Episode 19 - Makhluk Bersayap



Cuaca dingin menandakan musim gugur perlahan berganti dengan musim dingin. Namun, alasan utamanya adalah karena iklim yang perlahan mulai berubah. Setelah beberapa minggu tidak mengalami hujan, kota yang harusnya dipenuhi dengan pasir itu seharusnya mengalami kekeringan. Seharusnya seperti itu.

“Sekali lagi akan kukatakan, jika sudah tidak ada pilihan lain kita akan melompat ke sungai.” Sambil berlari secepat mungkin, gadis pendek yang menanggung semua tanggung jawab itu berlari sambil mengatur napas. 

Setelah bertahun-tahun latihan fisik dan turun melakukan misi di lapangan, berlari satu sampai dua jam bukanlah hal yang sulit. Neil, Navi, dan Baron mengikuti di belakang.

Setiap getaran bisa dirasa semakin membesar, menandakan Sky Chaser, makhluk dengan sepuluh pasang kaki yang seperti kelabang dengan kulitnya yang seperti kulit armadillo itu mendekat. Kaki-kakinya yang kuat dan tajam bisa digunakan untuk memanjat tebing seperti apa pun rupanya.

“Tim sniper tahan tembakan!” Noxa berbicara kepada Faye melalui alat yang terpasang di telinga. 

Dengan angin kencang yang melawan arah, membuat beban pada kaki untuk berlari dan mata untuk melihat. Karena ini juga, Noxa bisa tahu sesuatu melayang di atas kepalanya. Melihat benda yang terjatuh itu terbanting beberapa kali sebelum akhirnya meledak, membuat gerakan mereka semua berhenti.

Satu mobil meledak bukan berarti seluruh jalan jembatan itu tertutupi. Ada kemungkinan jika mereka melanjutkan, makhluk yang sedang mengejar mereka akan melakukan hal yang sama. 

“Ciih!”

Melihat Sky Chaser yang gerakannya tiba-tiba berhenti pun membuat rasa waswas semakin bertambah. Makhluk itu berjalan perlahan ke pinggir, kemudian mulai melakukan hal yang sedikit aneh.

“Siapkan senjata kalian!” perintah Noxa setelah mengira apa yang akan terjadi beberapa saat ke depan. “Aku akan mengambil tasnya, kalian semua coba tarik perhatiannya.”

Tiga orang yang mendengarkan perintah itu mengangguk tanpa bertanya. Melihat ekspresi pasrah Noxa saat ini, sepertinya apa yang dibicarakan Neil memang benar. Makhluk itu bisa terbang, tapi bagaimana? Sebentar lagi mereka akan mengetahuinya.

“Semua anggota yang ada di dalam gedung akan kesulitan kabur. Di sisi lain, kita juga punya masalah sendiri. Ambil ini!” Noxa memberi salah satu dari dua bom yang dipegangnya pada Neil. Dalam kondisi seperti ini, akan sangat sulit untuk memegang senjata bagi Noxa. 

Bom asap yang diterima Neil ditaruhnya di sabuk. Walaupun tak memberi serangan, untuk menarik perhatian dan bersembunyi sangatlah efektif. 

Tubuh Sky Chaser mulai bergetar. Kulitnya yang berwarna hitam kecoklatan mulai bergelambir, naik dan turun. Mengubah susunan kulit dan menggantinya dengan yang baru adalah salah satu kemampuannya, tapi kali ini sedikit berbeda. Celah-celah kecil mulai nampak berhubungan satu sama lain membuat garis yang cukup besar. Seperti sebuah lalat, sayapnya berjumlah tiga pasang itu terlihat memiliki warna-warni pelangi. Ukurannya yang jauh lebih besar dari tubuh Sky Chaser sendiri tercipta untuk menampung beratnya yang sampai ratusan ton.

Satu atau dua kepakan, cukup untuk menghapuskan awan di langit yang cerah. Makhluk besar itu mengambil kecepatan yang cukup sebelum akhirnya ia melompat dan benar-benar terbang bagai kupu-kupu. Keindahan sayapnya saat terbuka hanya menimbulkan rasa cemas bagi semua orang yang melihatnya. 

Setelah menguasai lautan dan daratan, hanya masalah waktu sampai Outsiders juga menguasai udara juga. Dengan kondisi umat manusia yang dunianya sudah sekarat, kemungkinan menang hampir tidak ada. Setelah para peneliti mengungkapkan kalau evolusi Outsiders akhir-akhir ini jauh lebih cepat, manusia harus bersikeras berjuang melawan hal itu.

Tentu saja ini baru awalnya. 

Seketika Noxa mulai berlari, Neil, Navi, dan Baron segera berlari ke pinggir jembatan dan menunduk. Pembatas jembatan mereka gunakan untuk bersembunyi. Sambil menunjukkan sebagian tubuh, satu persatu peluru dtembakkan bergantian, tapi saat sadar kalau tak satu pun peluru berhasil menyentuh tubuhnya, Neil menyuruh mereka berdua berhenti.

Angin yang kuat tidak hanya memperlambat kecepatan peluru, tapi mengubah arah jalur pelurunya juga. Senjata yang mereka gunakan sejak awal memang bukan untuk memburu burung yang sedang terbang. Apa yang mereka lakukan tidak berguna.

Terjun ke sungai atau berlari ke sisi jembatan bukan lagi sebuah pilihan yang bagus. Sky Chaser bisa dengan cepat mengejar ketika mereka berlari.

Selagi Neil ikut mencari cara agar mereka semua bisa keluar, suara yang tak asing terdengar di kepalnya. 

Bukankah kau seharusnya menyelamatkan gadis pendek itu?

Itu bukan hanya sekedar insting. Setelah bertahun-tahun bersama dengannya, Neil tidak punya pilihan lain selain mempercayainya. 

“Rem!!” teriak Neil sambil membuang senjata ke laut dan segera berlari. 

“N-Neil, kau… ingin ke mana?” 

Noxa yang kakinya paling cepat mencapai menara jembatan. Saat ia meihat tas yang terletak di lantai, ingatannya kembali. Pemicu yang harusnya dipegang saat ini tidak ada di dalam tas karena saat itu ia memberikannya pada Baron. Pertanyaannya adalah, apa Baron pernah memberikannya kembali? Setidaknya, Noxa ingat tentang hal itu. Situasinya yang tiba-tiba menegangkan membuat ingatannya menjadi rusak meski kejadiannya baru beberapa menit yang lalu.

Senjata yang digantung di punggung ia pegang dengan kedua tangan, lalu tasnya digendong. Berpikir bahwa peluru tidak berguna, maka satu-satunya kesempatan yang ia miliki hanya semua bom yang ada di dalamnya. Melihat kondisi amunisi yang sangat terbatas, membunuh Sky Chaser sangatlah kecil kemungkinannya. Satu-satunya cara adalah…

“Menjatuhkannya, ya?” Noxa mengalihkan pandangan pada Sky Chaser yang sedang memiringkan tubuhnya. 

Kecepatan makhluk itu saat terbang tidak berbeda jauh dengan saat berjalan menggunakan kesepuluh pasang kakinya. Sesekali sayapnya mengepak dengan kuat. Jika dilihat dari luar, tidak jauh berbeda dengan cara burung terbang pada umumnya. Karena itu Noxa bisa menemukan kelemahannya dengan cepat. 

Setelah Sky Chaser terbang, makhluk itu tidak akan bisa berhenti di satu titik dan terus maju. Dengan kata lain makhluk besar itu akan sangat kesulitan untuk mendarat karena kemampuannya jauh dari kata sempurna. Butuh landasan yang sangat panjang agar dia bisa mendarat tanpa menabrak sesuatu. Yang lainnya adalah, dia tidak memiliki ekor—bagian yang terpenting dari burung agar bisa berbelok dan menukik tajam ke bawah. Untuk itu, dia harus memiringkan tubuh sampai 45 derajat agar bisa berbelok dengan kecepatan yang sangat terbatas. Ini menjelaskan kenapa Sy Chaser menetap di tempat terbuka seperti jembatan. Sky Chaser yang pernah Noxa temui dulu tinggal di tempat yang jauh lebih tinggi.

Setelah memikirkan itu, Noxa kembali mempunyai pilihan. Sayapnya yang masih belum berkembang itu tidak akan sanggup menahan bobot tubuh yang beratnya ratusan ton. Noxa berani bertaruh kalau makhluk itu hanya bisa bertahan selama kurang dari lima menit. Meski belum menyelesaikan misi, melompat ke sungai bisa menjadi pilihan kembali.

“Rasanya aneh aku terobsesi ingin lompat ke sungai.” Saat Noxa kembali fokus, sekelibat bayangan sudah ada di dekatnya. “Huh?! Ne—”

Terlalu cepat. Mungkin, jauh lebih cepat dari angin, tapi tentu saja itu hanya halusinasinya. Neil yang seharusnya berjarak berpuluh-puluh meter darinya saat ini sangat dekat dengannya. Saking dekatnya, tubuh kecil Noxa hampir terjatuh hanya karena kehadirannya.

“Minggir!” Neil berbisik dengan pelan dan mematikan. Sedingin es, setajam pisau.

Mata Neil memerah. Lebih merah dari syal yang dikenakannya. Walaupun ini sudah yang kesekian kalinya, setiap kali Noxa melihat matanya yang seperti darah itu, ia selalu merinding ketakutan. Itu alasan utama kenapa Noxa meminta Navi untuk mengawasinya. Saat-saat seperti ini, Neil tidak terlihat seperti manusia sedikit pun.

Berserk Mode milik Neil aktif, tapi karena apa? Normalnya hal ini terjadi karena ia mendapati luka serius, syal miliknya rusak, sahabatnya dalam bahaya, atau bisa juga Ia tidak bisa mengendalikan hal itu. Sampai itu terjadi maka seseorang akan mati di tangannya.

Neil menopang tubuh Noxa dengan tangan kiri. Saat itu juga tangan yang lain Neil, mengayunkan pisau dengan cepat dari bawah ke atas.

“Huh?!”

Ketika Noxa berpikir bahwa tubuhnya ditembus sebuah pisau, tas yang digendongnya terlepas dan di lempar sekuat mungkin ke arah laut oleh Neil.

Neil menggenggam erat jaket Noxa. Tanpa memperhitungkan kekuatannya dan mempedulikan tubuhnya yang kecil, Neil melempar Noxa ke arah yang berlawanan sebelum akhirnya semua bom yang ada di dalam tas itu benar-benar meledak. 

Neil dan Noxa terlempar cukup jauh sampai ke pembatas sisi seberang jembatan. Akibat terlempar, jaket dan tubuh Noxa tergores-gores. Semuanya terjadi begitu cepat sampai-sampai Noxa tidak bisa menggenggam apa yang baru saja terjadi. Noxa memutar-mutar kepala karena sedikit merasa pusing. Tubuhnya bersandar pada pembatas jembatan. Kakinya yang lemas tak bisa ia gerakan atau gunakan untuk berdiri.  

Beberapa detik saat Neil datang, seluruh bom yang ada di tasnya meledak. Jika itu sebuah kebetulan, maka tidak mungkin Neil akan datang dan menyelematkannya. Karena itu, satu-satunya yang paling masuk akal adalah pemicunya aktif. 

Napas Noxa terasa sangat barat ketika melihat Neil yang terbaring tak sadarkan diri di hadapannya. Punggungnya yang terbakar penuh dengan darah merah. Hampir sebagian syal merahnya berubah menjadi hitam. Tidak mungkin dirinya bisa menahan diri setelah ini. Noxa mengeratkan giginya dengan kuat. Amarah yang memenuhinya belum pernah sampai setinggi ini. Ia tidak percaya kalau salah satu anggotanya akan mengkhianatinya.

“BAAROON!! KAU!! APA YANG KAU LAKUKAN?!” Noxa berteriak sebagai peredam rasa marahnya, tapi sedikit pun hal itu tidak berguna. Pandangannya berganti pada Neill yang ada di hadapannya. 

“N-Neil…!” Noxa berteriak dengan sisa tenaganya. Dengan kedua tangan, Noxa merangkak mendekati Neil. “N—Neil…!”

Sebelum Noxa berhasil mencapai Neil, gadis yang seharusnya sudah mati itu membuka kedua mata. Dengan bantuan kedua tangan, Neil bisa berdiri kembali sambil menahan semua rasa sakit yang ada. Kepala yang berdarah, punggung yang terbakar, dan telapak tangannya yang robek. 

“Syalnya lagi-lagi terbakar! Karena inilah aku sangat membenci mereka,” ucap Neil masih dalam Berserk Mode-nya. Telapak tangannya yang berdarah di dekatkan pada hidung. Setelah kesadarannya kembali, denyut jantungnya meningkat.

Sakit. Sangat sakit. Untuk pertama kalinya, Neil merasa sangat kesakitan. Sangat sakit sampai-sampai ia ingin menangis dengan sangat keras. Sampai ia ingin berteriak menggunakan seluruh tenaganya. Namun, ia tidak bisa. Tubuhnya saat ini tidak bisa dikendalikan oleh orang lain. 

“N-Neil… kau tidak apa-apa?” tanya Noxa bukan hanya diliputi oleh rasa khawatir, tapi juga takut. Setelah mengalami luka separah itu, tidak mungkin seseorang masih bisa sadar apalagi berdiri. 

Merasa kesulitan menghirup udara, Neil membuka mulut lebar-lebar untuk bernapas. “Karena kau aku hampir mati!” Dengan mata yang melebar dan pupil mengecil, Neil mengucapkannya. 

Pada saat itu juga, Noxa tahu bahwa yang berbicara padanya bukanlah Neil, melainkan orang lain. Akan tetapi, itu tidak mengubah fakta.

Neil mengambil pisau miliknya yang berada di lantai dan juga bom kecil yang seharusnya dipegang Noxa. Kemudian, ia berjalan pincang ke pinggir jembatan sambil memperhatikan Sky Chaser yang masih terbang di udara. Menunggu sampai sedekat mungkin adalah pilihan yang paling bagus.

“Berjalan sulit, bernapas sulit, berbicara pun sulit…! Menyebalkan sekali!” Neil mengabaikan Noxa yang duduk di tanah. Pandangannya tak lepas dari Sky Chaser yang saat ini menjadi buruannya. “Seharusnya, kau mengandalkanku dari tadi!” Neil berbicara pada dirinya sendiri.

Saat Sky Chaser berada di posisi yang sempurna, Neil melempar pisau sekuat tenaga, setelah itu ia melempar bomnya juga. Situasi harus melakukan otaknya bekerja dengan cepat dan melakukan hal yang mustahil dilakukan oleh orang lain. 

Saat bomnya meledak, pisaunya berputar menggores sebagian sayapnya dan menancap. Bukan hanya melukainya, tapi juga mengganggu keseimbangannya. Dengan sayap yang tidak sempurna, goresan kecil seperti itu seharusnya sudah cukup membuat kesulitan untuk terbang. Hampir sama seperti ikan dengan sirip yang cacat. 

Tubuh Sky Chaser miring sambil menukik ke bawah. Kepalanya yang keras menabrak jembatan cukup kuat hingga menggetarkannya. Kondisinya yang tiba-tiba berhenti membuat tubuhnya tertarik oleh gravitasi hingga jatuh ke sungai. Sayapnya sudah lagi tak berguna.

Saat getaran terjadi, tubuh Neil terjatuh dan tak sadarkan diri.