Episode 17 - Duel of Ice and Fire


Malam hari di kamar dorm Alzen.

"Kau sudah berdarah-darah dari pertandingan pertama." kata Chandra sambil menyembuhkannya Alzen dengan sihir airnya. "Apa kau akan baik-baik saja? Besok pagi kita akan bertarung lagi! Parah dah."

"Entahlah..." Alzen menggaruk-garuk kepala. "Waktu terbentur aku hanya sakit biasa saja. Justru sekarang malah lebih sakit."

"Iya... kan sama seperti ketika olahraga berat. Badan baru terasa sakit setelah olahraga selesai." balas Chandra. “Ya itu karena ada hormon Endor-“

"Sudah! Sudah! Chandra. Aku sudah baikan kok sekarang." Alzen beranjak naik dan mengambil segelas air dan meminumnya. "Puahhh !!"

“Beneran?” tanya Chandra. “Aku hanya...”

“Justru aku yang harusnya khawatir sama dirimu. Di pertarungan tadi kamu malah memakai semua auramu. Yang benar saja, kau sekarang baik-baik saja kan?” Lalu Alzen segera menjatuhkan diri di kasur dan berbaring santai. 

“Tenang saja, aku cuma terlalu lelah saja tadi.”

"Tapi Chan. Aku baru tahu kamu bisa melakukan sihir penyembuh."

"Ya... sejak awal aku bersekolah disini sebenarnya untuk jadi Healer. Tapi... Haha, tahu sendiri. Aku malah masuk kelas Ignis dan yah... semuanya malah jadi begini."

"Aku rasa aku juga begitu..." balas Alzen selagi berbaring. "Awalnya di Vheins ini aku ingin belajar sihir lebih dalam lagi. Bukan hanya sihir api saja Tapi entahlah... aku tidak tahu ada kelas-kelas begini. Tapi baru 3 bulan belajar di sini saja, aku sudah berkembang banyak."

"Baru 3 bulan katamu? Kita kan cuma belajar setahun." kata Chandra. “Seperempat waktu kita sudah dilewati.|

"Ehh? Iya juga ya..."

***

Keesokan paginya ... Turnamen dimulai kembali. Setiap pertandingan usai, kerusakan di dalam Arena besar atau kecil. Akan segera kembali seperti semula dengan bantuan teknologi sihir yang memanfaatkan elemen waktu. Jadi lantai Arena yang retak dan hancur akan kembali bersih tanpa cacat seperti sebelum pertandingan.

"Pertandingan hari ini menyisakan 16 peserta yang berhasil menang dari babak sebelumnya. DAN !!” kata MC dengan semangat. “Pertandingan hari ini adalah Pertarungan Round of 16. Masih dengan aturan yang sama, namun kali ini tidak ada pengundian lagi seperti sebelumnya. Semua sudah terpilih di Bracketnya masing-masing, baik Bracket kiri maupun kanan. Tapi... Sebelum pertandingan kita mulai! Alangkah baiknya kita tahu siapa-siapa saja dari Ke-16 peserta ini, yang masih tersisa mewakili kelasnya.

Sambungnya. "Oke... Biar saya bacakan... 4 peserta dari Ignis! WOW !! Jadi belum ada peserta yang kalah dari kelas Ignis, benar-benar mengagumkan! 2 peserta tersisa dari Liquidum! Sayang sekali ya... Separuhnya sudah gugur di pertandingan pertama. 2 peserta dari Terra! Sama dengan Liquidum juga, sayang sekali. 1 peserta dari Ventus! Wohh! Rasa-Rasanya... Tahun ini, Ventus kurang begitu baik. yang tersisa hanya Sever seorang. Tapi bukan hanya Ventus! Fragor-pun juga hanya menyisakan 1 peserta. Diwakili oleh Fhonia. Stellar juga menyisakan 1 peserta. Apa yang sebenarnya terjadi disini! Lumen masih memiliki 2 peserta. TERAKHIR !! Umbra dengan 3 peserta tersisa. Woah! Sepertinya Ignis dan Umbra untuk tahun ini sangat unggul."

***

"Sampai pada tahap ini, kita mendominasi!" kata Lasius yang duduk di tengah ke empat peserta Ignis. "Kalian berempat hebat-hebat. Aku tak salah memilih kalian. Tapi pertandingan masih panjang, jadi jangan sampai lengah dan merasa diatas angin, ya karena kalian bukan anak Ventus."

“Haa? Itu sebuah joke?” Sindir Chandra.

“Tidak lucu!” sahut Lio.

“...” Alzen dan Ranni tidak menanggapi.

Sambung Lasius. "Diam! Dan selalu ingat untuk jangan lengah dan meremehkan musuh kalian. Karena kalau kalian memiliki sikap seperti itu. Musuh akan mudah menang dari kalian, yang dengan gampangnya meremehkan lawan. Jadi, terus lakukan yang terbaik dari kalian. Tidak perlu menang... Tapi cukup bertarung dengan sebaik-baiknya. Kalian mengerti?!"

"YA !!" jawab serentak Alzen, Chandra, Lio dan Ranni. Ke-empat peserta dari Ignis yang berhasil menuju babak selanjutnya.

***

"Baiklah! Kita mulai saja pertandingannya!"

Sambungnya. "Pertandingan pertama ronde kedua ini! Alzen dari kelas Ignis melawan Luxis dari Stellar. Harap kedua peserta segera memasuki Arena!"

"Wooo! Luxis! Luxis! Luxis!" Fans Luxis yang umumnya remaja putri menyemangatinya.

Luxis membalasnya dengan kibasan rambut pirang indahnya.

"Kyaa! Luxis!"

"Kyaaa! Ganteng banget!" sahut fans pria kumisan dengan kedua mata berbentuk hati. "Aduhh... aku jadi deg-degan nih." dengan nafas berat, hati pria itu yang keluar dadanya.

"Haa!?” kata Alzen geli. “Ada cowok juga, ngefans sama pria cantik ini?"

"Ohh kamu Alzen ya... mana supportermu?" Luxis melihat sekeliling bangku penonton. "Hoo? Gak ada ya? Kamu gak punya fans? Kamu gak terkenal sih."

"Haa! Biarin!" Alzen kesal.

"Hehehe... Di belakangku ini, semuanya adalah fansku! Aku harus bertarung dengan indah." Lalu Luxis mengayunkan rapiernya. Menebas dua kali membentuk huruf X dan sihirnya keluar dari gerakkan itu.

"Ice Needle !!"

"Woop..." Alzen menghindarinya dengan bergerak ke kanan. "Hampir saja kena!"

"Hehe... Kau pikir itu sudah selesai?" Di belakang Luxis sudah melayang 100 Ice Needle untuk digerakkan.

“Hah!!? Banyak banget!?”

Luxis menunjuk arah dengan Rapiernya, 

"Needle Storm !!" 

100 Ice Needle terbang melayang ke arah Alzen.

"Yang seperti itu mana bisa dihindari!" Alzen menyilangkan kedua tangannya dengan posisi telapak tangan menjorok ke luar dan melapisi tangannya dengan api. Lalu...

“Flame Shield !!”

Sebuah perisai api yang terpusat pada persilangan tangan Alzen melindunginya. Es apapun yang melintasinya akan segera melelah dengan cepat.

"Cih!| Luxis dibuat kesal. “Kebetulan sekali lawanku orang Ignis. Kau pikir ini sudah selesai?! Hah!"

"Tentu saja!" Alzen melancarkan serangan pembalasan. "Belum!"

"Fire Pierce !!" 

Sihir api yang jadi andalan Alzen dikeluarkan untuk menyerang target secara terfokus dan langsung dengan lesatan yang cepat.

"Kau pikir hanya kau yang bisa!" Luxis mengayunkan pedangnya secara diagonal. Dari kanan bawah ke kiri atas.

"Ice Wall !!" 

Sebuah dinding dari es yang lancip ujungnya melindungi sisi depan Luxis.

Cresssttt !!

"Huaaaa!?" Luxis kaget kedua tombak api Alzen menembus dinding esnya yang telah dibuat begitu kokoh. Hanya berjarak 1 cm lagi untuk menikamnya. "Phew... untung saja." katanya dengan lega, sebelum ekspresinya berubah menjadi kebencian.

Perlahan-lahan dinding esnya berubah jadi merah seperti terbakar dan meleleh sedikit-demi sedikit. Setelah dinding itu meleleh hingga separuhnya, sosok Alzen muncul di depan Luxis.

"Halo!"

"Huwaaa!" Luxis kaget melihat Alzen sudah tepat di depan wajahnya membuatnya reflek melompat mundur. "Kurang hajar! Kau mempermainkanku sampai sejauh ini!!" katanya dengan ekspresi yang penuh kebencian.

"Haa!?" Alzen merinding. "Wajahmu yang cantik berubah jadi seram."

“Berisik!” bantahnya. “Memang benar, jika sewaktu-waktu aku kebagian melawan Top 3 angkatan tahun ini. Tidak ada kata main-main.”

“Jadi sejauh ini kamu hanya main-main?”

“Haha! Selamat datang di zona ku!” Luxis mengayunkan Rapiernya ke kiri dan ke kanan lalu mengangkat pedangnya ke atas.

“Aku tak tahu apa yang sedang kau lakukan!” sahut Alzen. “Tapi masakan aku diam saja!”

“Fire...”

Belum sempat Alzen meng-cast sihirnya, ia langsung disabotase dengan serangan Luxis yang hanya menggunakan tangan kirinya untuk meng-cast sihir.

“Ice Needle !!”

“...!!?” Alzen memilih untuk menghindar ketimbang mengadunya. “Gawat! Apa casting time-nya telah selesai?”

“Diam disana dan lihat saja!” kata Luxis menatap rendah Alzen sambil tangan kanannya yang menggenggam rapier terangkat tinggi-tinggi.

"Climate Change Winter Zone !!

Suhu Arena perlahan-lahan menjadi dingin. Dan mulai turun salju, yang turun begitu saja dari langit-langit Barrier yang tidak terlihat di Arena.

“Brrr dingin...” Alzen menggigil. “Apa yang terjadi? temperaturnya berubah drastis. Masa di Greenhill ini bisa turun salju? Tidak! Ini pasti efek sihirnya. Aku pernah baca sihir jenis ini buku. Kalau tak salah, kemampuan ini disebut Field Magic."

"Hahaha!" Sifat Luxis berubah drastis. "Kenapa? Kau heran? Ini sihir tingkat tinggi! Menanamkan sihir elemen es ke tempat tertentu di wilayah seluas Arena ini dan aku mampu mengubah iklim seluruh arena jadi sedingin musim dingin berkepanjangan di Quistra. Tapi karena Arena tertahan dinding tak terlihat. Jelas para fans-ku diatas sana akan aman dari efek sihir ini, Lalu-"

“Fireball !!”

Tak tahan mendengar ocehan Luxis, Alzen langsung menyerang untuk membungkam mulutnya segera;

"UAGGHHHH !!"

“Apinya kena, tapi.” kata Alzen dalam hati. “Kekuatannya melemah. Jika tidak langsung mengenainya. Daya serangnya turun dengan cepat.”

“Benar-benar tidak sopan! Aku belum selesai bi-“

“Fireball !!”

Luxis langsung mengarahkan tangannya ke depan dengan telapak terbuka, juga wajahnya terlihat kesal.

“Ice Barrier !!”

Alzen langsung bergerak, mencari-cari celah dan seolah sudah tahu serangan tadi akan dengan mudah di tahannya.

“Diam dan lihat saja disana!” Luxis mengayunkan Rapiernya keras-keras dengan memegangnya memakai kedua tangan. “Serangan terakhir!"

"Winter Wrath !!" 

Sebuah gumpalan salju digerakkan untuk mengibas Alzen langsung dan menimbumnya dalam suhu dingin.

"Saljunya besar banget !!?" kaget Alzen melihat timbunan salju yang begitu besar datang untuk menimbunnya dengan mudah.

"Mega Fire Wall !!"

"Ehh!? Apinya gak keluar!" Alzen panik dan terus mencobanya.

Sementara itu gumpalan salju datang seperti bak longsor yang jatuh tepat di depan Alzen.

"Huahahahaha! Sihir Apimu tak akan bekerja di tempat sedingin ini!" Luxis tertawa puas, ia tak peduli lagi sifat aslinya terbongkar, yang penting bisa mengalahkan Alzen. "Hei Komentator! Cepat umumkan pemenangnya!"

"Belum!” jawabnya. “Pemenang ditentukan ketika sudah ada yang menyatakan menyerah atau tercebur di kolam. Tapi Lawanmu belum berkata menyerah dan kolam di sekitarmu membeku. Pertandingan belum selesai!"

"Cih! Bikin susah saja!" Luxis geram mendengarnya. "Aku hanya bisa membekukan. Mencairkan tempat ini ada diluar kemampuanku. Lagipula... Aku juga sudah kelelahan. Aura-ku sepertinya tinggal sedikit tersisa. Tak mungkin lagi melakukan sihir besar seperti itu dua kali dalam hari yang sama."

Sementara itu, 60 detik kemudian, di dalam timbunan besar salju, keadaan Alzen belum diketahui, tak ada suara atau upaya keluar yang nampak dari luar. Sedang Luxis sedari tadi duduk bersila untuk beristirihat sebentar.

“Jika aku menghentikan Field Magic ini, sekalipun berguna untuk menghemat Auraku, namun... Serangan apinya, tak lagi melemah. Namun jika kubiarkan, lama-lama aku yang akan kalah karena kehabisan Aura.” Luxis berdiri, mengambil Rapiernya kembali dan bangkit berdiri. "Aku harus menghampiri lawanku ini." Ia menghampiri gumpalan salju yang tebal itu. "Biar kupastikan dia pingsan dan tidak berdaya, lalu tinggal kuceburkan saja. Sekalipun kolamnya masih beku."

Luxis mengorek-ngorek salju itu sedikit demi sedikit. "Aku sudah kehabisan sejumlah besar Aura. Tak sanggup lagi melakukan sihir dengan pemakaian Aura yang besar."

Luxis terus menggali dengan kedua tangannya dan sampai ke tengah-tengah gumpalan salju. Lalu-

"Fireball !!"

Luxis dengan cepat mengayunkan pedangnya. 

"Ice Wall !!"

"Apa!? Sihirku tidak keluar!?" Luxis terpental jauh oleh serangan Alzen.

"Phew... Untung aku bisa sihir seperti ini." Alzen terlindungi oleh sihir yang baru ia pelajari.

"Si-sihir macam apa itu!?"

"Ahh... aku belum memberi nama sihir ini. Heat Wall... Ahh standar. Bagaimana kalau... Ignis Protection. Ya! Nama yang bagus!" 

Alzen dengan kedua tangan berselimut api yang terbuka di depan dadanya, menyambungkan tangannya ke atas hingga membentuk Barrier dari api yang berbentuk seperti sebuah dinding kaca berwarna orangye api berbentuk setengah bola dengan kobaran api meletup-letup di sekelilingnya. Barrier itu melindungi segala serangan yang es yang dilontarkan Luxis.

"Jadi kau bisa bertahan dari suhu dingin di dalam salju itu dengan sihir anehmu itu?"

"Yap!" balas Alzen. "Rasanya seperti tinggal dalam Igloo. Tapi hangat!"

"Woo!" Sahut Komentator. "Peserta Alzen berhasil keluar dengan selamat dan kembali ke Arena!"

"Ehh? Saljunya juga sudah berhenti ya!" ucap Alzen. "Kalau begitu... sihir apiku bisa digunakan lagi, di-Arena ini!"

"Tu-Tunggu!"

Alzen mengangkat tangannya ke atas dengan api menyelimuti tangan kanannya, lalu ia mengibas dari kanan ke kiri untuk menghempas api yang menyebar secara lebar ke depan.

“Dragon Breath !!”

Api dengan ukuran besar, menjalar cepat bagai semburan api dari naga, mencarikan timbunan salju di depan Alzen dengan cepat hingga terus mendekat pada Luxis.

“He-hei !! Tunggu dulu!” karena panik, Luxis langsung berjalan mundur dengan menyeret-nyeret tubuhnya menggunakan tangan dan bokongnya. Tanpa ia sadari, ia sudah berada di pinggir arena dan mau tak mau, untuk menghindarinya, ia menjatuhkan diri ke kolam.

"Intinya sama saja kan? Yang tercebur duluan dialah yang kalah.” kata Alzen.

PANGGG !!

“Haa!? Jangan-jangan!” Alzen berlari ke ujung arena untuk memastikan. “Ohh iya, kolamnya juga membeku karena sihir salju searenanya yang tadi."

"Itu yang kau sebut serangan sihir?! HAH !!" Luxis meledek Alzen dari bawah kolam yang membeku, sambil perlahan naik kembali ke Arena, dia terus berlagak kuat untuk memastikan para penggemarnya tidak kecewa padanya, sekalipun ia benar-benar sudah terpojok tanpa ada kekuatan untuk melawan lagi. “Benar-benar di luar dugaanku, kau memojokkanku sampai sejauh ini."

"Aduh! Jadi ini belum berakhir ya?" kata Alzen yang terlihat agak kecewa.

***