Episode 168 - Terancam


“Uhuk!” Embun Kahyangan memuntahkan darah. Tubuhnya hampir jatuh terjungkal, namun kabut ungu yang membungkus dirinya mampu membantu menjaga keseimbangan. Ia kini bertumpu pada satu lutut. 

Kejadian yang berlangsung saat ini sungguh berada di luar perkiraan gadis berwajah cantik dan bertubuh molek itu. Alasan kedatangannya di Kerajaan Siluman Gunung Perahu adalah hendak bertemu muka dengan Mayang Tenggara. Dirinya berharap dapat memperoleh informasi tentang lokasi dimana Paman Balaputera berada. 

Dengan demikian, Embun Kahyangan menanti penuh harap, sekaligus mendamba kehadiran Mayang Tenggara. Akan tetapi, bukan sambutan hangat yang dirinya dapatkan…. Bukan pula kesempatan beramah-tamah penuh makna yang dirinya peroleh. Begitu keluar dari Istana Kedua Kerajaan Siluman Gunung Perahu, Mayang Tenggara melesat cepat ke arah gerbang sekaligus tebing yang mengelilingi wilayah di atas gunung perahu. Spontan, Embun Kahyangan mengejar secepat mungkin. 

Kini, Embun Kahyangan dan Mayang Tenggara berada di sisi luar tebing yang mengelilingi Kerajaan Siluman Gunung Perahu. 

“Hanya sebatas itukah kemampuanmu…?” ucap Mayang Tenggara. 

Embun Kahyangan menyeka darah dari sudut bibir. Sungguh tiada kuasa ia menghadapi serangan balik perempuan dewasa itu. Mungkinkah tindakan Puan Mayang Tenggara ini merupakan sebuah ujian…? Mengapa…?

“Sudah kukatakan tadi…. hanya bilamana kabutmu dapat menyentuh kulitku, barulah diriku akan memberitahu lokasi keberadaan sosok yang hendak dikau temui…,” ujar Mayang Tenggara santai. 

Kedua mata sayu Embun Kahyangan menatap ke arah Mayang Tenggara. Mereka hanya terpaut jarak sekira sepuluh langkah. Akan tetapi, terasa benar-benar jauh sekali jurang yang memisahkan mereka. 

“Panca Kabut Mahameru, Bentuk Kelima: Kabut Wedhus Gembel!” gumam Embun Kahyangan. 

Tak tanggung-tanggung dan membuang perasaan ragu, Embun Kahyangan merapal bentuk terakhir dari jurus unsur kesaktian kabut. Demikian, kabut yang merupakan gas panas nan beracun berputar tinggi di udara. Perlahan, kabut tersebut kemudian mengambil wujud seekor domba gimbal. 

“Jurus yang jauh dari sempurna…,” tanggap Mayang Tenggara santai. 

Wujud domba gimbal segera menukik tajam, menghunuskan tanduk yang melingkar ke dalam! Dari arah atas, kabut gas panas dan beracun kemudian menyapu dan menyebar di permukaan tanah. Apa pun yang berada di dalam lintasannya, seolah dapat dibinasakan dalam sepersekian detik. 

Kendatipun demikian, Mayang Tenggara hanya berdiri diam di tempat. Dirinya menanti dengan tenang kedatangan gas panas dan beracun. Seluruh tubuh perempuan dewasa itu segera dibalut jurus unsur kesaktian yang demikian digdaya. Koreksi, digdaya dari sudut pandang ahli Kasta Perunggu. Di hadapan ahli Kasta Bumi, jurus Embun Kahyangan yang bermodalkan tenaga dalam dari mustika Kasta Perunggu, hanya diibarat kunang-kunang berhadapan dengan bulan. 

Mayang Tenggara melambaikan tangan ringan. Ia tiada mengerahkan jurus Daya Tarik Bulan. Ibunda Bintang Tenggara itu hanyalah mengerahkan unsur kesaktian miliknya. Tindakan ini melambungkan tubuh Embun Kahyangan tinggi ke udara. 

Embun Kahyangan hanya dapat meronta, tanpa dapat melepaskan diri. Dalam seumur hidupnya, baru kali ini ia merasa demikian tiada berdaya. Di hadapan Mayang Tenggara, tak mampu ia berbuat apa-apa. 

“Tinju Super Sakti, Gerakan Ketiga: Elang!”

Tiga rangkai tinju yang masing-masing terdiri dari lima pukulan berkecepatan supersonic dilepaskan, maka terciptalah tiga gelombang kejut secara beruntun! Gelombang kejut pertama dan gelombang kejut kedua, bertumpuk saling bertabrakan! Dengan momentum yang tepat, kemudian gelombang kejut ketiga meledak dan memaksa dua gelombang kejut sebelumnya untuk melesat cepat lurus ke depan! 

Gelombang kejut, yang diiringi gelegar membahana ketika pertahanan udara didobrak, melesat cepat dan lurus ke arah Mayang Tenggara. 

Daya Tarik Bumi, Bentuk Kedua: Menggenggam Tiada Tiris!

Tetiba bongkahan tanah hampir sebesar bukit kecil menyeruak. Mayang Tenggara menempatkan titik daya tarik bulan di udara untuk manarik tinggi bongkahan tanah. Tindakan ini tentu untuk menahan gerakan ketiga dari jurus silat yang maha digdaya dan mengincar dirinya. 

Tanah berhamburan ke semerata penjuru ketika terkena hantaman Tinju Super Sakti. Akan tetapi, gelombang kejut yang melesat ke arah Mayang Tenggara turut menyusut. 

“Cebong Cebol!” 

“Hentikan tindakan perisakan ini!” sergah Raja Bangkong IV. 

“Kau jangan ikut campur!” 

“Kau melangkahi prinsip dasar kita dalam memupuk keahlian! Bukankah kita telah berikrar untuk mencurahkan keahlian demi melindungi!? Bukankah tindakanmu menekan ahli yang jauh lebih lemah sama dengan penghianatan terhadap ikrar tersebut!?” 

Raja Bangkong IV bersiap melepas Segel Pirau, salah satu dari jurus khas siluman Gunung Perahu. Dengan melepas segel tersebut, berarti dirinya akan mengerahkan seluruh kemampuan Kasta Bumi ibarat akan terjun ke dalam pertarungan hidup-mati! * 

Mayang Tenggara terdiam. Akan tetapi, kedua bola matanya melotot ke arah Raja Bangkong IV. “Aku hanya menguji gadis itu…” Mayang Tenggara terdengar sedikit melunak. 

Sudut mata Raja Bangkong IV bergerak sedikit ke kanan, dan mendapati bahwa Embun Kahyangan telah mendarat dengan aman di kejauhan. Ia pun segera memutar tubuh, lalu melesat kembali ke arah Istana Utama Siluman Gunung Perahu. Tak hendak ia berlama-lama ‘mencampuri’ urusan Mayang Tenggara.

Tindakan Raja Bangkong IV sungguh mengisyaratkan daulat penguasa. Akan tetapi, yang tiada seorang pun mengetahui, adalah keringat dingin yang membasahi sekujur punggungya. Raja Bangkong IV memang harus segera buru-buru pergi… sebelum Mayang Tenggara berubah pikiran. Tiada gunanya bertarung menghadapi perempuan itu. 

Mayang Tenggara mengibaskan tangan. Tak jauh, Embun Kahyangan segera merasakan kondisi tubuhnya menjadi lebih baik, dan mustika tenaga dalam di ulu hati kembali terisi penuh. 

“Jikalau dikau hendak mengetahui lokasi keberadaan suamiku, pergilah ke Perguruan Anantawikramottunggadewa. Temui Bintang Tenggara di sana. Minta kepadanya sebuah lencana yang pada permukaannya terukir sebilah kujang.” *

Kata-kata Mayang Tenggara terdengar lembut. Sepertinya, tindakan Raja Bangkong IV telah menyadarkan dirinya yang melakukan kesalahan. Kekesalan terhadap Prabu Silih Wawangi, yang mengumbar Kunci Pintu Neraka, sempat membuat dirinya terbawa emosi. Embun Kahyangan, di lain sisi, mendengarkan dalam diam. 

“Kemudian, bawa Lencana Kujang tersebut kembali kepadaku.” 

Embun Kahyangan mengangguk. Dalam pandangannya, hadie sebuah misi kecil sebelum melanjutkan ke misi utama. Ia segera membungkukkan tubuh memberi hormat, lalu memohon izin undur diri. Ia menyadari bahwa kemungkinan saat ini bukanlah saat yang tepat untuk beramah-tamah dengan calon ibu mertua. Terpatri pula dalam benaknya, bahwa sosok seorang ibu mertua persis seperti yang banyak diceriterakan oleh kakak-kakak seperguan di padepokan. Ibu mertua dimana-mana selalu tampil galak dan menyeramkan!

Raja Bangkong IV yang masih memantau dari kejauhan bersungut. Karena kehadiran Embun Kahyangan, Mayang Tenggara malah tak jadi berangkat ke Kota Baya-Sura. Padahal, ia sudah sangat berharap perempuan itu segera angkat kaki dari wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu dan Tanah Pasundan. 


===


Lamalera terjaga dari tidurnya. Ia pun segera duduk di atas tempat tidur. Tak ada sesiapa di dekatnya. Hanya keheningan malam yang demikian larut, menjadi teman yang semakin menambah kesepian.

Benak gadis itu melayang jauh. Di dalam Lintasan Saujana Jiwa, ia memaksakan diri untuk mencapai lukisan keenambelas. Upaya ini dilakukan dengan sadar. Dirinya sadar tak hendak terus tertinggal dari sahabat masa kecil yang telah melanglang buana di dunia keahlian. Gadis tersebut hendak mengejar Bintang Tenggara agar dapat melangkah berbarengan, bukan menatap pundak dari belakang seperti kala di Dusun Peledang Paus dan di dekat Benteng Selatan. 

Lamalera lalu mengingat akan ceritera dari Bintang Tenggara tentang petualangan menjadi nyata di dalam bawah sadarnya. Sungguh aneh. Mengapa dirinya seolah mengulang kisah petualangan tersebut? Tanpa murid Mayang Tenggara itu sadari, bahwa ceritera akan petualangan membekas teramat dalam… demikian dalam sampai ke alam bawah sadarnya. 

Lamalera kembali merebahkan tubuh. Dalam Lamunan, gadis itu menggeretakkan gigi. Di alam bawah sadar Lintasan Saujana Jiwa, dirinya dikalahkan oleh hantu berwarna ungu yang demikian menyeramkan. Segala daya upaya telah dikerahkan, namun dirinya tetap menderita kekalahan. Diriku masih teramat jauh tertinggal, simpulnya sendu. 

Benak Lamalera terus melayang-layang jauh. Hatinya demikian gelisah, untuk kembali tidur terasa demikian susah. Selain itu, ada satu hal lagi yang membuat dirinya kesulitan memejamkan mata. Dalam keheningan, ia merasakan sensasi yang sangat aneh di ketiak sebelah kanan…

Keesokan harinya, Lamalera bergegas mendatangi kediaman sementara Perguruan Gunung Agung. Menurut seorang Maha Guru yang merawat dirinya, regu dari Perguruan Gunung Agung yang di pandu Resi Gentayu merapal pose tertentu, lalu menyusul masuk ke dalam Lintasan Saujana Jiwa. Bahkan, adalah Bintang Tenggara yang menemukan dirinya hampir kehilangan nyawa di dalam sana.

Belum sempat membalas budi atas penyelamatan di Dusun Peledang Paus, kini dirinya kembali diselamatkan. Dua kali sudah Lamalera berutang nyawa kepada Bintang Tenggara. Entah mengapa, Lamalera kembali ditinggal. 

Sesampainya di kediaman sementara murid-murid dari Perguruan Gunung Agung itu, Lamalera diam terpaku. 

“Murid-murid dari Perguruan Gunung Agung telah menunaikan amanah dari Sesepuh mereka,” ujar Resi Gentayu pelan, yang muncul entah dari mana. “Dikau tertidur selama tiga hari dan dua malam. Sehari yang lalu, mereka mendapat panggilan pulang karena tahun ajaran di Perguruan Gunung Agung hampir berakhir.” 

Lamalera tertunduk lesu. 

“Bukan seperti itu semangat seorang ahli!” Tetiba Resi Gentayu menengking. “Dikau adalah murid Mayang Tenggara! Dikau adalah putri angkat Resi Gentayu!”

Lamalera mendongak, sekujur tubuhnya bergetar. 

“Jikalau tertinggal, susul! Jikalau ditinggal, kejar!”


====


“Anak bangsat! Kita harus segera membungkam anak itu!” 

“Ia berhasil menarik simpati dari hampir seluruh murid, bahkan sejumlah Putra dan Putri Perguruan serta beberapa Maha Guru dan Sesepuh!”

“Semakin lama, ia semakin mengancam rencana kita!”

“Bersabarlah sejenak. Diriku telah menugaskan seseorang…”

Ruangan itu masih temaram adanya. Masih pula disinari sebuah lentera yang menggantung rendah. Perbedaan yang kentara terlihat pada raut wajah empat ahli yang duduk di balik meja persegi. Mereka, tiga lelaki dan satu perempuan, tidak hanya sedang berpikir serius, namun juga semakin terlihat gelisah.


“Salam hormat, wahai Putra Perguruan,” seru beberapa remaja lantang. Salah satu dari mereka adalah Rangga Lawe, seorang remaja berdagu panjang. 

Kum Kecho baru saja melangkah dari Graha Utama miliknya. Ia tiada terlalu menghiraukan siapa pun mereka yang menanti di pekarangan depan. Belakangan ini, semenjak dirinya dengan lantang mengusir para tetua dari Perguruan Maha Patih, tak sedikit murid-murid remaja di Persaudaraan Batara Wijaya yang datang hendak mencuri-curi pandang, berkenalan, bahkan menawarkan diri menjadi pengikut di dalam perguruan. 

Untuk sementara ini, kelompok Kum Kecho barulah terdiri dari Melati Dara, Dahlia Tembang, dan yang teranyar, Seruni Bahadur. Oleh Melati Dara, para pengunjung sering disuruh-suruh untuk menyiapkan dan memberi makan berbagai binatang siluman serangga yang ditempatkan di kandang belakang. 

Sebagai catatan, walau miliki graha dan luas, ketiga gadis menetap di dalam kandang bersama binatang siluman. 

“Wahai Putra Perguruan, diriku memohon untuk menjadi pengikut,” ujar Rangga Lawe, yang telah menanggalkan aura cogkak yang terpancar dari dagunya. 

“Ah! Kau hanya mencari alasan agar dapat berdekatan Adik Seruni!” cibir Melati Dara. 

“Wahai Putra Perguruan, diriku, Kebo Kepeteng, memohon untuk menjadi pengikut.”

“Wahai Putera Perguruan, adalah diriku, Lembu Sora, mengajukan diri untuk menjadi pengikut.”

“Kalian ikut denganku ke belakang,” panggil Melati Dara santai. Senang hatinya akan ada pembantu dalam menyiapkan dan memberi makan binantang siluman.

Kum Kecho hanya mengamati dalam diam. Bila ditelisik dari nama-nama mereka ini, tak perlu berlama-lama bagi dirinya menyimpulkan. Ia menyadari bahwasanya ketiga murid tersebut berasal dari sepuluh kekuatan yang menopang Persaudaraan Batara Wijaya. Terlebih lagi, nama-nama mereka senada dengan nama-nama Sembilan Arya Singa. Mungkinkah mereka keturunan dari tokoh-tokoh yang pernah berjuang mendirikan Negeri Dua Samudera? 

“Murid Utama Kum Kecho!” tetiba suara lantang terdengar memanggil. Jauh tinggi di udara, terlihat seorang lelaki melayang. 

Kum Kecho mendongak. Tak diragukan lagi, bahwa sosok itu adalah Maha Guru Mahesa Jayanagara. 

“Ikutlah denganku,” perintah lelaki dewasa itu. “Bawa juga ketiga pengikutmu.” Demikian, Maha Guru Mahesa Jayanegara melayang ringan ke arah utara.

Kum Kecho memberi isyarat kepada Melati Daya, Dahlia Tembang serta Seruni Bahadur untuk tetap tinggal dan menyelesaikan tugas-tugas harian. Dirinya hanya akan memenuhi undangan Maha Guru Mahesa Jayanegara seorang diri. Jikalau terjadi sesuatu yang tiada diinginkan, maka dirinya bebas melarikan diri tanpa harus membawa beban. 

Di dalam hutan nan lebat, masih di wilayah Persaudaraan Batara Wijaya, Mahesa Jayanagara dan Kum Kecho berdiri hadap-hadapan.

“Duar!”

Tetiba, permukaan tanah tepat dimana Kum Kecho berdiri, meledak. Sigap, Kum Kecho mundur sampai delapan langkah ke belakang. Jarak yang memisahkan dirinya dengan Mahesa Jayanagara semakin jauh. 

Apakah tujuan Maha Guru ini dengan menyerang secara tiba-tiba!?

Setelah mendarat ringan di kejauhan, Kum Kecho segera memantau ke wilayah sekeliling. Ia hendak memastikan bahwa tiada ahli lain yang akan menyergap atau membatasi ruang gerak. Akan tetapi, di saat pandangan mata Kum Kecho kembali menatap ke depan, tiada dapat ia melihat dan merasakan keberadaan Maha Guru Mahesa Jayanagara. 

Kepik Cegah Tahan! 

“Dum!”

Sebuah pukulan telapak tangan mendarat di permukaan kubah binatang siluman yang membentengi tubuh tuannya. Kum Kecho kembali terdorong mundur, kali ini belasan langkah ke belakang. Serangan mendadak!

“Naluri bertarung yang sangat baik!” sergah Maha Guru Mahesa Jayanagara. Meski tadi melakukan teleportasi jarak dekat, anak remaja itu dapat memperkirakan arah serangan. 

Maha Guru Mahesa Jayanegara kembali merangsek menyerang.Kum Kecho semakin terdesak. 

“Tuan Guru!” ujar Melati Dara sambil merangsek maju. Ia segera disusul oleh Dahlia Tembang dan Seruni Bahadur. 

Senyum tipis menghias raut wajah Maha Guru Mahesa Jayanagara ketika mendapati ketiga gadis pengikut Kum Kecho bergabung dalam pertarungan. Lelaki dewasa itu lalu mengibaskan lengan dengan gerakan menepis menggunakan punggung tangan. 

“Duar! Duar! Duar!” 

Ledakan beruntun terjadi di tanah tempat Kum Kecho dan yang lainnya berpijak. Jalinan rambut Melati Dara dan tirai bunyi Dahlia Tembang tiada dapat menahan dan berkelit dari ledakan-ledakan yang mengikuti ke mana pun mereka pergi. Seruni Bahadur melompat maju, seperti biasanya memasang tubuh bongsor sebagai tameng!

“Beliau memiliki unsur kesaktian utama inti api... dan tanah sebagai unsur kesaktian pendukung,” rintih Seruni Bahadur sambil menahan rasa sakit. 

“Dikau terlalu lemah…,” ujar Maha Guru Mahesa Jayanagara kepada Kum Kecho. “Kalian tak akan berdaya.”

Kum Kecho menatap tajam ke arah Maha Guru yang berdiri tenang di kejauhan. Apakah lelaki ini berniat menghabisi kami? batinnya menduga-duga. Apakah kehadiranku membuat cemas keluarga besar mereka?

“Nyawamu terancam bahaya,” ujar Maha Guru Mahesa Jayanagara, sambil mengacungkan ibu jari ke arah Kum Kecho. “Kusarankan bagi kalian meninggalkan Persaudaraan Batara Wijaya untuk sementara waktu. Setidaknya, sampai suasana panas di perguruan menjadi lebih adem.” 

Usai menyampaikan uneg-uneg di hati, Maha Guru Mahesa Jayanagara memutar tubuh, lalu melesat pergi. 



Catatan: 

*) Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Bentuk kujang terdiri dari: papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas atau perak).