Episode 18 - Sky Chaser


Jarak dari titik tempat istirahat ke jembatan setidaknya sekitar dua kilometer. Dengan mobil, bahkan tidak sampai sepuluh menit walaupun jalanan raya yang dulu biasa digunakan mobil rusak berat. Semakin jauh dari kota aman, semakin buruk pemandangan yang ada.

Sama seperti yang direncanakan semalam. Empat orang pergi ke jembatan, menemui target langsung dan sisanya berada di dalam gedung sedekat mungkin dengan jembatan. Empat orang bersiap dengan sniper dari dua gedung yang berbeda, delapan orang yang lain berjaga dan memperhatikan di sisi sniper untuk menanggulangi jika ada Outsiders rank C atau B yang bisa tiba-tiba muncul entah dari mana. Melihat keadaan sekitar yang terabaikan, tidak heran jika itu sampai terjadi.

Angin yang menerpa tidak dapat merobohkan tubuh mereka. Neil, Noxa, Navi, dan Baron berdiri di depan jembatan. Tanpa menggunakan teropong, target bisa dilihat dengan jelas sedang ada di atas menara. Tubuh Sky Chaser yang panjangnya sekitar dua puluh meter berpijak di atas.

“Hmm, makhluk itu sedikit lebih besar dari yang pernah kulawan.” Noxa menguap. Merasakan angin dingin, ia tak bisa menahan untu memeluk diri sendiri. “Mungkin seharusnya kita melakukan ini sedikit lebih siang. Aku juga sedikit mengantuk.” Noxa mengeluh.

“Setelah sejauh ini, justru aneh kalau kita mundur. Selain itu, bukan cuma kau saja yang kedinginan,” ucap Navi.

Neil yang merasa syalnya akan menghalangi, mulai menggulung di sekitar leher, membuat dirinya jauh lebih hangat.

“Kalau tidak salah, habis musim gugur itu musim dingin, ‘kan?” Navi bertanya. Jika ia benar, tidak aneh kalau sampai sedingin ini meski sudah jam sembilan.

Noxa mengangkat senjata dengan kedua tangannya. Senyum terlepas bebas dari wajahnya. “Saatnya berburu!”

Jembatan yang sudah dibangun dari tahun 1883 itu masih terlihat kuat meski sudah diabaikan bertahun-tahun. Buktinya, bangunan yang menghubungkan antara Brooklyn dan Manhattan itu tidak bergetar sedikit pun ketika Outsiders sebesar Sky Chaser berjalan di atasnya. Namun, bukan berarti tempat itu aman seratus persen.

Tidak banyak jumlah mobil berdebu di tempat itu. Dengan kata lain, hanya ada sedikit tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi. 

Meski sedikit ekstrim, satu-satunya yang terpikirkan oleh Noxa jika keadaan mereka semua sudah tersudut hanyalah terjun ke sungai. Seharusnya makhluk berat itu tak bisa mengapung di atas air.

Berjalan perlahan, mereka berempat berniat membuat serangan kejutan tepat dari bawah menara. 

Meski Sky Chaser punya pendengaran yang sensitif, makhluk itu tidak akan menyerang kecuali benar-benar dalam keadaan bahaya. Semakin tinggi rank Outsiders, semakin pintar dan pasif juga mereka. 

“Baron akan bersamaku. Kalian berdua, pergi ke sisi lain!” Noxa memberi perintah.

“Hah? Tunggu sebentar. Kalau gitu kita ga bisa kabur. Itu curang namanya!” Navi menyipitkan mata, tidak terima dengan keputusan Noxa.

“Sejujurnya saja, kalau masalah kecepatan bahkan lariku tetap kalah dengan makhluk itu. Jadi, mau bertukar tempat pun hasilnya sama, kalau mau kabur terjun ke sungai jadi satu-satunya pilihan.” 

“Kenapa kita tidak meledakkan jembatannya saja, agar makhluk itu jatuh ke sungai?” tanya Navi. 

“Pertama, butuh banyak bom untuk melakukannya. Kedua, menenggelamkannya bukan berarti menyelesaikan misi. Ketiga, walaupun akhir-akhir ini jarang digunakan, jembatan ini adalah tempat yang penting sebagai jalur komunikasi untuk digunakan ke sisi lain,” ucap Noxa. “Bukan berarti aku tidak suka dengan rencanamu. Ingat saja yang kuperintahkan.”

Noxa memerintahkan Baron untuk menurunkan tas yang sedang dibawa. Gadis pendek itu mengambil beberapa bom dengan pemicu lalu memberikannya pada Baron, lalu kembali mengambil barang lain seperti bom asap dan granat kecil. Kemudian Noxa menaruhnya di sabuk.

“Baiklah, semuanya siap!” Noxa melirik Neil yang mematung. Gadis yang sedang diperhatikannya itu memang tidak sering berbicara, tapi kondisi yang mereka sedang hadapi saat ini justru aneh jika Neil tidak membuka mulut sedikit pun.

“Neil, coba katakan sesuatu!” Noxa memandang Neil kecewa. “Daritadi kau diam saja.”

“Neil, jangan bilang kau salah makan tadi, lalu perutmu sakit?” Sebagai sahabat, Navi merasa khawatir.

“Tidak, hanya saja aku merasa sedikit aneh. Sepertinya ada yang janggal. Harusnya kau juga tahu.” Neil berbicara degan suara datar. Satu hal itu membuatnya berpikir tanpa henti.

Outsider Rank S itu sebenarnya seberapa kuat? Itu pertanyaan yang sama Ketika Neil juga melawan Black Horn yang memiliki Rank A. 

Neil tidak tahu apa saat ini kehadiran mereka berempat disadari oleh Sky Chaser, tapi fakta bahwa makhluk itu daritadi hanya diam dan tidak melakukan apa pun di tempat tinggi sedikit mengganggu pikirannya. Jika dia tidak bergerak, bukankah makhluk itu akan menjadi target yang mudah untuk dimusnahkan apalagi dengan tempat terbuka seperti ini.

“Maksudmu, kenapa tidak menembak makhluk itu dengan misil pesawat?” 

Untuk Black Horn, tiga atau empat rudal mungkin cukup karena kulitnya sangat kuat. Tentu saja Neil hanya berandai-andai, tapi dengan perkiraan seperti itu juga ia bisa menghitung butuh berapa jumlah rudal yang harus dikeluarkan.

“Kota ini pernah dihancurkan oleh salah satu Rank S. Mereka yang paling tahu seberapa besar ancaman yang bisa ditimbulkan oleh Rank S.”

Setelah itu semua, mereka hanya mengirimkan enam belas orang dengan persedian terbatas untuk melakukan misi bunuh diri seperti ini.

“Noxa, apa menurutmu terjun ke sungai akan seratus persen menyelamatkan hidup kita? Kau mermperkirakan itu semua dari berat tubuhnya, ‘kan?” Neil berdiri tegap. Suaranya menjadi sedikit tinggi dengan mata tajam yang jarang ia tunjukkan. 

Tidak diperbolehkan seorang pun mati dalam misi ini. Dengan pikiran seperti itu, Neil berani menentang Noxa.

“Seratus persen selamat? Kau ini bodoh? Tidak mungkin ada yang seperti itu! Meski pun ada, kau harus mengorbankan orang lain untuk mendapatkannya. Sama seperti yang kau lakukan!” Noxa tidak berniat menahan kalimatnya. “Neil, tidak seharusnya kau ada di sini saat ini. Kau seperti punya penyakit jiwa.”

“Hah!?”

Neil kehabisan kata-kata. Bukan hanya membalas, ia bahkan tidak tahu apa maksud ucapan Noxa itu. 

“N-Noxa… kau sedikit berlebihan.” Navi menahan pundak Noxa yang kecil, sambil mencoba menenangkannya.

Baron di sisi lain melakukan hal yang sama. “N-Noxa, jika faye sampai dengar, dia bisa mengomelimu semalaman. C-coba dinginkan kepalamu sebentar.” 

Noxa menggoyangkan tubuh, lalu menjauh dari Baron dan Navi. “Kalian berdua menyebalkan!” Noxa mendekap terlihat kesal.

“Yah, bukan berarti Neil bermaksud buruk.” Kedua alis Navi menurun, wajahnya tak yakin. “Tapi, kau benar-benar berlebihan Noxa.”

“Untuk saat ini, aku tidak akan meminta maaf.” Noxa menghampiri tas yang berada di lantai. Ia berjalan ke arah menara dan menaruhnya kembali di lantai. Entah ada berapa banyak dan jenis bom yang ada di dalamnya, tapi jika diperkirakan mungkin masih tidak akan cukup.

Noxa kembali melihat Neil. Terlihat jelas mentalnya menurun, tapi ia tidak akan mundur hanya karena itu. Tidak setelah Noxa tahu bahwa Neil benar-benar ingin jaminan atas keselamatan nyawa Navi.

Neil menegapkan badan. Syal merah yang dikenakannya membuat napas sedikit sesak sehingga ia harus melonggarkannya sedikit. Bernapas beberapa kali menggunakan mulut, ia kembali berbicara.

“Apa Sky Chaser yang kalian lawan waktu itu bisa terbang?”

“Eeh…?” “Huh? Neil…” Baron dan Navi terkejut. 

Itu adalah hal yang paling membuat takut Neil saat ini. Setelah melihat ekspresi Baron yang merupakan salah satu anggota Aster Glass menunjukkan wajah seperti itu, Neil sudah mendapatkan jawabannya.

“Kau benar-benar mengatakannya, ya.” Noxa tidak berencena menyembunyikannya, tapi di saat yang sama ia tidak bisa mengatakan hal itu dengan yakin juga. “Yah, itu kemungkinan terburuk yang ada. Jika benar makhluk itu bisa terbang, maka akan sangat menyeramkan jadinya. Mungkin seperti kecoa.” Noxa mengatakan dengan nada sepele.

“Hahahahaha…” Navi tertawa pelan. Seperti baru saja ada yang merasuki tubuh dan jiwanya. “S-seharusnya, ugh… kau mengatakannya dari tadi?” Merasa kehabisakan akal, Navi menyentuh kepala dengan tangan seperti orang yang baru mengalami hari tersial yang pernah ada.

“Hmm, jangan bilang kau takut dengan kecoa?” Noxa menahan tawa.

“Semua orang takut kecoa. Tapi, kesampingkan masalah makhluk kecil mengerikan itu. Kalau benar makhluk itu bisa terbang, bukankah terjun ke sungai juga percuma? Justru, jauh lebih parah.”

Dari tempat mereka berada dan ujung jembatan, sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun, Noxa sendiri yang bilang kalau lari Sky Chaser jauh lebih cepat dan kemungkinan besar ia sendiri pun harus melompat ke sungai. Dengan kata lain, Sky Chaser yang bisa terbang tidak akan memberikan mereka kesempatan untuk kabur dari jembatan melalui jalur mana pun.

“Kalian semua tahu, kan kenapa makhluk itu namanya Sky Chaser?” Noxa memberi jeda. “Makhluk itu suka memanjat dan tinggal di tempat yang tinggi. Meski begitu, dia juga butuh makanan untuk tetap hidup dan itulah alasan kenapa ia memilih jembatan untuk ditinggali.”

Neil mengerti dengan yang diucapkan Noxa. Namun, hal itu memberinya kesempatan untuk membantah kalau Sky Chaser yang mereka hadapi saat ini benar-benar bisa terbang.

Noxa melanjutkan. “Outsiders yang kita temui akhir-akhir ini semakin berkembang dari beberapa bulan lalu. Sama seperti dengan Black Horn yang kalian lawan sebelumnya. Menembakkan sebuah besi dengan kecepatan suara, tidak heran jika Sky Chaser yang kita temui saat ini pun berevolusi. Dan ada satu lagi… cepat atau lambat, Sky Chaser akan memiliki sayap karena itu adalah keinginannya untuk pergi ke tempat yang tinggi. Para peneliti di lab menjelaskan hal itu padaku.”

Hal itu juga menjadi alasan utama kenapa ada peningkatan rank untuk Sky Chaser.

Sky Chaser (Passive)?Rank : S?Attack : A+?Speed : S?Defense : A?Ability : xxx

Yah, ini data baru yang disimpulkan oleh peneliti jika melihat dari kemungkinan yang ada. Melawan Manusia sambil terbang, terdengar seperti menggunakan program curang dalam sebuah game.

“Jika yang kau katakan benar, bukankah semakin aneh jika dia tetap tinggal di tempat seperti ini?” Neil bertanya.

Dengan terbang, kecepatannya akan bertambah. Dia bisa pergi ke tempat yang lebih tinggi di saat yang sama tidak perlu khawatir untuk pergi mencari makan juga. 

“Ini hanya dugaanku yang lain, tapi kemampuan terbangnya mungkin hanya bertahan sebentar. Tidak… sejak awal, Sky Chaser bisa terbang saja itu hanya dugaan. Huh…?”

Angin tiba-tiba semakin kuat, bukan pertanda yang baik. 

Tubuhnya yang panjang seperti ular, bergetar. Dengan sepuluh pasang kaki di setiap panjang tubuhnya, makhluk itu bergetar mengitari menara sebelum perlahan mulai turun. Setiap kakinya yang tajam melangkah, sebuah lubang tercipta. Dengan kaki seperti kepiting dan berbulu seperti laba-laba, memanjat bangunan pun akan mudah jadinya.

Masih berada di tengah, Sky Chaser berhenti. Mata-matanya yang berjumlah genap sepuluh memperhatikan mereka berempat. Mulutnya yang berbentuk lingkaran, saling bergesekan di sekitar gigi-gigi tajam. Geramannya terdengar jelas dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Air liur yang jatuh setiap tetesnya menghasilakn racun yang sama buruknya dengan air liur komodo.

“Lihat, kan! Karena kalian, kita jadi tidak bisa menggunakan serangan kejutan!” Noxa berteriak. Tidak diragukan lagi dia sangat kesal.

“Eeh, salah kami?” Navi tidak mengerti. “Ngomong-ngomong, bukankah makhluk itu tetap akan turun ke bawah?”

Tepatnya di bawah menara, Noxa sudah menaruh jebakan. Yang diperlukan hanyalah mengaktifkan pemicunya dan… boom!

Sebelum kaki Sky Chaser sampai menyentuh jembatan, mereka berempat mengambil jarak cukup jauh. Setidaknya, cukup aman dari ledakan.

Mereka berempat jongkok bersembunyi di balik mobil tua sambil mengintip dari kejauhan.

“Hanya tinggal memencet—Hmm…?” gumam Noxa diputus oleh pikirannya sendiri.

“Noxa, jangan bilang kau…” Navi yang sadar, menghela napas panjang seolah-olah mereka akan mati di sini.

“Uggh… aku lupa pemicunya. Di…” Noxa ingat tidak menjatuhkannya. Ia juga ingat tidak pernah memegangnya. Jadi, satu-satunya yang tersisa. “Ada di dalam tas.”

“Lalu, sekarang apa?” tanya Neil. Senyum kecil di wajahnya, entah kenapa terlihat jelas berniat menyindir seseorang yang memiliki tanggung jawab paling besar di sini.

Sky Chaser bukanlah Outsiders yang bisa dihadapi secara langsung apalagi di tempat terbuka seperti ini. Dengan kondisi angin, mengharapkan bantuan dari para sniper pun adalah sebuah kesalahan.

“Menurutmu apa lagi?” Noxa balik bertanya. Jika harus jujur, sindiran kecil itu sangat mengganggunya. Namun, nyawanya jauh lebih penting saat ini. “Laarii!!”