Episode 2 - Dua


Serabut merah menggelayut di langit senja Trowulan. Beberapa rumah mulai memperlihatkan gemerlap pelita kecil. Malu-malu debu jalanan menyapa setiap derap langkah yang melintasinya. Bondan Lelana mengayunkan langkah kaki ke rumah Sela Anggara. Dalam ayunan langkahnya itu Bondan Lelana merasakan perasaan bersalah karena peristiwa siang tadi di tepi Sungai Brantas. Dia berpikir bahwa jika saja dia tadi bergerak lebih cepat untuk melerai perkelahian maka tentu saja korban akan dapat dihindari. Namun di sisi lain, pakaian yang dikenakan oleh Wiratama pun memberikan tanda bahwa dia adalah prajurit yang sedang melaksanakan tugas.

Maka setiap bantuan yang diberikan Bondan Lelana pada saat perkelahian berlangsung dapat saja menjadikan diri prajurit itu terhina. Dan jika dia tidak membantu pun, mungkin perasaan itu akan selamanya ada.

“Ah sudahlah, kejadian telah berlalu dan tak ada yang bisa aku lakukan untuk menghidupkan mayat tadi. Lagipula aku juga tidak tahu sama sekali dalam urusan apakah mereka menyabung nyawa,” gumam Bondan Lelana dalam hatinya.

Malam itu Bondan Lelana merasakan ada sesuatu yang aneh di ibukota Majapahit. Setiap mata menaruh curiga kepadanya, sebuah pandangan mata yang tak pernah dia jumpai ketika menghabiskan masa kecilnya di ibukota kerajaan. Bondan Lelana mendapati satu keanehan bahwa banyak sekali penjaga yang melakukan ronda pada awal malam.

Perlahan mengetuk pintu, terdengar langkah kaki bergegas membuka pintu.

“Siapa?” terdengar suara seorang lelaki dari dalam ruangan.

”Aku Bondan Lelana,” jawabnya dalam kehangatan. Lelaki muda seusia Bondan Lelana yang membuka pintu itu sedikit terkejut.

”Selamat datang saudaraku ” tersenyum lebar lelaki muda ketika melihat paras yang tak asing baginya. Dua orang bersaudara ini lantas berpelukan penuh kerinduan. Setelah sekian puluh tahun terpisah karena berguru pada orang yang berbeda.

Bercengkerama layaknya dua jiwa yang kembali bersatu, tanpa mereka sadar fajar pun menampakkan diri di ufuk Trowulan.

“Oh kakang Sela, ada apakah di Trowulan saat ini? Setiap orang menatapku curiga.” Bondan Lelana bertanya sambil meletakkan cawan.

”Hmmm..Beberapa hari yang lalu terjadi sebuah pembunuhan. Belum diketahui siapa pembunuhnya tetapi tentunya kematian seorang balamantri dengan tragis tentu mengguncangkan istana.” Suara Sela Anggara terdengar sangat pelan. Seolah dia khawatir terdengar oleh dinding-dinding yang bisa saja bertelinga.

”Pembunuhan itu dilakukan dari jarak yang cukup jauh. Sebatang paku tertancap di leher Mantri Rukmasara. Tubuhnya ditemukan dalam keadaan sudah membiru dan mulut yang berbusa,” Sela Anggara melanjutkan penjelasannya.

“Terlebih lagi pembunuhan terjadi ketika keadaan di istana sedang menghangat.”

Bondan Lelana pun meminta penjelasan lebih lanjut untuk kemudian keduanya terpisah karena Nyai Malini mendekati mereka dan menyuruh mereka agar segera beristirahat. Kedua anak muda ini lantas tersenyum dan terkenang betapa kasih Nyai Malini saat mengasuh keduanya di masa kecil. Lantas mereka berdua mohon diri memasuki bilik masing-masing untuk beristirahat.

Ketika matahari mulai menggelincirkan ke barat, Bondan Lelana yang merasa sudah cukup berisitrahat segera keluar dari rumah Sela Anggara. Dengan mengajak Gumilang Prakoso yang mahir dalam mengenali senjata, Bondan Lelana pun berencana melihat dari dekat kediaman Mantri Rukmasara. Dengan perjalanan kaki, kedua anak muda ini berbincang serius mengenai pembunuhan Mantri Rukmasara beserta putrinya. Gumilang Prakoso menduga bahwa latar belakang pembunuhan itu adalah karena Mantri Rukmasara menolak tuduhan mencuri hasil panen raya sekitar empat purnama yang lalu. 

Lalu sang mantri meminta bantuan Ki Curik Kemba, seorang tokoh yang disegani di Karangploso, untuk membungkam mulut orang suruhannya. Kabar yang didengar Gumilang mengatakan bahwa sangat sedikit orang yang mampu mengalahkan Ki Curik Kemba yang terkenal dengan pukulan tangan kosongnya. Konon hantaman Ki Curik Kemba ini sanggup memecahkan batu karang dan melubangi besi yang tebal. Dan malang nasib Ki Curik Kemba yang justru terbunuh dalam pertarungan di kaki bukit yang terletak diluar Kademangan Wringin Anom oleh seseorang yang tidak dikenal. 

“Lalu siapakah Andini itu, Gumilang? Aku mendengar nama itu disebutkan ketika pertarungan beberapa waktu lalu di tepi Sungai Berantas,” tanya Bondan Lelana.

“Oh, Andini adalah putri Mantri Rukmasara,” jawab Gumilang.

Lantas panjang lebar dia menjelaskan bahwa Andini berusaha diculik oleh pembunuh ayahnya. Namun upaya si pembunuh ini gagal karena teriakan Andini telah mengundang para pengawal asrama keputrian berdatangan mengepung penculiknya. Namun begitu rupanya orang itu tidak ingin dikenali maka dia mendaratkan dua batang pasak kecil ke tubuh Andini.

Peristiwa itu sempat diketahui oleh Wiratama yang dengan segera memanggil para pengawal. Dan Wiratama berhasil mengejar hingga akhirnya terjadi pertarungan di dekat padukuhan Watu Kenongo.

Bondan Lelana menceritakan kepada Gumilang Prakoso bahwa dia bertemu seseorang yang juga menggunakan paku sebagai senjata. 

“Bondan, yang menarik dari serangkaian kejadian ini adalah kemungkinan kaitan peristiwa Mantri Rukmasara dengan kejadian perampokan yang belakangan ini sering terjadi di Wringin Anom.”

“Ah, apalagi ini? Bukankah Wringin Anom itu jauh dari sini?”

“Itulah yang masih diselidiki oleh para perwira termasuk paman Ken Banawa.”

Tak lama kemudian keduanya telah tiba di depan gerbang rumah Rukmasara. Keduanya dengan cepat menyeberangi jalan lalu melompati dinding dan segera berada di dalam rumah Rukmasara. Keduanya berkelebat cepat memasuki tiap ruangan laksana dua ekor burung walet. Dalam kehati-hatian mereka bergerak begitu cepat dan tanpa kegaduhan. Mata tajam Gumilang Prakoso melihat kemilau dibawah terpaan matahari. Benda ini berada di luar ruangan. Gumilang keluar melewati jendela yang terbuka, dalam sekejap sudah mencabut benda berkilau tadi.

Bondan Lelana yang mengetahui pergerakan Gumilang segera menyusul.

”Hmmm... sepintas benda ini serupa dengan yang aku jumpai di Watu Kenongo.”

“Oh, benarkah?”

Bondan Lelana menganggukkan kepala tanpa menyahut pertanyaan Gumilang.

”Kita tidak bisa sembarangan menuduh. Hanya dua orang yang lihai menggunakan senjata ini. Lihatlah, benda ini nyaris seluruhnya tertancap ke dinding batu. Kekuatan yang mengagumkan” gumam Gumilang 

Keduanya lantas meninggalkan rumah Rukmasara yang sudah tak berpenghuni karena larangan dari kepala pengawal khusus kotaraja. Bondan Lelana memutuskan untuk menginap semalam lagi di rumah Sela Anggara. Dia mencoba menerka arah perjalanan Prana Sampar berdasarkan keterangan Gumilang Prakoso. Semalam dia mencoba mencari tahu dari Ken Banawa, seorang senapati yang merupakan orang kepercayaan bibinya, Retno Ayu Indrawati.

Retno Ayu Indrawati keberatan jika keponakannya ini harus menempuh bahaya untuk menangkap Prana Sampar. Namun memberitahukan pada perwira juga merupakan kesulitan tersendiri. Karena barang yang menjadi bukti pembunuhan telah dicabut oleh Gumilang Prakoso. Maka Bondan Lelana meminta bantuan kepada Sela Anggara untuk meyakinkan ibunya bahwa Bondan Lelana akan mampu menjaga dirinya. Tak ingin menyusahkan hati orang yang menyayanginya, Bondan Lelana menerima tawaran untuk ditemani oleh Ken Banawa, seorang perwira yang juga kepercayaan Nyi Retno Ayu Indrawati.

Ken Banawa mendapatkan keterangan dari petugas telik sandi yang melaporkan bahwa ada seorang petugas yang melihat orang dengan ciri-ciri seperti yang dimiliki Prana Sampar. Petugas sandi mengatakan bahwa Sampar telah berada di sekitar Alas Cangkring sejak 3 hari lalu. Mereka berdua segera melakukan perjalanan ke arah barat dengan menunggang kuda.

Keindahan alam yang dilewati mereka berdua serta kesejukan udara telah mengalihkan perhatian Bondan Lelana. Ken Banawa yang memahami semangat anak muda ini hanya menghela nafas. Dia mengetahui bahwa di Alas Cangkring ada orang linuwih yang pilih tanding. Ken Banawa sudah memperhitungkan resiko paling buruk karena jika dugaannya benar maka esok hari mungkin akan bertemu dengan Mpu Gemana. Mpu Gemana adalah salah seorang yang lolos dari sergapan pasukan khusus yang dipimpin oleh Ken Banawa ketika menumpas kawanan penyamun di Selopuro.

Setelah menempuh perjalanan panjang, keduanya segera mendekati tepi hutan Alas Cangkring. Namun sebelum itu Ken Banawa dan Bondan Lelana harus melewati sebuah padukuhan yang tidak begitu besar. Tanpa mereka sadari ternyata ada sepasang mata yang mengawasi keduanya sejak dari gerbang kota. Pakaian Bondan Lelana dan Ken Banawa memang berbeda dari kebanyakan orang berlalu lalang di jalanan padukuhan. Dia semakin curiga ketika melihat seorang pengawal padukuhan memberikan hormat pada Ken Banawa.

”Bondan, kita beristirahat dulu malam ini. Kita akan masuk ke hutan sebelum fajar esok hari,” kata Ken Banawa.

”Tidak, Paman. Aku akan berangkat malam ini sehingga esok pagi sudah menemukan Prana Sampar.” Bondan Lelana menolak tegas.

“Bondan, Prana Sampar tidak sendirian. Selain itu kedalaman hutan akan menjadi bahaya tersendiri bagi kita. Harusnya kau mengetahui itu. Prana Sampar adalah murid tunggal Mpu Gemana. Seorang tokoh sakti yang terkenal dengan rantai bermata tombak kembarnya. Paman mendapatkan bukti jika Mpu Gemana inilah yang melakukan pembunuhan beberapa pengawal yang menjaga gudang hasil panen raya.”

“Mantri Rukmasara sebenarnya menyuruh Mpu Gemana untuk mengambil beberapa ratus kati, namun karena Mantri Rukmasara ketakutan perbuatannya diketahui oleh Sri Jayanegara maka disuruhlah Ki Curik Kemba untuk mencari dan membunuh Mpu Gemana. Hingga akhirnya Curik Kemba harus mati di tangan Mpu Gemana yang juga anggota dari kawanan Ki Cendhala Geni.”

“Siapakah Ki Cendhala Geni itu paman?” Bondan Lelana bertanya dengan sorot mata yang menyiratkan rasa ingin tahu yang besar. 

“Kelak kau akan tahu dengan sendirinya. Asalkan kamu tidak gegabah dan memandangnya sebelah mata karena Ki Cendhala Geni adalah orang yang benar-benar sulit dicari tandingannya. Hampir semua orang di daerah selatan sudah merasakan kengerian hanya mendengar namanya” sahut Ken Banawa yang makin mengundang hasrat Bondan Lelana untuk mengetahui lebih jauh. 

Gelapnya malam yang bermandikan gerimis pun mendekap padukuhan semakin erat. Kabut tipis turun seperti selimut dingin yang menutup erat setiap pori-pori. Awan berarak menutupi rembulan yang berusaha untuk tersenyum. Bondan Lelana beranjak dan keluar dari bilik penginapan, diikuti Ken Banawa yang berjalan cepat sambil memeriksa busur dan panahnya.

Menembus pekatnya malam dibawah rintik hujan yang tipis membasahi bumi, keduanya berjalan kaki melangkah keluar dari padukuhan. Sejenak kemudian keduanya melihat nyala api di tepi hutan. Ken Banawa memutuskan untuk mendekati nyala api dengan mengendap. 

Semakin mendekati lingkaran api terlihat dua orang sedang duduk menghadap api unggun dengan berteduh di gubuk kecil.

“Ah, rasanya ada yang mengawasi kita, Sampar,” desah perlahan Mpu Gemana yang sedang berusaha menajamkan pendengarannya untuk membedakan langkah kaki dan jatuhnya air hujan.