Episode 16 - Sebelum Membahagiakan Orang Lain, Bahagiakan Dulu Orangtuamu


 Setibanya di kamar mandi, Coklat langsung mencari ember yang berisi air. Satu persatu air yang di dalam ember tersebut dia buang.

 “Ah lega, airnya udah gue buang semua.”

 Woy orang-orang di pelosok mah susah-susah cari air bersih, eh dia malah buang-buang air, enggak bersyukur!

 Puas membuang-buang air di kamar mandi, Coklat segera kembali berkumpul dengan teman-temannya, namun Coklat terlebih dahulu berkaca di cermin kamar mandi untuk memastikan bahwa dirinya ganteng tiba-tiba hal yang tak diinginkan terjadi. Pletak! Cerminnya pecah. Coklat terkejut, lalu dia menoleh ke belakang, belum sempat menoleh ke belakang, tiba-tiba ada seseorang yang memukulnya dengan sebuah balok kayu. Coklat pun enggak pingsan malah orang yang mukulnya pingsan.

 “Yah dia malah pingsan, padahalkan dia yang mukul loh, aneh,” ujar Coklat sambil melihat orang berbaju hitam, celana hitam, pakai topeng hitam dan sepatu hitam tergeletak di kamar mandi.

 Seharusnya kan elo yang pingsan, Klat!

 “Oh gitu ya, ya udah aku pingsan deh, ah.”

 ***

 Kembali ke lapangan dimana para siswa SMA Harapan Nusantara berkumpul. 

 Doooor Dooor! 

 Suara dua tembakan peluru terdengar dari atap gedung sekolah. Pak Kepala Sekolah, guru dan siswa SMA Harapan Nusantara dibuat terkejut. Pandangan mereka pun langsung tertuju ke sebelah kanan, padahal arah suaranya dari kiri.

 “Loh kok engga ada siapa-siapa ya, Bu Riny, padahal kan tadi ada suara tembakan?” tanya Pak Kepala Sekolah.

 “Iy aneh ya.”

 “Hey kalian lihatnya ke kiri bukan ke kanaaaan!” teriak seseorang dari atap gedung.

 Bu Riny dibuat terkejut ketika melihat sosok orang yang ada di atas gedung sekolah.

 “Vanila,” ujar pelan Bu Riny, bahkan saking pelannya, semut yang lagi bersandar di atas sepatu Bu Riny enggak sadar kalau Bu Riny lagi ngomong.

 “Tadi Bu Riny ngucapin kata Vanila ya?” kata semut 1.

 “Wah, gue enggak dengar, perasaan lo aja kali.” jawab semut 2.

 “Iya kali ya.”

 Bu Riny juga terkejut melihat Coklat tiba-tiba terikat di atas gedung.

 “Mau apa kamu, Vanilaaaaa?!” teriak Bu Riny dari bawah gedung.

 “Aku mau kita balikan lagi seperti yag dulu, aku enggak mau ada orang yang deketin kamu, kayak si Coklat iniii! Udah itu aja.”

 “Tapi aku udah engga cinta sama kamuuu!”

 “Apa kamu tega membiarkan anak didik kamu mati, lantaran tak bisa menerima aku lagi? Kita bisa, bisa jalani kayak dulu lagi hanya masalah waktu.”

 Bu Riny lalu tertunduk diam sejenak, perasaannya kini bercampur aduk memilih untuk menyelamatkan nyawa seorang Coklat atau mencintai seseorang yang tak dicintainya. Di dalam bayang Bu Riny, tersirat kenangan yang pernah dia lalui bersama mantannya itu. Ada tawa, disaat keduanya bahagia menjalani kisah bersama. Tawa yang muncul dari mulut sang mantan membuat perasaannya larut dalam indahnya masalalu. Namun indahnya masalalu tak bisa mengetuk pintu perasaan Bu Riny kembali. Hatinya sudah benar terkunci dari rasa cinta untuk sang mantan.

 “Aku sudah tak ada perasaan padamu lagi,” ucap Bu Riny perlahan berjalan mendekati gedung dimana Vanila berada.

 “Semua butuh waktu, Rin, aku yakin suatu saat kamu akan kembali mencintaiku!”

 Sementara bapak kepala sekolah bersama guru-guru lain dan para siswa sedang duduk menikmati adegan dramatis tersebut dari panggir lapangan sambil makan popcorn.

 “Wah, dramatis sekali ya anak-anak?”

 “Iya, Paaaaak.”

 “Kalau kalian ada diposisi Bu Riny, apa yang bakal kalian lakukan?”

 “Anu kalau saya sih bakalan timpuk bapak kepala sekolahnya, orang lagi gawat malah enak-enak ditonton,” jawab Ival.

 “Wah, bagus-bagus. Ada yang lain?”

 “Anu kalau saya sih bakalan ngeluarin kame-kameha, Pak terus saya arahin ke bapak, orang lagi gawat malah enak-enak ditonton,” jawab Tiar.

 “Wah kalian ini kompak ya, bisa sama jawabannya.”

 “Iya dong, Paaaak,” serentak Ival dan Tiar.

 ***

 Dari atas gedung, Coklat masih pingsan dengan tangan dan kakinya terikat erat oleh sebuah tambang. Terik matahari disiang hari membuat keringat dari dahi Coklat mulai keluar, dan perlahan-lahan pula satu tetes keringat Coklat akan segera jatuh ke lantai atap gedung ini.

 “Rin, jadi bagaimana, mau terima aku lagi?!”

 “Aku … aku .…” Bu Riny tertunduk, dia menoleh ke arah Pak kepala sekolah.

 Sorak sorai dari kepala sekolah dan para siswanya mendukung Bu Riny.

 “Terimaaa terimaaa terimaaaa!”

 Demi menyelamatkan orang banyak, akhirnya Bu Riny …

 “Apakah perasaan seseorang itu bisa dipaksakan? Aku enggak nyaman sama kamu! Kamu terlalu pencemburu, bahkan saat aku dekat dengan ayahku saja, kamu marah-marah enggak jelas! Apa kamu ingin aku bahagiaaaa?!” Bu Riny teriak meluapkan emosinya.

 Vanila hanya terdiam mendengar teriakan Riny saat ini. Lalu berkata dengan nada lemah.

 “Kita bisa memulainya dari awal lagi, aku janji.”

  Perlahan-lahan muka Coklat terbuka, dia terkejut melihat keadaan sekitar dan keadaan dirinya yang sudah terikat.

 “Jangan mau, Buuu! Seseorang yang tulus buat Ibu takkan mengorbankan dan melukai orang lain hanya demi keinginannya!” teriak Coklat.

 Menyadari teriakan Coklat seperti itu membuat Vanila harus menahan amarah untuk menamparnya dan kemudian melangkahkan kakinya untuk mundur. Vanila dan kawan-kawannya hanya terdiam.

 “Lagipula aku itu ….” Ucapan Coklat terhenti, dia tidak mau teman-temannya tahu bahwa dia memiliki perasaan kepada Bu Riny. 

 Dalam suasana yang berbatas seperti ini, Coklat hanya bisa menggerutu di dalam hati.

 Coklat yang masih berdiri di atap gedung sekolah, tampak sedih melihat Bu Riny seperti seseorang yang dilanda kebingungan dengan dua pilihan. Tak mau jadi beban bagi Bu Riny, Coklat berjalan mendekati tepian atap.

 “Bu Riny, Ibu jangan bingung!” teriak Coklat.

 Bu Riny pun melihat Coklat, ada usapan air mata di pipinya.

 “Bu Riny enggak usah peduliin Coklat, dan Bu Riny bisa ikuti perasaan Ibu sekarang tanpa harus memikirkan Coklat. Ibu Riny bilang tadi kalau Bu Riny sudah tidak ada perasaan dengan orang ini tapi karena Ibu khawatir sama Coklat, Ibu jadi sulit memilih. Lebih baik ….” Coklat terus berjalan hingga selangkah lagi terjatuh dari gedung.

 “Coklaaat, jangaaan!” teriak Bu Riny.

 Vanila yang menyadari akan hal itu tanpa sadar menggerakkan tubuhnya sendiri untuk menolong Coklat, dia berlari mencoba menyelamatkan Coklat yang tepat berada di hadapannya. Sayangnya, Coklat sedikit berjalan menyamping dan membiarkan Vanila terus berlari hingga melewati tepian gedung.

 Melihat langkah kakinya menapak di udara, Vanila menolehkan kepalanya ke belakang dengan berlumuran air mata.

 “Bye bye semua, hehehe.”

 Sekejap saja Vanila pun terjatuh.

 Brught!

 “Booos! Mati enggak?” teriak salah satu anak buah Vanila melihat tubuh Vanila merebah di atas tanah. Dan Vanila tersenyum.

 Kampret nih anak, lagi-lagi bikin gue susah. Haduh, tulang gue remuk dah, ucap Vanila dalam hati yang masih tersenyum lalu menolehkan kepalanya ke arah Bu Riny.

 Sementara Coklat masih berdiri di atas gedung.

 “Yah, kok bos kalian enggak mati sih?” tanya Coklat.

 Bagh bugh bagh bugh

 Seketika Coklat bonyok digebukin anak buahnya Vanila.

 “Haduh, salah apa ini kok gue digebukin?”

 ***

 Seminggu berlalu dari hari pelulusan, Coklat bukannya senang atas keberhasilannya lulus justru dia lagi sedih karena surat ajakan makan malam sama Bu Riny sampai saat ini belum tersampaikan. Coklat cuma bengong di depan rumah sambil melamun.

 “Huuuh kayaknya, gue enggak akan bisa jadi ceweknya Bu Riny, oh kurang apa sih gue ini?”

 Saat Coklat melamun tiba-tiba ada pesan masuk di handphone-nya. Coklat penasaran, dia pun seketika membuka pesan tersebut. Coklat terkejut melihat isi pesan tersebut yang menyatakan bahwa pesan itu adalah pesan ajakan makan malam bersama Bu Riny. Dia pun segera memamerkan isi pesan tersebut sama orang-orang di sekitar tempat tinggalnya.

 “Weee lihat nih, gue diajak makan malam sama cewek, hohoho.”

 Saking senangnya, dia pun memamerkan isi pesan itu selama satu minggu dan alhasil, Coklat pun gagal makan malam sama Bu Riny.

 “Oh tidaaaaak!”

 Eh enggak deng, justru malam harinya Coklat bisa dinner sama Bu Riny. Suasana Sabtu malam yang dingin berhiaskan bulan purnama menyinari kebersamaan Coklat dan Bu Riny serta tak luput berjuta bintang bertebaran di langit malam. Malam romantis penuh dengan senyuman tergambar di wajah keduanya. Saling menatap di hadapannya, duduk di atas kursi berhiaskan lilin di meja makan. Tersimpuh wajah Coklat seakan malu-malu kucing. 

 “Romantis ya, aku bisa berdua sama ibu di sini. Ibu, ini siapa yang ulang tahun kok ada lilin?”

 “Enggak ada yang ultah kok, ini biar romantis aja, Coklat.”

 “Ahh si Ibu bikin saya mau aja eh malu aja.”

 “Ibu gemez deh sama kamu.” Senyum Bu Riny.

 “Hmmm mau dong dicubit sama Ibu hehe.”

 “Ibu maunya jambak-jambak rambut kamu, gimana?”

 “Ih Ibu, aku mau bingit.” Senyum-senyum Coklat.

 “Nanti kamu botak, bagaimana?”

 Aduh Bu Riny mah aneh, dia yang pengen jambak eh dia juga yang khawatir. Kalau mau jambak, ya jambak aja yang kencang sampai botak juga enggak apa-apa.

 “Kalau botak ya gundul, gimana sih?”

 “Huft, anak TK juga tahu kalau botak itu gundul, maksudnya kalau kamu botak bagaimana?”

 “Ya kalau aku botak berarti enggak punya rambut, Bu.”

 “Hmmm … iyalah tak, Coklat botak, hahaha.”

 “Hmmm … si Ibu ngeledek, senang dah Ibu.”

 Tak berapa lama makanan yang mereka pesan pun datang. Sang pelayan membawa makanan pun langsung menaruh beberapa piring yang sudah terisi dengan hidangan istimewa. Di atas piring itu tersedia makanan yang sudah siap dimakan.

 “Ini, Coklat, makanan pesanan kamu udah datang.”

 “Hmmm.”

 “Kenapa hmmm?”

 “Aku kayaknya enggak bisa deh ngabisin makanan sebanyak ini.”

 “Coklat … kamu harus makan yang banyak.”

 “Ibu … saya tuh kalau makan enggak pernah banyak-banyak.”

 “Kenapa?”

 “Saya tuh biasanya makan satu sendok satu sendok, enggak langsung banyak.”

 “Hah, kenapa enggak sekalian aja kamu makan piringnya?”

 “Ah enggak, Ibu kalau mau makan piringnya, ya udah makan aja, saya ikhlas kok.”

 “Ibu tahu kamu itu suka sama Ibu.”

 “Ibu tahu darimana?”

 “Puisi yang kamu berikan waktu itu. Maaf ya, Ibu lama membalasnya. Ada alasan kenapa Ibu baru bisa membalasnya saat kamu lulus. Karena, sekolah itu tempatmu untuk belajar. Soalnya banyak sekali cerita anak remaja yang isinya membosankan seperti pacaran, terlambat sekolah, jadi badboy atau badgirl yang merasa jagoan, padahal mereka masih minta duit sama orang tua.”

 Dalam kekecewaannya Coklat berusaha untuk tegar, dia mengerti kalau cintanya itu bertepuk sebelah tangan.

 “Sejak awal, aku emang suka sama Ibu, tapi aku enggak mau anak-anak yang lain tahu. Mungkin dengan mencari perhatian di kelas adalah cara yang tepat buat Coklat untuk bisa merasakan kebahagiaan dengan kehadiran Ibu ….”

 “Bahagiakan dahulu kedua orang tua kamu sebelum kamu membahagiakan orang lain ya, jalan kamu masih panjang dan Ibu bukanlah orang yang tepat buat kamu. Bukan, bukan karena kamu lebih muda atau murid Ibu.”

 “Lalu?”

 “Kamu belum dewasa. Sebuah hubungan yang dijalin oleh dua sifat berbeda pasti ke depannya akan penuh dengan masalah. Disaat itulah kamu harus bisa menemukan jalan keluar. Ibu lihat, itu belum ada di diri kamu. Ya, tentunya dengan membahagiakan kedua orang tua kamu adalah jalan menuju dewasa kamu, Coklat.”

 Coklat pun tersenyum mendengar ucapan Bu Riny.

 “Iya makasih, Coklat akan membahagiakan kedua orangtua Coklat terlebih dahulu dan belajar dewasa ke depannya.”

 Seusai makan malam bersama, keduanya pun pulang ke rumah masing-masing. Ya itulah Coklat yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Keputusasaan hari ini bukanlah akhir dari segalanya, jalanmu masih panjang, Nak. Meski malam ini adalah malam pahit buat seorang, dia tak putus asa hanya berdiam menangis sendiri di dalam kamarnya.

 “Uh uh uh, gue udah senang-senang dapet peran utama, eh tetep aja status gue enggak berubah. Tidaaaak!”