Episode 3 - Ketiga


Kesadaran Jalu kembali muncul usai mencium bau amis yang menyengat. Kemudian terlonjak kaget. Di hadapannya tengah duduk seekor kucing dengan sorot mata tajam. Jalu Menatap lewat mata mungil dengan postur yang juga lebih kecil dari Kang Somad. Serta lebih wangi.

*****

Sepertinya tubuh yang ditempati Jalu kali ini seorang perempuan kecil. Ruang gerak jiwa Jalu sangat terbatas. Beruntung tubuhnya dipenuhi aroma bunga jadi ia tak merasa pengap. Setelah beberapa kali berpindah jasad, Jalu mulai terbiasa dan cepat menyesuaikan diri. Perlahan ia dekati lagi matanya dan sekarang ia bisa melihat sepasang tangan mungil sedang mengelus-elus kucing yang tadi membuat Jalu terlonjak.

Seekor kucing berjenis Angora, yang berwarna campuran cokelat muda dan cokelat tua. Matanya biru bening. Kucing itu diam saja saat dielus oleh tangan mungil pemilik tubuh Jalu. Ia sepertinya senang bermain dengan kucing itu. Sesekali Jalu melirik ke pemandangan di sekitar. Sebuah ruang keluarga yang tampaknya lebih modern dari peristiwa yang ia alami sebelum ini. Jalu memperhatikan foto keluarga dengan latar belakang gapura kayu bertuliskan, Selamat Datang di Bulak Tonjong.

Apakah mereka juga warga Bulak Tonjong? Rasa penasaran Jalu akan foto itu teralihkan oleh sebuah televisi yang ada di sana. Jalu kegirangan. Dirinya sudah kembali ke masa sekarang.

Dari jam dinding yang menempel di atas televisi, jarumnya menunjukkan pukul delapan malam. Masih terlalu sore untuk menunggu saat-saat mencekam, sebelum mendengar Uak Giroh mengaji. Tapi sekarang sudah modern, semoga saja Uak Giroh tak lagi menjadi malaikat pembunuh di kota ini.

Sementara lewat telinga si kecil, Jalu mendengar suara perempuan yang lebih dewasa, bicara kepada si kecil.

“Lani, kamu sedang apa sih, di situ?”

“Main dengan Boncel, Ma.”

“Boncel siapa, kok, belum tidur?”

Jalu mencoba menangkap pembicaraan mereka. Jadi yang dipanggil Lani adalah gadis kecil pemilik tubuh Jalu. Kemudian perempuan yang sekilas terlihat bolak-balik di meja makan, adalah ibunya. Sedangkan Boncel, pasti kucing yang sedang main bersama Lani.

Lani tak menjawab pertanyaan ibunya, karena ia sudah bangun mengikuti Si Boncel yang berjalan keluar rumah. Gadis kecil itu terlalu sibuk melarang Si Boncel menyelinap dari pintu yang tak tertutup rapat. Dikejarnya si Boncel yang berlari cepat ketika merasakan udara luar. Lani tak menyerah, ia pun mengejar dengan langkah lebih cepat dan teriakan memanggil nama kucing itu.

Ketika Jalu hampir merasa putus asa Lani akan kehilangan Boncel, ternyata gadis kecil itu memiliki akal yang cerdik. Ia sodorkan mainan lonceng dari tangannya. Kucing itu berbalik saat mendengar suara lonceng lalu kembali menghampiri Lani. Segera gadis kecil itu menangkap Boncel dan menggendongnya sambil memberi ekspresi sedang marah.

“Kalau kamu nakal, nanti Lani nggak kasih makan.”

Meski sepertinya Lani sedang marah, tapi kemudian ia menciumi kepala Boncel. Kucing Angora itu pun tampak jinak dan mengerti apa yang diucapkan majikannya. Jalu sedikit lega dengan pemandangan kali ini. Ia merasa agak santai setelah mengalami beberapa kali peristiwa menyeramkan dan berharap kali ini tak ada peristiwa kematian yang harus ia lihat.

Lani kembali membawa boncel ke ruang tengah lalu bermain di sudut ruangan. Melempari Boncel dengan bola yang disambut antusias. Ia mengejar bola yang menggelinding sambil melompat-lompat. Lani tertawa bahagia, begitu pun Jalu. Sebelum terdengar teriakan ibunya.

“Lani, kamu di mana?”

“Mama, aku di sini,” jawabnya nyaring sambil menatap ke arah ibunya yang kebingungan. Seketika Jalu pun berdegup kencang. Ada sesuatu yang tak beres di sini. Lani dan ibunya jelas berhadap-hadapan, tapi seperti ada tirai yang menutup pandangan ibunya, dia terus berteriak memanggil anaknya penuh rasa panik.

Begitu pula Lani yang segera menyadari ada sesuatu yang ganjil. Tubuhnya kini melompat-lompat tanpa menghentikan teriakannya, yang kini sudah bercampur tangis.

“Mama, Lani di depan Mama. Lani nggak ke mana-mana!”

Ketika gadis kecil itu nekat berlari ke arah ibunya, tubuhnya seperti terantuk dinding kaca. Ia mencelat kembali hingga terguling. Jalu pun ikut berguling-guling. Peristiwa apa lagi yang sedang menimpanya? Sementara Lani semakin histeris. Ia bangkit lagi lalu berlari kembali ke arah dinding kaca itu. Menggedor-gedor dengan tangan mungilnya, tapi yang ia lihat ibunya malah meninggalkan ruangan dengan histeris. Lani dan Jalu bisa mendengar jelas teriakan ibunya.

“Tolong, Lani hilang!”

Tak lama ia kembali bersama beberapa warga. Mereka ikut membantu mencari keberadaan Lani. Di dapur, lantai dua, teras, halaman, hingga ke batas kota. Di hadapan mereka, Lani dan Jalu bisa menyaksikan bagaimana raut ibunya yang semakin tegang diserang ketakutan.

Lani belum menyerah. Ia mencoba menggeser letak berdirinya lebih ke kiri atau ke kanan, namun hasilnya sama saja. Ia menyentuh dinding kaca tebal yang sangat panjang.

Di samping yang agak jauh, Jalu melihat kucing itu hanya duduk terdiam menyaksikan kepanikan Lani. Gadis kecil itu tak menyadari, semakin lama kucing itu semakin membesar dan terus membesar hampir menyentuh langit-langit. Saat gadis kecil itu mengetahui Si Boncel bukan lagi kucing Angora yang lucu, tubuh kecilnya segera lunglai. Diikuti Jalu yang tak kuasa memaksa jiwanya bertahan. Dalam samar ia masih sempat merasakan, kucing raksasa itu kemudian menggendong Lani entah ke mana. Pandangannya sudah gelap.

*****