memberikan jantung bayi putra sulungmu itu padaku! Dan ini berlaku bagi seluruh keturunanmu, seluruh keturunanmu harus mempersembahkan jantung bayi laki-laki sulung! Kalau tidak, seluruh keluarga dan keturunanmu akan tertimpa bencana malapetaka! Sebagai tanda jadi, aku juga minta kau harus membunuh selirmu yang juga sedang hamil!”

Prabu Kertapati terkesiap mendengar persyaratan tersebut, ia langsung teringat pada istrinya yang sedang hamil tua, Topeng Setan menyeringai “Kau bersedia atau tidak?! Kalau kau bersedia, niscaya seluruh Pasundan akan tunduk di bawah kakimu, tapi kalau kau menolaknya, nyawamu hanya sampai disini saja!”

Mengingat kondisinya yang sudah makin kepepet maka terpaksa Prabu Kertapati menurutinya, “Baiklah Eyang hamba setuju!”

“Bagus! Sekarang seluruh balad mahluk halus di Gunung Patuha ini menjadi bala tentaramu, dengan kekuatan kami, kau akan dapat merebut kembali negerimu dengan mudah!”

Prabu Kertapati pun bersujud pada topeng setan “Terimakasih Eyang”. 

Malam itu juga Prabu Kertapati menuruni gunung Patuha, dengan kurir rahasianya dia menghubungi Patih Ki Balangnipa untuk bersiap-siap mengumpulkan kekuatan. Prabu Kertapati juga mengajak beberapa perguruan golongan hitam untuk bergabung dengannya. Pada waktu yang ditentukan, mereka pun menyerang pasukan Padjadjaran yang berada di Rajamandala dan seluruh Mega Mendung. 

Berkat batuan para tokoh silat golongan hitam dan pasukan ghaib serta ilmu hitam Topeng Setan dan Nyai Lakbok, Prabu Kertapati berhasil memukul mundur pasukan Padjadjaran dengan mudah. Tumenggung Aryakerta pemimpin pasukan Padjadjaran mati dengan mengenaskan, sementara seluruh sisa pasukan Padjadjaran yang mundur mati setelah sebelumnya menderita suatu penyakit aneh berkat teluh Nyai Lakbok yang dahsyat itu. 

Demikianlah Mega Mendung dikuasai kembali oleh Prabu Kertapati. Namun Prabu Kertapati berubah perangainya menjadi seorang raja yang bertangan besi dan senang berperang. Kendati beberapa kerajaan di pedalaman Pasundan dapat ia taklukan dengan mudah, kehidupan rakyat Mega Mendung malah berubah drastis. Rakyat menjadi banyak yang menderita akibat raja yang gemar mengobarkan perang.


***


Pada satu Malam purnama ketiga, suasana hening senyap, langit tiada berbintang dan bulan purnama pun nampak tertutup awan tipis. Tidak seperti biasanya, bulan purnama itu berwarna merah keemasan, tidak berwarna putih, sehingga bulan purnama bercahaya merah keemasan yang tertutup oleh sekumpulan awan putih tipis itu nampak sangat menakutkan bagi orang-orang yang melihatnya, tidak ada suara binatang-binatang malam pada malam itu, yang terdengar hanya suara koakan burung-burung gagak dan srigala-srigala di hutan. 

Udara malam yang seharusnya dingin sejuk, kala itu berubah mendadak menjadi panas dan sangat lembab, anehnya udara lebih panas daripada siang siang hari. Sejak senja tadi orang-orang sudah tidak ada yang berani keluar, bahkan para pemuda yang biasanya suka meronda malam, tidak ada yang berani untuk meronda. Para penduduk negeri Mega Mendung tidak ada yang berani keluar ataupun hanya sekedar melongok dari jendela rumahnya. Fenomena alam yang serba aneh dan mengerikan Inilah yang menurut orang tua dimasa lalu dinamakan peristiwa Bulan Kabangan.

Begitu pula halnya dengan keadaan di Keraton Mega Mendung, sebuah negeri yang telah menerima masuknya Islam namun sistem ketatanegaraannya masih bercorak Hindu-Budha, walaupun kebanyakan penduduknya memeluk agama leluhur (yang juga sudah mulai ditinggalkan berganti memeluk Islam). Meskipun keadaan di sana nampak sangat sepi tidak seperti malam-malam biasanya, keadaan di sana nampak terang benderang dari lampu-lampu yang dipasang disetiap sudut dan jalan Keraton, para prajurit tetap berada di posnya masing-masing untuk menjaga keamanan Keraton.

“Malam yang aneh dan menakutkan, jarang-jarang terjadi peristiwa Bulan Kabangan beberapa tahun ini, bahkan selama dua puluh tahun hidupku, aku belum pernah melihatnya” ucap salah seorang prajurit dari dua penjaga gapura pintu gerbang keraton pada temannya.

“Kau benar, bulu kudukku juga berdiri melihat peristiwa ini, apalagi kudengar suara kaokan burung gagak dan lolongan anjing hutan... Bukan itu bukan anjing hutan, tapi lolongan srigala yang tiada hentinya... Menurut orang tua dulu, Bulan Kabangan adalah suatu pertanda tidak baik, akan peristiwa buruk atau suatu malapetaka!” sahut kawannya.

“Kalau kau berkata begitu, aku jadi khawatir dengan keadaan kita dan nasib seluruh negeri ini, esok lusa kita akan menggempur kerajaan Sancang diselatan sana, bagaimana kalau kita kalah dan Sancang balas menyerbu Negeri kita? Belum lagi kalau Padjadjaran menyerbu kita karena jelas-jelas Raja kita berontak pada kekuasaan Prabu Suriawisesa! Atau yang lebih buruk lagi kalau gabungan pasukan Banten dan Cirebon yang menyerang!”

“Boleh jadi, tapi sebaiknya kita tidak terlalu mengkhawatirkan semua itu, Raja kita adalah Raja yang sangat sakti mandraguna, apalagi kita dibantu oleh tokoh-tokoh silat sakti dari daerah selatan.”

“Tapi aku tetap merasa tidak tenang Kang!” balas kawannya yang masih nampak gelisah dan ketakutan karena peristiwa bulan kabangan ini.

“Kalau begitu kau harus yakin pada takdir Gusti Allah, kalau Gusti Allah menghendaki kita menang, kita pasti akan menang!” ujar kawannya membesarkan hati kawan jaganya itu.

“Justru itulah yang aku takuti Kang, sudah satu tahun ini, semenjak gusti Prabu senang bertapa, dia tidak mengizinkan adzan berkumandang di Kotaraja ini, itu artinya kita juga dilarang untuk beribadah shalat padahal itu adalah kewajiban kita selaku umat muslim! Bukankah Sang Prabu sudah menerima dan mengizinkan Islam menyebar di Mega Mendung ini, kenapa dia melarang kita beribadah?! Apalagi tokoh-tokoh silat yang membantu kita dari golongan hitam semua yang sesat! Aku khawatir peristiwa Bulan Kabangan ini adalah suatu pertanda yang akan melanda kita semua!”

“Ssst.... Hati-hati kalau bicara!” desis kawannya sambil menempelkan jari telunjuknya pada mulutnya, “Kita ini hanya orang kecil saja yang harus tunduk pada Raja kita, kita ini hanya prajurit yang harus mengikuti semua perintah raja kita! Sudah, waktu jaga kita sudah habis, sebaiknya kita beristirahat untuk perjalanan esok ke Sancang, jangan bicarakan hal ini lagi agar tidak menjadi sugesti buat kita!”

Kawannya hanya bisa mengangguk-ngangguk saja walaupun kegelisahan masih nampak jelas diwajahnya “Baiklah Kang, ayo kita beristirahat, itu para prajurit pengganti sudah datang”. Merekapun lalu berlalu setelah dua orang prajurit pengganti datang menggantikan tugas mereka.

Asap dupa membumbung tinggi menghamparkan aroma dupa bercampur kemenyan. dihadapan pendupaan besar itu, duduk seorang pria berkumis melintang, berpakaian ringkas hitam, rambutnya yang panjang digelung keatas kepalanya. Mata pria ini terpejam, dia duduk dengan sikap semedi. Pria itu tak lain adalah Kertapati, sang Prabu dari kerajaan Mega Mendung yang saat ini sudah mulai berani secara terang-terangan memberontak pada kerajaan Padjadjaran setelah sebelumnya dia hanya berani menunjukan sikap pembangkangannya pada Prabu Suriawisesa dengan hanya telat menyerahkan upeti bulu bekti dan mengurangi jumlah upetinya pada Kotaraja dengan berbagai alasan.

Sudah tiga hari tiga malam dia bersemedi di ruangan pusaka kerajaan. Dia bersemedi ditengah-tengah ruangan pusaka kerajaan dengan dikelilingi berbagai benda dan senjata pusaka milik kerajaan Mega Mendung, tidak ada seorangpun yang berani mengganggu semedi sang Prabu. Dalam khusuknya semedi Sang Prabu, tiba-tiba angin deras berseoran di ruangan pusaka kerajaan itu dengan suara yang menggidikan, lalu terdengar suara ringkikan-ringkikan dan tawa yang menyeramkan tak tahu darimana asalnya, semua benda-benda pusaka di ruangan itu bergoyang-goyang!

Di antara keanehan-keanehan tersebut, tiba-tiba sebilah keris yang berada dihadapan Sang Prabu melayang keudara, lalu berputar-putar sebanyak tujuh kali diatas kepala Sang Prabu. Perlahan Sang Prabu membuka kedua matanya, diambilnya serangkum bunga tujuh rupa dari sebelahnya lalu dimasukan kedalam bara pendupaan, sehingga kini aroma pendupaan itu bercampur juga dengan aroma bunga tujuh rupa. Saat itu juga keris yang tadi melayang-layang dan berputar-putar diatas kepalanya turun keatas pangkuannya.

Sang Prabu mengambil keris itu dan disentuhkan ke keningnya, lalu dia membuka keris itu dari sarung atau warangkanya, keris itu berhulu gading, terbuat dari baja berumur seribu tahun dari dasar kawah gunung Krakatau, bereluk sembilan, ditengahnya tergambar ukiran naga dan ujung runcing keris itu tepat merupakan ujung lidah naga yang menjulurkan lidahnya di ukiran keris tersebut. Keris itu mengeluarkan hawa yang sangat panas serta sinar terang berwarna biru menggidikan! Seluruh ruangan yang tadinya redup yang hanya diterangi oleh empat buah lampu kecil disetiap sudut ruangan kini menjadi terang berwarna biru akibat cahaya yang keluar dari keris yang menandakan bahwa keris itu bukan suatu senjata mustika biasa!

Sang prabu lalu mencium bagian tengah keris itu, lalu dia berkata “wahai keris Kyai Segara Geni, mustika yang telah turun temurun melindungi trah penguasa Kerajaan Mega Mendung, tolonglah berikan kekuatanmu padaku untuk mengalahkan semua musuh-musuhku! Lindungilah kami para penduduk Mega Mendung!”, sekejap keluar api berwarna biru dari dalam tubuh keris itu bagaikan membakar tubuh keris itu, sesaat kemudian api berwarna biru itu pun padam. Setelah mengucapkan itu, dia menyimpan kembali keris pusaka tersebut pada sarungnya dan disentuhkan lagi pada keningnya sambil membungkuk, seolah dia bersujud pada keris pusaka tersebut.

Baru saja dia selesai, tiba-tiba terdengar suara serak dan parau yang besar dari sebuah sudut ruangan yang gelap “Bagus Prabu! Sekarang Eyang dialam Arwah sudah merestui dirimu untuk menjadi penerusnya, dia berjanji akan melindungi seluruh daerah kekuasaan Mega Mendung!” 

Sang Prabu membalikan tubuhnya dan memandang kearah suara itu. Sesosok tubuh tinggi besar berjubah hitam-hitam serta mengenakan topeng berwajah setan yang amat menyeramkan tiba-tiba muncul di sebuah sudut ruangan tersebut yang sangat gelap.

Sang Prabu usap-usap kumisnya yang melintang dan dagunya, dia lalu membuka mulutnya “Tentu saja itu yang aku harapkan Eyang Topeng Setan,” ucapnya pada orang bertopeng mengerikan itu.

“Tapi kau harus ingat Prabu, kau baru membunuh salah seorang selirmu yang sedang hamil saja, kau juga harus membunuh putra sulungmu dari permaisuri tuamu yang akan segera lahir dalam malam ini sebagai tumbal! Baru Eyang di alam arwah akan merestui dan membantumu untuk menghancurkan Cirebon dan Banten, sehingga kau dapat menguasai seluruh tanah Pasundan ini!”

Sang Prabu mangut-mangut, dipelupuk matanya masih tergambar jelas bagaimana dia membunuh selirnya yang sedang hamil empat bulan dengan pedang pusakanya sendiri yang dia lakukan dengan terpaksa, ditengah rasa bimbang karena hausnya ia akan kekuasaan! Kini si Topeng Setan yang menjadi perantara antara dirinya dengan Eyang Di Alam Arwah yang berjanji untuk membantunya, meminta tumbal yang kedua, yaitu membunuh anak sulungnya yang akan segera lahir, begitu bayi itu dilahirkan, dia harus langsung membunuhnya! “Ya tentu saja aku ingat Topeng Setan,” jawabnya.

“Bagus! Sekarang susunlah rencanamu untuk menyerang Negeri Sancang, Eyang di Alam Arwah akan membantumu sehingga kau akan menang dengan mudah! Tujuh hari dimuka setelah kau menghancurkan Sancang, kau harus segera membunuh bayi putra sulungmu itu!” tukas si Topeng Setan yang lalu menghilang bagaikan asap ditiup angin. Sang Prabu bangun dari duduknya lalu melangkah keluar dari ruangan pusaka itu.