Episode 10 - Mustika dan Mata Hati


"Hahaha…” Nagaradja tertawa membahana, bergema ke seluruh penjuru ruang. Rasa lelah yang ia rasakan seperti lenyap seketika. 

Nagaradja tak mengira pertanyaan terakhir bukanlah pertanyaan yang bertujuan menarik informasi, melainkan sebuah permintaan. Ia juga baru menyadari bahwa jawaban atas pertanyaan pertama dan kedualah yang menyebabkan hadirnya pertanyaan ketiga tersebut. Jika ia menjawab lain atas pertanyaan pertama dan kedua, maka pertanyaan ketiga akan berbunyi lain pula.

“Menakjubkan! Balaputera sungguh memiliki keturunan yang menakjubkan. Hahaha…” Komodo Nagaradja melanjutkan tawanya. Kembali ruangan bergema. 

Bintang kini dalam posisi setengah membungkukkan tubuh, sebagai petanda memberi hormat. 

“Aku tidak pernah menerima murid sebelumnya. Tapi… memang sepantasnya bila aku memiliki banyak murid…” ungkap Nagaradja. 

“Nyawa ini diperpanjang oleh kemuliaan hati ayahmu…. Aku akan membalas utang budi dengan memandumu. Apakah nantinya aku akan sepenuhnya mengangkatmu sebagai murid, adalah tergantung dari perkembanganmu sendiri.” 

“Terima kasih, guru Nagaradja. Muridmu akan menjunjung tinggi ajaran guru. Muridmu tak akan durhaka.” 

“Tidak perlu terlalu resmi. Duduk dan dengarkanlah. Aku akan sedikit berceritera,” ungkap Nagaradja. “Ceritera ini akan menjawab sebagian dari pertanyaan yang tentunya masih tersangkut di benakmu.” 

Bintang duduk bersila. Ia memperhatikan dengan saksama. 

Komodo Nagaradja berkisah bahwa pulau yang saat ini mereka tempati bernama Pulau Bunga. Pulau Bunga adalah salah satu dari tiga pulau terbesar di wilayah tenggara Negeri Dua Samudera. Dahulu kala, sempat banyak yang berdatangan ke Pulau Bunga untuk berlatih dan meningkatkan kesaktian mereka.

Pada saat Perang Jagat, Kaisar Iblis Darah sangat mewaspadai ancaman Pulau Bunga yang dapat meningkatkan kesaktian. Ia lalu berniat menenggelamkan Pulau Bunga, namun gagal. Ada kekuatan alami yang melindungi Pulau Bunga. Tak kalah akal, Kaisar Iblis Darah lalu menyegel Pulau Bunga. 

“Sampai di sini, apakah ada pertanyaan?” 

“Belum ada guru,” jawab Bintang singkat. 

“Segel adalah salah satu keterampilan khusus untuk mengunci, mengikat, mengurung sesuatu. Bagi ahli yang menguasai teknik menyegel, ia dapat mengunci dan membuka segel sampai tingkatan tertentu,” ungkap Nagaradja. 

Di luar gua samar-sama terdengar gemuruh halilitar sambung-menyambung. Sepertinya Angin Monsun Barat membawa badai. Komodo Nagaradja lalu melanjutkan kisahnya. 

Ratusan tahun setelah Kaisar Iblis Darah menyegel Pulau Bunga, Nagaradja bertempur melawan sejumlah siluman sempurna. Dalam pertempuran sengit nan berat sebelah, ia mengalami luka berat. Ia lalu diburu selama berhari-hari. Dalam pelarian, ia melintas kampung halamannya, dan tetiba segel Pulau Bunga terbuka. Nagaradja serta-merta melompat ke dalam segel untuk menyelamatkan diri. Dalam kondisi yang sangat, sangat lemah, ia terpaksa menetap di Pulau Bunga, terputus hubungan dengan dunia luar.

Cedera di sekujur tubuh Nagaradja tak pernah mendapat perawatan, sehingga tak pernah pulih. Demikian pula, ia tidak lagi bisa mengubah wujud menyerupai manusia layaknya siluman sempurna. Saat mengisahkan kondisinya ini, Komodo Nagaradja melepaskan napas panjang, seolah mengenang pengalaman pahit. Ia yang dulu digdaya, kini tak berdaya.

Kejadian tersegelnya Nagaradja di Pulau Bunga terjadi ratusan tahun lalu. Hanya pada lima tahun lalu, segel terbuka kembali. Kali itu ayah Bintanglah yang membuka segel. Menurut Nagaradja, Balaputera datang mencari sesuatu. Dari teman barunya itu jugalah ia memperoleh informasi singkat seputar dunia luar. 

“Balaputera menetap selama beberapa bulan,” ungkap Nagaradja. “Kondisiku saat itu sudah di penghujung hayat. Sebelum melanjutkan perjalanannya, ayahmu mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuhku, memperpanjang nyawa ini.”

Bintang menahan diri dari bertanya kemana pergi ayahnya. Ia menyadari bahwa inti dari ceritera gurunya adalah bagaimana cara keluar dari Pulau Bunga.

 “Apakah kau sudah lebih memahami keadaanmu saat ini?” 

“Iya, guru. Murid paham,” jawab Bintang dengan tenang. “Bahwa untuk keluar dari Pulau Bunga, murid perlu mempelajari kesaktian, kemudian membuka segel, sebagaimana yang dilakukan ayah.” 

“Hm… Hari sudah jelang siang. Badai pun sudah mereda. Kau pergilah ke hutan di sisi utara gunung. Ingat, jangan sesekali pergi ke arah selatan gunung ini. Kumpulkan bekal makanan. Lalu siapkan tempat untuk dirimu beristirahat di dalam gua ini,” Nagaradja memejamkan mata, kembali beristirahat.


...


“Atur napas perlahan, pejamkan matamu, dan konsentrasikan pikiranmu ke arah ulu hati. apa yang kau rasakan?” tanya Nagaradja memulai pelajaran.  

“Aku merasakan ada sesuatu yang mengalir dari dan ke ulu hati,” ungkap Bintang dalam posisi duduk bersila dan masih memejamkan mata. 

“Teruslah berkonsentrasi sampai kau bisa merasakan lebih dari itu,” ungkapnya kembali beristirahat. 

Dari petang sampai malam, Bintang masih berusaha ‘merasakan lebih’. Ia hanya merasakan semacam aliran, bukan darah, dari ulu hatinya ke sekujur tubuh. Samar-samar ia ‘melihat’ ada sesuatu di ulu hatinya. Sesungguhnya bukan melihat karena ia memejamkan mata, tapi merasakan. Dari proses merasakan tersebut, ia bisa melihat sesuatu. Sungguh merupakan sensasi yang baru. Aneh, pikirnya. Akhirnya bintang memutuskan untuk tidur dan kembali berusaha di pagi hari. 

Pagi harinya Nagaradja terbangun. Ia melihat Bintang sudah mulai duduk bersila sambil memejamkan mata. Anak laki-laki ini terlambat memulai, pikirnya. Telah berusia 12 tahun, tapi Balaputera tidak mengajarkannya apa-apa. 

Nagaradja mengingat pertemuannya dengan ayah Bintang, lima tahun lalu. Tetiba ia merasa ada sosok dengan aura asing di Pulau Bunga. Sosok tersebut berhasil masuk ke Pulau Bunga melalui sebuah celah pada segel. Nagaradja teringat saat itu betapa terkejut dirinya. Namun, sosok tersebut lalu memperkenalkan diri, mengutarakan maksud dan tujuan. Karena tidak merasa ada niat jahat, dan diperlakukan dengan santun, Nagaradja menerima kehadiran teman yang datang tak diundang tersebut. 

Keduanya lalu banyak bertukar pikiran. Meski sesuatu yang ia cari tidak berada di Pulau Bunga, Balaputera tetap menemani Nagaradja yang saat itu sedang lemah-lemahnya. Cedera yang tak kunjung sembuh dan melumpuhkan dirinya selama ratusan tahun akan segera memisahkan jiwa dari raga. 

Di saat kritis, Balaputera justru mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Nagaradja. Demikian usia Nagaradja sedikit diperpanjang. Sebelum melanjutkan perjalanan, Balaputera mengutarakan bahwa ia akan kembali membawa tabib untuk mengobati derita Nagaradja. Oleh karena itu, Nagaradja harus bertahan hidup, memanfaatkan tenaga yang ada hanya bila diperlukan. 

“Sudah dapatkah kau melihat?” sergah Nagaradja keluar dari lamunannya sendiri. Terkait pemahaman Bintang yang sangat terbatas, ia perkirakan karena sang ayah yang harus bepergian sehingga anaknya tidak terurus dengan baik. Kini tanggung jawab mengajar jatuh pada teman ayahnya ini, pikir Nagaradja.  

“Aku merasakan aliran tenaga dari dan menuju ulu hati…” Bintang menjawab masih dalam posisi bersila dan menutup mata. 

Jawaban yang lebih kurang mirip dengan sebelumnya. Setidaknya perlu beberapa minggu, bahkan beberapa bulan baru pemahamannya terbentuk, pikir Nagaradja.

“Kemudian, di ulu hati, ada bayangan kristal bening. Di dalamnya terdapat semacam cairan, tetapi bukan cairan, yang mengalirkan tenaga ke sekujur tubuh,” tambah Bintang masih dalam konsentrasi. 

“Oh?” Nagaradja sedikit terkejut. “Mendekatlah,” panggilnya. 

Nagaradja kemudian menjelaskan bahwa terdapat tiga hal penting pada tahap awal memasuki dunia persilatan dan kesaktian. 

Pertama adalah membuka indera keenam, yang dikenal dengan ‘mata hati’. Mata hati berguna untuk membantu pengaturan tenaga, merasakan kehadiran ahli-ahli lain, mempelajari jurus-jurus silat dan sakti, dan masih banyak lagi. Mata hati pada dasarnya adalah kemampuan ‘merasakan’; bukan hanya melihat, mendengar, mengendus, meraba, atau mengecap seperti menggunakan panca indera. Bahkan dalam kondisi tubuh yang lemah, Nagaradja sejak awal berbicara menggunakan mata hati. 

Kedua, ‘mustika’ tenaga dalam. Mustika ini merupakan wadah penyimpanan inti sari tenaga. Ia terletak di ulu hati, berbentuk kristal. Meski demikian, sifatnya hanya bayangan, ilusi, tidak berbentuk fisik sebagaimana terlihat. 

“Selayaknya wadah penampungan, mustika adalah tempat memuat tenaga dalam,” ungkap Nagaradja. “Tenaga dalam juga dikenal dengan berbagai nama, misalnya: cakra, ki, chi, atau ginkang. Pada intinya semua sama.” 

Di dalam mustika, tenaga dalam terlihat seperti cairan dan memiliki warna khas. Warna inilah yang menentukan golongan keahlian. Sesuai namanya, Kasta Perunggu, memiliki mustika dengan cairan tenaga dalam berwarna hijau kemerahan. 

Ketiga, adalah teknik pengumpulan dan pelepasan tenaga, atau jurus. Tenaga dalam berasal dari tubuh manusia. Ketika berolah raga, manusia dapat mengumpulkan tenaga dalam dan mengisi mustika di ulu hatinya. Tapi proses ini memerlukan waktu yang lama. Menggunakan jurus-jurus pengumpulan tenaga, seorang ahli dapat menyerap tenaga yang ada di alam atau ‘tenaga alam’ lalu mengolahnya menjadi tenaga dalam dan mengisi mustika. 

“Apakah ada pertanyaan?” 

Tatapan mata Bintang berbinar. Hatinya penuh gairah. Informasi mendalam tersebut membuka wawasan akan dunia yang selama ini asing. Ia bagaikan spons yang sedang menyerap aliran informasi baru dengan deras.

“Hei!” sergah Nagaradja ke arah anak yang datang tak diundang, dan kini menjadi muridnya. “Jangan melamun!”