Episode 15 - Perguruan Gagak Putih


Melihat sikapku yang tampak tegang, pria itu mengerenyitkan keningnya, kemudian dia tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampaknya dia merasa geli melihatku menanggapi sapaannya dengan penuh kewaspadaan.

“Ya… Elah, santai aja kali. Nggak usah tegang gitu cuma gara-gara ketauan latihan. Gue Dimas, dari Perguruan Gagak Putih,” ujar pria itu sambil menyodorkan tangan kanannya, mengajakku bersalaman. Sikapnya tampak begitu penuh percaya diri.

Sejenak aku ragu apakah harus melarikan diri ataukah menyambut jabatan tangannya. Tapi melihat sikapnya yang tampak sangat bersahabat, akhirnya kuputuskan menjabat tangannya. 

“Riki…,” ujarku memperkenalkan diri.

“Lu latihan beladiri juga Rik? Silat?” Dimas mengulangi kembali pertanyaannya tadi. 

“Iya,” jawabku sedikit ragu-ragu. Mungkin dia sempat melihat kuda-kuda yang kulatih tadi. Memang jika diperhatikan sedikit saja, kuda-kuda yang ku latih adalah kuda-kuda bela diri silat. Ada perbedaan dengan kuda-kuda Tae Kwon Do, Wushu, maupun Karate. 

Mata Dimas langsung berbinar-binar begitu mendengar jawabanku. “Dari perguruan mana?” 

“… Cuma latihan sendiri aja,” jawabku pelan. 

“Latihan sendiri?” Dimas tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, kepalanya sampai tertarik mundur sedikit.

“Hehe… Iya.” Aku cengengesan.

“Latihan silat kok otodidak, jarang-jarang gue ketemu orang yang latihan silat otodidak.”

“Iya juga sih,” jawabku sekenanya. 

“Kenapa nggak gabung perguruan gue aja Rik?”

“Dim! Ayo, latihannya udah mau dimulai.” Belum sempat kujawab ajakan Dimas, tiba-tiba dikejauhan terdengar suara seseorang berteriak memanggil dirinya. 

“Iya, Eh Rik, gue duluan ya. Kalo lu tertarik, kasih tau aja. Kita latihan di taman ini masih lama kok.” Dimas segera bergerak memutar tubuhnya, “Iya, sebentar,” teriak Dimas sambil berlari menjauhiku menuju asal suara yang memanggilnya. 

Aku terdiam memandangi kepergian Dimas. Sepertinya perguruan silat tempat Dimas berlatih adalah perguruan silat dunia awam, bukan berasal dari ‘dunia persilatan’ seperti yang dimaksud oleh Kinasih. Huh… Tampaknya sikap paranoidku terlalu berlebihan…

Mungkin yang dikatakan Dimas tadi ada benarnya, tidak seharusnya aku berlatih silat secara otodidak hanya berbekal buku pemberian Kinasih. Apalagi yang kupelajari ini bukan sekedar latihan silat biasa, tapi pengolahan tenaga dalam tingkat tinggi. Mungkin lain ceritanya jika aku sudah memahami pengolahan tenaga dalam sebelumnya. 

Setelah memikirkannya lagi, aku juga maklum jika Kinasih tidak mengajariku pengolahan tenaga dalam secara personal, tidak ada yang salah dengan hal itu. Toh dia tak pernah berjanji akan menjadi guruku dan melatihku secara langsung. Dia hanya bilang akan mencarikanku teknik tenaga dalam yang cocok, dan dia sudah melakukannya. 

Namun dimana mesti kucari guru yang dapat memberi bimbingan dan arahan dalam pengolahan tenaga dalam? Fiuh… aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja. 

Tapi seingatku selama berlatih seminggu kemarin, aku tidak pernah melihat Dimas dan kawan-kawannya berlatih silat di taman ini. Hal itu membuatku sedikit penasaran, aku segera menghentikan latihanku dan berjalan menuju tempat Dimas dan kawan-kawannya untuk melihat mereka berlatih.

Tepat di lapangan di tengah taman, kulihat Dimas dan belasan temannya mulai berlatih kuda-kuda. Tampaknya tadi mereka baru selesai latihan pemanasan berlari mengelilingi taman. Latihan-latihan yang mereka lakukan sangat fokus pada pengolahan tenaga luar. Meskipun terdapat latihan pernafasan, namun tak banyak berpengaruh terhadap penyerapan energi alam semesta. 

Setelah cukup lama memperhatikan mereka berlatih, kuputuskan mengakhiri sesi latihanku hari ini dan segera pulang ke rumah. 

Keesokan harinya diwaktu yang sama, aku kembali bertemu dengan Dimas dan kawan-kawannya sedang berlatih di taman. Tampaknya mereka berlatih rutin setiap hari. Dalam satu kesempatan aku sempat bertanya pada Dimas kenapa mereka tiba-tiba latihan di taman ini, ternyata tempat latihan mereka yang biasanya sedang di renovasi. Karena itu mereka berlatih sementara di taman ini. 

Selama tiga minggu berikutnya, atas izin mereka, aku selalu menyempatkan diri menonton mereka berlatih di sore hari. Jurus-jurus pukulan dan tendangan dasar yang mereka peragakan dapat menjadi referensi bagiku dalam melakukan latihan tenaga luar. Disisi lain, mereka juga kerap kali memintaku mempraktekkan gerakan-gerakan dasar latihan tenaga luar yang selama ini kulatih. 

Jujur saja, aku sempat berminat untuk bergabung dengan mereka. Apalagi setelah mengetahui perihal diriku yang berlatih silat secara otodidak, kawan-kawan Dimas juga membujukku agar bergabung dengan mereka. Bahkan pelatih mereka, seorang pria berambut belah pinggir berkulit coklat tua yang biasa dipanggil bang Ardi, juga ikut mengajakku bergabung. 

Tapi setelah kupertimbangkan lagi, bergabung dengan Perguruan Gagak Putih tidak akan memberikan terlalu banyak manfaat buatku yang lebih fokus berlatih pengolahan tenaga dalam. Mengingat latihan mereka lebih banyak melakukan peningkatan tenaga luar. Namun hubunganku dengan murid-murid Perguruan Gagak Putih menjadi cukup dekat. Aku bahkan sempat berkenalan dengan mereka satu per satu. Dimas juga bersikap sangat ramah padaku, meskipun aku menolak ajakannya untuk bergabung dengan Perguruan Gagak Putih, dia masih mau berdiskusi tentang jurus-jurus silat denganku. 

“Akhir minggu ini kita mau latihan empat hari tiga malam di Gunung Gede. Berangkatnya hari kamis sore besok pas long weekend,” ujar Dimas disela-sela perbincangan kami. 

“Wow, mantap.” Aku menyanjungnya dengan sigap.

“Lu mau ikut nggak?” 

“Hah? Emang boleh?” Ajakan Dimas membuatku terbelalak, aku benar-benar tak menyangka dia akan mengajakku ikut bersama dengan kawan-kawannya ke Gunung Gede.

“Gue udah bilang sama pelatih dan temen-temen, mereka oke, ” jelas Dimas lagi. 

Menurutku, ajakan berlatih di gunung bersama dengan Perguruan Gagak Putih sangat menarik. Meskipun ada kemungkinan motif mereka mengajakku adalah agar aku menjadi merasa lebih dekat dengan Perguruan Gagak Putih dan semakin tertarik untuk bergabung dengan mereka. 

“Oke kalo gitu, gue ikut Dim,” jawabku tanpa ragu-ragu. 

“Sip!” Muka Dimas tampak sumringah. Mungkin senang karena rencananya berjalan sesuai harapan.

Pada hari kamis, sepulang sekolah aku segera mengganti pakaian sekolahku dan mengambil tas berisi perbekalan mendaki gunung yang telah kupersiapkan sebelumnya. Lalu segera berlari menuju taman untuk bergabung dengan Dimas dan kawan-kawannya menuju Gunung Gede. 

“Rik, inget ya. Kamu harus mengikuti semua peraturan sama seperti yang lain. Dan harus mengikuti latihan seperti yang lain.” Bang Ardi, pelatih Perguruan Gagak Putih mengingatkanku di tengah perjalanan. 


“Iya, Bang.” 

Tidak butuh waktu lama bagiku memahami maksud kata-kata bang Ardi. Belum sampai dikawasan puncak, saat kami terjebak macet di tengah perjalanan, tiba-tiba saja kami diinstruksikan turun dengan semua barang bawaan kami. Lalu malam itu, kami berjalan kaki menuju Gunung Gede. Baru hingga pukul dua pagi kami sampai di lokasi perkemahan di kaki Gunung Gede. Begitu sampai disana, murid-murid Perguruan Gagak Putih langsung bergelimpangan seusai mendirikan tenda tanpa menunggu izin dari Bang Ardi untuk beristirahat. Beruntung dengan stamina yang ditopang tenaga Sadewo dalam aliran darahku, aku tidak merasa terlalu lelah. 

Disaat murid-murid Perguruan Gagak Putih terlelap dalam tidurnya masing-masing. Aku tergelitik untuk mencoba teknik penyerapan energi alam semesta di sini. Mengingat informasi yang diberikan Kinasih bahwa energi murni alam semesta berada pada kondisi paling murni pada waktu-waktu dini hari. 

Baru sekitar sepuluh menit aku memulai latihan, tiba-tiba saja tubuhku terasa panas. Padahal udara gunung dini hari ini sangat dingin! Aku juga merasakan adanya aliran energi di bagian dada yang langsung mengalir ke bawah pusar dan bagian keningku. Tidak salah lagi, ini adalah pertanda aku telah berhasil meng-inisiasi tahap penyerapan energi tingkat satu! 

Meskipun belum dapat dikatakan benar-benar mencapai tahap penyerapan energi. Namun inisiasi adalah pertanda awal jika latihan yang kulakukan selama ini tidak salah. Hanya tinggal meningkatkan kuantitas energi yang kuserap, maka tak perlu waktu terlalu lama sampai aku benar-benar mencapai tahap penyerapan energi tingkat satu. Pada saat itu, aku secara resmi telah menjadi seorang pendekar dunia persilatan!

Selain itu, kekhawatiranku terhadap buruan orang-orang Lembah Racun Akhirat bisa jauh berkurang. Karena dengan menguasai pengolahan tenaga dalam, meskipun hanya tahap penyerapan energi tingkat pertama, akan sangat berpengaruh terhadap asimilasi tenaga Sadewo di dalam tubuhku. 

Di tengah kegelapan malam pegunungan, aku tidak dapat menahan seringai di bibirku. Jika saja tidak ada murid-murid Perguruan Gagak Putih disini, pasti aku akan langsung tertawa terbahak-bahak.

“Hanya dengan sekali melakukan teknik penyerapan energi saja, aku langsung berhasil mencapai tahap inisiasi. Tampaknya aku harus lebih sering melakukan latihan di gunung!” batinku menyimpulkan penyebab mudahnya mencapai tahap inisiasi penyerapan energi. 

Setelah melakukan penyerapan energi selama kurang lebih satu jam, aku segera menuju tenda dan ikut beristirahat bersama murid perguruan yang lain. Mengingat perkataan bang Ardi yang akan memulai latihan pagi-pagi sekali.

Tepat pukul empat pagi, saat aku baru mulai memejamkan mata, teriakan bang Ardi menggelegar ke seantero perkemahan kami. Aku bersama dengan para murid Perguruan Gagak Putih tunggang langgang dari tenda kami masing-masing dan segera berbaris dihadapan bang Ardi. 

“Selamat pagi! Dengan ini, latihan khusus Perguruan Gagak Putih di Gunung Gede dimulai! Latihan pertama, meditasi. Silahkan mencari tempat yang nyaman di sekitar perkemahan untuk bermeditasi. Pukul lima tepat, kita akan beribadah. Bubar!”

Tanpa basa-basi, latihan kami di hari pertama segera dimulai. Tanpa kuduga, menu latihan pertama adalah bermeditasi. Tentu saja kesempatan ini kembali kugunakan untuk melakukan teknik penyerapan energi, menambah kuantitas energi murni dalam tubuhku. 

Setelah bermeditasi, kami melakukan ibadah bersama-sama dilanjutkan dengan sarapan pagi. Setelah itu, latihan pemanasan berlari tiga puluh putaran di sekitar perkemahan. Berlari di gunung jauh berbeda dengan berlari di taman kota, medan tanah yang terjal dan naik turun serta asupan udara yang tipis membuat banyak murid Perguruan Gagak Putih lari terseok-seok. Setelah berlari, kami juga melakukan push up tiga puluh kali dan latihan fisik lainnya. 

Lalu dilanjutkan dengan latihan gerakan-gerakan dasar hingga siang hari. Setelah beristirahat makan siang dan beribadah sebentar, kami melakukan latihan kuda-kuda hingga sore hari. Setelah itu kami mengemas tenda dan melanjutkan perjalanan mendaki ke Alun-alun Suryakencana. Malam harinya, kami mendirikan tenda dan beristirahat. Kesempatan beristirahat ini selalu kugunakan untuk menyerap energi alam semesta hingga waktu meditasi tiba. 

Menu latihan pada hari berikutnya juga masih sama, hanya bedanya kami tidak mendaki gunung pada sore harinya, hanya berlari bolak-balik Alun-alun Suryakencana-Puncak Gunung Gede hingga beberapa kali. Para pendaki yang kebetulan juga sedang mendaki di puncak Gunung Gede memperhatikan kami dengan tatapan heran sekaligus kagum, tapi jelas kami pura-pura tidak tahu dan tetap melanjutkan aktivitas kami. 

Tampaknya latihan gunung Perguruan Gagak Putih tidak jauh berbeda dengan latihan rutin pada sore hari di taman, hanya saja intensitasnya bukan main-main. Bahkan dengan asupan tenaga Sadewo dalam aliran darahku, aku merasa sedikit letih. Apalagi selama empat tiga malam hari di gunung aku hampir tidak tidur sama sekali. Mengingat waktu istirahat lebih sering kugunakan untuk melakukan latihan penyerapan energi. Pada malam minggu yang sunyi, di puncak Gunung Gede, aku berhasil mencapai tahap penyerapan energi tingkat pertama.