Episode 16 - Kompetisi


Kemampuan fisik seorang pendekar pada tahap penyerapan energi tingkat pertama jauh di atas rata-rata manusia biasa, terutama dalam hal ketajaman lima panca indera dan gerak refleks. Selain itu, serangan pukulan dan tendangan orang itu juga mengandung tenaga dalam sehingga jauh lebih mematikan dibandingkan dengan pukulan dan tendangan yang hanya mengandalkan kekuatan tenaga luar.

Setelah mencapai tahap penyerapan energi tingkat pertama, aku merasa mampu berlari secepat angin dan melompat melewati pucuk pohon beringin. Selain itu, aku juga bisa mulai berlatih jurus-jurus dalam Jurus Iblis Sesat. Tapi sayangnya aku belum bisa mempraktekkannya sekarang.

Akhirnya setelah yakin benar-benar telah mencapai tahap penyerapan energi tingkat pertama, aku segera ikut beristirahat bersama murid-murid Perguruan Gagak Putih yang lain. Keesokan paginya, dengan wajah letih, kami mulai berkemas-kemas untuk turun gunung. 

Setelah melalui program latihan yang cukup berat bersama-sama, kebersamaan kami menjadi lebih dekat. Aku juga merasa lebih dekat dengan murid-murid Perguruan Gagak Putih yang lain. 

“Gimana Rik latihan di gunung? Seru nggak?” tanya Dimas dalam perjalanan pulang.

“Seru Dim, makasi ya udah ngajak,” jawabku segera.

“Nggak masalah, itung-itung tambah temen. Jadi gimana? Mau nggak gabung sama Perguruan Gagak Putih?” Dimas kembali mengajakku bergabung dengan Perguruan Gagak Putih.

“Iya Rik, gabung aja sama kita. Latihan bareng-bareng temen kan lebih enak dibanding latihan sendiri,” sambung murid Perguruan Gagak Putih yang lain.

“Emmm… gue minta ijin sama orang tua gue dulu ya,” Setelah mendapat ajakan mereka berkali-kali, apalagi setelah mengalami latihan bersama di gunung yang terbukti telah memberikan manfaat luar biasa padaku, jujur saja ada ketertarikan untuk bergabung dengan Perguruan Gagak Putih dalam diriku. Ternyata pandanganku sebelumnya salah, berlatih bersama Perguruan Gagak Putih sama sekali tidak menghambat latihan tenaga dalamku. Justru malah membantuku mencapai tahap penyerapan energi tingkat pertama.

Setelah berlatih bersama di puncak Gunung Gede, Perguruan Gagak Putih masih sempat berlatih di taman dekat rumahku selama beberapa hari. Akupun selalu ikut berlatih bersama dengan mereka. Setelah meminta ijin pada orang tuaku, aku mengkonfirmasi kesediaanku bergabung dengan Perguruan Gagak Putih. Bisa dikatakan, kini aku telah menjadi setengah murid bagi Perguruan Gagak Putih. Hanya tinggal mengikuti prosesi penerimaan murid baru saja. 

Setelah itu, mereka kembali ke lokasi biasa mereka berlatih. Mereka sempat memberitahukan padaku lokasi latihan mereka yang biasa sebelum pergi. Karena aku masih belum resmi menjadi murid Perguruan Gagak Putih, aku tidak bisa ikut berlatih bersama mereka lagi. Prosesi penerimaan murid baru akan diadakan disana dalam empat hari, pada saat itu, aku akan secara resmi diangkat sebagai murid Perguruan Gagak Putih.

Empat hari kemudian, aku datang ke lokasi latihan Perguruan Gagak Putih. Lokasinya berada tak begitu jauh dari rumahku sehingga tak butuh waktu terlalu lama menuju kesana. Lokasi latihannya berupa rumah dengan halaman yang sangat luas, di halaman tersebut terdapat beberapa pendopo yang dapat menampung belasan orang sekaligus. Pagar rumah tersebut terbuat dari kayu papan yang tersusun cukup rapat.

Begitu aku sampai lokasi latihan yang kuduga juga merupakan markas Perguruan Gagak Putih, dua orang pemuda yang berdiri di depan gerbang segera menanyakan maksud kedatanganku. Aku segera mengutarakan maksud kedatanganku sekaligus menyinggung nama Dimas dan bang Ardi. Salah satu dari mereka segera pergi menuju ke dalam setelah memintaku menunggu sebentar.

“Rik, datang juga kamu.” Bang Ardi datang bersama dengan pemuda yang tadi masuk ke dalam dengan senyum lebar. 

“Dateng dong bang. Dimas mana bang?” 

Kepalaku celingak-celinguk kiri kanan mencari orang-orang yang kukenali. Namun sejauh ini baru bang Ardi saja satu-satunya wajah yang kukenal. 

“Dimas nggak ikut acara penerimaan murid baru, sekarang cuma ada saya aja sebagai penanggung jawab kelompok,” jawab bang Ardi.

Aku hanya mengangguk-nganggukkan kepala, namun tak mengatakan apa-apa lagi. Bang Ardi segera membawaku ke salah satu pendopo di halaman rumah. Di pendopo tersebut telah ada beberapa orang yang tengah duduk-duduk sambil mengobrol santai. Begitu sampai pendopo, bang Ardi langsung memperkenalkanku pada mereka.

“Rik, ini teman-teman calon murid baru Perguruan Gagak Putih seperti kamu. Ini Tio, yang ini Abduh, Tia, ini Gofar, Sandi, Yoga, Wahyu, Nadya.” Bang Ardi menunjuk sambil memperkenalkan nama mereka satu persatu. Setiap orang yang ditunjuk oleh bang Ardi langsung menganggukkan kepalanya masing-masing. “Silahkan bergabung dengan mereka, upacara penerimaan murid baru akan dimulai sebentar lagi. Saya pergi dulu ya Rik,” lanjut bang Ardi.

“Iya bang.”

Aku segera ikut duduk di pendopo bersama teman-teman yang baru berkenalan denganku. 

“Darimana Rik?” Baru saja pantatku menyentuh lantai pendopo, Tio langsung melontarkan pertanyaan pertamanya padaku. 

“Dari deket sini,” jawabku spontan.

“Sama, gue juga,” ujar Tio.

“Ngomong-ngomong tau darimana Rik soal Perguruan Gagak Putih?” Tio melanjutkan pertanyaannya. 

“Kebetulan ngeliat mereka latihan di deket rumah gue, terus gue tertarik.” 

“Ooo… kalo gue di ajak sama temen gue. Katanya latihan silat disini hasilnya lebih mantap dibandingkan ditempat lain, sekalian mau nurunin berat badan.” Tio menjelaskan padaku sambil nyengir kuda. Memang kulihat badan Tio kelewat gemuk.

“Perguruan Gagak Putih cukup terkenal sebetulnya, tapi nggak sepopuler perguruan silat yang udah merambah sampai jadi kegiatan ekstrakurikuler sekolah.” Yoga ikut nimbrung dalam pembicaraan kami. 

“Iya, kalo gue malah tau dari orang tua gue,” sambung Sandi. 

Tampaknya Perguruan Gagak Putih cukup terbuka, meskipun belum sampai seperti perguruan silat yang telah merambah sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. 

Pembicaraan kami berlanjut saling berkenalan lebih dalam satu sama lain, termasuk latar belakang sekolah dan keluarga meskipun tidak terlalu dalam. Namun belum terlalu lama kami berbincang-bincang, bang Ardi kembali datang dan memberitahukan kami agar segera mengikutinya. 

Bang Ardi membawa kami menuju lapangan besar di halaman rumah tersebut. Diperjalanan aku melihat beberapa anak muda yang dituntun oleh seseorang juga menuju lapangan besar, sama seperti kami. Sepertinya mereka juga calon murid baru Perguruan Gagak Putih. Ditengah lapangan, telah berbaris menunggu empat orang yang rata-rata berusia lima puluh tahun keatas. Pandanganku segera tertuju pada seorang lelaki sepuh yang berdiri pada urutan kedua dari sebelah kiri. Dari raut mukanya penuh dengan kerutan dan rambutnya telah dipenuhi uban, tapi tubuhnya masih tampak tegap dan memancarkan aura pemimpin. Seakan menyadari kalau aku sedang memperhatikan dirinya, pria sepuh itu mengarahkan pandangan matanya padaku sambil tersenyum ramah. Bahkan dia sedikit menganggukkan kepalanya padaku, otomatis aku juga menganggukkan kepala. 

“Selamat datang para calon murid Perguruan Gagak Putih, perkenalkan saya ketua perguruan, Arya Wiratama. Adalah suatu kebanggaan bagi kami dapat menerima kalian sebagai murid perguruan.” Setelah sempat saling bertatap mata denganku, pria sepuh itu segera memperkenalkan dirinya pada kami. Ternyata dia adalah ketua Perguruan Gagak Putih.

Prosesi penerimaan murid baru di Perguruan Gagak Putih cukup sederhana. Kami berdiri berbaris layaknya murid-murid sekolah yang sedang upacara bendera, jumlahnya ada delapan belas orang. Lalu mengucapkan ikrar sebagai murid perguruan, dilanjutkan dengan pembacaan prinsip-prinsip dasar dan peraturan perguruan yang disertai sumpah untuk mentaatinya. Setelah itu, upacara penerimaan murid baru selesai, uniknya setelah upacara penerimaan murid baru kami diajak makan nasi tumpeng bersama-sama. Sebagai perayaan datangnya darah-darah baru ke Perguruan Gagak Putih katanya. Setelah itu, kami sempat berbincang-bincang sebentar, lalu dipersilahkan pulang. Mulai besok, kami bisa mulai berlatih bersama-sama dengan murid Perguruan Gagak Putih yang lain. 

Hari pertama latihan resmi sebagai murid Perguruan Gagak Putih dimulai dengan menilai dasar jurus yang kami miliki. Jadi senioritas di Perguruan Gagak Putih lebih berdasar pada kemampuan silat ketimbang siapa yang lebih dulu masuk perguruan. Dari delapan belas murid baru perguruan, ternyata lima diantaranya telah memiliki dasar ilmu silat yang cukup baik, termasuk diriku, sehingga kami langsung dapat berlatih bersama murid-murid yang lebih senior. 

Tentu saja karena aku telah lama berlatih bersama dengan kelompok bang Ardi dan Dimas sebelumnya. Pihak perguruan memasukkanku berlatih bersama-sama dengan mereka. 

Seperti itulah hari-hari kulalui selama tiga bulan berikutnya. Mulai sebelum subuh aku berlatih penyerapan energi, lalu berangkat sekolah, sore sepulang sekolah aku ikut berlatih bersama dengan Perguruan Gagak Putih selama dua jam. Setelah berlatih dengan Perguruan Gagak Putih, aku melanjutkan latihan jurus-jurus iblis sesat sendiri sekitar satu jam. Baru kemudian pulang ke rumah. Selain itu, semenjak berhasil mencapai tahap penyerapan energi tingkat pertama di Gunung Gede, setiap akhir pekan aku selalu berlatih sendiri di gunung. 

Selama tiga bulan itu, aku juga mencoba menemui Kinasih beberapa kali. Bagaimanapun, aku punya hutang budi yang besar pada gadis pucat itu. Namun belum pernah sekalipun aku berhasil menemuinya. 

Di sisi lain, semenjak Sarwo, tak ada lagi orang-orang dari Lembah Racun Akhirat maupun sekte lain yang menyerangku. Aku tak tahu pasti apa sebabnya, mungkin karena mereka tak lagi mengenali tenaga dalam Sekte Pulau Arwah semenjak aku berhasil mencapai tahap penyerapan energi, atau mungkin juga karena hal lain. 

Setelah berlatih rutin selama tiga bulan, aku mengalami peningkatan pesat dalam pengolahan tenaga dalam. Sekarang aku telah mencapai tahap penyerapan energi tingkat tiga. Ini artinya aku naik tingkat setiap bulan sekali, sama sekali tidak buruk. Namun aku berusaha sebisa mungkin menyembunyikan diriku sebagai praktisi pengolahan tenaga dalam, baik dari keluargaku, teman-teman sekolah, maupun murid-murid Perguruan Gagak Hitam yang lain. Meskipun ada juga perasaan ingin memamerkan kemampuan yang kumiliki. 

“Anak-anak, seminggu lagi kita akan mengadakan kompetisi rutin dengan Perguruan Kelelawar Merah dan Peguruan Lembu Ireng. Jangan sampai kita dipermalukan lagi dalam kompetisi ini!” 

Bang Ardi menatap kami para murid yang sedang beristirahat sebentar seusai lari pemanasan dengan tatapan tajam. 

“Hari ini saya akan menentukan peserta kompetisi yang akan maju mewakili kelompok kita. Rahman dan Yayan yang akan maju sebagai peserta.”

Kurasa pilihan bang Ardi tidak salah, mereka berdua adalah murid paling berbakat dalam kelompok kami. Bahkan aku yang telah menguasai tahap penyerapan energi tingkat ketiga mengakui kemampuan mereka diantara pesilat-pesilat dunia awam cukup tinggi. Meskipun aku yakin sekali mampu mengalahkan mereka dalam satu dua jurus. Tapi, aku baru mendengar tentang kompetisi dengan Perguruan Kelelawar Merah dan Lembu Ireng ini.