Episode 171 - Jamu Babak Perunggu


“Hei, Bintang Tenggara! Bagaimana kau bisa demikian yakin!?” hardik Canting EMas. “Kita justru melangkah menjauh dari wilayah reruntuhan….”

Lima Murid Utama yang masih berada pada Kasta Perunggu dari Perguruan Gunung Agung, melangkah membelah derasnya hujan. Setiap satu dari mereka mengenakan mantel. Uap dari napas terlihat mengepul, lalu menghilang dibawa angin. 

“Aku merasakan keberadaan formasi segel dari pohon besar itu…,” jawab Bintang Tenggara setengah berbohong. Memang benar anak remaja itu merasakan keberadaan formasi segel, namun sebelumnya arah menuju pohon nan besar itu dipandu oleh kesadaran Ginseng Perkasa. 

“Aji Pamungkas,” hardik Canting Emas lagi. “Apakah ada tanda-tanda akan sesuatu yang membahayakan dari celah itu?” Gadis tersebut menunjuk ke arah batang pohon besar di depan mata. Memang benar, pada batang besar pohon itu terdapat sebuah celah yang cukup besar, bahkan terlihat seperti goa. 

Aji Pamungkas menebar mata hati. “Ca-Em, diriku tiada merasakan adanya bahaya dari dalam celah tersebut. Jikalau memang dikau hendak saling menghangatkan tubuh di sana, maka diriku tiada berani menolak.”

“Mati saja kau!” umpat Canting Emas sambil mempercepat langkah. Yang lainnya pun segera menyusul masuk ke dalam batang pohon nan besar. 

“Ruangan di dalam celah pohon ini cukup besar,” gumam Canting Emas sambil mengeluarkan beberapa bongkah batu kuarsa sebagai penerangan seadanya. 

Bintang Tenggara segera menekuk lutut. Pada permukaan tanah di dalam pohon tersebut, melingkar sebuah formasi segel yang diselingi jalinan akar besar-besar. 

“Sahabat Bintang, dapatkah dikau mengurai formasi segel ini?” 

Bintang Tenggara tiada menjawab pertanyaan Panglima Segantang. Ia sudah tenggelam di dalam konsentrasi mengamati symbol-simbol di dalam formasi segel tersebut. Jemarinya kemudian bergerak-gerak lincah, terkadang memutar, terkadang seolah menarik garis lurus.

Beberapa menit berlalu. Bintang Tenggara masih terlihat sangat sibuk. Akan tetapi, sepertinya ia belum juga dapat mengurai formasi segel tersebut. Dalam benak anak remaja tersebut bertanya-tanya… apakah cara membuka formasi segel dengan mengurai simbol-simbol yang ada? Aaukah terlebih dahulu menyusun segel kunci sebagai medium untuk membuka…?

“Kakek Gin, bagaimanakah kiranya membuka formasi segel ini…?”

“Hohoho… Kukira Nak Bintang tiada akan bertanya,” jawab Ginseng Perkasa cepat. “Sangatlah mudah adanya…”

Bintang Tenggara menghentikan upaya mengurai formasi segel tersebut. Ia sudah dapat memperkirakan cara membuka, akan tetapi pastilah jauh lebih cepat bila dipandu oleh sang kakek.

 “Nak Bintang, untuk membuka segel ini, maka gadis itu hendaknnya mengangkat lengan agar ketiak indahnya dapat terlihat!” 

“Omong kosong!” bentak Komodo Nagaradja. Ingin rasanya ia meninju kepala Ginseng Perkasa. Namun apa daya, mereka berdua hanyalah jiwa dan kesadaran tanpa raga. 

“Dikau jangan ikut campur!”

“Kau urai sendiri saja formasi segel itu. Jangan berharap pada si cabul ini!” hardik Komodo Nagaradja kepada muridnya. 

Satu jam berlalu. Sebentar lagi hari beranjak petang. Gumpalan awan masih berat adanya, dan tiada akan terurai dalam waktu dekat. Hembusan angin sejuk dan tempias air hujan menrangsek ke dalam celah batang pohon besar dimana kelima remaja berteduh. 

“Swush!” 

Bintang Tenggara berhasil membuka formasi segel di dasar celah pohon. Kelima remaja segera merasakan kehadiran lorong dimensi. Tetiba mereka terperosok ke dalam!

“Jangan… ada… sesiapa pun… yang… bergerak…,” bisik Canting Emas, siaga.

“Hm….” Panglima Segantang segera mengeluarkan secarik kertas lusuh dari dalam kantong celananya. Mulutnya berkomat-kamit hampir tanpa suara. 

Aji Pamungkas mengeluarkan busur besar Mahligai Rama-Shinta dari dalam batu Biduri Dimensi di ibu jari tangan kiri. Berbeda seperti biasanya, kali ini ia tiada meneriakkan nama busur romantis tersebut. 

Kuau Kakimerah menenggak sebotol ramuan. 

Bintang Tenggara masih membelalakkan mata di kala mengamati sekeliling. Mereka tiba di tengah hutan nan gelap dan lembab. Siapa nyana, formasi segel yang dirinya urai merupakan lorong dimensi ruang. Kelima anak remaja tersebut kini berada tepat tengah-tengah sarang binatang siluman!

Bau amis kental menyengat indera penciuman. Percikan darah berceceran ke semerata penjuru. Sekawanan binatang siluman, ratusan jumlah mereka, terlihat beringas ketika saling berebutan menyantap buruan. Bentuk tubuh mereka hampir sebesar kambing dan berwarna hitam legam. Mereka bergelut dan menggeliat mencari ruang demi mendapat bagian tubuh buruan. Suara yang dikeluarkan dari setiap satu binatang siluman tersebut, melengking sehingga membuat bulu kuduk berdiri….

“Binatang siluman Tikus Pemburu Darah…. Setara Kasta Perak.” Canting Emas telah mengenakan Zirah Rakshasa. 

Seekor tikus mengangkat kepala. Hidung dengan surai panjang-panjang bergerak-gerak mengendus-endus ke udara. Tak lama, ia menoleh ke arah kelima remaja. Bunyi mencicit yang melengking terdengar nyaring ketika ia mendapati keberadaan manusia hanya sekira dua puluh langkah dari kawanan. Ratusan tikus lain, yang tak kebagian santapan, menoleh cepat! 

“Hop!” 

Bersamaan dengan datangnya gelombang kawanan Tikus Pemburu Darah, Bintang Tenggara melenting tinggi lurus ke udara. Lengan kanan direntangkan jauh, telapak tangan membuka sambil mengayun ke depan. Tindakan ini ia lakukan karena yakin bahwa Panglima Segantang baru saja selesai merapal puisi pemanggilan.

“Dewi Anjani!” sergah Ginseng Perkasa terkejut. 

“Mustika Pencuri Gesit!” 

Gagang dari bilah angin, yang tadinya melayang berputar mengelilingi perempuan yang banyak ditikam senjata tajam, tiba di dalam genggaman tangan Bintang Tenggara. Anak remaja itu lalu menebas deras ke arah kawanan Tikus Pemburu Darah yang melesat cepat. Hanya dalam satu kedipan mata, puluhan ekor telah merangsek sekira sepuluh langkah. Hanya dalam satu kedipan mata pula, puluhan ekor binatang siluman terdepan terpenggal, dan puluhan ekor pada baris kedua menderita luka sabet. Meskipun demikian, tikus-tikus pada barisan ketiga tiada menghentikan langkah! 

Kuau Kakimerah merangkai jalinan rotan berduri untuk menghambat gelombang serangan tikus. Lalu, ia segera berlari. Aji Pamungkas telah terlebih dahulu berlari mundur. Benar, kecepatannya berlari mundur tiada tara. Tikus-tikus yang melompati jalinan akar menjadi sasaran empuk panah-panah bermuatan unsur kesaktian angin. 

Canting Emas dan Panglima Segantang berlari sambil bersiaga di kedua sisi. 

Bintang Tenggara melompati beberapa Segel Penempatan sebelum mendarat di belakang Kuau Kakimerah. Ia berlari paling belakang. Berbekal pengalaman melarikan diri tingkat tinggi, maka dirinya memang yang paling cocok berada pada posisi buntut. 

Tanpa pertukaran kata-kata dan tanpa aba-aba, kelima anak remaja bekerja sama demikian apik. Masing-masing sudah sangat memahami kelebihan dan kekurangan kawan. 

Kawanan Tikus Pemburu Darah menyebar. Formasi mereka bergerak membentuk mirip huruf ‘U’. Langkah mengejar mereka teramat sangat lincah dan cepat. 

“Terus berlari!” teriak Canting Emas memacu langkah. “Kawanan Tikus Pemburu Darah terbiasa berburu dalam kelompok. Mereka berniat mengepung dari belakang dan kedua sisi!” 

“Crash!” 

Panglima Segantang mengayunkan parang besar Taring Raja Lalim. Tiga empat ekor Tikus Pemburu Darah terbelah hangus oleh bilah besar berwarna jingga. Meskipun setara Kasta Perak, tikus-tikus itu dapat dengan mudahnya dijagal! 

Di sisi kiri, Canting Emas bergerak lincah menebas kawanan yang hendak mengepung. Aji Pamungkas lalu melesatkan anak-anak panah untuk menghabisi tikus-tikus yang terpental akibat sabetan Kandik Agni. 

Bintang Tenggara melempar sejumlah Segel Petir untuk menghentikan gerakan Tikus Pemburu Darah. Ketika tikus terdepan terhenti seketika, tikus di belakangnya menabrak dan mereka terjatuh berjumpalitan. Kendatipun demikian, mereka segera bangkit dan terus mengejar. 

Jalinan rotan berduri Kuau Kakimerah hanya efektif di saat-saat awal. Tikus-tikus telah terbiasa dapat dengan mudahnya memutar atau memanjar rotan-rotan. Langkah mereka hanya sedikit terhambat. 

Kelima anak remaja terus memacu langkah. Mereka terpaksa bertarung sambil berlari. 

“Oh, Ginseng Perkasa…?” sapa Dewi Anjani.

“Hei, Komodo Nagaradja!” hardik Ginseng Perkasa. “Bilamana Nak Bintang merupakan cucu dari Gemintang, bagaimana ceriteranya dikau bisa menjadi gurunya…? Bagaimana pula perempuan berketiak buruk ini menjalin kesepakatan dengannya!?”

“Kau yang membuat muridku terperosok ke dalam perangkap… beraninya engkau bertanya hal tak penting di saat genting!”

“Hm… bukankah dikau mengetahui bahwa markas ini telah diambil-alih oleh Raja Angkara? Tentulah masih tersisa binatang siluman di dalamnya. Sepertinya mereka beranak-pinak di dalam sini…,” jawab Ginseng Perkasa, tak hendak dipersalahkan. 

“Sampai hati dikau menghina daku yang hidup sunyi sepi sendiri…,” kesah Dewi Anjani.

“Kakek Gin… ke arah manakah kami dapat berlindung…?” aju Bintang Tenggara sambil menghunuskan Tempuling Raja Naga. Dengan lincah dan akurat ia menikam tikus-tikus yang yang melompat mendekat. 

“Berlarilah lurus ke depan. Terdapat sebuah menara di mana kalian dapat memanjat dan berlindung.”

Seperempat jam berlalu. 

“Mereka seperti tiada habisnya!” keluh Aji Pamungkas. Peluh membasahi pakaiannya. 

Kuau Kakimerah terlihat sangat penasaran. Ia terus mengamati sekeliling di kala berlari. Pepohonan mulai tumbuh jarang-jarang. Berkas sinar mentari mengintip dari celah-celah dedaunan. 

“Bangunan apakah itu!?” Canting Emas melihat sesuatu yang menjulang tinggi di ujung hutan. 

“Menara!” jawab Bintang Tenggara. Ia mempercepat langkah. 

Seperempat jam kembali berlalu. Pertarungan sambil berlari terus berlangsung. Kawanan tikus yang lapar, terus merangsek beringas mengejar. Taring-taring mereka panjang, napas menderu. Setiap satu dari mereka menantikan santapan daging manusia nan lembut lagi nikmat.

Kelima anak remaja melompat keluar dari dalam hutan. Mereka tiba di hamparan padang rerumputan yang memisahkan hutan dengan menara dimaksud. Terlihat sejumlah binatang siluman sedang merumput. Di belakang, tetiba kawanan Tikus Pemburu Darah memperlambat pengejaran. Mereka terlihat ragu, dan pada akhirnya berhenti mengejar.

“Bahaya!” teriak Kuau Kakimerah yang sedari tadi mengamati sekeliling. “Sarang Elang Laut Dada Merah!” 

“Hm…? Bahkan menara itu didiami oleh binatang siluman…,” gumam Ginseng Perkasa.

“Tingkah-polahmu membuat kesabaranku semakin lama semakin menipis….” Komodo Nagaradja menggeretakkan gigi. 

“Andai saja mereka dapat mencabut satu lagi gagang senjata….” Dewi Anjani penuh harap.

Empat atau lima ekor Elang Laut Dada Merah terbang berputar tinggi di udara. Tak diragukan lagi, mereka sudah dalam keadaan siap berburu!

“Kuau,” seru Bintang Tenggara. “Dapatkah jalinan rotan membentuk kubah?”

Tanpa basa-basi, Kuau Kakimerah segera merapal jurus kesaktian unsur kayu. Jalinan rotan segera tumbuh mengelilingi regu Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung tersebut. Jalinan rotan lalu saling tumpang tindih sehingga membentuk kubah yang menaungi kelima anak remaja. Posisinya persis di antara hutan yang didiami binatang siluman Tikus Pemburu Darah, dengan menara yang menjadi sarang Elang Laut Dada Merah.

“Apakah langkah kita selanjutnya…?” Panglima Segantang mengintip dari sela jalinan rotan. Untuk sementara ini, elang-elang telah kembali ke sarang mereka di atas menara. Binatang-binatang siluman itu hanya memantau dari kejauhan.

“Tempat apakah ini sebenarnya…?” Canting Emas menduga-duga. 

“Sepanjang pelarian tadi, diriku melihat berbagai jenis tumbuhan siluman nan langka…” Kuau Kakimerah bersuara. 

“Tepat sekali!” Ginseng Perkasa berujar menggunakan jalinan mata hati. Oleh karena itu, hanya Bintang Tenggara, Komodo Nagaradja dan Dewi Anjani yang dapat mendengar. 

“Tempat ini merupakan dimensi ruang khusus. Biasanya dimensi ruang dimanfaatkan para ahli sebagai tempat berlatih, namun dimensi ruang ini berbeda adanya. Tanah di tempat ini teramat sangat subur. Berbagai jenis tumbuhan siluman dapat dibudidayakan,” papar Ginseng Perkasa.

“Jangankan menelusuri jejak racun, dalam kondisi kalian sekarang, maka menyelamatkan diri dari binatang siluman saja adalah susah adanya,” gerutu Komodo Nagaradja.

“Daku hendak pulang saja,” sela Dewi Anjani yang kelihatan merajuk. Lorong dimensi berpendar, dan ia pun melangkah pergi begitu saja.  

“Diriku akan memberikan resep ramuan sederhana untuk menaikkan kalian dari Kasta Perunggu Tingkat 8 menjadi Kasta Perunggu Tingkat 9,” ujar Ginseng Perkasa. “Demikian, Nak Bintang beserta rekan-rekan nantinya dapat lebih leluasa bergerak.” 

Bintang Tenggara spontan mengangguk. 

“Akan tetapi, syaratnya adalah kedua belah ketiak Ca-Em….” Ginseng Perkasa terdengar licik.

“Muridku, keluarkan botol kecil yang memuat jiwa si cabul ini. Kemudian, galilah tanah sedalam mungkin… Kuburkan saja dia!” 

“Hei!”

Bintang Tenggara bersiap menjalankan anjuran Super Guru Komodo Nagaradja.

“Baiklah! Akan kuberikan secara cuma-cuma!” Ginseng Perkasa gelagapan.

“Apakah gerangan yang Sahabat Bintang lakukan…?”

“Menuliskan bahan-bahan serta tata cara meracik ramuan yang dapat membantu meningkatkan peringkat keahlian,” jawab Bintang Tenggara. Ia sedang mendengarkan Ginseng Perkasa menyebutkan bahan-bahan ramuan satu persatu. 

“Dengan meningkatkan peringkat keahlian, maka kita dapat lebih leluasa bergerak…,” gumam Canting Emas. Meski, keningnya berkerut memikirkan dari mana Bintang Tenggara dapat mengetahui, bahkan menghapal, resep sebuah ramuan. 

Tingkatan awal dalam Kasta Perunggu, dapat dengan mudah dicapai. Akan tetapi, semakin tinggi maka akan semakin sulit untuk meningkatkan. Diperlakukan latihan beberapa tahun untuk mempersiapkan mustika tenaga dalam di ulu hati, sehingga dapat digelembungkan lalu dipecahkan untuk menyusun mustika baru. Akan tetapi, semua ahli tahu bahwa terdapat jalan pintas, salah satunya dengan mengandalkan ramuan-ramuan tertentu. 

Kuau Kakimerah mendekat. Ia memperhatikan dengan seksama. 

‘Jamu Babak Perunggu’ adalah nama ramuan yang tertera di sisi atas kertas. 

‘Ilalang Pagi hanya bagian pucuk yang berusia sehari, Lumut Rambat Hijau yang sama sekali tak terpapar sinar mentari, Lengkuas Rawa yang diiris setipis kertas, sumsum tulang belakang dari Rusa Tanduk Perunggu, kuning telur Elang Laut Dada Merah’. Bintang Tenggara baru saja rampung menuliskan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk meracik jamu tersebut.

“Ilalang Pagi tumbuh subur di padang ini,” ucap Kuau Kakimerah. “Di dekat sarang Tikus Pemburu Darah, terdapat sebuah rawa. Kemungkinan Lengkuas Rawa tumbuh di sana. Lumut Rambat Hijau hanya terdapat di tempat tinggi,” tambahnya sambil menunjuk ke menara yang menjulang. 

“Kita akan bersaing dengan kawanan Tikus Pemburu Darah dan Elang Laut Dada Merah di saat berburu Rusa Tanduk Perunggu,” ujar Panglima Segantang. Kelihatan betapa bersemangatnya ia di kala membayangkan sebuah kompetisi.

“Siapa yang akan mencuri telur Elang Laut Dada Merah!?” Aji Pamungkas berseru. Di saat yang sama, seluruh mata spontan menatap ke arahnya.