Episode 1 - Prolog


Pada akhir abad kelima belas, bangsa Portugis yang telah berhasil menguasai Malaka dan Pasai mulai menginjakkan kakinya di pulau Jawa. Saat itu yang menjadi perhatian mereka adalah pelabuhan Sunda Kelapa yang sedang berkembang pesat menjadi salah satu bandar perdagangan terbesar di pulau Jawa yang dikuasai oleh kerajaan Padjajaran.

Prabu Mundinglaya Dikusumah alias Prabu Arya Suriawisesa, raja Padjajaran kala itu menerima kehadiran Portugis dengan tangan terbuka yang datang dengan iming-iming akan membantu Padjajaran mempertahankan diri dari Kesultanan Demak yang sedang berkembang pesat di pulau Jawa bagian tengah. Kabar ini segera tersiar pada telinga Sultan Trenggono, penguasa Demak kala itu. Sultan yang sedang resah oleh pengaruh Portugis di Nusantara tersebut murka ketika mendengar berita bahwa kerajaan Padjajaran telah menjalin kerjasama perdagangan dengan Portugis.

Sang Sultan segera berunding dengan para Wali Sanga untuk mengambil sikap atas apa yang sedang terjadi di Kerajaan Padjajaran tersebut, saat itu para Wali Sanga yang dipimpin oleh Sunan Giri Prapen sepakat untuk menyerbu Pelabuhan Sunda Kelapa dan Kerajaan Padjajaran serta mengusir Bangsa Portugis di bawah pimpinan adik ipar Sultan Trengono juga anak menantu Sunan Gunung Jati, yakni Fadillah Khan atau yang lebih dikenal dengan nama Fatahillah alias Wong Bagus Pasai. Kekuatan Demak, Cirebon, dan Banten pun dikumpulkan untuk memulai penyerbuan besar-besaran tersebut.

Penyerbuan ke bagian barat pulau Jawa tersebut pun dilaksanakan, dan pada tanggal 22 Ramadan 933 H, atau bertepatan dengan 22 Juni 1527 M, Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa dari Bangsa Portugis. Keberhasilan Fatahillah merebut Sunda Kelapa kemudian disebut sebagai Fathan Mubina atau kemenangan yang nyata. Kata-kata ini dalam bahasa Sansekerta disebut Jayakarta. Oleh sebab itu, kota Sunda Kelapa diganti oleh Fatahillah menjadi kota Jayakarta atau Jakarta. 

Setelah berhasil menguasai Sunda Kelapa, pasukan gabungan tiga negara Islam itupun langsung bergerak ke selatan menuju ke Kota Pakuan Ibukota Padjajaran. Namun satu kesalahan perhitungan dari Fatahillah adalah pasukan Portugis yang terhalang oleh blokade angkatan laut Islam di kepulauan seribu sehingga tidak bisa memasuki pelabuhan Sunda Kelapa, membelokan aah kapal-kapalnya dan mendarat di Pantai Subang dan Karawang, darisana mereka langsung bergerak cepat ke Kota Pakuan melalui jalan darat.

Prabu Suriawisesa yang amat gelisah setelah mendapati pelabuhan terbesar di wilayah kekuasaannya jatuh ke tangan pasukan gabungan Islam dibawah pimpinan Fatahillah segera menghimpun kekuatan Padjajaran yang tersisa serta meminta bantuan negeri Mega Mendung, negeri bawahannya yang masih setia pada Padjajaran. Sang Prabu pun bisa bernafas lega ketika pasukan Portugis yang berjumlah besar serta seluruh persenjataan mereka yang modern telah tiba di kota Pakuan dibawah pimpinan Laksamana D’Almeida, dengan tergesa-gesa, mereka pun menyusun siasat pertahanan Kota Pakuan.


***


Kabut pagi mulai memudar, cahaya mentari mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur. Burung-burung berterbangan kesana-kemari sambil berkicau riang meriuhkan suasana, seiring dengan mulai ramainya orang-orang keluar dari rumahnya masing-masing dan berhilir mudik untuk memulai kegiatannya sehari-hari.

Namun nampaknya suasana pagi yang cerah ceria itu tidak sama dengan keadaan di perbatasan Kutaraja Pakuan Padjadjaran yang sangat mencekam. Dari seberang sebelah timur dan selatan serta barat, ribuan prajurit gabungan Demak, Cirebon, dan Banten di bawah pimpinan Senopati Demak Bintoro bernama Fatahillah, seorang pria asal Pasai keturunan Arab yang juga menantu Sunan Gunung Jati mengepung ribuan pasukan Padjadjaran yang berkumpul di mulut perbatasan Kutaraja Pakuan. 

Jumlah pasukan gabungan Demak, Cirebon, dan Banten tersebut nampak unggul dalam jumlah dibandingkan dengan pasukan Padjadjaran. Pasukan Padjadjaran hanya didukung oleh pasukan dari Mega Mendung yang masih setia mendukung Padjadjaran sementara Negara-negara bawahan Padjadjaran di tanah pasundan termasuk Galuh Pakuan sudah jatuh ketangan Cirebon atau Banten. Beruntung Padjadjaran mendapatkan dukungan dari pasukan Portugis yang mempunyai persenjataan modern hingga mereka unggul dalam hal persenjataan.

Prabu Suriawisesa raja Padjajaran kala itu yang memimpin langsung pasukan yang didukung oleh pasukan Megamendung dan Portugis tersebut. Raja Padjajaran yang merupakan putra kedua dari Raja pertama yakni Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi dari istrinya Mayang Sunda yang didampingi Prabu Kertapati dari Mega Mendung dan Laksamana D’Almeida dari Portugis, nampak nanar menatap gabungan tiga kesultanan Islam besar yang bergabung itu.

“Sungguh tak kukira, Syarif Hidayattullah yang masih keponakanku sendiri, cucu dari Ayahanda Prabu Sri Baduga Maharaja tega untuk menyerbu negeri leluhurnya! Malah ia bersekutu dengan orang-orang dari wetan yang masih keturunan Majapahit!” ucap Sang Prabu geram. Ia menatap tajam ke arah pasukan lawannya itu sambil mengingat-ingat sosok keponakannya sendiri yakni Syarif Hidayattullah yang kini bergelar sebagai Sunan Gunung Jati tersebut.

“Benar, Kakang Prabu. Nampaknya ia tidak mengindahkan larangan dari Eyang Prabu Wastu Kencana yang melarang kita untuk berhubungan dengan orang-orang Majapahit! Ia malah lebih mendengarkan mereka, daripada wasiat Ayahanda Prabu Sri Baduga Maharaja yang meminta kita keturunannya untuk hidup damai!” sahut Prabu Kertapati.

Prabu Suriawisesa menoleh pada adik seayah lain ibunya tersebut, “Betul Adi Prabu, padahal ayahanda mengizinkan Islam untuk berkembang di wilayah Padjajaran ini, kita tidak membeda-bedakan kaum muslim dengan kaum kepercayaan kita! Apakah itu masih kurang untuk Syarif Hidayatullah!?”.

Laksamana D’Almeida, Komandan Pasukan Portugis yang ditugaskan untuk membantu Padjajaran menangkis serangan gabungan tiga negara Islam itu mendengus “Gusti Prabu, mereka hanya iri dan dengki dengan kemajuan Padjajaran! Apalagi kini Anda bersekutu dengan kami bangsa Portugis. Orang-orang Demak memang memusuhi kami, mereka juga tidak senang dengan perkembangan dagang Padjajaran yang bermitra dengan kerajaan Portugis!”.

“Apa yang diucapkan oleh Laksamana benar, Kakang Prabu. Mereka hanya iri pada kemajuan Padjajaran! Sultan Trenggono dari Demak hanya takut kalah bersaing dalam berdagang dengan kita, hingga memerintahkan Syarif dan menantunya Fatahillah untuk menyerang kita!” sahut Prabu Kertapati.

“Laknat!” bentak Prabu Suriawisesa yang marahnya bukan main “Orang-orang wetan keturunan Majapahit itu hendak mengadu domba keturunan Prabu Wastukencana! Adi Prabu Kertapati, dan Laksmana D’Almeida! Siapkan pasukan kalian untuk menghadang dan meluluhlantakkan Pasukan Demak, Cirebon, dan Banten itu! Kita gunakan gelaran perang Madibya atau gedung tertutup! Hancurkan para penghianat itu!” (Madibya: Gelaran Perang atau formasi pasukan yang menyerupai sebuah gedung tertutup).

Gelegar perintahnya, Prabu Kertapati dan Laksamana D’Almeida pun berkuda menuju ke prajuritnya masing-masing. 

Prabu Kertapati menghampiri Ki Balangnipa, Patihnya. “Kakang Patih, ingat! Kita hanya berpura-pura perang! Jangan sampai banyak jatuh korban dari pihak kita, begitu ada kesempatan, kita akan tikam kedua belah pihak!” perintahnya pada Ki Patih.

“Daulat Gusti!” sembah sang Patih. Ia pun memberikan instruksi kepada seluruh kepala tantama rencana dari rajanya yang meminta mereka untuk hanya berpura-pura perang dan melihat setiap celah kesempatan untuk membokong Gabungan pasukan Islam dan Padjadjaran.

Sekitar satu jam kemudian, suara terompet sangkakala pun ditiup. Suara tambur mendebur dipukul-pukul tanda perang akan dimulai. Ribuan pasukan dari kedua belah pihak berlarian bagaikan ombak menerpa karang menuju musuhnya. Pasukan gabungan Demak, Cirebon, dan Banten menyerbu menggunakan gelaran perang ‘Garuda Ngelayang’ yang disambut oleh pasukan Padjadjaran yang bersikap defensive menggunakan gelarang perang ‘Madibya’ atau Gedung Tertutup! Baku hantam terjadi, tombak, pedang, perisai berdentingan mengeluarkan percikan api, anak-anak panah bertebangan mencari mangsa, suara senapan dan meriam meletus-letus, asap-asap mesiu berterbangan bercampur debu pasir, tubuh-tubuh mulai berjatuhan bermandikan darah segar! (Garuda Ngelayang: Gelaran perang yang formasi pasukannya menyerupai paruh dan kedua sayap burung garuda yang sedang terbang).

Menjelang senja hari, mulai Nampak siapa yang unggul. Pasukan gabungan tiga kesultanan Islam besar itu walaupun unggul dalam jumlah, namun kalah dalam persenjataan sebab Padjajaran dibantu oleh persenjataan Portugis. Mereka memang berhasil menekan pasukan pihak Padjadjaran sampai ke benteng kota, namun tidak berhasil menjebol benteng kota Pakuan yang sangat kokoh tersebut, sementara dari atas dan dari jarak jauh, mereka dihujani oleh tembakan-tembakan Meriam, senapan, dan panah yang sangat deras!

Mereka mulai terdesak, hingga pada saat matahari tenggelam, mereka terpaksa mundur dari medanlaga karena sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan, berkat tembakan-tembakan senapan dan meriam-meriam Portugis dari tempat-tempat yang tinggi serta benteng keraton Padjajaran. Namun korban di Padjadjaran juga tidak sedikit, sehingga mereka tidak bisa melakukan balasan dan melakukan pengejaran pada pasukan gabungan kesultanan Islam tersebut, mereka pun terpaksa kembali kedalam benteng yang mengelilingi Kutaraja Pakuan untuk menyusun kekuatan kembali, jaga-jaga kalau ada serangan lagi dari pasukan Islam. 

Sayang pula bagi Prabu Kertapati yang berniat untuk menghianati Prabu Mungdinglaya Kakaknya sendiri, karena peperangan yang berkecamuk dengan dahsyatnya serta pasukan-pasukan Portugis yang berada di tempat-tempat tinggi dan benteng keraton yang dapat melihat jalannya peperangan, ia dan pasukannya tidak mendapatkan kesempatan untuk membokong pasukan Padjadjaran maupun pasukan Islam.


      ***


Malam harinya, Laksama D’Almeida menghadap Prabu Suriawisesa yang sedang disertai patihnya di kamar tamu kerajaan secara pribadi, “Laksamana, gerangan apakah yang hendak anda sampaikan pada malam hari begini?” tanya Prabu Suriawisesa.

“Mohon maaf, Gusti Prabu. Apakah Gusti Prabu melihat ada keanehan pada Prabu Kertapati dan seluruh pasukan Mega Mendung seperti berperang dengan setengah hati?” ujar Laksamana Portugis tersebut.

Prabu Suriawisesa berpikir sejenak “Ya… ya… Aku menyadarinya, seluruh pasukan Mega Mendung seperti diulur ke depan lalu ditarik ke belakang”. Dia lalu melirik pada Patihnya “Bagaimana menurutmu, Ki Patih?”.

Ki Patih menjura hormat terlebih dahulu sebelum menjawab “Ampun Gusti Prabu, hamba sendiri sudah menaruh curiga sejak lama pada Prabu Kertapati, maka hamba mengambil suatu tidakan tanpa sepengetahuan Gusti prabu, mohon ampun kalau hamba lancang Gusti”.

Prabu Suriawisesa menatap Ki Patih dengan tegang, “Katakan saja, Ki Patih!”.

“Ampun Gusti Prabu, hamba telah mengutus seorang mata-mata untuk memata-matai Prabu Kertapati, dan memang beliau mempunyai maksud untuk memberontak pada Gusti Prabu, ada pun rencananya adalah mencari celah untuk membokong Pasukan Padjadjaran juga pasukan Islam saat perang tadi, namun untunglah mereka tidak berhasil mendapat celah tersebut” jelas Ki Patih.

“Biadab!” maki Prabu Suriawisesa, dia lalu kembali menatap wajah Ki Patih yang telah sepuh itu. “Lalu menurut Ki Patih kita harus bagaimana? Saat ini di antara negeri-negeri bawahan kita yang masih mendukung kita hanya Mega Mendung, Kertapati juga adalah adikku sendiri, kami sama-sama putra mendiang Ayahanda Prabu Sri Baduga Maharaja… Dan yang terpenting kita masih membutuhkan dukungan kekuatan Mega Mendung!”.

Tanpa berpikir panjang Ki Patih langsung menjawab, “Ampun beribu ampun Gusti Prabu, bagi hamba akan lebih berbahaya apabila pembakangan Mega Mendung kita biarkan dalam situasi sekarang ini, lagipula mereka hanya berpura-pura mendukung kita… Dan yang paling berbahaya adalah mereka dapat membokong kita di setiap saat yang tak terduga! Bukankah begitu Laksmana?” sambung Ki Patih sambil meminta pendapat Laksamana D’Almeida.

“Benar Gusti Prabu, Gusti Prabu tidak perlu khawatir, seluruh kekuatan kerajaan Portugis akan mendukung Padjadjaran! Dan soal Mega Mendung, sebaiknya kita padamkan penghianatan mereka saat ini juga mumpung mereka masih setitik api kecil!”.

Prabu Suriawisesa mengangguk-ngangguk setuju, maka menggelegarlah titahnya “Malam ini juga serbu perkemahan pasukan Mega Mendung! Dan besok, kita ratakan dengan tanah Negeri Mega Mendung di Kaki Gunung Gede itu!” maka Ki Patih dan Laksamana D’Almeida pun pamit untuk mengatur serangan terhadap Mega Mendung.