Episode 3 - Tiga


“Aku tidak mendengar apa-apa, Mpu.”

“Ssst, Ada dua orang. Mereka ada di belakang kita. Siapkan pasakmu,” bisik Mpu Gemana sambil memberi tanda ke sasaran yang akan dituju.

Sampar menyiapkan senjata rahasianya dan melihat lekat ke Mpu Gemana agar dia tidak terlambat membidik dalam kegelapan. Mpu Gemana memberi tanda untuk Sampar agar menahan serangan.

“Mereka semakin dekat, Sampar.”

“Sekarang!” Sampar melontarkan beberapa pasaknya yang beracun ke arah yang yang ditunjukkan Mpu Gemana.

Beberapa paku segera melesat cepat menembus gelap malam. Bondan segera menyadari datangnya bahaya ketika melihat gerakan kilat yang dilakukan seseorang yang berada di depan api unggun. Mengetahui datangnya serangan lalu Ken Banawa segera melemparkan dua busur menyambut senjata rahasia yang meluncur deras ke arah mereka berdua.

Sekejap kemudian terdengar dentang benda beradu, kedua senjata bertumbuk di udara dan sempat terpecik api ketika dua ujung senjata beradu.

Seseorang dari sekitar api unggun pun melompat cepat menyerang pengintainya. Bersamaan dengan itu, penyerang memutarkan senjatanya yang menimbulkan suara gemerincing. Bondan segera melepaskan ikat kepalanya untuk menerima serangan pertama yang ditujukan padanya. Ken Banawa memperlihatkan kecemasan atas keselamatan Bondan. Bagaimanapun juga Ken Banawa belum mengetahui perkembangan olah kanuragan yang dimiliki Bondan. Dia tampak khawatir karena dia sudah hafal dengan suara senjata yang berputar itu. 

Sebuah rantai bermata runcing milik Mpu Gemana. Namun sebelum dia memperingatkan agar Bondan lebih waspada, sebuah tendangan dengan deras dan bertenaga nyaris mengenai dadanya. Terpecahnya konsentrasi Ken Banawa justru menjadikannya lengah dan tidak sadar jika tumit Prana Sampar nyaris menghantam ulu hatinya.

Udeng atau ikat kepala yang dikibaskan Bondan membelit rantai yang berujung mata tombak milik Mpu Gemana. Tak pelak lagi, pertarungan terjadi diantara keduanya dalam jarak dekat. Mpu Gemana kesulitan melepaskan rantai yang salah satu ujungnya terbelit udeng Bondan. Bondan begitu lihai memutar berlawanan arah setiap kali Mpu Gemana berupaya melepaskan belitan. 

“Aku kagum kepadamu anak muda. Engkau mampu membelit ujung senjataku ini. Tetapi sayang engkau tidak akan dapat lagi melihat senja esok hari.” Sambil berkata seperti itu, Mpu Gemana menyerang Bondan semakin hebat. Bondan kini sudah merasa bahwa saatnya untuk mengerahkan segenap daya kekuatan yang dimilikinya.

Sekalipun mereka menggunakan senjata yang menjangkau jarak cukup jauh, tetapi tampaknya Bondan dan Mpu Gemana sedang menjajaki pertempuran jarak dekat. pertempuran itu menjadi semakin lama semakin cepat. Ketika keduanya terlibat dalam pertempuran yang berjarak pendek, maka udeng itu tampak seperti ular naga yang meliuk-liuk dan mematuk dengan sangat cepat, terkadang berusaha membelit pergelangan tangan Mpu Gemana. Sedangkan Mpu Gemana sendiri sering berupaya menyusupkan mata rantainya ke celah pertahanan Bondan.

Mpu Gemana tidak menduga jika lawannya yang berusia muda itu telah memiliki kemampuan tingkat tinggi dan bahkan mampu mengimbangi serangannya.

Pertempuran di antara kedua orang yang berbeda usia cukup jauh itu menjadi semakin sulit dimengerti. Keduanya berputaran semakin cepat. Sesekali mereka berbenturan di udara dalam jarak yang sangat dekat. Kadang-kadang saling melepaskan diri untuk kemudian saling menerjang kembali dan berbenturan dengan keras. Tetapi seakan-akan tidak terjadi akibat sama sekali dari sekian banyak benturan yang terjadi. 

Cakrawala yang mulai merekah merah menjadi saksi pertempuran dua lingkaran kecil itu. 

Mpu Gemana melontarkan ujung lainnya dari bagian punggungnya, mengarah ke muka Bondan yang hanya berjarak kurang dari satu jengkal di depannya. Bondan tidak menyangka akan ada serangan maut itu pun terkejut lalu melepaskan belitan udengnya lalu melentingkan tubuhnya ke belakang. Sehingga ia dapat menyelamatkan dirinya dari tumbukan dahsyat yang pasti akan meme-cahkan kepalanya.

Dan dia kembali berdecak penuh kekaguman ketika ia melihat bagaimana cara Bondan melepaskan diri dari rangkaian serangan itu. Begitu tangkas dan lincah dan sesekali membuka jalur serangan yang cukup berbahaya bagi dirinya. Merunduk lalu melesat ke samping, sementara itu ikat kepalanya mematuk bagian bawah ketiak Mpu Gemana yang terbuka. 

Serangan Bondan ini benar-benar mengejutkan Mpu Gemana. Dari perhitungan Mpu Gemana ikat kepala itu seharusnya menyentuh lambung atau bagian dada sebelah atas. Namun gerakan Bondan ini seperti sebuah ejekan baginya. Dia kini merasa seolah-olah seorang murid yang baru belajar olah kanuragan. 

Mpu Gemana tidak membuang kesempatan saat pertahanan Bondan menjadi lemah. Kedua ujung rantainya dilontarkan dan bersamaan dengan itu Mpu Gemana melompat ke arah Bondan yang sedang melayang. 

Bondan merasakan deru angin memburunya, dengan seketika tangannya yang memegang udeng membuat gerakan satu lingkaran penuh menangkis satu ujung yang terdekat. Tangan kirinya segera mencabut keris yang terselip di pinggang dan dibenturkan pada ujung yang lain.

Mpu Gemana kemudian meloncat ke samping dan tiba-tiba ia mengerakkan tangannya. Ujung senjatanya bergetar hebat dan dengan sangat cepat menyambar Bondan. Kali ini Bondan terkejut melihat ujung senjata yang hendak mematuk matanya. Cepat ia menghindar sambil merendahkan dirinya. Ujung senjata Mpu Gemana memang gagal menembus pertahanan Bondan namun dentuman terdengar persis di atas kepala Bondan. Suara ledakan yang menggetarkan gendang telinga. 

Namun begitu dirinya mendapatkan keseimbangan, Bondan segera menyusupkan kerisnya ke dalam pertahanan lawannya. Tangan Bondan menjulur cepat menuju jantung Mpu Gemana. 

Mpu Gemana sekali lagi terkesiap dengan serangan balik dari Bondan. Akan tetapi pengalaman Mpu Gemana cukup membantu untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi dalam perkelahian. Sambil menggeser selangkah ke samping, dia melepaskan satu tendangan ke lambung Bondan. Agaknya Bondan seperti sengaja menerima tendangan itu dengan siku kanannya.

Kedua orang ini segera meloncat mundur setelah sama-sama menyadari tingkat masing-masing.

Tak butuh waktu yang lama bagi Mpu Gemana untuk mengukur kekuatan Bondan. Serangan Mpu Gemana pun kemudian melanda Bondan. Kedua ujung senjatanya bergantian saling mematuk dan menyengat.

Hingga satu ketika Mpu Gemana menarik tinju kanannya dan meraih satu ujung yang terbuang ke samping. Dalam keadaan melayang lalu dia dengan cepat dan penuh tenaga, ujung itu dilemparkan tepat ke arah jantung Bondan. Dalam jarak sekitar dua depa, rantai Mpu Gemana menjangkau semakin dekat tubuh Bondan. Bondan menahan satu ujung dengan keris yang diselipkannya ke lubang besi rantai Mpu Gemana.

Di salah satu sisi tanah lapang itu, pertarungan Ken Banawa dengan Prana Sampar sudah berlangsung dalam beberapa jurus. Pertarungan diantara keduanya terlihat imbang. Bersenjatakan keris yang dia peroleh dari pemberian seorang pertapa di lereng Gunung Wilis, Sampar memutar senjatanya mengurung Ken Banawa. Kerisnya berputar-putar dahsyat memburu kemanapun Ken Banawa bergerak. 

Sekalipun begitu Ken Banawa belum merasakan puncak dari kemampuan Prana Sampar. 

Namun karena sebuah keinginan untuk lekas menyelesaikan pertarungan ini, Ken Banawa pun mencoba keluar dari tekanan keris Prana Sampar. 

Perlahan Ken Banawa meningkatkan serangannya. Setiap ayunan pedangnya selalu dapat memotong pergerakan keris Prana Sampar. Pedang tipisnya bergetar hebat dan mulai menyusup ke celah pertahanan Prana Sampar. Ayunan pedang Ken Banawa mulai menguasai lawannya. 

Prana Sampar semakin lama semakin terdesak. Dengan segenap kemampuan yang ada dalam dirinya, ia masih berusaha untuk memberi perlawanan keras. 

Namun begitu Ken Banawa mampu memaksa menembus pertahanan Prana Sampar. 

“Menyerahlah dengan begitu engkau akan tetap hidup!” seru Ken Banawa.

“Persetan!” Prana Sampar semakin garang memutar kerisnya, mengayunkannya, menebas datar merobek lambung Ken Banawa. Namun usahanya itu seolah menemui dinding besi yang sedemikian tebal.

Sebuah serangan beruntun dan menderu-deru saling berganti dengan kaki yang berputar cepat, sebuah tendangan dari Ken Banawa nyaris mengenai lutut Sampar. Dan ketika Sampar belum mengembalikan keseimbangan, Ken Banawa menyusulnya dengan satu tebasan pedang. 

Membenturkan kerisnya adalah jalan keluar bagi Sampar agar berhasil menahan pedang Ken Banawa yang kurang sejengkal lagi sudah memutuskan lehernya. Namun hantaman pedang yang begitu kuat ternyata mampu membuat tubuh Sampar sedikit condong ke ke kiri, yang kemudian disusulkan tendangan yang sangat cepat dari Ken Banawa.

Terdengar keluhan tertahan ketika kaki Ken Banawa berhasil menyentuh bahu Sampar telah menggoyahkan kuda-kudanya. Sampar dengan lutut kiri yang menyentuh tanah lantas melemparkan senjata rahasia ke arah selangkangan Ken Banawa. Ken Banawa melihat arah pergerakan bahu kanan Sampar segera membuang badannya ke kanan. Lalu dengan kecepatan mengagumkan dia melompati bagian atas Sampar, Ken Banawa mendapat kesempatan untuk menusukkan pedang pada ubun-ubun Sampar.

Sekalipun kepala Sampar lolos dari tikaman namun bahunya tergores agak dalam oleh tusukan pedang. Pertarungan yang tidak seimbang ini nampaknya akan mudah diakhiri oleh Ken Banawa. Namun ternyata Sampar tak mudah menyerah.

Sampar yang secara beruntun menerima serangan Ken Banawa akhirnya menjadi gelap mata dan membabi buta melemparkan paku beracun ke Ken Banawa. Dalam usia menjelang senja, Ken Banawa belum kehilangan kecepatan dan kekuatan bertarung. Memutar-mutar pedang layaknya sebuah perisai baja, putaran pedang Ken Banawa meluruhkan seluruh paku beracun Sampar ke tanah seperti daun-daun kering yang berguguran. Ken Banawa semakin mendekatinya dan mengurung rapat lawannya. Melawan sengit dengan pedang, Sampar kemudian mengalirkan tenaga ke seluruh bagian tubuhnya. Dia menyadari bahwa dirinya kini terancam bahaya dan satu-satunya jalan keluar bagi dirinya adalah serangan demi serangan. Dia menerjang dan berusaha untuk menumbukkan badannya ke Ken Banawa. 

Menyadari lawannya bertarung seperti banteng yang terluka, Ken Banawa mengalihkan mata pedangnya ke bagian kaki Sampar. Sejurus kemudian, kaki kanan Sampar tertusuk pedang. Sambil memutar tubuhnya, Ken Banawa mengincar bagian bawah leher Sampar. Ujung pedang Ken Banawa akhirnya berhasil menusuk pangkal leher Prana Sampar.

Suara tercekat keluar dari kerongkongan Prana Sampar yang roboh di ujung pedang Ken Banawa. 

Sementara itu di waktu yang hampir bersamaan, keris Bondan yang menyangkut di salah satu lubang rantai senjata Mpu Gemana telah memaksa dirinya untuk bertempur dengan satu tangan. Di bawah bimbingan Resi Gajahyana, seorang pertapa yang disegani oleh banyak orang di Pengging, Bondan kecil itu kini telah tumbuh dalam kematangan bertarung. Kasih sayang sang resi dan latihan keras telah membantu Bondan mencapai tingkatan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang.