Episode 17 - Kado Untuk Bu Riny


 Setelah Coklat, Ival dan teman satu kelasnya lulus semua. Sang ketua kelas yang bernama Fauzi sengaja mengumpulkan anak-anak IPA tujuh di rumahnya. Fauzi yang dijuluki si ganteng dari IPA tujuh memang dikenal sebagai ketua kelas yang berwibawa.

 “Ok, semuanya sudah pada kumpulkan?” tanya Fauzi.

 “Lah lo lihat aja, Zi, udah ramai kayak gini,” sahut Coklat.

 Dalam hati Fauzi dia enggan membalas ocehan Coklat yang dirasa tidak berguna, tapi ada daya dia tergoda juga untuk membalas ucapannya itu.

 “Ya makanya itu, gue bilang sudah kumpul semua.”

 “Ah belum kumpul semua Zi, Pak RT enggak ada, Pak RW juga, terus tetangga lo juga, masih banyak.”

 “Maksud gue anak IPA tujuhnya!”

 “Oh, bilang dong. Tapi Zi, anak IPA tujuh dari sekolah lain enggak pada diundang juga?”

 “Iiiiih! Gue tuuuuh!”

 Sweety yang duduk di samping Fauzi lalu menepuk pundaknya sambil berbisik di telinganya. Untung saja telinganya Fauzi enggak bau, coba kalau bau? Bisa pingsan tuh si Sweety dan ujung-ujungnya para cowok IPA tujuh pada antri buat kasih napas buatan.

 “Zi, sudahlah jangan diladenin orang itu.”

 “Tapi .…”

 “Kalau lo ladenin, kapan nih acaranya dimulai?”

 “Iya juga ya,” ucap Fauzi sambil menganggukan kepalanya.

 Setelah mendengar bisikan dari Sweety, akhirnya Fauzi sadar juga. Alhamdulillah, dia sudah sadar, semoga dia tidak mengulangi kesalahan yang sama. 

 Fauzi langsung berbicara intinya saja tentang apa yang dia rencanakan itu.

 “Ok, teman-teman. Gue sengaja kumpulin kalian semua karena gue pengin kita itu kasih kenang-kenangan ke Bu Riny sebagai tanda ucapan terima kasih karena dia sudah jadi wali kelas kita. Kalian pada setuju kan?”

 “Setujuuuu!” jawab serentak anak-anak.

 Ketika semua anak-anak setuju dengan usulan dari Fauzi, si Coklat malah mengancungkan jari telunjuknya.

 “Zi .…”

 “Iya apa?”

 “Gue boleh kasih hadiah yang berupa cinta enggak ke Bu Riny?”

 Orang enggak tahu diri, sudah ditolak juga sama Bu Riny, masih mengincar saja. Fauzi tak langsung menjawab, dia menoleh ke arah Sweety. Sweety pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

 “Kita patungan ya, dan nanti cukup gue aja sama Sweety yang jadi perwakilan buat ke rumah Bu Riny.”

 Kasihan si Coklat, pertanyaannya enggak dijawab sama si Fauzi. Akhirnya rapat pun selesai dengan agenda memberi hadiah untuk Bu Riny.

 ***

 Berselang satu hari dari cerita sebelumnya. Sekitar jam 3 sore, perwakilan anak-anak IPA tujuh yang diwakili oleh Fauzi dan Sweety berkunjung ke rumah Bu Riny. Cat rumah Bu Riny berwarna merah jambu terus ada pintunya juga loh, gentengnya juga ada, jendelanya juga ada, ya pokoknya rumahnya itu kayak rumah deh.

 Mereka berdua sudah sampai di depan pintu rumah Bu Riny. Awalnya suasana tenang ketika Fauzi mulai mengetuk pintu rumah Bu Riny, namun ketenangan itu berubah ketika Coklat dan Ival tiba-tiba datang di hadapan mereka.

 “Eh ada Fauzi sama Sweety,” sapa Coklat.

 “Kalian berdua mau apa ke rumah Bu Riny sore-sore gini?” tanya Ival.

 Wajah Sweety dan juga Fauzi yang tadinya tampak biasa saja, kini berubah jadi murung dengan kehadiran mereka berdua. Perasaan engga enak pun menghampiri hati mereka masing-masing.

 Aduh, nih anak berdua ngapain sih pakai acara nyusul segala? tanya dalam hati Sweety.

 Kayaknya nih acara bakalan kacau deh, ucap dalam hati Fauzi.

 Fauzi tak hiraukan sapaan dari Coklat dan Ival, dia terus fokus mengetuk-ngetuk pintu rumah Bu Riny. Tok tok tok begitu bunyinya hingga mengganggu suasana santai Bu Riny yang lagi nonton sinetron di tv yang berjudul Suamiku Tega Mengahamili Istrinya Sendiri.

 “Eta terangkanlah, sinetron apa ini? Kok yang jahatnya kebangetan jahat sih? Kok yang baiknya cuma pasrah doang sih dijahatin? Hadeh mana isinya KDRT semua lagi, kok laku ya cerita kayak begini,” ucap Bu Riny saat menyaksian adegan istri terus dimarahi oleh suaminya sendiri. 

 Tok tok tok

 “Iya, sebentar.”

 Merasa penasaran Bu Riny pun langsung membuka pintu rumahnya, dan apa yang terjadi ketika Bu Riny membukakan pintu rumahnya? Ternyata dia biasa-biasa saja, enggak ada yang perlu dikagetkan, karena yang mengetuk pintu rumahnya itu anak muridnya di sekolah.

 “Eh ada Fauzi, Ival, Coklat dan Sweety. Silahkan masuk.”

 “Iya, makasih,” serentak mereka berempat.

 Mereka itu niatnya ingin memberikan kado untuk Bu Riny sebagai kenang-kenangan. Sampainya di rumah Bu Riny, mereka langsung duduk di bangku ruang tamu rumah ini.

 “Sore, Bu,” serentak mereka menyapa Bu Riny.

 “Iya sore juga, ada apa ya tumben kok main ke rumah ibu?” tanya Bu Riny.

 “Ada Bu Riny di hati aku,” celetuk Coklat.

 “Hueeek.”

 Melihat Ibu Riny muntah, Coklat pun merasa amat bahagia, dan dalam pikirannya itu Bu Riny menyimpan perasaan untuknya. Dia belum pernah melihat Bu Riny dengan tulus muntah pas digombalin. Tulus ndasmu!

 “Aduh Bu Riny kesemsem,” kata Coklat.

 “Enggak loh.”

 “Di hati ibu juga pasti ada saya, ya?” tanya Coklat sambil nyengir.

 “Hehehe, engga ada loh.”

 Kasian si Coklat di-PHP-in. Dia langsung menundukan kepalanya, mukanya dimanyunin. Setelah itu, Coklat kemudian berdiri. Dia berniat untuk pulang saja. Dia berjalan ke arah pintu dan ketika sampai di depan pintu, dia memegangi gagang pintu sambil memandang berkaca-kaca pada Bu Riny. Sok dramatis banget kan dia.

 “Biarin saya pergi saja, Bu,” ucap Coklat sambil sedikit mewek.

 “Owhhh,” serentak Fauzi, Sweety dan Ival

 “Jangan harapkan saya kembali.”

 “Owwwwhh,” serentak kembali Fauzi, Sweety dan Ival.

 “Aku akan pergi jauh dari kehidupan ibu.”

 “Ooowwwhhhh.”

 “Aw ow aw ow mulu lo bertiga!”

 Bu Riny yang melihat Coklat ingin pergi. Dia lalu berdiri, berjalan mendekati Coklat yang masih di depan pintu. Di hadapan Coklat, Bu Riny memegangi pundaknya. Wajahnya penuh haru derai air mata. Ini cerita bisa jadi romantis yang penuh air mata, kalau itu terjadi bisa gawat, dan saya harap yang baca siap-siap bawa ember. Kalau enggak punya ember, pinjam saja sama tetangga. Kalau tetangganya enggak kasih pinjam, omelin saja tetangganya. Kembali ke jalan cerita.

 “Coklaaat,” ucap Bu Riny memanggil Coklat.

 “Iya kenapa?” jawab Coklat.

 “Kamu mau pergi?”

 Coklat seketika hening. Dia mempunyai firasat kalau Bu Riny itu enggak rela dia pergi jauh. Iuuuh pede binggoooo.

 “Mungkin, aku pergi jauh dan mungkin takkan kembali lagi, Bu.”

 “Jangan.”

 “Jadi, Ibu .…” Mata Coklat berkaca-kaca. Dia membayangkan hal-hal yang dia inginkan tapi tidak diinginkan oleh Bu Riny. Pasti Bu Riny nanti berlutut di depan gue, megangin kaki gue, sambil nangis-nangis mohon gue jangan pergi, ucap dalam hati Coklat.

 Dalam bayangan dan khayalan anak ini, dia berangan seperti apa yang dia inginkan.

 “Coklat, jangan pergi!” Bu Riny berlutut di hadapannya sambil menahan kakinya.

 “Sudah, Bu, biarkan aku pergi huh.”

 “Ibu enggak bisa hidup tanpa .…”

 “Tanpa saya kan, Bu?”

 “Bukan, tapi tanpa bernapas, Nak.”

 “Wek?”

 Coklat tersadar dan kembali ke alam nyatanya. Di alam nyatanya ini, dia melihat Bu Riny memegang pundaknya. Coklat deg-degan berharap Bu Riny seperti apa yang dia harapkan. Wajah Coklat yang tadinya cemberut, sekarang bergaya sok cool.

 “Coklat, kamu jangan,” pinta Bu Riny.

 “Tapi, Bu .…”

 “Jangan ragu-ragu kalau mau pergi, pergi saja.”

 “Wek?” Coklat hanya bengong.

 Coklat mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia kembali duduk dengan teman yang lainnya. 

 Sekarang Fauzi, Ival, Coklat dan Sweety sudah duduk di depan Bu Riny. Kedatangan mereka ke sini untukt memberi sebuah kenang-kenangan untuk Bu Riny. 

 “Ibu, saya mewakili teman-teman. Niatan kita ke sini itu untuk mengucapkan terima kasih karena Ibu udah jadi wali kelas yang baik buat kami. Nah ini ada sedikit kenang-kenangan buat Ibu dari kami,” ucap Fauzi sambil memegang kado berbentuk bangun balok dengan panjang 70 cm, lebar 50 cm, dan tinggi 30 cm.

 “Ah kalian, enggak usahlah repot-repot seperti itu. Hehe,” kata Bu Riny lalu menadangkan tangannya, “mana hadiahnya?” pinta Bu Riny.

 Disaat Fauzi hendak memberi kado, tiba-tiba mata Coklat melirik ke kanan, ke kiri, ke tengah, ke depan mengikuti suara nyamuk terbang di sekitar wajahnya. Tanpa Coklat ketahui bahwa di dalam tubuh seekor nyamuk itu terdapat seorang pilot bernama Reihan. Reihan yang baru saja belajar jadi pilot belum mahir menerbangkan seekor nyamuk. 

 “Aduh gimana nih, bisa-bisa aku gagal jadi pilot nyamuk, dan aku gagal nikah sama Farah,” ucap Rehan panik saat menerbangkan nyamuk ke arah pipinya Coklat.

 Dengan terpaksa, Reihan akhirnya mendaratkan nyamuknya tepat di pipi kanan Coklat. Coklat yang merasa gatal langsung menampar kencang pipinya sendiri dengan batu bata yang sudah tersedia di atas meja. Bught! Nyamuk yang menempel di pipi Coklat pun seketika tewas, begitu pula dengan Coklat sendiri. Ya enggak lah! Masa tokoh utamanya ikut mati. Cukup nyamuk sama pilotnya saja yang mati.

 Coklat yang melihat nyamuk itu sudah tewas langsung menangkapnya dan memberitahu kepada teman-temannya yang ada.

 “Hiks, lihat ada nyamuk mati,” ucap Coklat.

 “Kasihan sekali ya, pasti dia… hiks.” Ival tak kuasa menahan airmatanya, begitu pula dengan Fauzi yang tak sanggup berkata-kata lagi. Namun di antara empat anak yang datang, Sweety lah yang paling merasa kehilangan. Saking merasa kehilangannya, dia pun ijin pulang dari rumah Bu Riny.

 “Jujur ya teman-teman, setelah nyamuk itu mati, gue enggak mau lagi lihat … lihat kalian jadi gila lagi. Cukup kalian saja, gue enggak mau ikut,” ucap Sweety yang berjalan sendirian menuju rumahnya.

 ***

 Setelah itu langit menjadi mendung di halaman belakang rumah Bu Riny. Fauzi, Ival dan Coklat memasang wajah sedih. Duka dalam meyelimuti perasaan mereka bertiga ketika membawa mayat seekor nyamuk yang tewas barusan. Mereka bertiga mengantarkan jasad yang sudah tak bernyawa itu ke dalam liang lahat.

 “Pasti keluarganya sedih,” ujar Coklat.

 “Iya betul, kasian dia. Apalagi kalau dia masih jomblo, sudah enggak laku eh mati. Tapi lebih baik gitu sih daripada jomblo terus yang setiap malam minggu kena bullyan temen-temennya,” kata Ival.

 “Betul apa kata kalian berdua, gue sebagai ketua kelas jadi ikut terharu,” ujar Fauzi.

 Sementara kesedihan juga tertera di wajah Bu Riny. Dia berdiri di belakang ketiga anak muridnya.

 “Ibu juga sedih.”

 “Ibu sedih ngeliat nyamuknya dimakamin?” tanya Ival.

 “Bukan, tapi ibu sedih ngeliat kalian bertiga kayak gini, haduh-haduh. Lulus sekolah bukannya jadi orang benar, penyakit lamanya tetap saja dipelihara.”

 “Sabar, Bu, ya?” ujar Coklat menoleh ke Bu Riny.

 “Iya, Coklat, Ibu sabar kok. Ibu kalau enggak sabar, mungkin sudah bunuh kalian pas masih sekolah dulu.”