Episode 16 - End of First Round



?“Kau pikir ini sudah selesai Hah?!” Ancam Luiz yang masih murka sambil perlahan-lahan naik kembali dengan memanjat menggunakan tangan yang begitu berurat saking kesalnya. Namun yang lebih mengerikannya lagi, ia naik dengan aliran listrik ungu yang diperkuat mengalir pada air di sekitarnya. Hingga seluruh kolam memiliki percikan listrik ungu yang kuat.

“Hah!? Pertarungannya kan sudah... kau mau apa lagi sih!”

“Aku tidak peduli! Yang pasti. MATI SAJA KAU !!”

“BLACK THUNDER STREAM !!”

BZZZZZZSSSTT !!

“Tu-tunggu!” Leena tidak siap.

“Ultimate Protection Barrier !!”

CTARRRRRR !!

“Hah!? Barrier cahaya tingkat tinggi? Kau bisa meng-cast sihir seperti itu?”

Leena menoleh kebelakang karena bukan dia yang meng-cast sihir itu. “Gu-guru Lunea?”

“Pertarungan sudah usai Luiz!” kata instruktur elemen cahaya, Lunea. “Kau tidak diperbolehkan merengut nyawa murid lain!” 

“Hah... Hah... Sialan! Ternyata,” Bentak Luiz. “Dasar anak emas! Selalu saja dilindungi! Dasar Brengsek!”

***

Di ruang kepala sekolah, Ruang Vlaudenxius Albertus bekerja. Sesaat setelah pertandingan Leena VS Luiz berakhir. Namun Leena memutuskan tidak ikut mereka dan ingin kembali menonton pertandingan, katanya biar Lunea yang mengurusnya dan apapun keputusannya nanti Leena menerimanya.

"Headmaster Vlau! Anak dari Fragor ini jelas-jelas ingin membunuh salah satu muridku, Leena Leanford." ucap Instruktur kelas Stellar, Lunea. Wanita berusia pertengahan 30-an dengan pakaian dari kain putih, berambut panjang, berwarna pirang pudar. "Kau harus beri dia sanksi sebesar-besarnya."

"Coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Vlaudenxius. "Siapa yang mau menceritakan yang sesunguhnya terjadi."

Di depan Vlaudenxius, Luiz hanya bisa membungkuk sambil melihat kebawah dengan badan penuh darah luka.

"Dia tak bisa berkata apa-apa... Dasar pengecut!" ucap Lunea memarahi. "Biar aku saja yang cerita. Ini yang terjadi di turnamen barusan."

***

“Hah... Hah... Sialan! Ternyata,” Bentak Luiz. “Dasar anak emas! Selalu saja dilindungi! Dasar Brengsek!”

“Cukup Luiz!” Lunea datang mendekati Luiz dengan marah. "Sekarang berhenti sampai disitu! Biar Headmaster Vlau yang menangani kasus ini."

“Hah... Hah... Aku tidak peduli!” Luiz mengayunkan pedang listrik dari aura-nya secara horizontal dan menggerakan petir ungu yang kini menghitam untuk menyerang Lunea.

"Barrier !!" Lunea membentuk pertahanan didepan, menepis segala listrik yang datang mendekat seperti ditahan sebuah kaca tak terlihat.

"Hehe... Apa yang kau pikirkan coba? Kau berpikir bisa menandingi seorang instruktur?!" Kata Leena.

Tak berhenti sampai disitu, Luiz segera beranjak naik ke Arena kembali dan melancarkan serangan berikutnya pada Lunea.

“Sudah cukup Luiz!” 

"Flashbang !!" 

Lunea meledakkan sihir cahaya yang kuat sehingga membutakan sejumlah tempat yang ia targetkan.

"Sial!! Mataku!?" Pandangan Luiz menjadi putih semuanya, Luiz menebas secara acak. Ia mengusap-usap matanya sampai bisa melihat sebuah siluet kabur yang tak jelas. "Disana rupanya!"

"UAGHHH !! Lenganku!?" Lunea terkena satu tebasan di lengan kiri. "Berani-beraninya kau menyerang seorang Instruktur!"

"Hehehe... bisa kena juga ternyata..." Luiz bersiap melancarkan serangan berikutnya.

"Barrier !!" 

"Cih... Dinding tak terlihat ini merepotkan sekali?!"

"Repel !!"

Luiz terpental oleh Barrier yang digerakkan Lunea dan mendorongnya seperti dorongan per pada pistol. Ia terpental sampai menabrak tembok di ujung Arena, dan tersangkut di dalam retakannya.

"UAGGHH!! Sakit sekali!" ucap Luiz yang terluka parah tapi ia terlihat tersenyum puas. "Ternyata tak bisa ya, sama sekali tak bisa menandingi instruktur. Tapi, setidaknya aku berhasil mengenainya. Dia instruktur lemah."

"Hey! Kau masih sadarkan? Coba lihat sini." Panggil Lunea melambaikan tangan.

"Haa?"

"Heal !!" Lunea menyembuhkan luka sayat di lengan kirinya dalam sekejap.

"Hmphh... Percuma ya. Lawanku seorang Healer, yang bisa bertarung juga." ucap Luiz dalam hati. “Benar-benar merepotkan.”

"Kalau begitu..." ucap Luiz. "Aku menye..."

Fooossshh !!

Luiz terkena benturan tekanan Barrier Lunea sekali lagi,

"Aghhh!"

Rasanya seperti dirinya menjadi gepeng. Dan barulah ia dibawa pergi menuju ruang kerja Vlaudenxius.

***

"Jadi begitu ceritanya..." balas Vlaudenxius. "Kau agak keterlaluan seperti biasanya ya... Lunea. Lihat, dia jadi babak belur begitu."

Vladenxius meng-cast sihir pada Luiz. "Heal !!"

"Heal?” Luiz terkejut. “Ja-Jangan bilang!? Kau bisa Healing Magic juga?"

"Hoo... kenapa kaget begitu? Aku bisa 7 elemen, apakah Healing Magic sesuatu yang lebih sulit dari itu?"

"Apa kau benar-benar sehebat itu. Adakah yang bisa mengalahkanmu?" tanya Luiz.

"Lohh... kenapa jadi aku yang ditanya. Jangan merubah arah pembicaraan kita." balas Vlaudenxius. "Biar kutanya padamu dulu. Kau cocoknya di hukum bagaimana?"

"Mana kutahu!" balas Luiz kesal. "Dan kalau tahu aku juga gak akan minta yang berat-berat."

"Hmm... Kalau begitu kau Di-Diskualifikasi."

"Hehehe... Diskualifikasi katamu? Apa bedanya dengan kalah? Sama-sama keluar juga."

"Hei! Jaga mulutmu! Kau bicara dengan kepala sekolah sekaligus kepala daerah Vheins tahu!" bentak Lunea. “Dasar tidak sopan!”

"Sudah-sudah Lunea, kalau begitu begini saja." ucap Vlaudenxius. "Kau... Dimaafkan."

"Haaaa?" Luiz dan Lunea ternganga.

"Apa yang kau maksud? Tak ada hukuman-nya?" Luiz heran.

"Headmaster Vlau, Kau bercanda kan? Dia ini berniat membunuh Leena. Dan..."

"Setiap orang bisa dan diperbolehkan salah, maka dari itu setiap orang boleh mendapatkan kesempatan kedua. Kesempatan untuk sadar dan berubah dan sekolah seharusnya mengajarkan itu kan?"

"Hehh! Kau benar-benar si tua gila!" balas Luiz sambil berdiri. "Kau akan menyesali keputusanmu itu, karena aku tak akan bertobat semudah itu. Lagipula... Bertobat? Memangnya aku salah apa. Ahh... Buang-buang waktu saja aku berada disini."

“Haish! Kau ini! Benar-benar deh! Setidaknya berterima kasihlah dengan pak Vlau!”

“Terima kasih.” Ucapnya dengan nada datar dan meledek.

“Bukan seperti itu!”

Luiz kesal dan berjalan keluar dengan tidak sopan.

"Kau ini! Mau kugencet lagi dengan Barrier-ku ya!"

"Lakukan saja! Lain kali aku akan kalahkan kamu! Instruktur tante-tante judes..."

"Grrr! Kemari kau!"

"Sudah... Biarkan dia pergi." ucap Vlaudenxius tenang.

"Ta-tapi kan? Agh... Sudahlah." Lunea berusaha menenangkan diri meski ia jengkel setengah mati. "Setelah dimaafkan. Anak Fragor itu malah makin kurang hajar."

“Hukuman tidak selalu memberikan efek jera kan? Tapi pengampunan yang tulus tanpa syarat, mungkin saja lebih menyentuh.”

“Aku benar-benar, tidak mengerti cara pikirmu.”

***

Sementara itu, pertadingan masih terus berlangsung.

Pertarungan selanjutnya... "Pemenangnya dari kelas Umbra! Velizar !!"

“Kemampuan apa itu barusan! Sihirku? Di...”

“Hah... Benar-benar membosankan.” Kata Velizar dihadapan musuhnya dengan tatapan tidak bersemangat. “Setelah ini aku harus melawan Leena. Benar-benar tidak beruntung.”


Pertarungan selanjutnya... "Pemenangnya dari kelas Ignis! Lio !!"

Kata Lio di hadapan musuhnya yang seperti makanan gosong. “Hahah! Ini masih mudah!” Ucapnya dengan penuh semangat sambil mengenggam tangannya kuat-kuat. “Tapi, kau tidak mati kan?”


Pertarungan selanjutnya... "Pemenangnya dari kelas Liquidum! Gunin !!"

Kata Gunin, seorang pria berambut putih panjang yang dikuncir di belakang, dengan pakaian ala ksatria Tiongkok. Dengan senjatanya yang adalah tombak perang ala Tiongkok. Guandao.

“Hmph! Mudah sekali, aku benar-benar diuntungkan. Hanya mengendalikan air di sekitar kolam ini saja, aku sudah bisa menang dengan menceburkannya langsung.”

“Puah! Tolong-tolong! Aku tidak bisa berenang!”


Pertarungan selanjutnya... "Pemenangnya dari kelas Terra! Bartell !!"

“Bi-biksu ini! Sama sekali bukan orang yang baik hati! Aghhh...”

“HWRAAA !! Kau bukan apa-apa bagiku! Hahaha!” kata Bartell seorang pria besar botak berjanggut coklat tua, berpakaian ala biksu berwarna coklat ke abu-abuan. Meski masih berumur 20 tahunan, tampangnya boros dan terlihat tua.


Pertarungan selanjutnya... "Pemenangnya dari kelas Umbra! Hael !!"

“Ba-bagaimana bisa, aku kalah dengan anak kecil madesu itu!” Sahut lawannya yang terperangkap dalam suatu summon dari elemen kegelapan hingga dia tidak sadarkan diri dan Auranya terus menerus diserap.

“A... aku... ti-tidak tahu...ma... maafkan aku.” Kata Hael dengan kaki gemetar. “Aku ti-tidak... be-bermaksud begitu.”

Di bangku penonton Umbra,

“Haa? Dia bisa menang?” Sinus heran.

“Bodoh kamu!” Volric memukul kepala Sinus keras-keras. “Hael saja bisa menang masa kamu tidak?!”

“Yee.. Beda!” Sinus membela diri. “Lawanku Joran si Golem itu!” 

“Kau lemah Sinus.” Ledek Velizar dengan nada datar.

“DIAM !!”


Pertarungan selanjutnya... "Pemenangnya dari kelas Ventus! Sever !!"

“Saatnya untuk menyaksikan ketampananku.” kata Sever sambil berpose kemenangan. 

Sever adalah pria cantik berambut panjang pirang dan menggunakan sebuah pisau belati sebagai senjatanya. Yang akan berubah jadi pedang dengan sihir anginnya. Ia mengenakan jubah hijau bercorak garis-garis emas dan kemeja putih berdasi merah, serta celana panjang dengan warna yang hijau gelap.

“Kyaaa !! Sever!”

“Sever! I love you !!”

“I love you too, Ladies...” balas Sever dengan elegan, melambaikan tangan dengan gemulai pada para fans gadisnya.

Di bangku penonton Ignis,

“Siapa sih orang itu? Idih... Banci banget.” ledek Chandra.

“Awas! Nanti kamu naksir lagi!” balas Lio sambil menyenggol Chandra.

“Idih! Amit-amit!”

“Kalian kok malah fokusnya kesana! Lihat tuh! Dia kuat tahu.” kata Alzen. 

“Teman-teman, sepertinya habis ini giliranku.” kata Ranni. “Mohon doanya ya!”

“Tentu saja Ranni! Berjuanglah!” Mereka bertiga menyemangati

Pertarungan selanjutnya... "Pemenangnya dari kelas Ignis! Ranni !!"

Ranni menepuk-nepuk bajunya dan mengusap-usap tongkatnya. “Syukurlah lawannya masih mudah.”

Di bangku penonton Ignis,

“WOOO !! Ranni menang !!” sahut Chandra.

“Aku tidak ragu sedikitpun.” kata Alzen.

“Berarti kita semua lolos ya? Hebat!” kata Lio.


Pertarungan selanjutnya... "Pemenangnya dari kelas Fragor! Fhonia !!"

Lawannya hangus seperti disambar petir. “Meski kelihatan seperti anak kecil, tapi...”

BRUGGHH !!

“Ahh gak asik, gak asik.” Kata Fhonia. “Kurang seru, kurang seru. Masa begitu saja sudah KO. Ayo dong lanjut lagi dong... Huuu...uhhh!”

Fhonia adalah perempuan usia 15 tahun yang berkepribadian santai dan terlalu mengganggap enteng segalanya. Ia berambut pendek dan berponi berwarna pink. Dengan kalung dadu di lehernya dan topi seperti topi Sherlock Holmes, berwarna ungu. Tubuhnya langsing dan tidak terlalu tinggi. Tingginya kira-kira kurang dari 150 cm. Yang membuatnya terliha seperti anak-anak.


Dan pertarungan terakhir... "Pemenangnya dari kelas Umbra! Nicholas !!"

“Sudah menunggu lama sekali, tahu-tahunya aku ada di urutan terakhir.” Kata Nicholas.

“Tolong Nicholas, tolong hentikan. Hentikan!!” Kata lawannya yang memohon sambil menangis dengan perasaan putus asa. Dihinggapi sebuah sihir kutukan.

“Berisik! Yang penting tidak membunuhkan? Kalau menyiksa lawan, boleh-boleh saja.”

“Tolong hentikan... HWAAAA...” Kata lawannya yang perlahan jadi kurus dan putus asa.

***

Pertarungan demi pertarungan sudah dilakukan, sebelum matahari terbenam. 

Lalu di dapatlah 8 peserta yang berhasil lolos di bracket kiri. Mereka adalah...

?Alzen dari Ignis - Luxis dari Stellar?

Joran dari Terra - Chandra dari Ignis?

Sintra dari Lumen - Cefhi dari Liquidum?

Leena dari Lumen - Velizar dari Umbra


Lalu di dapatlah 8 peserta yang berhasil lolos di bracket kanan. Mereka adalah...?

Lio dari Ignis - Gunin dari Liquidum?

Bartell dari Terra - Hael dari Umbra?

Sever dari Ventus - Ranni dari Ignis?

Fhonia dari Fragor - Nicholas dari Umbra