Episode 18 - Golem From Terra



"Aku tak bisa berlama-lama lagi dalam keadaan menggunakan sihir ini.” Pikir Luxis sambil memanjat. “Field Magic dengan arena seluas ini, menyedot Auraku terus menerus tiap detiknya. Dan dalam pertarungan sihir, kehabisan Aura adalah hal yang fatal. Musuh bisa berbuat apa saja padaku yang sudah tak berdaya.” Ucapnya dengan penuh pertimbangan dan kekhawatiran. 

Alzen mengangkat kedua tangannya ke atas, menyelimuti tangannya dengan api yang besar meski deru badai salju terus menghempas dan melemahkan api milik Alzen.

“Harus lebih besar lagi, kalau tidak. Efeknya tak banyak.” katanya sambil menatap kedua tangannya yang terangkat.

“Dia berniat mencairkan esnya dan fokus menenggelamku saja rupanya.” Pikir Luxis yang semakin cepat memanjatnya. “Aku harus cepat atau-”

"Incineration !!" 

Alzen menempelkan kedua tanganya yang berapi ke sisi tembok Arena, menempelkan tangannya di batu itu dan mengaliri api untuk menjalar ke arah Luxis.

“Hah!?” Luxis yang kepepet dan tidak siap, mencoba secara cepat menangkisnya dengan dinding dari Es. 

“Ice Barrier !!”

“Ti, tidak cukup. Terlalu kecil!”

BUZZZZZZZZHHHHH !!

“UAGHHHH !!” Luxis terhempas jalar api itu dan terjatuh kembali.

“Hah! Hah-! Sudah kehabisan tenaga juga ya? Hah... Hah...” kata Alzen yang membungkuk dengan tangan di topang oleh lututnya. Selain itu badan Alzen juga penuh keringat karena panas api. Tapi disisi belakangnya justru ia kedinginan.

BRUGGHHHH !!

Luxis sekali lagi terbentur di atas kolam pinggir arena yang mengeras.

“UAGHHH !! Sakit! Sakit! Sakit!” teriak Luxis sambil gulang-guling menahan rasa sakit di punggungnya.

“Belum kalah juga ya? Hah... Hah...” kata Alzen sambil tersenyum namun ia terlihat sangat lelah. “Kalau begitu, aku pinjam gaya bertarungmu, Lio...”

Alzen memfokuskan api pada tangan kanannya saja, membuat api sebesar yang ia bisa untuk melakukan serangan sekuat yang ia bisa dengan sisa Auranya.

“Gawat! Benar-benar sakit sekali, bergerak sedikit saja sudah membuatku pedih, tapi-“

“HYAAAAA !!!?”

Alzen turun langsung dengan tangan kanan berkobar api sebesar separuh badannya dan datang dengan cepat untuk meninju Luxis keras-keras.

“He-hei!!? Tunggu! Tunggu! Tung- UAGGGGGHHHHH !!”

Perut Luxis ditinju keras-keras oleh tangan kanan Alzen lalu beranjak turun karena es tebal yang jadi pijakkan Luxis dengan cepat mencair dan kembali menjadi air.

Luxis-pun tenggelam, disusul Alzen setelahnya. Karena terjadi di bawah Arena dan di salah satu sisi saja, tak semua penonton bisa menyaksikan apa yang terjadi. 

“HGGHHHBBHHTTT !!” Luxis sesak, ia terpaksa menarik nafas di dalam air.

“Dan pemenangnya sudah diputuskan! Meski keduanya terjatuh dalam kolam, tapi Luxis terlebih dahulu tenggelam dibandingkan Alzen. Maka pemenang pertandingan ini! Alzen dari Ignis!”

“WOOO !!” 

“Ignis! Ignis! Ignis!”

“Ignis! Ignis! Ignis!”

“Ignis! Ignis! Ignis!”

Sementara, Fans-Fans Luxis berbalik mencelanya.

"Huu... dasar! Ternyata begitu sifat aslimu!"

"Huu... Luxis payah! Payah!"

"Ahh... tampang doang ganteng! Kemampuan dan sifat mah Nol!"

Luxis melihat tatapan Fansnya berubah jadi membenci dirinya. "Fans-Fans ku! Sekarang berbalik jadi Haters!” katanya dengan mengkertakan gigi. “ALZEN !! Apa yang kau perbuat padaku!” Sahutnya dengan sahutan penuh kebencian.”

“Hee? Kenapa? Memangnya apa yang aku lakukan?” tanya Alzen, tak tahu kenapa Luxis tiba-tiba sebenci itu padanya.

“Karena kau! Fans-fansku, malah berbalik menyerangku.” Ucapnya dengan nada penuh kebencian. “Aku tak akan lupa penghinaan yang kau lakukan padaku hari ini! CAMKAN ITU ALZEN !!"

Alzen mengulurkan tangan pada Luxis. "Maaf, tapi pertandingan sudah selesai. Ayo... kita keluar bersama."

Luxis menepak tangan Alzen keras-keras, dan fokus melihat wajah Alzen. Tatapan Luxis terlihat jelas, ia membenci Alzen sepenuh hati. Meski Alzen terlihat tak tahu apa-apa. Tapi di mata Luxis, Alzen seolah sedang meremehkannya. 

"Kau mau menghinaku lebih banyak lagi ya!” bentaknya. “Hari ini adalah hari yang tak akan pernah ku-lupa! Hari paling memalukan dalam hidupku!"

"Haa? Apa maksudmu? Kenapa kau-"

"Jangan pura-pura tak mengerti!" bentak Luxis dengan amarah yang tak terbendung. "Fans-Fans ku berbalik menjadi Haters karena dirimu!” Ucapnya dengan nada tinggi sambil menunjuk Alzen dan air mata keluar namun ditahan sebisa mungkin. “Suatu hari kau akan kubalas berkali-kali lipat lebih besar."

Lalu Luxis meninggalkan Arena lebih dulu. Melewati Alzen dengan menyenggolnya secara sengaja.

Alzen berbalik, yang tetap tak mengerti kenapa Luxis bisa semarah itu. "Ta-tapi kan, ini hanya pertandingan Turnamen." 

Luxis tak menanggapinya, ia terus berjalan memunggungi Alzen sambil menutupi tangisannya. Di sudut pandang Alzen, melihat Luxis sebenci itu padanya, membuatnya jadi merasa bersalah.

***

Alzen kembali ke bangku penonton.

“Yes! Mantap Alzen!” Chandra menyambutnya dengan semangat.

“Terima kasih, tapi…” Alzen masih kepikiran tentang sikap Luxis barusan.

“Jangan terlalu senang dulu Chan,” kata Lio dengan perasaan khawatir.

“Hee? Kenapa?” tanya Chandra, yang benar-benar tidak mempersiapkan diri.

“Kamu tak lihat pertandingan sebelumnya ya? Lawanmu itu loh…” sambung Ranni.

“Lawanku?”

***

"Pertandingan selanjutnya !!" sahut Komentator. "Joran dari Terra Vs Chandra dari Ignis!"

"Nah... sekarang giliranmu. Kalau kamu bisa menang... Wahh! Akan jadi perang saudara." kata Alzen sambil menepuk pundaknya.

"Iya... Aku akan melawanmu, Alzen!" Chandra terlihat antusias.

"Aku menantikannya. Jangan sampai kalah!" Alzen menyemangati.

“Geez, dia benar-benar terlalu santai.” gumam Lio.

***

Chandra turun ke arena dan bertarung melawan Joran. Seorang wanita dari kelas Terra, Ia bertubuh kekar, berambut putih panjang dan berkulit sawo matang. Meski badannya sangat kekar berotot, Ia tetap wanita.

"La-lawanku?! Be-benaran raksasa ini!?" Chandra gemetar ketakutan. "Kalau begini, mana mungkin main fisik! Jelas-jelas tubuh dia 2 kali lebih besar dariku. Bener-benar raksasa."

"Hmmm!" Joran menghembuskan nafas seperti banteng yang ingin menyeruduk. "GRAAAAA !!" Teriaknya yang bahkan sudah memberikan getaran pada Chandra.

"E-Eh!!? Tunggu dong!"

Joran tanpa basa-basi langsung bersikap serius. Ia meninju tanah tempat ia berpijak. 

“EARTH STOMP !!”

Membuat tanah tempat Chandra berpijak bergerak naik ke atas, hingga membuatnya terpental akibat dorongan dari bawah.

Selagi melayang di udara, Chandra memutar-mutar badannya dan menapaki dinding Arena, yang di bawahnya adalah kolam pinggir arena. Chandra segera saja menapakinya dan menekan ke depan untuk kembali ke arena.

"Adududuh! Sakit! Sakit!” Chandra terkena memar yang cukup serius, ia seperti dihantam benda keras dari bawah. “Tapi untung tidak tercebur di-"

“GRAAAAA !!” Joran segera melempar batu besar yang ia gali dari lantai arena.

“BOULDER TOSS !!” 

“Haa!?” Chandra dengan reflek berguling ke kanan, namun tidak sempat, kakinya terkena sedikit hantaman batu besar itu.

DUAARRR !!

Tidak hanya Chandra, batu besar itu menghujam ke depan hingga mengenai penonton, namun barrier melindungi mereka. Sekalipun penonton yang melihat hantaman batu itu dari dekat, dibuat ketakutan dan mundur ke belakang.

“Tenang-tenang! Semuanya tenang, Arena di lapisi Barrier kuat tidak terlihat, kalian akan aman dari segala serangan dalam pertarungan.” Komentator memperingati.

Meski sudah diberitahu begitu, sebagian besar penonton memilih menjauh atau meniggalkan bangku penonton sementara.

“AGGGHHH !! Sakit! Sakit! Sakit!” Teriak Chandra sambil mengusap-usap kakinya yang memar. “Di saat begini, aku tidak boleh menyembuhkan diri dengan sihir air lagi.” Ucapnya sambil sedikit menangis, rasa sakitnya benar-benar membuat Chandra menderita.

DUAR! DUAR! DUAR!

Joran berlari mendekat, langkah kaki besarnya terdengar semakin jelas dengan semakin dekat dirinya dengan Chandra. Setelah berlari ia melompat dan mengepal kedua tangan besarnya lalu… 

“GROUND SMASHER !!”

Kepalan tangannya di hantam langsung ke Chandra.

“HWAAA !!” Chandra menggulingkan dirinya sendiri ke pinggir Arena dan dengan terpaksa harus menjatuhkan diri ke kolam untuk menghindari serangan dahsyat yang bisa meremukkan seluruh badannya.

“BRENGSEK! MENGHINDAR LAGI !!” Sahut Joran dengan tatapan yang begitu menyeramkan.

Selagi mendarat di kolam, Chandra yang sebetulnya gemetar ketakutan, “Aku harus fokus, aku harus fokus. Latihan kemarin sudah mengajarkan cara kembali ke Arena sesulit apapun kondisinya.” Chandra segera memutar badannya, memijak di salah satu sisi dinding, lalu bergerak naik secara zig-zag dengan konsentrasi penuh melawan rasa takut dan rasa sakitnya bersamaan.  

“Hah! Hah! Berhasil!” Chandra kembali berpijak di pinggir Arena, berada jauh di sisi kiri Joran.

Joran berancang-ancang melakukan sihir tanahnya lagi.

“Kuda-kuda itu!? Dia-“ Chandra langsung berguling ke kanan untuk menghindari hantaman tanah tempat ia berpijak.

Meski berhasil menghindar, Chandra malah lebih kesakitan, ketakutan dan juga gemetar.

 "Bagaimana nih! Bagaimana… Bagaimana cara melawannya?!" pikir Chandra mencari cara melawan raksasa di depannya. Dan ia memaksakan diri dengan berdiri kembali, meski ia masih menahan rasa sakit yang luar biasa. "Aku akan coba main serangan jarak jauh. Tak mungkin main style Battlemage. Ketika melawan musuh yang jauh lebih kuat dari kita."

Seterusnya Chandra menyerang dengan menembakkan bola api dari jauh.

"Fireball !!" "Fireball !!" "Fireball !!"

Serang Chandra dengan tinju bertubi-tubi.

"Earth Wall !!" 

Joran menangkisnya dengan tembok dari tanah yang melindunginya.

"Cihh! Masih gak bisa juga ya..." Chandra terus menyerang sambil memikirkan strategi. "Bagaimana kalau begini saja!"

Kali ini ia terus berlari cepat mengeliling seluruh sudut Joran untuk diserang.

"Fireball !!" "Fireball !!" "Fireball !!" ... "FIREBALL !!"

"All-Round Earth Wall !!" 

Kini Joran menutupi dirinya dengan dikelilingi tembok dari tanah secara 360 derajat.

"Sial! Earth Wall miliknya melindungi dirinya secara total. Gimana melawannya ini?" Tak satupun serangan Chandra mengenainya, Ia menjadi gelisah dan bingung.

"Terus saja menyerang! Elemen tanah adalah yang terbaik untuk pertahanan diri. Apalagi ketika melawan api." Sahut Joran yang berada di pinggir lapangan.

"Apalagi nih! Apa! Apa lagi yang harus kucoba?!" Chandra terus berpikir sampai mengacak-acak rambutnya dengan kesal. "Ahh... Biar kucoba cara ini!"

Chandra kini bermain serangan jarak dekat. Ia menyelimuti tangannya sampai sepenuhnya dibungkus api sampai-sampai membuat tangannya seperti logam yang sedang di tempa api.

"Sekalipun ini tembok ini melindungiku secara total.” kata Joran di dalam tembok yang gelap. “Tapi gara-gara sepenuhnya ditutupi tembok ini juga, aku jadi tak bisa melihat keluar dan mengamati apa yang dia lakukan saat ini."

Chandra bergerak mendekat dan meninju keras-keras tembok tanah itu dengan tangannya yang sudah dibungkus api setebal-tebalnya.

"HYAAAA !!"

DUARRRR !! Krek!

"Berhasil! Temboknya bisa retak!" Chandra terus meninjunya terus-menerus sampai tembok itu pecah dan muncul sosok Joran di dalamnya.

"Dia mendekat untuk menghancurkan tembok ini!? Hah! Nekad juga dia." Joran yang tak bisa melihat kondisi di luar temboknya. Ia hanya bersiap-siap jika Chandra masuk dan langsung menghajarnya.

“HEEEYAAAA !!”

DUARRRR !!

Seketika sisi depan tembok itu hancur. Tiba-tiba muncul Chandra di hadapannya. Dimana Joran sudah bersiap-siap di dalam.

"Akhirnya!"

“Akhirnya!”

Kata mereka berdua secara bersamaan.

“Enyah saja kau!” Teriak Joran sambil melayangkan tinju ke depan.

Chandra yang seolah-seolah mengajak beradu serang. Malah memutar badannya secara cepat sisi kanannya, hingga serangan Joran meleset.

“Hah?” Joran setengah tidak percaya, persiapan lawannya sudah selangkah di depan.

Selagi memutar, Chandra menyelimuti kakinya dengan bara api dan langsung menargetkan kepala Joran. "Kena Kau!"

Dengan tendangan dari bawah ke atas yang berkobaran api. Lio menyerang dagu Joran sekuat yang ia bisa.

"Iron Body..." ucap Joran dengan suara kecil.

TLANGGG !!

“AGGGHHH !!” Serangan Chandra justru berbalik melukainya. Ia seperti menendang keras-keras logam yang juga sangat keras. “Sakit! Sakit!” Teriaknya.

Dengan keadaan di udara, Chandra mendarat ke tanah tanpa persiapan apapun dan fokus sepenuhnya pada rasa sakit di kakinya. 

“Aduh! Aduh! Aduh! Bagaimana ini!” Chandra terus mengusap-usap kakinya dan terlihat menangis putus asa. “Bahkan tubuhnya kebal dengan serangan apiku ini!? Apa yang bisa aku lakukan lagi?"

"Hah! Untung dia bodoh." ucap Joran dalam hati. "Dia tak menyadari aku menggunakan Elemen Metal. Atau bahkan dia tak tahu ada elemen itu. Meski turnamen ini memiliki aturan untuk tidak boleh menggunakan lebih dari satu elemen. Tapi selama tidak ada yang lihat, aku rasa tidak akan kena sanksi apa-apa. Tohh... Aku tertutup tembokku ini. Tak akan ada saksi mata. Dan satu-satunya saksi mata. Malah menangis seperti bayi sekarang."

Joran mengeraskan tangannya dengan melapisi elemen logam yang tak kasat mata. Seolah hanya membuatnya tangannya sekeras besi tanpa membuatnya terlihat jadi seperti besi.

“Menyerah saja dasar manusia kecil!” Tinju Joran tepat ke perut Chandra.

"UAGHHH !!" Chandra ditinju Joran keras-keras. "Bagaimana bisa!?" Chandra terkapar sekarat setelah diserang Joran barusan. "Aku... Ugh! seperti di hantam besi betulan. Dia kebal terhadap api dan sudah sangat memojokkanku"

“Menyerah saja bodoh!”

“HOEEEKKK !! Aghh! Hosh! Hosh! Lagi-lagi aku memuntahkan darah." ucap Chandra setelah tangannya berlumuran darahnya sendiri. "Perutku sakit sekali rasanya."

***

Di bangku penonton awam,

“Hei! Hei apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak bisa menonton apa-apa.”

“Benar! Dinding si raksasa itu menghalangi!”

“Berarti cuma penonton yang duduk di bangku sebelah sana yang bisa menonton!”

“Pertandingan apa ini? Aku hanya bisa mendengar teriakan si kecil itu tanpa tahu apa yang terjadi.”

***

"Kau tadi membungkus tangan dan kakimu dengan elemen api kan?" Joran kini memiliki tangan besar membungkus dirinya yang terbuat dari tanah yang ia gunakan sebagai dinding. "Akupun bisa juga melakukannya."

"...!?" Chandra takut sekali melihat tangan kanan Joran kini lebih besar lagi, setelah batu-batu menempel membentuk sebuah tangan besar dari batu.

"Kenapa heran? Ini teknik dasar manipulasi Aura tipe Enhancer kan? Apa kau ketiduran di kelas? Sampai tak tahu hal-hal dasar seperti ini?" kata Joran untuk melemahkan mental lawan.

"Giant Stone Hand..."

Joran mengangkat kedua tangan batunya.

"Aku harus mengelak!? Tapi, UGH!!"

"Crusher !!"

"Uaggghhhhh!" Chandra diserang telak dengan serangan itu.

***