Episode 167 - Teknik Penyembuhan



“Brak!” 

Bintang Tenggara mendobrak pintu kamar perawatan dan merangsek masuk! Di belakangnya, Canting Emas bersama Kuau Kakimerah, Panglima Segantang dan Aji Pamungkas menyusul cepat. Para Putra Perguruan Anantawikramottunggadewa juga turut masuk secara bersamaan. 

Kamar perawatan ini berbeda dengan kamar dimana Bintang Tenggara sebelumnya tersadar. Hanya ada satu tempat tidur, yang sedang dikelilingi oleh beberapa ahli. Delapan jumlah mereka, dimana setiap satunya menjulurkan telapak tangan ke depan, seperti sedang merapal jurus kombinasi yang maha digdaya. Sebuah tirai mirip formasi segel mengelilingi tempat tidur yang diperkirakan menampung Lamalera.

Di luar lingkaran para ahli tersebut, adalah Resi Gentayu sang Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa. Ia berdiri membatin. 

“Lera!” teriak Bintang Tenggara. 

Di saat yang sama, Resi Gentayu mengibaskan tangan. Di saat itu pula, lima dari sembilan remaja yang memaksa masuk, menghilang dari kamar perawatan.  

Kelima murid Perguruan Gunung Agung mendapati diri mereka berada tepat di hadapan goa yang menjadi pintu masuk Lintasan Saujana Jiwa. Perasaan Bintang Tenggara masih kacau-balau. Ia enggan percaya bahwa Lamalera telah tiada. Bila belum memastikan secara langsung dengan mata kepala sendiri, maka ia menolak kemungkinan tersebut. 

“Kejadian ini adalah akibat dari kelalaianku…,” gumam Resi Gentayu. “Seharusnya diriku membatasi sampai sejauh mana ahli Kasta Perunggu dapat melangkah di dalam Lintasan Saujana jiwa.” 

“Yang Terhormat Pendiri Perguruan….” Bintang Tenggara hendak menanyakan perihal keadaan Lamalera. 

“Mungkin kalian telah mengetahui bahwa setiap lukisan di dalam Lintasan Saujana Jiwa mewakili setiap tingkatan keahlian. Lukisan pertama berarti kemampuan mata hati pada Kasta Perunggu Tingkat 1, lukisan kedua Kasta Perunggu Tingkat 2, dan selanjutnya.” 

Bintang Tenggara menahan diri untuk bertanya perihal keadaan Lamalera. Ia berupaya menenangkan diri. Pastilah ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh sang Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa. 

“Aji Pamungkas, kemampuan mata hatimu menentang kodrat dunia keahlian,” ujar Resi Gentayu. “Meski masih berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8, dirimu sudah dapat menjangkau lukisan kelimabelas. Kemampuan mata hatimu setara dengan Kasta Perak Tingkat 5.” 

Aji Pamungkas memang setiap malam rutin melatih kemampuan mata hati dengan teknik ‘khusus’. Ditambah bola mata siluman yang dimiliki, maka tak heran bila ia sungguh perkasa dalam hal ini. Bintang Tenggara yang sudah menenggak ramuan Tetesan Jiwa hasil racikan Ginseng Perkasa saja, hanya mampu menjangkau lukisan ketigabelas. 

Bintang Tenggara kembali merasa resah. Resi Gentayu sepertinya tiada hendak membahas tentang keadaan Lamalera. Ia pun hendak angkat bicara….

“Akan tetapi, putri angkatku Lamalera, berupaya menembus lukisan keenambelas!” Resi Gentayu berujar cepat. Terbersit rasa bangga dari raut wajahnya. “Sebuah tindakan yang sangat berbahaya bagi ahli yang masih berada pada Kasta Perunggu.” 

“Bagaimanakah keadaan Lamalera!?” sergah Bintang Tenggara. Meski, terlintas dalam benaknya bahwa pencapaian Lamalera demikian mencengangkan. Apakah yang membuat gadis tersebut memaksakan diri sampai sejauh itu!?

Bintang Tenggara maju selangkah. Bersama yang lainnya, ia menantikan kelanjutan dari penjelasan Resi Gentayu. Semua remaja yang berada di tempat itu terlihat gelisah. 

“Sebagian dari kalian mungkin telah mengetahui bahwa Lintasan Saujana Jiwa dapat mewujudnya alam bawah sadar menjadi seolah nyata adanya. Dengan kata lain, jiwa dan kesadaran Lamalera saat ini terperangkap di dalam sana.” 

Bintang Tenggara sepenuhnya mengerti apa yang disampaikan Resi Gentayu. Alam bawah sadar yang diwujudkan oleh Lintasan Saujana jiwa adalah benar-benar nyata. Dirinya sempat terperangkap selama hampir dua bulan, padahal di dia luar hanya tiga menit berlalu. 

“Hm…? Sepertinya diriku mengenal anak ini….” Tetiba Ginseng Perkasa bergumam menggunakan jalinan mata hati. Ia mengacu kepada Resi Gentayu. 

“Dia adalah teman sepermainan Cebong Cebol…,” ujar Komodo Nagaradja. 

“Ya, benar. Anggota regu bersama dengan Putra Mahkota, serta….” 

“Hei! Berapa kali sudah kukatakan jangan berbicara denganku!?” hardik Komodo Nagaraja. 

“Heh! Aku bergumam kepada diri sendiri! Kau yang sengaja menanggapi!” balas Ginseng Perkasa. 

“Kita tiada memiliki banyak waktu,” ujar Resi Gentayu. “Tubuh Lamalera yang tanpa jiwa dan kesadaran saat ini sedang dipertahankan oleh para Maha Guru. Akan tetapi, bilamana jiwa dan kesadarannya tiada kembali dalam jangka waktu enam jam, maka tubuhnya akan benar-benar mati.”

“Kita harus segera masuk ke alam bawah sadar yang dipicu oleh lukisan keenambelas!” seru Bintang Tenggara. 

“Hanya seorang dari kalian yang memiliki peluang mencapai lukisan keenambelas,” sahut Resi Gentayu, mengacu kepada Aji Pamungkas. 

“Bagaimana dengan murid-murid Kasta Perak di perguruan ini? Tentu mereka dapat masuk ke sana dengan mudah, dan kembali membawa jiwa dan kesadaran Lamalera.”

“Tiada semudah itu. Alam bawah sadar yang dipicu oleh ahli Kasta Perak, adalah berbeda dengan Ahli Kasta Perunggu. Lamalera berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8, sama dengan kalian, kelima murid dari Perguruan Gunung Agung.”

Bintang Tenggara penasaran. Benarkah demikian…? Bagaimana halnya dengan Kakek Gin…? Orang tua tersebut dapat mengunjungi alam bawah sadar dirinya yang hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8.

“Baiklah, diriku akan berupaya sebaik mungkin.” Aji Pamungkas tetiba berujar. Ia pun bersiap melangkah masuk ke dalam Lintasan Saujana Jiwa.

“Tiada perlu, kalian berlima dapat masuk melalui jalan pintas…” Resi Gentayu menghela napas panjang.


Satu jam berlalu cepat. Kelima murid Perguruan Gunung Agung berdiri dalam formasi segitiga. Bintang Tenggara berada pada posisi paling depan, berdiri tegak dengan membuka kedua kaki. Kemudian, kedua lenganya direntangkan tinggi ke atas, dengan telapak tangan membuka. Demikian, pose tubuhnya mirip dengan huruf ‘X’.

Selangkah di belakang, di kiri dan kanan Bintang Tenggara, adalah Canting Emas dan Kuau Kakimerah. Keduanya berdiri menyamping sehingga terlihat berhadapan, dengan salah satu lutut diangkat dan ditekuk. Satu lengan di arahkan ke depan atas, dan lengan lainnya mengarah ke belakang bawah. 

Paling belakang, Panglima Segantang dan Aji Pamungkas mengambil posisi rendah. Keduanya menekuk satu lutut dan merentangkan kaki yang lain ke arah belakang. Sepasang lengan kemudian direntangkan ke luar. *

“Aku merasa seperti Pawer Renjes!” Aji Pamungkas penuh semangat. 

“Serupa tapi tak sama dengan Mojang dan Jajaka Sanggar Sarana Sakti….” Panglima Segantang mengingat-ingat. 

“…” Kuau Kakimerah berupaya keras menghapal pose yang harus ia kerahkan. 

“Mengapa perempuan berada pada barisan kedua? Mengapa aku tidak berada pada posisi paling depan?” keluh Canting Emas. 

“Mmm… Nak Bintang, diriku sepakat dengan gadis langsing bernama Canting Emas itu,” sela Ginseng Perkasa. “Lebih baik bila ia yang berpose paling depan. Dengan demikian, kita dapat terus memandangi keindahan… ketiaknya.” 

“Cabul! Tutup mulutmu!” bentak Komodo Nagaradja. 

“Yang Terhormat Resi Gentayu… apakah berpose seperti ini benar-benar diperlukan? Bukankah kita hanya membuang-buang waktu…?”

“Wajib!” sergah Resi Gentayu. “Berkat pose ini, kalian nanti tak akan terperangkap di dalam Lintasan Saujana Jiwa.”


Satu jam kembali berlalu. ‘Latihan’ Bintang Tenggara bersama teman-temannya dalam membangun pose, rampung sudah. 

“Ingat, bila kalian menderita cedera di dalam sana, maka di saat kembali tubuh kalian juga akan menderita cedera yang sama.”

Kelima anak remaja yang masih dalam keadaan berpose, khusyuk mendengarkan. 

“Bila menemukan jiwa dan kesadaran Lamalera, segera gandeng ia dan pecahkan biji karet untuk keluar dari Lintasan Saujana Jiwa.”

Resi Gentayu lalu mengibaskan tangan. Para perwakilan Perguruan Gunung Agung merasakan jiwa dan kesadaran mereka seolah ditarik perlahan oleh kekuatan yang tak kasat mata.  

“Kalian hanya memiliki sisa waktu selama empat jam. Bila telah mencapai tenggat waktu, bertemu atau tidak dengan Lamalera, tubuh kalian akan dengan sendirinya menarik jiwa dan kesadaran untuk kembali. Berkat pose ini, kalian tiada perlu khawatir akan ancaman terperangkap di dalam Lintasan Saujana Jiwa.” 

Bintang Tenggara bersama rekan-rekannya masih dalam keadaan berpose ala Pawer Renjes ketika tiba di sebuah dataran yang luas membentang. Matahari bersinar terik dan angin bertiup menderu. Terlihat hutan, padang rumput, perbukitan, dan sungai. Inikah alam bawah sadar Lamalera yang dipicu dan menjadi nyata oleh lukisan kelimabelas di dalam Lintasan Saujana Jiwa?

“Kita tak memiliki banyak waktu. Segera berpencar!” seru Canting Emas. 

Secara bersamaan Panglima Segantang, Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas segera melompat cepat. Tak ada basa-basi atau pertukaran kata-kata di antara mereka. Kesemuanya menyadari bahwa waktu merupakan musuh utama dalam pertarungan kali ini. 

Bintang Tenggara mendapat jatah menelusuri hutan. Di saat melangkahkan kaki ke dalam hutan, dirinya segera mendapati sesuatu yang mengawasi setiap gerak-gerik dari balik bayangan. Siapakah gerangan yang mendiami alam bawah sadar Lamalera?

“Super Guru…?” 

Sesuai perkiraan Bintang Tenggara, kesadaran Komodo Nagaradja tiada mengikuti. Sama seperti di kala ia terperangkap di alam bawah sadarnya sendiri. Adalah benar kata-kata Resi Gentayu, bahwa hanya ahli yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8 yang dapat mencapai tempat ini. 

Bintang Tenggara melangkah cepat menelusuri jalan setapak di dalam hutan. Ia mengabaikan pengawasan yang terus mengikuti. Walau mengawasi, siapa pun itu tiada mengesankan bermaksud buruk. 

Langkah kaki anak remaja itu kemudian terhenti di persimpangan jalan. Ke kiri atau ke kanan, batin Bintang Tenggara. Di saat kebingungan, sesosok bayang-bayang hitam berbentuk manusia terlihat bergerak di permukaan tanah. Bayang-bayang tersebut seolah memberi petunjuk ke arah kanan. Bintang Tenggara mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu menelusuri jalan setapak ke kanan. 

Bintang Tenggara kembali berhenti, bahkan kali ini setengah mengeluh. Di hadapannya terbentang sarang serangga. Demikian banyak jumlah mereka. Akan tetapi, sudut mata anak remaja itu mendapati sebuah jalur dimana banyak serangga meregang nyawa. Mungkinkah Lamalera membantai mereka? 

Setelah menebas beberapa serangga yang menghadang, Bintang Tenggara keluar dari hutan. Betapa terkejutnya ia ketika berhadapan dengan seorang raksasa! Pertarungan tak dapat dihindari, namun Bintang Tenggara merasa bahwa raksasa tersebut tiada bertarung sepenuh hati. Setelah dikalahkan, raksasa menunjuk ke arah barat. 

Bintang Tenggara memacu langkah. Tanpa terasa, dua jam telah berlalu. Detak jantungnya meningkat cepat, perasaan hatinya semakin gelisah. Di manakah Lamalera? Dirinya setengah berharap bahwa teman-teman yang lain dapat memperoleh petunjuk yang lebih terang tentang keberadaan Lamalera. 

Tak lama, Bintang Tenggara mendapati sebuah gubuk di ujung jalan buntu. Ia melangkah mendekat. Di luar gubuk tersebut, terdapat sapu ijuk, boneka lucu dan seekor tupai yang melompat-lompat ke sana-sini. Bintang Tenggara mengintip ke dalam gubuk, hanya terdapat sebuah ruangan. Di tengah ruangan, terlihat seorang ahli yang sedang mencencang daging dengan beringas! 

Firasat Bintang Tenggara mengisyaratkan untuk tidak masuk ke dalam gubuk tersebut. Namun, sungguh ia merasa kebingungan kemana harus meneruskan langkah. Mungkinkah ada petanda tertentu dari perjalanannya sejauh ini? Sepertinya ada? Apa? 

Bintang Tengara memantau sekeliling. Jalan buntu karena di belakang gubuk adalah sebuah tebing batu nan menjulang tinggi. Kemanakah lagi dirinya harus mencari. Mungkinkah sosok yang mencencang daging memiliki petunjuk…?

Akhirnya, menyadari waktu yang semakin terbatas, Bintang Tenggara memutuskan untuk meninggalkan gubuk dan mencoba mencari jalur lain. Ia pun kembali… melewati raksasa, kawanan berbagai jenis serangga, dan bayang-bayang manusia di permukaan tanah. 

Tiga jam telah berlalu sejak Bintang Tenggara tiba di alam bawah sadar ini. Ia baru saja melompat keluar dari dalam hutan. Waktu yang tersisa bagi tubuh Lamalera untuk bertahan hidup di kamar perawatan adalah kurang dari satu jam. Bintang Tenggara semakin gelisah.

Tetiba langkah kaki Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung itu terhenti di tempat. Ia baru saja teringat akan sesuatu. Sosok ahli di dalam gubuk dan sedang mencencang daging menggunakan belati yang… mengkilap! 

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana!

Jalinan listrik membungkus kedua kaki, ketika bintang Tenggara melesat cepat kembali ke dalam hutan! Dalam hati ia mengutuk. Mengapakah tiada ia sadari sejak awal!?

Bintang Tenggara melesat melewati bayangan manusia di atas tanah. Bayang-bayang ni adalah perwakilan Panggalih Rantau dan jurus Silek Linsang Halimun. 

Membelah kerumunan serangga. Siapa lagi bila bukan Kum Kecho?

Bertemu dengan raksasa yang mengajak bertarung…. Panglima Segantang!

Sapu ijuk adalah Canting Emas! Boneka lucu adalah Kuau Kakimerah! Tupai melompat-lompat adalah Aji Pamungkas!

Kurang dari setengah jam waktu yang Bintang Tenggara tempuh untuk kembali berada di depan pintu gubuk. Ia tiada memiliki waktu untuk bertanya-tanya mengapa kisah perjalanan yang ceriterakan kepada Lamalera di malam itu, menjadi bagian dari alam bawah sadar gadis tersebut. 

Bintang Tenggara mendobrak masuk ke dalam gubuk. Ahli di dalam yang sedang mencencang daging menggunakan belati nan mengkilap, pastilah mewakili… Lintang Tenggara! 

Sesuai perkiraan, ahli tersebut menyerang dirinya. Bintang Tenggara membiarkan saja, karena bila masih sesuai urutan, maka dirinya akan diselamatkan oleh… 

Kabut dingin berwarna ungu tetiba menyibak. Serangan ahli yang memegang belati mengkilap tiada dapat menjangkau tubuh Bintang Tenggara karena ditahan oleh… hantu mengerikan berwarna ungu! 

Mengapa Embun Kahyangan diwakili oleh hantu mengerikan…!?

Bintang Tenggara melangkah keluar. Tak jauh dari gubuk, terlihat tubuh seorang gadis yang melayang dibungkus kabut tebal… 

“Lamalera!” seru Bintang Tenggara. 

Anak remaja itu lalu menerkam tubuh Lamalera yang tak sadarkan diri. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka. Bintang Tenggara segera memeriksa dan menyadari bahwa Lamalera sudah tiada bernapas dan jantungnya pun sudah terhenti. Cedera yang gadis itu alami sangatlah berat. Sepertinya, Lamalera menderita kekalahan saat bertarung menghadapi hantu ungu itu.

Waktu yang tersisa kurang dari limabelas menit. Bintang Tenggara merangkul tubuh Lamalera. Baru saja dirinya hendak memecahkan biji karet, ia teringat akan pesan dari Resi Gentayu. ‘Ingat, bila kalian menderita cedera di dalam sana, maka di saat kembali tubuh kalian juga akan menderita cedera yang sama’.

“Kakek Gin! Kumohon bantuan!”

“Hm… Nak Bintang, rupanya dikau mengingat bahwa diriku dapat mengunjungi alam bawah sadar mana pun di dalam Lintasan Saujana jiwa… Pengamatan yang sangat baik!” 

“Kakek Gin, bagaimana kondisi gadis ini?”

“Karena alasan tertentu, jiwanya mati suri,” jawab Ginseng Perkasa cepat. “Bila dikau membawa jiwa yang mati suri ke dalam tubuh yang hampir mati, maka ia akan benar-benar meninggal dunia.”

“Kumohon bantuan menyembuhkan gadis ini!”

“Diriku tiada dapat menyembuhkan seperti dahulu kala. Tanpa mustika tenaga dalam, diriku tiada dapat mengerahkan tenaga dalam yang dibutuhkan untuk menyembuhkan.”

“Wariskan keterampilan khusus kepada diriku!” desak Bintang Tenggara. 

“Dikau sama saja dengan si Komodo Nagaradja itu. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” **

“Kumohon…”

“Sudah kukatakan, keterampilan khusus tiada dapat diwariskan.” 

Bintang Tenggara diam termenung.

“Akan tetapi, diriku dapat meminjamkan kemampuan keterampilan khusus milikku untuk sementara waktu.”

“Lakukanlah… kumohon…” pinta Bintang Tenggara. 

“Hm… Takdir kita telah terikat…”

Tetiba, Bintang Tenggara merasakan kehangatan di telapak tanggan kanan dan di dalam mulutnya. Ia segera membuka jemari, dan menemukan sebuah lambang. Diperhatikan dengan seksama, lambang tersebut merupakan sebuah lesung batu yang dilingkari oleh seekor ular…. ***

Tanpa pikir panjang, Bintang Tenggara segera mengarahkan telapak tangannya ke arah Lamalera. Beberapa saat berselang. Tiada apa pun yang terjadi. 

“Kakek Gin…?”

“Di telapak tangan kananmu adalah keterampilan khusus sebagai peramu.” jawab orang tua itu. 

“Lalu, bagaimana dengan keterampilan khusus sebagai penyembuh…?”

“Ada di permukaan… lidahmu.” 

“Lidah..?” spontan Bintang Tenggara menjulurkan lidah. Walau dirinya tak dapat melihat, namun dapat dipastikan terdapat lambang sebilah tongkat yang dilingkari oleh seekor ular. ***

Bintang Tenggara meniup tubuh Lamalera… Namun, masih saja tiada perubahan sama sekali. 

“Apakah diriku memerlukan air lalu menyembur untuk melakukan penyembuhan…?” aju Bintang Tenggara. 

“Diriku bukanlah dukun,” tegur Ginseng Perkasa. Orang tua itu terlihat agak tersinggung. “Kau tahu bagian tubuh mana yang paling dekat dengan otak, jantung dan tulang belakang manusia secara bersamaan...?” 

“Leher…?” Bintang Tenggara tak tahu ke mana arah pembicaraan ini. Waktu semakin menipis. Mungkin hanya tersisa kurang dari lima menit. 

“Ketiak!” seru Ginseng Perkasa. 

Bintang Tenggara terperangah. 

“Teknik penyembuhan yang kukembangkan sampai dengan tahap demikian digdaya adalah melalui ketiak!”

“Lalu, apa yang perlu diriku lakukan untuk menyembuhkan Lamalera!?”

“Jilat saja ketiaknya.”

“Ha!?” 

“Diriku telah meminjamkan tidak hanya keterampilan khusus sebagai penyembuh, melainkan juga teknik khas Maha Maha Tabib Surgawi!” 

Bintang Tenggara tiada memiliki banyak waktu. Berkelebat cepat di dalam benaknya alasan mengapa Super Guru Komodo Nagaradja menolak keras diobati oleh tokoh laknat ini. Sungguh teknik penyembuhan yang menentang kodrat alam, bahkan melanggar norma kesusilaan!

Meski demikian, Bintang Tenggara menggapai dan mengangkat lengan Lamalera. Ia kemudian… 


Catatan: 

*) Ilustrasi pose Pawer Renjes yang diterapkan adalah sebagai berikut:


**) Murid biasanya bulat-bulat mencontoh gurunya, maka guru sebaiknya jangan memberikan contoh yang buruk. 

***) Lambang dunia farmasi adalah ‘ular dan cawan’, sedangkan lambang dunia kedokteran adalah ‘ular dan tongkat’. 


Cuap-cuap:

Mohon ahli baca sekalian tiada mencontoh teknik penyembuhan ala Maha Maha Tabib Surgawi.