Episode 37 - Menang Telak (2)



"Teman-temanku bukan tumbal! Mereka juga ingin menang dan berjuang bersama-sama.” Bane menyeru berapi-api. “Aku bukan sepertimu, orang kuat yang dikuasai hasrat besar. Aku ini adalah orang lemah yang membutuhkan teman untuk berjuang dan menang!”

"Diam kau!" Membentak, lengan kiri Gildur menyingkap kumpulan pisau, dan melibas orang di hadapannya.

Beruntung, Bane lekas-lekas menghindar seraya bersiaga menyerang. Nyaris saja, pikirnya. Lengan lelaki itu bisa saja memanjang sampai berpuluh-puluh meter lagi jika ia mau, tetapi entah mengapa cuma sepanjang ini. Bahkan, belakangan Gildur mulai terlihat lembek di hadapan musuhnya.

“A-apa—”

“Menjauh!” Sekali lagi, lengan kanan Gildur menyeruak, coba meremukkan Bane dengan zirah-zirahnya. “Akan kuhancurkan semangatmu itu!”

Beralih ke sisi kiri, tempat di mana Sully sibuk berkelit di antara sulur-sulur perak, Bane berusaha mengintervensi pertarungan dua musuhnya, sekaligus meraih kemenangan telak.

Lengan Gildur menyusul, berkelok-kelok tiap kali bertemu objek yang menghalanginya. Sementara, gugus pisau kecil bersikeras menyabet kulit wajahnya yang setebal pelat besi. Tidak mempan, Gildur serasa digeltiki bulu merak.

“Mau ke mana kau?!” Sully seketika bersanding di sisi Bane, memamerkan lajunya yang di luar akal. “Salah besar jika kau berpikir Gildur orang yang lambat. Bahkan, dia pernah mencegat dari depan saat kami lomba lari.”

“Benarkah?” Bane tetap fokus, menengok ke depan. Sedikit pun, ia takkan sudi lengah dari kedua musuhnya yang haus menang. “Kalau begitu, aku pun bisa menandingi Gildur!”

Selama sepersekian detik momen emasnya—kesempatan beriringan dengan Sully Si super cepat—Bane tanpa pikir panjang segera menubrukkan perisainya ke samping, beradu dengan refleks Sang musuh. Entah mengapa, Sully yang terlalu sombong sampai-sampai lupa akan potensi dirinya. Detik itu juga dia terpental akibat membran magnetik yang menyelimuti perisai Bane.

“Apa yang terjadi?” Shota mengaawasi dari kejauhan. Dia tidak mengerti apa-apa, selain sosok Sully yang tahu-tahu sudah melayang di angkasa. Sebuah isyarat penting dari Sang ketua. “Baiklah!”

Sulur perak berbondong-bondong mengejar mangsanya. Tiada peduli pertempuran sengit di tengah arena, atau Bane yang kembali dikagetkan oleh lengan kanan Gildur, sulur perak Shota terus saja bergerak layaknya kumpulan ular lapar.

“Aku takkan mengecewakan asrama pagi,” ujarnya seraya menuang setetes lem ke salah satu sulur. “Sekali kena, kau tidak akan bisa berkelit lagi.”

Sulur-sulur itu meliuk ke atas, siaga menerkam. Sully jadi kelewat panik, sebab perisai Bane membuat kakinya beku sesaat. Detik demi detik berlalu, akhirnya kedua tim sampai di penghujung pertarungan. Satu per satu teknik bertarung dikerahkan, rencana matang, kesigapan menyikapi pertandingan, dan semua kesempatan emas yang ada. Hingga, Shota tidak pernah lagi ragu akan keputusannya menyetujui Bane sebagai ketua asrama pagi.

“SERANG!”

Sulut pertama bereaksi, mengikat kaki kiri Sully amat kencang, disusul sulur kedua, ketiga, sampai kelima. Keempat anggota gerak Sang lawan dibekuk, tak terkecuali lehernya yang dianggap berbahaya. 

“Bagus, Shota!” sanjung Bane, masih berlari dalam lintasan marabahaya.

Di belakang sana, lengan Gildur mengamuk-amuk layaknya naga perkasa. Sedikit lagi, sebelum dirinya resmi menjadi mangsa paling menyedihkan di pertandingan ini. Bagaimana tidak? Selama pelarian, Bane kian merasakan bahkwa kadar lucidity-nya perlahan-lahan menipis. 

Bukan saat-saat ini saja, tetapi sejak ia nekat membekukan semua musuh. Barangkali itulah sebab mengapa tusukan pisau-pisau Bane jadi selembut kertas.

“HABIS KAU!” Gildur meraung.

“Ti-tidak!” Bane terpelanting tatkala kakinya ditarik paksa oleh sejuntai tangan super panjang. 

Gildur berhasil meraihnya. Dan, kini Bane ditarik paksa mendekati predator terganas. Berulang kali, lubang-lubang dangkal tercipta manakala ketua asrama pagi itu coba bertahan dengan menancapkan perisainya ke tanah. Namun, ia tak pernah berhasil.

“Sial! Sedikit lagi … sedikit lagi kami menang!” Bane seketika mencalang. Bukan isyarat pasrah, melainkan ide cemerlang tengah melintasi kepalanya. “Jangan kira aku kehabisan upaya!” Ia lekas merubah posisi, berbaring di tanah sementara kakinya terus ditarik.

Gildur sudah tidap peduli dengan apa yang berusaha dibuktikan mangsanya. Sebab, ia tahu pasti bahwa apa yang telah terperangkap dalam genggamannya, takkan pernah bisa lolos walau hanya sekejap.

TANGG!

“Brengsek!”

Napas Bane menderu, tak sanggup bergerak lebih banyak lagi. Dan, memang itulah yang terjadi. Ia telentang di atas tanah kelabu, terengah-engah, dengan perisai tergeletak di sisi kiri. Sementara itu, tangan Gildur berhenti menyeret tubuhnya.

Sungguh ajaib! Di kala terdesak, Bane masih sempat-sempatnya mencari akal demi menyongsong kemenangan. Ia tanpa ragu menubruk lengan Sang musuh menggunakan perisanya. Tak peduli hasil, pemuda yang satu ini benar-benar nekat. Membran magnetik yang sebelumnya menaklukkan Sully, kini ikut-ikutan membantai Gildur.

“Ada berapa lagi trik memuakkanmu, Prajurit sialan?!” Gildur mengomel, tak habis pikir akan nasibnya.

“Ada ratusan, bahkan ribuan jika kau masih menghalang-halangi kami.”

“Cih! Dasar lalat pengganggu. Mustahil kau menang bila tanganku masih menggenggam kakimu.”

Benar. Keberhasilan Bane, nyatanya itu hanya berguna mengulur waktu. Dia tidak sanggup bergerak, dan jemari Gildur masih melilit kakinya. Selain itu, dua rekannya yang lain makin kewalahan diserbu tim musuh. Mungkinkah kemenangan bisa diraih, pikirnya. Bahkan, sampai saat ini Roland masih belum jelas kabarnya.

“Bisa apa kau sekarang?” Pertanyaan Gildur seakan meremukkan hati Bane. “Untuk rekan-rekanmu? Untuk anggota timmu? Untuk asramamu yang kau bangga-banggakan? Gwahaha … kau ini cuma sampah.”

Sampah, benarkah demikian? Setelah perjuangan sekeras ini, Bane hanya mendapat “sampah” sebagai ganjaran. Lupakan soal martabat atau harkat, ia benar-benar butuh kemenangan, sekalipun itu artinya harus bersujud memohon-mohon.

“K-kau hebat, Gildur.” Satu kalimat, penuh tipu muslihat bagi Gildur. “Tidak sepetiku, kau bisa menang hanya karena kau mau. Tak perlu ada kerja keras, tak perlu ada perjuangan, atau bahkan, kau tak perlu teman-temanmu. Kapan aku bisa sepertimu? Ku-kurasa, itu tidak akan pernah terjadi. Sekali lemah tetaplah lemah.”

“Apa-apaan lagi ini? Kau mencoba menipuku, hah?”

“Tidak, aku berkata jujur.”

“Gwahaha … rupanya kau sudah sadar betapa memalukannya dirimu. Itu bagus, tetapi aku takkan lengah.” Gildur bicara seraya menatap angkasa. Ia cemas jika awan-awan mulai berkumpul lagi. 

Menyisakan waktu beberapa detik sebelum efek perisainya berakhir, Bane kehabisan rencana untuk dimatangkan. Kala itu, dirinya murni mengakui keunggulan Gildur dibanding lucid dreamer lain, termasuk ia sendiri. 

Tidak banyak hal yang bisa dipertahankan sekarang. Walaupun mereka berhasil memukul mundur musuh untuk kesekian kalinya, tetap saja terasa sulit meraih kemenangan.

Dunia mimpi, tempat orang-orang memanjakan imajinasi, sempat terbayang di benak Bane. Dia memang pribadi yang haus akan perkembangan, selalu saja ingin menikmati proses menuju sosok yang lebih hebat dan lebih hebat lagi. Maka dari itu, saat penawaran turnamen Oneironaut dikumandangkan, dirinya tak ragu-ragu menandatangani kontrak.

Akan tetapi, sekarang ia baru tahu kalau proses yang menyakitkan itu ada. Proses yang meremukkan tekad, mengecilkan ambisi. Lucid dreamer kuat, manusia yang dibekali banyak lucidity, sebegitu mudahnya merampas kesenangan Bane akan perkembangan. Ia ingin berkembang, tetapi sebuah tembok Maha besar menjulang tinggi di hadapannya.

“Hoy,” tegur Gildur sesaat menyadari musuhnya hanyut dalam lamunan. “Apa ambisi yang membawamu mengikuti turnamen ini?”

“Apa pentingnya buatmu?” Bane menatap kosong.

“Bilang saja! Aku cuma mau dengar.”

“Sebuah dunia di mana orang-orang dapat berkembang tanpa batasan. Aku ingin melihat potensi terbaik manusia, kemampuan maksimal mereka jikasaja tiada tembok yang menghalangi.”

“Tembok?” Dahi Gildur mengernyit. “Tembok macam apa?”

“Tembok semacam dirimu. Kau punya banyak potensi, banyak kelebihan, tapi kau justru hanya memikirkan dirimu sendiri. Kalau begitu, rasanya apa yang dianugerahkan kepadamu terkesan sia-sia,” tukas Bane.

“Jangan bodoh! Aku hebat karena usahaku sendiri. Sebelumnya, tiada yang pernah peduli padaku,” sanggah Gildur. “Kau tahu? Jarang aku temui sosok semaca dirimu. Biasanya, orang-orang tertarik memihakku karena aku kuat. Akan tetapi, kau satu-satunya orang yang nekat melawanku meski mengaku lemah.”

Terbesit sebuah pengakuan di dalam benak Bane. Sewaktu beradu dengan Gildur, semangatnya benar-benar memuncak, bahkan nyaris menembus ubun-ubun. Maka dari itu, ia tidak sadar telah berucap sedemikian beraninya. Dan, ia pun tak menyangka ucapan tersebut akan berimbas pada sikap Gildur.

“Lalu apa?” ujar Bane. “Apa tujuannya semua ini? Perbincangan kita.”

Tiba-tiba saja cengkeraman Gildur mengendur. Ia melepaskan kaki Bane, tanpa memberi sepatah-dua patah kata, tanpa menggubris dengan lisan, tanpa menuntut banya hal. Cuma satu, satu hal yang kelewat ingin Gildur sampaikan kepada manusia dengan kepribadian unik yang ia temui di pertandingan ini.

“Ambisiku adalah mengubah persepsi umat manusia untuk percaya pada kemampuan mereka masing-masing. Kau tahu, ‘kan? Terlalu banyak orang-orang licik yang berlindung di bawah kaki orang kuat sepertiku. Bahkan saat di pertandingan ini, mereka lebih percaya pada Ragnarok dibandingkan kemampuan mereka sendiri. Itu memuakkan!”

Terperangah, Bane sampai lupa bangkit dari tanah. Ia memalingkan kepala, menatap betapa mulianya sifat Gildur, juga tujuan lelaki besar itu.

“Namun, kini ambisiku telah tercapai. Menemui orang sepertimu, aku yakin masih ada manusia lemah yang percaya pada tangan dan kaki mereka. Kau berjuang, mengatasnamakan teman-temanmu, sementara aku bersenang-senang atas diriku sendiri.” Gildur terkekeh. “Ya, kurasa saatnya perubahan rencana. Asrama pagi harus memenangkan pertandingan ini.”

Pisau-pisau Bane jatuh, membiarkan wajah Gildur mengawasi rekan-rekannya dengan jelas. Kedua lengan lelaki itu membesar, hampir-hampir seukuran batang cemara. Belum cukup, telapak tangannya melebar, terus saja sampai seluas jala nelayan.

“Siapa namamu?” katanya melirik Bane.

“Bane.”

“Hoy, Bane! Aku memang kuat, tetapi semangat tarungku rendah. Sementara dirimu, kau punya potensi untuk jadi seratus kali lebih kuat dariku dengan keberanianmu itu.” Sejurus akhir ucapannya, kedua lengan Gildur meluncur cepat, tak disangka-sangka membekuk dua rekannya yang sukses menyudutkan tim musuh.

Keajaiban tengah terjadi. Sully yang menyaksikan hal tersebut sontak naik darah. Dia memaki-maki Gildur. Menghina pikirannya yang terlalu dangkal, merendahkan martabatnya, juga kredibilitasnya terhadap asrama malam. Namun, Gildur sama sekali tidak peduli. Tentu saja karena impiannya telah jatuh ke tangan Bane.

“Bane! Kau harus maju ke garis depan. Rekan-rekanmu mungkin gagal menyerbu markas kami.” Gildur menyarankan. “Sarasvati, Fred, Fasha, dan Red. Semua lucid dreamer hebat asrama malam berkumpul di garis pertahanan. Kau dan teman-temanmu tidak punya pilihan selain menghadapi mereka bersama-sama.”

Bane langsung mengangguk, sepakat perihal arahan dari Gildur. Tanpa basa-basi, ia meminta dua rekannya yang tersisa untuk bergerak ke garis depan, menyisakan Shota di garis belakang bersama Gildur.

“Red.” Gildur menyela sesaat Bane melintas di sampingnya. “Kau musti waspada. Orang itu lebih kuat dariku.”

“Kukira Sarasvati yang lebih kuat darimu,” timpal Bane.

“Meski kuat, Sarasvati punya kelemahan. Kemampuan telekinesisnya takkan mampu menjangkau objek sejauh delapan meter.” Gildur mendengus. “Sedangkan Red, dia tidak mengenal batas. Matanya adalah senjata paling berbahaya.”

“Baiklah.” Bane menenggak ludah, gugup. “Akan kuusahakan.” Secepat mungkin ia berlari menembus hutan bersama dua anggota asrama pagi lainnya.

Akan tetapi, belum genap empat langkah, seseorang sudah mencegat mereka dari depan. Itu Red, bersungut-sungut mendapati rekan seasramanya tampak tidak karuan. Lantas saja, Gildur langsung terbeliak. Bencana terbesar datang, pikirnya.

“Apa yang terjadi, Gildur?”