Episode 60 - Hari-Hari Mereka Tanpa – Bagian 5



“Aku.. kayanya harus minta maaf sama kau.”

“Hm? Memangnya buat apa?”

Dalam perjalanan pulang, yang mana mereka telah sampai di persawahan, Euis merasa telah bersalah dengan dugaannya kepada Rian. Rian yang tak mengetahui apa-apa tentang permintaan maaf itu hanya bisa bertanya kembali dengan wajah bingung.

“Yah, karena sepertinya, aku udah berburuk sangka sama kamu.”

“Soal apa rupanya?”

“Mm, bagaimana ya bilangnya.”

Euis berpikir sejenak dengan pose menaruh jari jempol dan telunjuk di bawah dagu. Ketika dia telah menemukan jawaban yang tepat, dia menghentikan pose berpikir dan menatap Rian yang masih dalam keadaan yang sama—bingung dengan perasaan bersalah Euis.

“Aku sebenarnya tahu kamu bekerja sangat keras. Tapi aku tuh gak suka caramu memerlakukan tubuhmu kaya gitu. Kaya, kamu menawarkan bantuan sama orang lain, sewaktu kamu juga punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan walaupun aku tahu kamu melakukan hal itu untuk kepentingan orang banyak, aku tetap gak suka.”

Rian terhenti di tengah-tengah perkataan Euis. Euis yang masih belum menyelesaikan perkataannya pun secara otomatis menghentikan langkah kakinya. Wajah penasaran dibuatnya setelah melihat perilaku Rian yang tak seperti biasanya.

Dia terlihat menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya, yang kelihatannya tak terasa gatal dan dia hanya ingin melakukan hal itu.

“Rupanya kau bisa cemas segitunya juga ya.”

Rian mengatakan sesuatu yang terdengar memalukan di telinga Euis, dan dengan itu tiba-tiba saja jantungnya berdegup lebih kencang. Kepalanya memanas dan itu mengakibatkan wajahnya menjadi merah matang.

“A-apa-apa... enggak, itu bukan seperti aku selalu memperhatikanmu! Itu lebih ke perasaan sahabat yang khawatir sama kondisi sahabatnya!.. Begitu...”

Dia menjadi salah tingkah. Ritme perkataannya menjadi sedikit kacau dengan ekspresi yang tegang. Seperti ada sesuatu yang menggeliat di dalam sepatunya, yang sangat ingin untuk dia keluarkan.

Namun pada akhirnya, dia merasa kalau perilakunya kelihatan aneh dan menghentikannya di ujung perkataannya. Dengan perasaan cukup menyesal, dan juga malu. Rian yang melihat perilaku tak biasa dari teman semasa kecilnya hanya tersenyum simpul dengan perasaan lega. 

“Tapi...” Rian menepuk bagian atas kepala Euis dengan lembut. “Kau gak usah khawatir segitunya. Aku kan punya orang-orang yang bisa kuandalkan kalau aku lagi kesusahan.”

Euis tak tahu arti dari perlakuan Rian kepadanya saat itu. Dia hanya melihat tubuh yang wajahnya tertutupi oleh tangan yang besar, yang mampu menampung besar kepalanya hanya dengan satu tangan.

Rian juga sejenak mengelus kepala Euis dengan lembut. Lalu menghentikan saat dia merasa telah cukup melakukannya.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan suasana senyap yang menenangkan. Cuaca saat itu sedang cerah ditambah dengan awan raksasa yang melayang dari arah selatan menuju ke utara.

Mereka masih terdiam dalam tenang, meskipun begitu, tak ada lagi perasaan berat yang bersarang di dalam hati. Justru saat itu, mereka ingin menikmati waktu yang diberikan kepada mereka untuk berjalan berdua.

Karena beberapa hari di belakang, mereka sering tak menemukan waktu untuk bersama dalam waktu yang cukup lama. 

Entah bagaimana, Euis telah mengetahui penyebabnya. Dengan menghilangnya posisi yang ditinggalkan Bagas, secara otomatis—atau semacam itu, tugas dari seorang pangeran jurusan dialihkan kepada dia yang sanggup melakukannya.

Meskipun seharusnya hal itu dialihkan kepada seorang guru yang lebih mumpuni, tetapi hampir segala tugas berpindah kepada Rian.

Pekerjaan yang banyak dan tak terbiasa dengannya pun membuat waktu yang biasa menjadi tersisik dan tak dapat dimanfaatkan untuk kebersamaan.

Euis tersenyum dalam diam ketika membayangkan mereka dapat memiliki waktu seperti itu.

“Kayanya aku harus mulai terbiasa sama semua pekerjaan itu. Biar nanti aku punya lebih banyak waktu luang lagi.”

Euis merasa kalau Rian berbicara pada dirinya sendiri. Secara kasat mata, dia tak mengarahkan perkataannya pada siapapun. Tetapi, arti sebenarnya dari perkataan itu adalah agar Euis senang sekaligus dia dapat membuat dirinya lebih berusaha.


Mereka telah sampai di rumah.

“Apa besok kita bisa berangkat bareng?”

“Iya. Kayanya bisa.”

“Kalau gitu aku datang deh untuk membantu. Biar kamu juga bisa lebih cepat gitu siap-siapnya.”

Tak jarang, Euis datang ke rumah Rian untuk membantu segala persiapan yang dilakukan oleh keluarga itu. Meskipun dia tak membantu banyak hal, usaha yang dia lakukan tentu saja meringankan dan mempercepat waktu persiapan.

Membantu mempersiapkan si kembar tiga, menyapu latar rumah, atau membantu sang ibu di dapur. Walaupun tak setiap hari dapat membantu, keluarga tersebut tetap berusaha keras untuk segala hal yang mereka lakukan.

“Ya, sukakmu lah.”

“Ciee, jangan malu-malu gitu ah!”

Euis sedikit menggoda kepada Rian sebelum Rian berjalan menuju halaman rumahnya. Euis yang masih dalam pose yang sama, melihat kepergian Rian dengan perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Seakan perasaannya menjadi berat ketika melihat punggung tegap Rian semakin jauh darinya.

Meskipun jarak mereka tak terlalu jauh, tetapi bayangan kepergian punggung itu masih terasa. 

Euis masih berdiri di jalan, melihat Rian yang masuk ke dalam rumah. Rasa kehilangan sempat dia rasakan saat sosok itu telah menghilang dari pandangannya. Seakan takdir ingin memisahkan mereka seiring berjalannya waktu.

Rasa sakit mulai muncul dari dalam hatinya seperti sebuah kuncup mawar yang mulai mekar. Apa semua ini akan terus seperti ini ya?


Di dalam kamar yang senyap dan sunyi, Euis tergeletak lelah di atas ranjang. Rasa lelah itu datangnya bukan dari kegiatan yang dia lakukan. Tetapi lebih mengarah ke konflik batin yang sedang dia rasakan.

Kamar yang biasa, tak memiliki keistimewaan apapun, kecuali beberapa hal sederhana yang dianggap sangat berharga. Sebuah boneka teddy bear yang ukurannya cukup besar—dapat menjadi bantal guling yang nyaman. Beberapa piagam yang terpajang di dinding. Dan beberapa foto yang terpampang di atas meja belajar. 

Meja belajar yang menghadap ke jendela, bersampingan dengan ranjang, membuat Euis mudah untuk mengambil beberapa hal dari atas meja.

Ruangan itu terasa cukup gelap karena lampu tak dinyalakan. Meskipun begitu, jendela yang terbuka membawa sinar rembulan yang cerah ke dalam kamar. Memberikan penerangan yang mampu membuat mata tak terlalu sakit saat melihat.

Bingkai foto yang menyimpan salah satu kenangan paling berharga. Telah berada di tangannya setelah diambil dari atas meja. Di dalam bingkai itu, terdapat lima bocah yang berpose selayaknya bocah seumuran mereka.

Ada yang bereskpresi selayaknya bodyguard kejam. Tersenyum karena seorang yang dicintai berada di pelukannya. Merasa agak risih karena dipeluk oleh perempuan yang lebih tinggi darinya. Merasa agak malu karena didekap. Dan tersenyum riang karena dia dapat berfoto dengan empat orang sahabatnya.

Wajah-wajah bahagia itu memberikan kenyamanan yang sangat kepada Euis yang tengah dilanda kegundahan. 

Posisi tidurnya mengarah ke kiri. Tangan kirinya memegang bingkai foto. Tangan kanannya menutupi foto tersebut. Lalu, bingkai yang tertutupi oleh jarinya itu, hanya memperlihatkan sosok dua bocah ketika jari-jarinya merenggang dan hanya menyisakan sosok dari dua bocah tersebut.

Dua bocah yang sedang di dekap dan mendekapnya. 

Euis tersenyum bahagia ketika membayangkan sesuatu yang hanya dia yang tahu. Sebuah kebahagiaan yang hanya bisa dia bayangkan, dan tak tahu apa bisa dia dapatkan.


Pagi hari. Dia telah selesai dengan segala persiapan untuk pergi ke sekolah. Tetapi dia masih harus melakukan sesuatu yang dia janjikan kemarin.

Pintu rumah dibuka, setelah dia berpamitan pada kedua orang tuanya sebelumnya, dia berjalan menuju ke rumah tetangga. Rumah yang tergolong kecil untuk dihuni oleh keluarga yang cukup besar. Meskipun begitu tetap menjadi naungan terbaik bagi mereka yang hidup di dalamnya.

Euis telah berada di latar depan, dan saat dia hendak untuk mengetuk pintu, seseorang membukanya dengan keras lalu berlari keluar. Sesosok bocah laki-laki, berteriak kegirangan dengan berlari menabrak Euis.

“Aduh!”

“Hei! Ram!”

Euis menyebut namanya saat mereka bertabrakan. Tubuh bocah itu setinggi dada Euis, menyebabkan rasa sakit yang cukup terasa tetapi tak terlalu sehingga membuatnya tak harus berteriak kesakitan.

“Woi~!”

“Wahahaha!”

Suara seorang bocah laki-laki lain terdengar dari dalam. Bocah yang menabrak—Ram merasa ketakutan sekaligus kegirangan meresponnya. 

“H-hei!”

Lalu bocah itu dengan pesat menuju ke belakang Euis, kelihatan ingin berlindung dari sesuatu.

Tak seberapa lama kemudian, sosok bocah yang berteriak tadi menampakkan wujudnya. Wajahnya berlumuran darah—warna merah yang membuatnya terlihat seperti habis terluka parah.

Namun, dari kelihatannya itu bukanlah seperti yang dibayangkan. Karena dilihat dari amarah yang terpasang di wajahnya, bocah itu kelihatannya habis dijahili oleh bocah di belakang Euis.

“Rem, kamu kenapa?!”

Euis terkejut dengan penampilan bocah itu. Bocah itu melihat ke arah Euis dengan tampang masih merasa marah.

“Kak Euis, minggir dulu!”

Perkataan bocah itu terdengar dingin, seakan dia bisa melahap Euis kalau dia tak menuruti perkataannya.

Bocah di belakangnya – Ramlan – memegang erat pakaian Euis. Seakan tak ingin melepas kepergiannya dan tak ingin membuatnya untuk menuruti perkataan bocah itu – Remian.

Euis menjadi bimbang, memilih antara menuruti Ramlan atau Remian. Sampai dia menemukan satu solusi yang mungkin saja bisa mereda konflik itu.

***

Rian baru saja ingin menyeleisaikan sebuah tugas rutin di pagi hari. Tetapi teriakan dua orang bocah membuatnya naik darah karena sudah membuat keributan.

“Biar aku aja bang!”

Seorang bocah perempuan mengeluarkan tangannya dari tempat penyucian piring – yang sama dengannya – lalu hendak pergi ke sumber suara.

“Tunggu, dari frekuensi teriakan barusan, kau gak bakal bisa atasi itu.”

Rian berbicara kepada bocah itu atas kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Bocah perempuan itu memikirkan sejenak perkataan saudara laki-lakinya, lalu mengambil kesimpulan kalau yang dikatakan saudaranya itu benar.

“Ya udah deh, kuserahkan sama abang aja. Aku mau bantuin ibuk di kamar mandi.”

“Hm!”

Bocah itu berlari kecil ke arah ruangan yang ada di belakangnya. Terdengar dari dalam ruangan tersebut, suara percikan air yang terus bertabrakan. Dan di dalamnya bekerja seorang tua yang telah senantiasa membahagiakan keempat anaknya yang masih belia, meskipun telah menjadi seorang diri.

Rian tak ingin membuang waktu untuk membayangkan hal lain, karena kalau dia membiarkan teriakan barusan lebih lama lagi, pasti masalahnya akan lebih sulit untuk diselesaikan.

Dia berjalan ke luar, ke arah sumber teriakan yang sepertinya menuju ke luar rumah. Lalu dia melihat, gadis dari rumah tetangga sedang menenangkan dua bocah kembar yang kelihatannya tengah mengalami konflik.

“Kamu juga Ram, kalau bercanda itu jangan berlebihan. Kalau kamu jahil segitunya sama orang lain, mereka pasti bakal benci sama kamu loh.”

“...”

Bocah yang dinasehati terdengar menyesal. Bocah yang berwajah sama, di sisi lain merasa puas dengan penyesalan itu.

“Ayo, sekarang minta maaf sama saudara kembarmu.”

Bocah yang menyesal, yang kelihatannya akan menangis kalau mendapat ocehan selanjutnya, mendekat ke arah saudara kembarnya.

“Rem, aku...”

“Hah, udahlah, toh kau udah menyesal. Yang penting jangan diulangi lagi, kalau enggak kupukul beneran kau.”

Saat bocah yang bersalah—Ramlan—ingin mengucapkan permintaan maaf, bocah yang dijahili—Remian—mendekap saudara kembarnya dan mengatakan ucapan yang mungkin saja akan sulit dipercayai oleh orang dewasa.

“Baguslah kalau konflik kalian bisa selesai dengan damai kaya gitu.”

Tiba-tiba saja, ketika mereka masih menikmati suasana persaudaraan yang erat dan penuh kasih, aura kegelapan terasa mendekat dari belakang. Membuat bulu kuduk berdiri tegang dan mata mereka pun memelotot.

Mereka berbarengan melihat ke arah sumber aura kegelapan itu.

“Kalau aja konflik yang terjadi sebelum dan setelahnya bisa diatasi kaya gini, aku pasti seneng banget dah. Ga perlu marah-marah juga”