Episode 5 - Sepotong Malam di Jakarta Pusat

Badut melirik arlojinya. Jarum menunjuk pukul tujuh malam, tetapi Kirana belum datang. Jalan di kawasan Poncol bertirai gerimis.

Badut duduk di anak tangga kios kecil langganannya dalam urusan cetak-mencetak. Di kios milik Bang Joe, Badut sering kali mencetak beberapa poster acara stand up comedy yang pernah diselenggarakan oleh komunitasnya.

Badut mendongak ke langit. Rupanya, selain gelisah akibat menunggu, dia juga khawatir kepada Kirana. Bagaimana pun, Kirana sudah rela direpotkan, sehingga dia tak mau melihat Kirana jatuh sakit lantaran membantunya.

Tak lama, Kirana datang menumpang ojek motor. Dia turun dan membayar ojeknya, kemudian duduk di dekat Badut.

“Maaf, ya, telat. Tadi aku kejar utang kerjaan di kantor, karena besok aku mau cuti,” ucap Kirana, wajah merasa bersalahnya tak dibuat-buat.

“Nggak masalah, Na. Kamu sudah mau bantu pun aku terima kasih betul.” Badut tersenyum, sehingga rasa bersalah Kirana lenyap seketika.

Mereka masuk ke dalam kios, menghampiri Bang Joe yang tengah duduk di hadapan komputernya.

“Sudah datang file desainnya, Dut?” Bang Joe berkata sambil tetap berfokus pada pekerjaannya.

Badut melirik Kirana, kemudian perempuan itu merogoh tas ranselnya, mengambil flash disk, dan menyerahkannya kepada Badut.

Setelah flash disk berpindah ke tangan Bang Joe, lelaki asal Medan itu segera menyolokkannya ke perangkat komputer. Kirana memberi tahu Bang Joe nama file desain poster yang dibuat Bastian. Bang Joe membukanya dan terkejut melihat desain di layar komputernya.

“Sampah betul desain kawan kau, Dut!” ucap Bang Joe, spontan. Namun, menyadari kemungkinan pembuat desain adalah perempuan di dekatnya, Bang Joe berpikir untuk menambahkan, “Nona Cantik,” ucap Bang Joe seraya melirik Kirana, “bukan kau kan yang buat desain ini?”

“Bukan, Bang,” ucap Kirana diikuti senyum untuk menandakan ‘semua baik-baik saja’.

“Oh, syukurlah.” Bang Joe menghela napas lega. “Eh, tapi bukan kau punya pacar juga, kan, yang buat, Nona?”

“Bukan, Baang.” Kirana memberi intonasi mengalun pada ucapannya.

“DASAR DESAINER ANJING!” Bang Joe meledakkan amarahnya yang tertahan. “Lihat, Dut! Ini akan jadi sampah visual di Jakarta!”

Sebelum kedatangan Kirana, Badut sudah menceritakan kepada Bang Joe bahwa dia berniat membuat poster iklan cetak dan desain undangan. Dan, melihat desain yang terpampang di hadapannya, Badut merasa kemarahan Bang Joe wajar. Apalagi, Bastian menetapkan harga satu juta rupiah untuk desainnya.

Sebenarnya, ini murni kesalahan Badut karena dia memang belum pernah melihat sampel desain Bastian, juga belum mengetahui selera serta kemampuan desain lelaki itu.

Badut mengamati. Poster di hadapannya tampak menyedihkan secara visual. Bastian mencoba menggabungkan beberapa foto yang dicomot sembarang di internet. Seorang pria bule dengan setelan jas bersanding dengan seorang perempuan Indonesia berpakaian adat Jawa. Potongan setiap objek dari foto aslinya terlihat kasar. Di belakang keduanya, Bastian menambahkan latar menara Eiffel, dan tulisan ‘PERCAYAKAN KEPADA KAMI DESAIN UNDANGAN ANDA’ berwarna merah dengan pilihan jenis font yang lebih cocok untuk jadi logo band metal. Kemudian, di bawahnya Bastian menambahkan ‘Kami menerima desain dan cetak undangan pernikahan, foto dan video pre wedding, video dokumentasi pernikahan, dan rias pengantin’.

“Dut!” panggil Bang Joe. “Kau layak dituntut karena menyebabkan polusi visual kalau mencetak poster ini!”

Badut setuju.

“Aku buatkan desain baru saja, ya, Dut. Spesial hari ini, kau nggak usah bayar biaya setting karena aku mau ambil tanggung jawab menjaga kesehatan mata warga Jakarta!”

Setting adalah nama lain dari desain di kawasan Poncol. Hal itu dikarenakan kebanyakan orang tidak mau dikenakan biaya ‘desain’ sebab terdengar terlampau mahal. “Boleh, Bang, kalau nggak merepotkan.”

“Lagian kau, Dut! Cemana kau pilih desainer! Pasti kalau pun dia benar bisa bikin video dokumentasi, aku yakin editing-nya pakai power point!”

**

Usai dari kios Bang Joe, Badut dan Kirana makan bersama di sekitar Jalan Salemba. Perut keduanya terasa penuh setelah menghabiskan sepiring nasi goreng yang mangkal di trotoar. Dari Kirana, Badut mengetahui kalau rumah perempuan itu berada di kawasan Matraman, tak jauh dari jalan ini.

Kirana hendak pulang berjalan kaki, sehingga Badut—lantaran merasa telah ditolong—berinisiatif mengantarkan.

“Aku suka berjalan kaki tanpa tujuan.” Kirana bicara tanpa menoleh ke wajah Badut yang melangkah di sebelahnya.

“Aku benci berjalan kaki, tapi sialnya aku nggak punya cukup uang untuk membeli kendaraan.” Badut membalas.

Kirana hanya tersenyum mendengar ucapan Badut.

“Biasanya, saat berjalan kaki, secara intuitif langkahku menemukan seseorang yang ingin bunuh diri, lho.”

“Masa?” tanya Badut, seraya menghindari bangkai hujan di trotoar.

“Seriuus. Terserah, sih, kamu mau percaya atau nggak.”

“Apa malam ini kita bakal menemukan seseorang yang ingin bunuh diri juga?”

Kirana hanya mengangkat bahunya.

Badut dan Kirana berjalan. Keduanya sama hening dalam jalan yang penuh antrean klakson.

“Eh, Na.” Badut berhenti, sehingga Kirana melakukan hal yang sama. Keduanya sekarang saling berhadapan. “Terima kasih, ya,” ucap Badut, tulus.

Kirana tersenyum. Lalu, mereka melanjutkan langkah.

“Aku sebenarnya penasaran, kenapa kamu nggak coba nikmati saja patah hatimu, sampai waktu atau seseorang benar-benar menyembuhkannya. Aku pikir kamu mengambil risiko dengan melakukan hal ini. Pertama, pernikahan Claudya dan Daniel belum tentu gagal, dan kedua, kalau pun gagal, belum tentu Claudya kembali padamu.”

Bibir Badut tersenyum getir. “Aku pun nggak tahu, Na. Tapi yang aku tahu, aku nggak bisa membayangkan bahwa aku bisa bahagia dengan perempuan lain.”

“Oke, pertanyaanku; apa kamu bahagia bersama Claudya?”

Badut hanya menggeleng. “Tapi yang jelas, saat ini, aku merasa nggak akan bisa melanjutkan hidup tanpa Claudya.”

Kirana tak bertanya lebih jauh. Dia hanya terus berjalan. Sementara di sampingnya, Badut yang tak biasa berjalan kaki lama, mulai kepayahan.

Tiba-tiba, Kirana berhenti. Air mukanya berubah. Belum Badut sempat bertanya, perempuan itu sudah berlari. Tanpa pikir panjang, Badut mengejarnya.

Kirana melesat bak kijang. Badut semakin tertinggal. Hanya saja, lelaki berperawakan besar itu tetap memfokuskan matanya menangkap arah Kirana. Dari jarak cukup jauh, Badut melihat Kirana mendaki tangga jembatan penyeberangan yang terhubung dengan halte Transjakarta.

Badut berhenti sejenak, menunduk untuk mengambil napas, kemudian melanjutkan larinya. Tabrakan dengan beberapa orang tak dapat dihindarkan sehingga sebanyak itu pula dia mesti meminta maaf. Lalu, Badut mulai mendaki tangga, dan ketika sampai di tengah punggung jembatan, dia melihat Kirana berdiri di sudut halte Transjakarta.

Badut melanjutkan lari, sembari pikirannya sibuk bertanya-tanya. Tak lama, dia bisa mencapai tempat Kirana berdiri.

Badut masih mencoba menyeimbangkan laju jantungnya, sementara Kirana berdiri tenang, dan wajahnya penuh pertimbangan.

“Aku yakin ada seseorang yang mau bunuh diri di sini,” ucap Kirana, lirih, seolah hanya ingin Badut seorang yang mendengar.

“Se-serius, Na?” tanya Badut, yang napasnya masih payah. “Ya-yang mana?” Mata Badut menyapu seluruh ruang halte. Ada lima orang berdiri di sini. Dua perempuan berpakaian santai yang sepertinya mahasiswi. Dua lelaki yang kemungkinan berusia di atas tiga puluh berpakaian kerja. Satu perempuan berkulit putih berpakaian formal dan tangannya menggenggam gelas karton merek kopi.

“Aku nggak tahu, Dut. Ini kali pertama aku di hadapkan pada kasus seperti ini. Biasanya, aku langsung menemukan satu orang saja.”

Badut kembali mengamati orang-orang di sekitarnya. Pikirannya mencoba menebak siapa di antara mereka yang, kalau intuisi Kirana benar, hendak bunuh diri.

Dari pengamatan Badut, hampir semua yang ada di sini berwajah murung, namun bukan kemurungan yang tepat dijadikan indikator bunuh diri. Hanya kemurungan orang kota selepas kerja belaka.

“Menurutmu, mana di antara semua orang ini yang berpotensi bunuh diri?” tanya Kirana, lirih.

“Aku nggak bisa menebak, Na. Satu-satunya yang pasti punya alasan bunuh diri, di tempat ini, dan sejauh ini, hanya aku seorang.” Badut menekan volume suaranya.

“Jangan bercanda, Dut. Ini soal nyawa orang, lho.” Kirana sedikit jengkel pada gurauan Badut.

“Terus, bagaimana aku bisa tahu siapa yang mau bunuh diri?!” Badut kehilangan kendali, suaranya membesar.

“Ssssstttt!” Kirana meletakkan telunjuk di bibirnya sendiri. Matanya melotot.

“Oke.” Badut mencoba patuh.

“Aku lagi pikirkan cara mencegah yang paling efektif. Kalau kita gegabah, yang ada target kita malah akan nekat.”

Tiba-tiba, lalu lintas di jalan depan halte tersendat. Mobil-mobil berhenti, dan suara klakson mulai sahut-menyahut. Kebisingan itu memicu ketegangan dalam diri Badut dan Kirana.

Menit demi menit berlalu. Lalu lintas semakin kacau, dan Kirana belum juga menemukan gagasan yang tepat.

“Sudah tidak ada jalan lain. Aku kehilangan ide. Lebih baik kita ambil risiko daripada terlambat tanpa melakukan apa-apa,” ucap Kirana, lirih.

Kirana menarik napas dalam, kemudian …

“HEEEIIIII, KAMU YANG MAU BUNUH DIRI?! JANGAN PERNAH MELAKUKANNYA KARENA KAMU PASTI MENYESAL!”

Suara Kirana yang menggelegar membuat dia dan Badut jadi pusat perhatian. Namun, Badut yang telanjur memercayai intuisi Kirana berinisiatif membantunya.

“IYAA! APA PUN ALASANMU BUNUH DIRI, PERCAYALAH BAHWA HIDUP ITU INDAH! JANGAN SIA-SIAKAN, DAN JANGAN PERNAH TAKUT KEHILANGAN HARAPAAAN!

“SETUJUU! DARIPADA BUNUH DIRI, JAUH LEBIH BAIK BUNUH NYAMUK DEMAM BERDARAH KARENA ARTINYA KAMU BISA MENYALAMATKAN HIDUP ORANG BANYAAK!"

“Na!” Badut melotot ke arah Kirana.

“SIAPA PUN KAMUUUU, BATALKAN NIATMUUUU!”

Sembari berteriak, Kirana memerhatikan orang-orang di sekelilingnya. Dua perempuan berpakaian santai tersenyum geli. Seorang lelaki berkemeja kerja mengernyitkan dahi dan sedikit menjaga jarak dari dua orang aneh di sekitarnya. Satu lelaki lain yang berkemeja kerja hanya tersenyum datar, kemudian berusaha tak menatap dua orang aneh di dekatnya. Sementara itu, ekspresi wajah perempuan berkulit putih tampak janggal. Wajahnya seperti gelisah akibat ucapan Badut dan Kirana. Akhirnya, Kirana menyimpulkan dalam pikiran bahwa perempuan itulah orangnya.

Kirana tak mau gegabah. Dia berpikir kemungkinan cara perempuan itu bunuh diri. Ada terlalu banyak cara bunuh diri yang bisa dilakukan. Pertama, melompat dari tepi halte saat Bus Transjakarta berjalan. Kedua, mengambil pisau di dalam tas kemudian memotong urat nadinya. Ketiga—Kirana memperhatikan gelas kopi karton di genggaman perempuan itu—mungkin saja dia sudah melarutkan racun di gelas kopinya.

Kirana meminta Badut merapat, kemudian membisikkan rencana pencegahan. Badut hanya mengangguk setuju. Sementara itu, menyadari dua orang berusaha memicu keributan, seorang penjaga loket Transjakarta menghampiri Badut dan Kirana. Dan, sebelum lelaki berperawakan tegap itu mengucap, Kirana meminta maaf lebih dulu dan mengatakan bahwa mereka tengah kalah tantangan dalam permainan sehingga mesti berteriak di halte ini. Lelaki tegap itu meminta Badut dan Kirana menghentikan tingkah konyol mereka, kemudian berlalu seraya menggerutu.

Bus Transjakarta datang. Namun, di antara sejumlah penumpang yang ada, hanya perempuan berkulit putih yang tidak naik. Hal tersebut menambah keyakinan Badut dan Kirana.

Aman, pikir Kirana, perempuan itu tidak melompat ke roda bus Transjakarta. Lalu, sesuai rencana, Badut dan Kirana mencoba mendekat ke arah perempuan tersebut. Mereka kini berdiri menghimpit si Perempuan. Melihat dua orang aneh berusaha mendekatinya, perempuan berkulit putih merasa tak nyaman dan mencoba menghindar. Saat itu, Badut dengan sengaja menyenggol tangan perempuan itu, sehingga kopinya jatuh.

“Ma-maaf,” ucap Badut. Intonasinya dibuat mengesankan dia tak sengaja.

Perempuan berkulit putih tidak marah. Hanya saja, dahinya kini penuh bulir keringat. Sementara Badut berusaha mengambil gelas kopi yang jatuh, Kirana mulai menjalankan tugasnya.

“Banyak orang yang ingin hidup, sementara beberapa orang dengan seenaknya saja memilih mengakhiri hidupnya.” Kirana mengucap lirih, tanpa membelokkan wajahnya yang lurus memandang kemacetan.

Mendengar seorang asing mengucap sesuatu yang aneh, perempuan berkulit putih menoleh ke arahnya. Otot-otot wajahnya menegang.

“Mbak bicara kepada saya?” tanya perempuan itu, akhirnya, memberanikan diri.

“Kalau Mbak memang seseorang yang hendak bunuh diri, berarti iya.” Kirana menatap perempuan itu dengan ekspresi dingin sekaligus penuh percaya diri.

“Ma-mak-maksudnya?” Perempuan berkulit putih tergagap. Entah lantaran tebakan Kirana benar, atau justru dia merasa terancam berada di samping Kirana.

“Intuisi saya mengatakan kalau Mbak ingin mengakhiri hidup Mbak. Dan intuisi saya hampir nggak pernah salah.”

“Betul.” Tiba-tiba, Badut kembali tergak di samping perempuan itu. “Maksud saya, intuisi dia selalu betul.”

“Kalian gila, ya? Saya ini sangat mencintai kehidupan saya. Saya cinta keluarga saya, bahkan saya cinta pekerjaan saya! Terus, apa dasarnya saya tertarik bunuh diri, hah?!”

Mendengar ucapan perempuan itu, Badut dan Kirana kehilangan kata-kata.

“Teruuuus masa intuisi saya salah, siiiih?” Bingung, Kirana bertanya hal yang tidak perlu entah kepada siapa.

“Lagi pula, kalau Mbak memang nggak berniat bunuh diri, kenapa wajah Mbak tampak aneh saat kami teriak soal bunuh diri?”

“Karena paman saya dulu mati bunuh diri,” ucap perempuan berkulit putih, suaranya sedikit bergetar.

Setelah ucapan perempuan itu, ketiganya sama terpaku menghadap jalan yang semakin padat. Kemacetan semakin parah. Sekonyong-konyong, Badut terkesiap menatap sedan BMW merayap dan kini berhenti di hadapannya.

Bagai nasib sial yang menyapa tak tepat waktu, di dalam sedan itu, dia melihat Claudya dan Daniel tengah berciuman. Itu ciuman yang jauh lebih mesra daripada seluruh ciuman yang pernah dia dan Claudya lakukan.

Air mata Badut menggerimis. Kirana dan perempuan berkulit putih terkejut melihat perubahan emosi Badut. Belum sempat Kirana bertanya, Badut sudah berlari ke sisi lain halte dan membenturkan kepalanya ke dinding berkali-kali.

Kirana dan perempuan berkulit putih segera melesat ke arah Badut. Keduanya menarik tubuh lelaki besar itu, namun hanya berakhir terpelanting.

Badut terus membenturkan kepalanya. Hal itu memaksa Kirana dan perempuan berkulit putih bangkit dan mencoba kembali menarik tubuh Badut.

“Dut, stop!” Kirana berusaha menggunakan seluruh tenaganya untuk menyelamatkan Badut.

Tubuh Badut tak bergerak sedikit pun, sehingga Kirana memutuskan untuk menyelipkan tangannya di antara dinding halte dan dahi Badut.

“Aaaaaawwww!” Kirana berteriak saat kepala Badut membentur telapak tangannya. Teriakan Kirana membuat Badut berhenti. Dia melihat tangan Kirana yang masih bergetar menempel di dinding halte.

Badut tergagap. Kirana menarik tangannya dan menggoyangkannya. Warna biru di punggung tangannya cukup menjelaskan rasa sakit yang dialaminya.

“Na,” ucap Badut, seraya mencoba mendekat dan memastikan kondisi tangan Kirana. “Ma-maaf, Na. A-a-aku nggak bermaksud …”

Akhirnya, Badut menjelaskan kepada Kirana dan perempuan berkulit putih bahwa dia kehilangan kendali setelah tak sengaja melihat Claudya berciuman dengan calon suaminya di sebuah mobil yang kebetulan terjebak macet.

“Jadi, sekarang saya justru yang menyelamatkan Mas dari bunuh diri, ya?” sindir perempuan berkulit putih, membuat Badut tertunduk malu.

“Gimana, Dut? Percaya, kan, kalau intuisiku nggak pernah salah?”

“Na,” Badut membuka suara, “kali ini jatuhnya beda. Intuisimu justru hampir membuatku membunuh diriku sendiri.”

“Ya, memang, sih. Tapi kesimpulannya aku tetap menyelamatkanmu dari bunuh diri, kan? Untuk alasan itulah Tuhan menciptakanku di dunia.”