Episode 169 - Racun


“Jenderal Pertama, Pangkalima Rajawali Si Dayak Bijak. Jenderal Kedua Tirta Kahyangan… Ratu Kabut. Jenderal Ketiga, adalah aku, Super Guru yang kau kagumi… Komodo Nagaradja! Gelar yang aku emban adalah Siluman Super Sakti.”

Murid-murid Perguruan Gunung Agung yang memperoleh kesempatan ‘berlatih’ di Perguruan Anantawikramottunggadewa, memang benar telah kembali ke Pulau Dewa. Bintang Tenggara sempat merasa keberatan karena hendak terlebih dahulu memastikan kesembuhan Lamalera kembali seperti sedia kala. Akan tetapi, ia tiada dapat berbuat apa-apa karena panggilan pulang datang langsung dari Sesepuh Ketujuh.

“Si Kutu Buku yang membawa Kitab Kosong Melompong adalah Jenderal Keempat dan Si Kurus Kering pemanggul Dayung Penakluk Samudera merupakan Jenderal Kelima. Sedangkan diriku sendiri, Ginseng Perkasa, Maha Maha Tabib Surgawi, adalah Jenderal Keenam. Paling mulia di antara semua!” 

“Mulia daki kuda!” sergah Komodo Nagaradja. “Hei! Tabib Maha Maha Cabul! Siapa yang memberimu izin bersuara!?” 

“Hai, upil gajah! Siluman Super Sakit! Muridmu yang bertanya tentang urutan Sembilan Jenderal Bhayangkara. Aku hanya menjawab pertanyaan apa adanya!”

Demikian, disela waktu luang, Bintang Tenggara merasa penasaran tentang keberadaan para Jenderal Bhayangkara. Pertanyaan sederhana yang ia ajukan tentang urutan pada jenderal, malah menimbulkan keributan di antara dua ahli digdaya yang merupakan dua tokoh di dalam jajaran jenderal itu sendiri. Benarkah mereka ini merupakan dua di antara Sembilan Jenderal Bhayangkara…? Pasukan seperti apa yang dahulu mereka pimpin…? 

“Namamu itu, Ginseng Perkasa, seperti obat kuat khusus lelaki… Lagipula, gelar aslimu adalah Maha Maha Tabib Syur… ‘Surgawi’ adalah pemberian Si Muka Bulat agar tak terlalu menyimpang perilakumu itu!” hardik Komodo Nagaradja. *

“Setiap perempuan yang kusembuhkan menggunakan teknik khusus… selalu merasa syur… ibarat dilambungkan tinggi mencapai surga. Hehe….” Nada suara Kakek Gin setengah mendengus.

“Sudah! Hentikan! Kau akan mencemari pikiran muridku! Jangan bersuara lagi! Diam!”

“Brak!” 

Pintu Graha Utama milik Bintang Tenggara didobrak. Panglima Segantang tiba seperti biasa. Mengapa si bongsor itu tiada bisa mengetuk pintu… atau setidaknya membuka pintu layaknya manusia kebanyakan? Mengapa pula ia datang bertandang? Wajah Bintang Tenggara berubah kecut. Pastilah ada sesuatu yang kurang menyenangkan berlangsung. 

“Sahabat Bintang! Para Tetua Perguruan menantikan kehadiran kita di Balai Utama,” sergah Panglima Segantang yang terburu-buru. 

“Hm…? Ada sesuatu yang berbeda dari anak bertubuh bongsor ini. Susah dijelaskan. Namun, diriku seperti pernah mengenalnya….” 

“Hmph…,” Komodo Nagaradja mendengus. Meskipun demikian, dirinya tak hendak memberi penjelasan lebih lanjut kepada Ginseng Perkasa. 


“Canting Emas, Panglima Segantang dan Kuau Kakimerah… mata hati setara Kasta Perak Tingkat 2. Bagus!” 

“Bintang Tenggara… mata hati setara Kasta Perak Tingkat 3… Hebat!”

“Aji Pamungkas, mata hati setara Kasta Perak Tingkat 5… Luar biasa!”

Pujian datang bertubi-tubi dari para Tetua di Perguruan Gunung Agung, ibarat serangan beruntun dalam pertarungan sengit. Canting Emas dan Panglima Segantang terlihat puas, keduanya saling pandang. Jikalau bukan di dalam Aula Utama dan di hadapan para Tetua, mungkin mereka sudah terlibat dalam latih tarung. Kuau Kakimerah biasa-biasa saja. Pujian tiada berharga. Berikan padanya keping-keping emas, barulah ia akan melompat-lompat kegirangan. 

Aji Pamungkas tampil jumawa. Sudah. Cukup satu kalimat saja untuk menggambarkan raut wajah dan tindak-tanduknya dalam menerima pujian. Bila berlama-lama memandangi Aji Pamungkas, maka Bintang Tenggara yakin dan percaya bahwa dirinya akan memuntahkan darah, ibarat terkena hentakan tenaga dalam dari ahli Kasta Emas. 

Kelima murid nan terpuji dan penuh tauladan, kemudian memperoleh pengarahan dan nasehat yang demikian panjang kali lebar. Para Sesepuh dan Maha Guru berlomba-lomba menyampaikan petuah mereka. Tentang jalan terjal dan berliku dunia keahlian… Tentang kesalahan dan kekeliruan yang banyak diperbuat para ahli… serta lain sebagainya.

“Sebelum tahun ajaran berakhir sepekan dari hari ini, kami memiliki satu tugas bagi kalian berlima,” ujar Sesepuh Kelima. 

Nah ini dia! Ini dia yang dinanti-nanti, gerutu Bintang Tenggara dalam hati. Inilah momen yang anak remaja tersebut telah perkirakan sedari awal. Pasti ada saja sesuatu yang tersembunyi di akhir kata-kata para ahli digdaya ini. Sebuah kesimpulan yang akan menjurus kepada kejadian-kejadian penuh mara bahaya. 

“Apakah ada di antara kalian yang pernah mendengar tentang “Cetik’?” timpal Sesepuh Ketujuh, yang memiliki keterampilan khusus sebagai peramu. 

“Cetik adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang ahli karang dalam mengerahkan kemampuan jari-jemari dalam mengendalikan sebuah alat sakti. Kegiatan ‘menyetik’ adalah ketika ahli karang tersebut kemudian mengisahkan ceritera tentang petualangan diriku,” tanggap Aji Pamungkas cepat. Ia berdiri penuh percaya diri. Perkasa. 

Para Tetua Perguruan Gunung Agung mengernyitkan dahi. Beberapa dari mereka saling pandang. Para Tetua ini tentu sudah banyak mengenal dan menyelami berbagai macam hal seputar dunia persilatan dan kesaktian. Akan tetapi, tak satu pun dari mereka pernah bersinggungan dengan penjelasan yang disampaikan oleh Aji Pamungkas. Perkasa!

Bintang Tenggara mengela napas panjang. Tabiat buruk Aji Pamungkas kembali kambuh. Tak dapat membedakan mana yang khayalan dan mana yang nyata. Bila dipertanyakan lebih lanjut, maka kemungkinan besar anak remaja itu akan memberikan penjabaran panjang seputar dunia paralel. 

“Hm…?” Salah seorang Tetua terlihat penasaran. 

“Apakah ada di antara kalian yang pernah mendengar tentang Cetik?” sela Sesepuh Kelima dengan mengulang pertanyaan. Ia berupaya mencegah agar Tetua yang penasaran itu tak terjebak dalam jurang khayal. 

“Cetik adalah sejenis racun yang digdaya dan secara khas berasal dari Pulau Dewa,” tanggap Canting Emas. Sepertinya ia banyak mengetahui tentang Cetik, namun tadi kalah cepat dalam menjawab. 

“Cetik terbagi dalam dua golongan, yaitu Cetik Sekala dan Cetik Niskala,” tambah Canting Emas. 

Gadis cantik dan langsing itu lalu melanjutkan bahwa Cetik Sekala merupakan golongan racun yang dibuat dengan mengandalkan keterampilan khusus sebagai peramu. Dengan kata lain, peramu bukan hanya dapat meracik obat-obatan, namun peramu juga memiliki kemampuan untuk meracik racun. 

“Pada dasarnya obat adalah racun yang ditakarkan,” tetiba Ginseng Perkasa berujar menggunakan jalinan mata hati. 

“Hmph…,” dengus Komodo Nagaradja. 

“Diriku menyukai gadis ini,” tambah Ginseng Perkasa. “Tak hanya memiliki ketiak nan indah dipandang, dirinya juga memiliki pengetahuan yang cukup baik!” 

“Hei!” Komodo Nagaradja kembali naik darah. 

Bintang Tenggara berupaya memusatkan pikiran dalam mendengarkan penjelasan Canting Emas. Kemampuan dalam memusatkan pikiran benar-benar diuji belakangan ini, tepatnya sejak ia menempatkan jiwa dan kesadaran Ginseng Perkasa di dalam botol. 

“Cetik Niskala adalah golongan racun yang dibuat dengan mengimbuhkan unsur kesaktian tertentu atau dibuat agar menghasilkan unsur kesaktian tertentu pula.”

“Hah!?” Bintang Tenggara tak dapat menyembunyikan keterkejutan dirinya. Bukankah penjelasan Canting Emas ini dapat berarti unsur kesaktian racun…? Bukankah tubuh Super Guru Komodo Nagaradja digerogoti oleh racun jenis ini!?  

“Tepat sekali!” seru Sesepuh Ketujuh. Perempuan tua yang membimbing Kuau Kakimerah ini memang diketahui memiliki keterampilan khusus sebagai peramu. 

“Di reruntuhan wilayah pusat Pulau Dewa, belakangan muncul desas-desus tentang keberadaan Cetik yang dikatakan dahulu kala dibuat oleh salah satu Raja Angkara,” sambung Sesepuh Kelima. “Adalah tugas kalian untuk menelusuri akan kebenaran desas-desus tentang Cetik ini. 

Bila benar adanya, maka kalian ditugaskan mengambil dan membawa Cetik tersebut kembali ke perguruan,” timpal Sesepuh Ketujuh. “Kita akan memusnahkannya.” 

Ketertarikan Bintang Tenggara atas Cetik ini meningkat cepat. Sungguh ingin dirinya memahami perihal racun, apalagi yang terkait unsur kesaktian. 

...


Matahari pagi ditutupi kerumunan awan gelap dan berat. Saking beratnya awan, bahkan angin yang berhembus kencang tiada dapat membawa mereka pergi. Mungkinkah angin munson barat telah kembali berlabuh dan badai akan datang menyapu…? 

Tak terasa, hampir setahun waktu normal berlalu sudah sejak Bintang Tenggara meninggalkan Pulau Paus. 

Regu yang terdiri dari lima Murid Utama Perguruan Gunung Agung bergerak cepat. Dari Monumen Genta, mereka memanfaatkan gerbang dimensi ruang menuju salah satu kota di wilayah pusat Pulau Dewa. Dari kota tersebut, perjalanan seharian membawa mereka ke kaki Gunung Luhur Batu, gunung api tertinggi kedua di Pulau Dewa, setelah Gunung Istana Dewa. 

“Wilayah ini dikenal sebagai Luhur Batu. Kita beristirahat di tempat ini,” ujar Canting Emas, yang juga berperan sebagai penunjuk arah. 

“Hendak kemana kalian…?” Tetiba Panglima Segantang berujar. 

“Di depan ada kolam pemandian air panas. Kami akan membasuh diri sejenak,” jawab Canting Emas yang melangkah pergi bersama Kuau Kakimerah. 

“Hm…” Radar Aji Pamungkas tetiba menyala. Ia mulai terlihat gelisah. Kesempatan ini jangan sampai terlepaskan, mungkin demikian ia membatin. 

“Kawan Aji hendak kemana…?” kembali Panglima Segantang berujar. 

“Mmm… aku hendak berlatih… eh… bukan. Maksudku…”

“Sebaiknya kita tiada berpencar-pencar,” ujar Panglima Segantang polos. 

“Nak Bintang… Mari kita menyusun siasat…”

“Hei! Jangan bawa-bawa muridku dalam siasat bejatmu!” hardik Komodo Nagaradja.

“Diriku tiada berbicara denganmu! Mengapa dikau selalu senang mencampuri urusan ahli lain!?” 

“Aji, aku setuju dengan Panglima. Sebaiknya kita tetap bersama.” 

“Swush!” 

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana!

Bintang Tenggara segera mengejar Aji Pamungkas yang bergerak cepat mengandalkan kesaktian unsur angin. Beruntung bahwa lintasan lari Aji Pamungkas dapat dengan mudah ditebak. Pertama, langkah ahli dengan unsur kesaktian angin adalah lurus belaka. Kedua, pastinya ia melesat ke arah kolam pemandian air panas dimana Canting Emas dan Kuau Kakimerah berada. 

“Bagus! Terkadang seorang ahli tiada perlu menyusun siasat. Langsung ke tujuan seringkali menjadi pilihan paling tepat!” 

“Nasehatmu tiada berguna!” sahut Komodo Nagaradja. 

“Lepaskan aku!” Aji Pamungkas dengan mudahnya dibekuk. Lalu diikat di sebatang pohon oleh Panglima Segantang.

“Lepaskan dia….” Ginseng Perkasa setengah memohon, entah karena apa.


Hujan deras menyuburkan permukaan bumi pada keesokan pagi. Kelima remaja mengenakan mantel dan bergerak berbaris membelah tanah becek. Canting Emas melangkah paling depan, disusul Kuau Kakimerah. Bintang Tenggara di tengah, lalu Aji Pamungkas dan Panglima Segantang. 

“Sampai hati kalian berdua…,” gerutu Aji Pamungkas. Matanya merah. Ia hampir tak tidur semalaman membayangkan entah apa.

“Kita telah tiba,” ujar Canting Emas. 

Di hadapan mereka, setengah terkubur, adalah sebuah reruntuhan yang tiada jelas bentuknya. Tak jauh dari reruntuhan, belasan tenda telah terpancang di tanah basah. Mengabaikan derasnya hujan, beberapa ahli terlihat hilir-mudik mengerjakan berbagai hal. Di antara mereka, bahkan ada beberapa yang bermandikan lumpur dalam upaya menggali. 

“Salam hormat, kakak-kakak seperguruan…,” sapa Canting Emas. 

Beberapa dari mereka menoleh, dan menganggukkan kepala. Kemudian, mereka melanjutkan kegiatan. Sepertinya Perguruan Gunung Agung telah mengirim beberapa regu Kasta Perak ke tempat ini. Akan tetapi, tiada satu pun dari mereka yang telah tiba terlebih dahulu, bahkan mungkin ada yang telah menetap selama berbulan-bulan, menemukan apa yang mereka telusuri. 

“Hmph…” tetiba Ginseng Perkasa mendengus. 

“Apakah Kakek Gin mengenal tempat ini?”

“Ini adalah salah satu markas Pasukan Penyembuh, yang merupakan pasukan paling berjasa selama Perang Jagat.” 

“Benarkah…?”

“Benar. Diriku adalah Jenderal Pasukan Penyembuh. Oh… setiap satu dari anggota pasukanku adalah perempuan-perempuan cantik… baik wajah maupun ketiak mereka….”

“Jenderal laknat!” caci Komodo Nagaradja.

“Jikalau demikian, pastilah Kakek Gin mengetahui tentang racun Cetik, dan dimana letak racun tersebut.” 

“Percuma,” sela Komodo Nagaradja. “Markas Pasukan Penyembuh ini telah jatuh ke tangan Raja Angkara.”

“Bagaimana mungkin…?” timpal Bintang Tenggara. 

“Tentu karena si Jenderal yang mempimpin Pasukan Penyembuh tiada becus. Ia lebih suka merekrut anggota baru daripada memimpin pasukannya sendiri.” 

“Hei! Pasukan Penyembuh berbeda adanya. Kami mengirimkan anggota ke pasukan-pasukan lain sebagai ahli pendukung. Oleh karena itu, diriku selalu disibukkan dalam mendidik dan mengangkat anggota. Semakin banyak anggota maka semakin banyak ketiak… eh… maksudku semakin banyak kesempatan menyembuhkan pasukan-pasukan lain.”

“Tiidak sepenuhnya benar,” Komodo Nagaradja berujar kepada Bintang Tenggara. 

“Apa lagi yang Kakek Gin ketahui tentang markas ini?”

“Terdapat sebuah lorong rahasia….”  




Cuap-cuap:

Sebelumnya mohon maaf, akan tetapi kemungkinan Bintang Tenggara harus beristirahat sejenak pada Rabu dan Jumat pekan ini. Hal ini dikarenakan ahli karang kesayangan, tiba-tiba ada urusan keluarga yang sangat mendesak. 

Akan tetapi, tetap diusahakan untuk melakukan update, walau mungkin isinya sangatlah pendek.