Episode 170 - Guru di Masa Lalu


Seorang anak remaja berjubah serba hitam duduk diam bersila. Kedua matanya terpejam. Bukan, bukan karena ia hendak kembali ke peraduan. Sebaliknya, ia sedang berkonsentrasi menebar jalinan indera keenam sejauh mungkin. Memanfaatkan tenaga dalam dari mustika Kasta Perak Tingkat 1, jangkauan mata hatinya tak bisa dipandang sebelah mata. 

Keheningan tengah malam membuat jangkauan mata hati seolah tak terbendung. Meski, perlahan, darah merah dan segar mulai mengalir dari kedua lubang hidung anak remaja tersebut. Sepertinya, ia telah melewati ambang batasnya sendiri dalam mengerahkan indera keenam itu. Meskipun demikian, tiada ia berhenti. Jalinan mata hati terus merangsek ke wilayah terdalam dari Persaudaraan Batara Wijaya. 

Tak lama berselang, tepat di hadapan anak remaja tersebut, sebuah lorong dimensi berpendar. Ini bukanlah lorong dimensi ruang, melainkan lorong dimensi ruang sekaligus waktu. Sesosok yang berpakaian serba kecokelatan lalu perlahan melangkah keluar. Uzur dan renta sudah adalah aura yang menyibak. 

Di hadapan anak remaja yang masih diam bersila, sosok tersebut lalu duduk bersimpuh. “Yang Mulia Putra Mahkota Elang Wuruk… Jenderal Kesembilan dari Pasukan Bhayangkara, Arya Wiraraja datang menghadap.” 

“Panggil diriku sebagai Kum Kecho!” Anak remaja tersebut lalu menyeka darah dari hidungnya. 

“Yang Mulia Putra Mahkota Kum Kecho… apakah ada sesuatu yang mendesak sampai memanggil hamba keluar?”

“Tak perlu menyebut ‘Yang Mulia Putra Mahkota’.” 

“Orang tua ini tiada berani berkata lancang….” 

Kum Kecho mendengus, “Sepertinya diriku terpaksa meninggalkan Persaudaraan Batara Wijaya untuk sementara waktu.” 

Arya Wiraraja, seorang ahli strategi, tentu menyadari betul akan keadaaan di dalam Persaudaraan Batara Wijaya. Perguruan ini ibarat sebuah kerajaan kecil. Dan layaknya kebanyakan kerajaan, kemelut perebutan tampuk kepemimpinan di antara keluarga-keluarga besar berlangsung sengit. Ia pun menyadari, bahwa kehadiran Yang Mulia Putra Mahkota Elang Wuruk akan membuat sejumlah keluarga merasa terancam dan menyebabkan peta kekuatan bergeser secara signifikan. Atas pertimbangan itulah, sedari awal dirinya membatasi taraf ‘hubungan darah’ Kum Kecho agar tak terlalu menonjol. 

Arya Wiraraja membatin. Pada akhirnya, ia berharap Yang Mulia Putra Mahkota Elang Wuruk dapat menyatukan keluarga-keluarga bangsawan besar tersebut. 

“Orang tua ini tiada dapat berbuat banyak perihal perseteruan di antara keluarga-keluarga bangsawan. Tubuh orang tua ini telah digerogoti usia… dan tenaga dalam pun tiada banyak tersisa.” 

“Tujuanku memanggil Kakek Arya Wiraraja bukanlah karena hendak meminta pertolongan terkait keluarga-keluarga bangsawan itu. Diriku akan menaklukkan Persaudaraan Batara Wijaya dengan kekuatan sendiri.” 

Arya Wiraraja mengangguk. Terlalu berani dirinya menduga bahwa Yang Mulia Putra Mahkota Elang Wuruk memerlukan bantuan, bila hanya untuk menaklukkan Persaudaraan Batara Wijaya. “Sekali lagi, maafkanlah kelancangan orang tua ini….”

“Seperti yang telah diriku sampaikan, diperlukan kekuatan untuk menaklukkan keluarga-keluarga bangsawan tersebut. Oleh karena itu, diriku memiliki satu pertanyaan.” 

“Yang Mulia Putra Mahkota Kum Kecho, apakah gerangan yang hendak diketahui?”

“Dimanakah lokasi Kampak Batu Kasuari…?”

“Salah satu Senjata Pusaka Baginda, Kampak Batu Kasuari milik Pangkalima Rajawali… berada di pulau kelahirannya.” 

“Pulau kelahiran siapa? Guru Pangkalima Rajawali atau si Kampak Batu Kasuari?”

“Pulau kelahiran Kampak Batu Kasuari… Pulau Mutiara Timur,” jawab Arya Wiraraja cepat. “Apakah Yang Mulia Putra Mahkota Kum Kecho hendak menggunakan senjata miliki Si Dayak Bijak itu?”

Kum Kecho terdiam sejenak. Sepertinya ia sedang membayangkan bentuk dan keunggulan senjata yang dimaksud. “Diriku tiada pernah cocok dengan Senjata Pusaka Baginda itu. Diriku ingin memberikan Kampak Batu Kasuari kepada salah satu budakku.”

Sejak berada di dalam dimensi berlatih di ibukota lama Sastra Wulan, serta saat berhadapan dengan Mahesa Jayanegara, Kum Kecho menyadari bahwa Seruni Bahadur bertarung ibarat ahli nan sangat bodoh lagi ceroboh. Bakat, kemampuan tubuh peranakan siluman serta unsur kesaktian, kesemuanya disia-siakan. Oleh karena itu, Kum Kecho hendak meningkatkan kemampuan gadis bertubuh bongsor dan berambut pendek itu. 

“Apakah hendak diberikan kepada Seruni Bahadur?”  

“Benar. Akan tetapi, siapakah sesungguhnya gadis itu?”

“Orang tua ini tiada mengetahui latar belakang Seruni Bahadur. Pada suatu malam belasan tahun silam, seorang gadis berusia sekitar enam tahun ditinggal tak sadarkan diri di depan gerbang perguruan,” urai Arya Wiraraja. “Di saat sadar, gadis tersebut hilang ingatan. Ia bahkan tiada dapat berbicara layaknya manusia. Karena perasaan iba, seorang Maha Guru mengambilnya sebagai pembantu.” 

Kum Kecho sesungguh tiada terlalu mengambil pusing perkara jati diri Seruni Bahadur. Pertanyaan tadi adalah basa-basi belaka. Lebih penting baginya meningkatkan kekuatan tempur, daripada mencari tahu jati diri dari seorang budak.  

“Bila Yang Mulia Putra Mahkota Kum Kecho hendak berkunjung ke Pulau Mutiara Timur, maka orang tua ini menyarankan agar singgah sejenak di Kota Baya-Sura. Di sana, Yang Mulia Putra Mahkota Kum Kecho dapat menempuh Lintasan Saujana Jiwa guna meningkatkan kemampuan mata hati.”

“Hm….” Kum Kecho menimbang-nimbang. “Lintasan Saujana Jiwa memang akan sangat membantu pertumbuhan keahlian.”

“Setelah itu, Yang Mulia Putra Mahkota Kum Kecho pun dapat mengunjungi Pulau Parang guna bertemu Dewi Anjani dan mengikat kesepakatan dengan Cembul Manik Astagina,” lanjut Arya Wiraraja. “Sungguh langkah yang tepat sebagaimana pernah dijalani oleh Yang Mulia Penguasa Negeri, Sang Maha Patih.”

Wajah Kum Kecho berubah cemberut. Perubahan ini terjadi karena dua hal. Yang pertama, dirinya enggan menempuh jejak langkah Sang Maha Patih. Memikirkannya saja membuat muak. Kedua, anak remaja tersebut mengetahui betul bahwa Bintang Tenggara telah menjalin kesepakatan dengan Dewi Anjani. Dirinya hanya berharap bahwa senjata ‘itu’, belum sempat dicabut oleh Bintang Tenggara. 

Tekait Bintang Tenggara, siapakah gerangan tokoh yang membawa anak remaja itu bertemu Dewi Anjani? Pastilah tokoh digdaya. Mungkinkah seorang guru yang juga merupakan salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara? Pertanyaan-pertanyaan ini masih berkutat di dalam benak. Demikian, Kum Kecho tiada menggubris saran kedua dari Arya Wiraraja. Ia akan memutuskan belakangan saja, apakah mengunjungi Pulau Parang atau tidak. 

“Diriku akan berangkat esok pagi.”


***


“Ahahahaha…”

“Khikhikhikhi…”

“Sangara Santang sahabatku… engkau tiada dapat dipercaya…”

“Hang Jebat panutanku… dikau bisa menikam kawan dari belakang kapan saja…”

“Khikhikhikhi…”

“Ahahahaha…”

Hari beranjak petang ketika dua ahli terlihat melangkah santai. Masing-masing dari mereka menenteng sebotol tuak. Keduanya baru saja memasuki wilayah Tanah Pasundan. 

“Hei, Sangara Santang… mengapa kiranya engkau masih mengenakan perban di lengan dan kaki? Bukankah luka-lukamu telah sembuh adanya…?”

“Setelah kupertimbang dengan sangat matang… ikatan perban ini memberi kesan nan misterius. Oleh karena itu, diriku sengaja terus mengenakannya. Siapa tahu akan menarik perhatian gadis nan cantik jelita.”

“Sangara Santang, setibanya di Kemaharajaan Pasundan nanti, sebaiknya engkau cepat-cepat menelusuri catatan kerajaan. Pastilah ada catatan tentang keberadaan Kakak Tuah. Setidaknya… di manakah ia saat terakhir kali terlihat.”

“Tentu, tentu… Diriku akan teguh memegang kesepakatan di antara kita.” 

“Selain itu, engkau punya jati diri masih menghantui di dalam benakku… Siapakah kiranya ahli di masa lalu yang berupaya melakukan reinkarnasi terencana? Mungkinkah kakakku Hang Tuah…?”

Sangara Santang kemudian menjulurkan tangan. “Benar sekali, wahai Hang Jebat. Diriku adalah reinkarnasi dari Hang Tuah, kakakmu. Cepat, cepat cium tanganku wahai adik durhaka!” Suaranya dibuat seolah-olah penuh kuasa. 

“Plak!” Hang Jebat menepis punggung telapak tangan Sangara Santang. Wajahnya tetiba berubah serius sekali. “Tidak lucu, bedebah!” 

“Ahahaha… ” 

“Pertama, kakakku tiada pernah menyapaku sebagai Hang Jebat! ‘Jebat’ saja sudah cukup baginya. Kedua, Hang Tuah tiada akan pernah memintaku mencium tangannya. Ambisi kekuasaan bukanlah sesuatu yang ia damba. Ketiga, ia tiada akan menganggapku sebagai adik durhaka!”

Walaupun demikian, hal tersebut bukanlah tak mungkin. Menurut layar status yang ditampilkan keris Tameng Sari, Hang Tuah masih hidup. Masih hidup bisa saja berarti karena telah terlahir kembali. Reinkarnasi.  

“Hahaha… mengapa mudah sekali bagimu tersinggung bilamana mendengar nama Hang Tuah…,” seloroh Sangara Santang. 

“Cih!” Hang Jebat terlihat kesal. 

“Tap!” Tetiba seseorang mendarat tak jauh di hadapan Hang Jebat dan Sangara Santang. 

“Eh…,” Langkah kaki Sangara Santang tetiba terhenti di tempat. Keringat dingin segera mengalir deras membasahi pelipisnya. Segera ia melempar botol tuak ke semak-semak. 

“Siapakah gerangan itu…?” hardik Hang Jebat. 

“Sssttt….” Sangara Santang berupaya mencegah Hang Jebat agar tak berbicara sesuka hati. “Se… sepertinya kita tersalah arah. Mari… mari kita memutar langkah.”

“Heh! Sangara Santang! Sungguh engkau mengecewakan! Bagaimana mungkin seorang ahli Kasta Emas ketakutan di kala berhadapan dengan seorang perempuan biasa!? Lagipula, sebodoh itukah engkau sampai tersalah arah di dalam wilayah kerajaan dan perguruanmu!?”

“Kalungnya… kalungnya…,” bisik Sangara Santang. Kedua bola matanya melotot memandangi Hang Jebat. 

“Oh…? Apakah itu Untaian Tenaga Suci…? Siapakah gerangan Puan Ahli ini?” tegur Hang Jebat, sambil memacu langkah mendekat.

Sangara Santang tercekat. Ingin rasanya ia menjatuhkan diri dan berpura-pura pingsan saja. Mau tak mau, suka tak suka, ia pun menyusul cepat. 

“Salam hormat Maha Sepuh Mayang Tenggara!” sergah Sangara Santang, sebelum Hang Jebat berkata dan berlaku sesuka hati.

“Mayang Tenggara…?” gumam Hang Jebat. Ia menatap perempuan tersebut. 

“Sangara Santang… dari mana sajakah engkau…?”

“Maha Sepuh… hamba pergi berkunjung ke tempat seorang teman. Apakah gerangan yang Maha Sepuh lakukan di tempat ini?” 

“Aku datang hendak menjemput… nyawamu!” 

Aura tenaga dalam Mayang Tenggara menyibak perkasa. Ia mengangkat lengan perlahan. Dapat dipastikan, bahwa bilamana perempuan itu bertarung serius, maka Sangara Santang yang hanya berada pada Kasta Emas Tingkat 1 tak akan berkutik.

“Mayang Tenggara!” tetiba Hang Jebat berteriak penuh semangat. “Muridku! Kau telah tumbuh dewasa!” 

Dari sudut pandang Mayang Tenggara, seorang remaja berkulit tubuh gelap dan berada pada Kasta Perak Tingkat 6, berlari kegirangan ke arahnya. Siapakah gerangan…?

“Duar!” 

Mayang Tenggara, menghentakkan tenaga dalam ke arah remaja nan berperilaku aneh. Kendatipun demikian, perempuan itu masih sadar untuk menahan diri agar tak membunuh sembarang ahli. 

Hang Jebat, yang merasuk tubuh remaja Arya Pamekasan, terdorong hanya beberapa langkah. Ia tiada menderita cedera, karena kilatan keemasan telah membungkus tubuhnya. Dengan kata lain, keris Tameng Sari yang besar sedang dikerahkan untuk menahan hentakan tenaga dalam. Keris tersebut terlihat perkasa menahan serangan! 

“Tameng Sari…? Pencak Laksamana Laut…?” gumam Mayang Tenggara tiada percaya. 

“Cih! Bedebah! Mayang Tenggara! Lancang kau menyerang guru sendiri!” 

“Pakcik Jebat…? Tak mungkin!” Mayang Tenggara enggan percaya pada kesimpulan yang dirumuskan oleh benaknya sendiri. *

“Iya! Ini aku!”

“Dusta!” 

“Siapa yang dahulu membantumu berlatih? Siapa yang dahulu yang mencuci pakaianmu di kala engkau muntah darah, hah!?” 

“Pakcik Jebat…?”

“Iya! Ini aku! Aku!” 

“Pakcik Jebat bukanlah guruku! Guruku adalah Laksamana Hang Tuah!” hardik Mayang Tenggara. 

“Sama saja!” 

Sangara Santang melongo. Sedari tadi ia melupakan sebuah fakta penting. Kemungkinan akibat menghabiskan waktu bersama Hang Jebat yang mana menggunakan tubuh remaja… ia terlupa. Betapa ia terlupa bahwa Hang Jebat merupakan tokoh digdaya di masa lampau, dan tak lain merupakan salah satu Jenderal Bhayangkara sekaligus Raja Angkara! 

“Khikhikhi!” 

“Hmph!” dengus Mayang Tenggara. “Menyingkirlah terlebih dahulu. Hari ini diriku hendak mencabut nyawanya!” Mayang Tenggara menunjuk ke arah Sangara Santang. 

“Tidak bisa!” sanggah Hang Jebat. “Ia adalah teman seperjalananku, dan ada yang perlu ia lakukan untukku!” 

“Menyingkir kataku!” 

“Tidak!” pekik Hang Jebat. Meski jauh lebih lemah, ia sangat percaya diri. Kini, lelaki bertubuh remaja itu bahkan berdiri di antara Mayang Tenggara dan Sangara Santang. 

“Pakcik Jebat… Bukankah dikau merupakan Raja Angkara Durhaka!? Pembelot!”

“Mayang Tenggara! Jaga kau punya mulut! Engkau tahu betul alasan atas semua tindakanku!” 

Mayang Tenggara terpaku di tempat. Raut wajahnya berubah sendu. Sepertinya, tiada ia memiliki kata-kata untuk menyanggah Hang Jebat. 

Hang Jebat kemudian segera melompat mundur. Di saat yang sama, ia menarik kerah leher bagian belakang pakaian Sangara Santang. Kepulan asap tebal berbau kemenyan, segera menyibak ke segala penjuru. 

“Cih! Mayang Tenggara kemungkinan besar sudah berada pada Kasta Bumi! Apakah yang engkau perbuat sampai menyinggung perasaan bocah itu!?” gerutu Hang Jebat. 

“Diriku tiada pernah berbuat apa-apa! Diri ini hanyalah korban sebuah kesalahpahaman…,” keluh Sangara Santang. 

Daya Tarik Bulan, Bentuk Kedua: Menggenggam Tiada Tiris!

Sekujur tubuh Sangara Santang serta-merta diliputi genggaman tangan yang bersifat ilusi dari wujud unsur kesaktian daya tarik bulan. Pengangan kerah Hang Jebat pun terlepas dengan mudahnya. Kemudian, tubuh Sangara Santang ditarik ke belakang, ke arah Mayang Tenggara! 

Seorang lelaki dewasa muda yang tiada berdaya terus melesat tiada berdaya. Tatapan kedua matanya nanar, seolah sedang melihat seberkas cahaya. Mungkinkah itu pintu menuju akhirat…? 

“Hya!” Hang Jebat mengayunkan bilah besar keris Tameng Sari. Beberapa gumpalan asap dari unsur kesaktian asap yang diperkuat oleh anugerah Tameng merangsek ke arah Mayang Tenggara. Akan tetapi, perempuan itu hanya mengibaskan tangan dan dengan mudahnya menepis serangan. Mana mungkin seorang ahli yang hanya berada pada Kasta Perak dapat mengancam seorang ahli Kasta Bumi.  

Sangara Santang sungguh pasrah menanti ajal ketika jemari tangan Mayang Tenggara mencengkeram erat di batang leher. Sedikit lagi perempuan itu hendak mematahkan… 

“Ia adalah reinkarnasi Kakak Tuah!” Tetiba Hang Jebat berteriak sekuat kerongkongannya. 

Mayang Tenggara mendadak berhenti. Di dalam genggaman tangannya, adalah leher Sangara Santang. Perlahan, ia menoleh ke arah Hang Jebat. 

“Dusta!” 

“Pernahkah aku pernah berdusta padamu!?” sahut Hang Jebat. 

Cengkeraman jemari tangan Mayang Tenggara melemah. Seberkas keraguan terpancar dari raut wajah nan cantik. Ia menatap dalam ke arah Hang Jebat. 

“Ia bukanlah reinkarnasi dari Guru Tuah. Mengapa Pakcik Jebat berdusta?” 

“Aku memiliki kesepakatan dengannya. Segera lepaskan saja dia!” 

Tubuh Sangara Santang terlepas dari cengkeraman Mayang Tenggara. Ia terbatuk beberapa kali, sebelum merangkak meninggalkan perempuan itu. 

“Cih! Kau berada pada Kasta Emas! Setidaknya berupayalah melepaskan diri sendiri!” hardik Hang Jebat kesal. 

“Mayang Tenggara, anggap saja kali ini aku berutang padamu.” Hang Jebat lalu melengos pergi bersama Sangara Santang. 

Mayang Tenggara hanya diam menatap perginya dua ahli tersebut. Ia sepenuhnya menyadari bahwa Hang Jebat berbohong adanya. Meskipun demikian, sepertinya Hang Jebat masuk ke dalam daftar tokoh yang tak hendak ia celakai. 

Demikian, Hang Jebat dan Sangara Santang menghilang di balik lebat pepohonan. 



Catatan: 

*) pakcik/pak·cik/ akronim bapak kecil, sapaan kepada adik laki-laki bapak atau adik laki-laki ibu; paman


Cuap-cuap:

Terima kasih atas kesabaran menanti. 

Masih bingung kenapa selalu muncul dua versi: https dan http… Kalau yang banyak komentar, biasanya di http.