Episode 15 - Light Speed


Pertandingan keempat, Chandra memenangkannya. Setelah bertarung habis-habisan, ia langsung diangkut dan dibawa ke ruang penyembuhan dan ditangani oleh beberapa Healer. Chandra tak lagi menonton pertandingan setidaknya sampai ia siuman.

Para Healer bilang, Chandra hanya terlalu memaksakan diri hingga melewati batas penggunaan Aura miliknya yang membuat dirinya pingsan sampai Auranya beregenerasi secara cukup untuk membuatnya sadar kembali.

***

Pertarungan selanjutnya... "Pemenangnya dari kelas Lumen, Sintra..."

"Ka-kau kuat sekali..."

"Hmm... Biasa saja." Sintra memalingkan wajahnya. "Kalau belum berhasil melawan orang itu. Aku tak akan pernah merasa diriku ini hebat."

Sintra adalah seorang wanita berambut hitam panjang, rambutnya tergerai bebas tanpa ikat rambut. Sosoknya elegan, dengan mata merah ia jadi terlihat seperti wanita vampir yang jahat. Meski begitu ia adalah pemilik kemampuan elemen Cahaya dan mempersenjatakan dirinya dengan Dual-Wielding Sword (Pengguna 2 pedang).

Sintra mewakili kelas Stellar, tapi karena ia adalah pemilik kemampuan elemen cahaya, ia mewakilkan kelas tambahan yang mirip seperti Umbra, namanya Lumen. Jika Umbra adalah kegelapan, Lumen adalah cahaya. Meskipun keduanya tetap belajar dalam kelas yang sama yaitu kelas Stellar.

***

Pertarungan selanjutnya... "Pemenangnya dari kelas Liquidum, Cefhi..."

"Aa... Aku menang?"

"Dia! Dia kelihatannya saja lemah... Tapi... Ugh, Sial! Aku kalah..."

Cefhi adalah perwakilan dari Liquidum yang lagi-lagi berperan Support. Jadi dalam pertarungan 1 Vs 1, Liquidum sangat tak diuntungkan. Ia adalah wanita pemalu yang selalu gugup hampir di setiap situasi, Ia mengenakan kacamata besar dengan frame merah. Rambutnya hitam kecoklatan berponi, dengan dua kuncir kepang di atas pundaknya. Matanya berwarna ungu pudar dan senjatanya adalah Magic Staff.

***

Pertarungan selanjutnya... "Leena dari Kelas Lumen Vs Luiz dari Kelas Fragor."

"Haaa!? Leena ikut turnamen juga?!!" Alzen terkaget-kaget.

"Alzen," Lio menepuk pundak Alzen. "Kau kenal dia?”

Alzen mengangguk-angguk. “Sedikit,”

"Kalau gak salah... Dia kan juga sama sepertimu, pelajar yang menerima beasiswa itu? Benar kan?"

"Iya... dan dia ini pada waktu itu juara 1 nya."

***

Sementara itu di Arena pertarungan, Leena Vs Luiz.

Leena mengeluarkan pedangnya dari sarung. "Aku kenal kamu... Luiz si penghasut dari Fragor."

Luiz menanggapinya dengan membungkuk, memberi salam hormat dengan tangan kanan di dada, tangan kiri dinaikan lalu kedua kaki yang disilangkan. "Wah... Wah ... Wah... Suatu kehormatan dikenal dirimu... Nona Cantik dari Stellar."

Luiz adalah seorang pria yang tinggi, berambut coklat terang. Matanya selalu terlihat tertutup. Sesuai kelasnya, ia adalah pemilik kemampuan Elemen Petir. Dengan pedang besar sebagai senjatanya.

"Rayuanmu tak akan mempan padaku bodoh!"

"Aku tidak sedang merayumu, Nona Cantik. Aku hanya mencoba jujur atas perasaanku melihat dirimu yang secantik itu." kata Luiz dengan ekspresi licik, yang jelas-jelas mengatakan semua itu hanya kebohongan.

“Menjijikan!” Leena kesal dan mengibaskan pedangnya dari samping kiri ke samping kanan. Membentuk tebasan cahaya diagonal.

"Wow!" Luiz terlihat dengan mudah menangkisnya dengan tangan kiri yang mengalirkan listrik berwarna ungu yang menyebar di depannya hingga membentuk perisai. "Nona cantik tapi aku tidak sabaran ya... Jadi gak cantik deh."

Luiz juga menggunakan pedang, namun beda dengan pedang Leena yang lurus. Pedang yang digunakan Luiz adalah pedang lengkung besar yang bernama Scimitar. Tapi Luiz sendiri menamai senjatanya dengan sebutan The Punisher.

 "Meski kata orang-orang aku ini kuat. Tapi sepertinya aku hari ini kurang beruntung. Belum apa-apa sudah harus melawan yang paling bersinar."

"Jujur saja..." Leena menutup mata, mengangkat pedangnya tegak lurus hingga tengah-tengah pedangnya berada tepat di depan wajahnya dengan tangan kanan pas di depan dada. "Justru aku yang merasa tak beruntung saat ini."

"Tenang saja..." balas Luiz dengan nada meledek. "Kau ini yang tercerdas, terkuat di angkatan ini. Kau bos-nya, Aku yang sekarang takkan bisa apa-apa di hadapanmu."

"Aku tak akan lengah, teralihkan oleh kata-katamu yang manis dan terkesan meremehkan itu." balas Leena dengan wajah serius, 

“Meremehkan? Apa kau tidak tahu kalau ka...”

TRANGGG !!

Leena bergerak maju dan saling beradu pedang dengan lawannya, Luiz.

“Diam! Dasar pria sipit!” kata Leena dengan tatapan kesal.

“Wah, wah... Kau benar-benar tidak sabaran ya.” Luiz mengaliri listrik ke tangan kirinya. 

“Elec...”

Leena langsung bergerak mundur sebelum Luiz menyelesaikan castnya.

“Haa? Kabur? Apa kau ini pengecut?!”

“...” Leena tak menjawabnya atau menanggapinya sebagai provokasi, arah matanya lebih terlihat sedang mengamat-amati.

"Biar bagaimanapun, pertarungan ini sudah jelaskan? Kalau kita tanya anak kecil. Siapa yang lebih cepat?, Petir atau Kilat? Tak usah dijawab, semua juga sudah tahu jawaban-nya.”

“Berisik! Apa kau bisa sejenak saja tidak bicara hah?!”

“Geez! Wanita ini.” Luiz geram dalam hati, namun mencoba menahan emosinya dan melanjutkan kata-katanya tanpa menggubrisnya. “Tapi kalau ditanya hal lain... Mana yang lebih berbahaya?" 

Luiz mengeluarkan petir di tangan kirinya, lalu menempelkan tangan kirinya itu ke tubuhnya sehingga membuat petir ungu miliknya, mengalir mengelilingi seluruh tubuhnya.

"Petir atau Kilat?"

Luiz bergerak sangat-sangat cepat bagaikan petir sungguhan dan saling beradu pedang dengan kecepatan tinggi bak kilat melawan petir yang menyusul sesudahnya.

TRAANGG !! TRANG! TRANG! TRANG!!

Dalam sepuluh detik saja... Pedang mereka berdua sudah bersinggungan 78 kali banyaknya. Terlebih mereka bertarung diatas daratan... Bukan berarti mereka terbang atau anti-gravitasi. Tapi karena gerak mereka yang cepat. Mereka melompat, menyerang dan mendarat dan baru terlihat mata orang awam, saat mereka bentrok dalam adu pedangnya. Jadi seolah-olah membuat mereka seperti bertarung di udara.

"Hoo... Tentu saja, Kau pasti bisa menahannya." kata Luiz sambil beradu pedang. "Kilat selalu lebih cepat beberapa detik dari petir."

"Diamlah! Sudah kubilang! Aku takkan lengah oleh karena kata-katamu!" balas Leena kesal sambil dalam keadaan yang sangat cepat mencoba menyerang dan menepis serangan dalam sekejap.

"Bagaimana kalau begini!”

“Electro Injection !!" 

Luiz menyuntikan petir ke tubuhnya lebih banyak lagi. Kini ia makin bergerak lebih cepat dan lebih brutal lagi daya serangnya. Ia menyerang Leena dari salah satu arah sampai beradu pedang. Mundur sebentar dan maju lagi untuk menyerang dari arah lainnya secara acak.

***

Di bangku penonton Ignis,

“Lio, sebenarnya kita sedang menyaksikan apa sih?” tanya Alzen. “Apa kau bisa melihat mereka?”

“Tidak sama, sekali.” jawabnya sambil geleng-geleng kepala. “Mereka berdua bergerak sangat cepat. Mereka berdua ada di level yang berbeda.”

***

"Dia makin cepat! Aku tak bisa berbuat banyak jika ia terus dalam mode itu." Leena sibuk bertahan dan sangat konsentrasi untuk menangkis dengan pedangnya. Untuk setiap serangan yang datang padanya.

"Wahahahaha!!" Luiz masih terus menyerang. "Seperti yang diharapkan dari sang nomor 1." Katanya dengan nada seperti orang haus darah.

Leena tak meresponnya, Ia tetap diam agar konsentrasinya tidak buyar. Karena sebentar saja Leena tak bisa fokus, satu tebasan pedang dari Luiz akan mengenainya secara fatal dan disusul serangan beruntun lainnya.

Sampai tebasan yang terakhir. Mereka tetap beradu pedang.

“HYAAA !!”

“HWARRRRGGH !!”

DESSSSSSTTTT !!

Saat adu pedang terakhir mereka, angin di sekitarnya berhembus kencang hingga menggoyangkan air di pinggir arena secara gamblang.

"Hehehehe. Kau benar-benar luar biasa! 291 tebasan dalam 20 detik semuanya tertangkis dengan sempurna. Bukan main." Kata Luiz yang terlihat lelah, berkeringat dan kesulitan bernafas.

Leena masih tidak meresponnya dan masih bersiaga sambil menatap mata dan pedang Luiz dengan fokus. Meski ia juga sama lelahnya dengan Luiz.

"Sedikitpun, tak boleh ada celah untuk lengah." ucap Leena dengan suara kecil dengan nafas yang tersengal-sengal saking lelahnya menangkis (Parry) setiap serangan Luiz.

“Kalau diteruskan, jelas-jelas aku yang akhirnya kalah.” Pikir Luiz. “Bukan hanya soal stamina dan Aura. Tapi juga ketahanan The Punisher yang sebentar lagi bisa patah.” 

Lalu Luiz menatap pedangnya yang sudah tergores sana-sini dan terlihat retakan yang berarti. Lalu ia membandingkan dengan ketahanan pedang Leena. Tak ada retak, lecet atau bentuk kerusakan sekecil apapun. 

“Tidak hanya penggunanya cantik, pintar dan sangat kuat. Tapi senjatanya juga merepresentasikan dirinya.” Pikir Luiz.

“Saat melawan musuh yang punya segala cara untuk berbuat curang. Aku lebih baik memilih untuk bertahan lalu menyerang ketimbang langsung menyerang secara gegabah dan berakhir pada kemungkinan yang tak aku harapkan terjadi. Kuncinya adalah fokus dan tetap tenang.” Pikir Leena.

“Hah... Aku tak bisa meresikokan The Punisher sampai patah di pertandingan ini. Kalau bisa menangpun maka pertandingan selanjutkan akan jadi sangat susah. Termasuk pertarungan di luar turnamen. Resikonya besar.” Pikir Luiz. 

Keduanya saling diam dalam jarak yang cukup jauh, saling mengisi tenaga sambil secara bersamaan memikirkan langkah berikutnya.

“Kalau begini, apa boleh buat.” Luiz menjatuhkan pedangnya dan menendangnya jauh-jauh hingga ke pinggir arena.

“Huh?” Leena terheran-heran sambil mencari alasan yang masuk akal atas tindakan Luiz barusan. “Jadi begitu, dia takut pedang usangnya itu patah.

“Meski cara ini melelahkan, tapi masih lebih baik daripada The Punisher terkena Punishmentnya. HWAAAAAARR !!“

“WEAPON CALL !! Electro Punisher !!”

Luiz menciptakan senjata ke tangannya, senjata yang memiliki replika yang sama dengan The Punisher dalam bentuk fisik, hanya saja, seluruh pedangnya kini diselimuti dan dibentuk dari elemen petir ungu miliknya.

“Huh? Dia pengguna Aura tipe Weapon juga?”

“Aku jarang-jarang memilih cara ini, karena terlalu melelahkan.” Kata Luiz.

“Benar, kelemahan terbesar tipe Weapon adalah konsumsi Aura terus menerus selama diaktifkan.”

“Tapi... Aku juga tidak rela jika The Punisher patah.”

“Ha? Hahaha! Jadi begitu.” Kata Leena sambil tersenyum dan langsung tahu kemana dia harus menyerang.

“Gawat, aku main asal bicara saja!?”

SYUUUUUSSHHH !! 

Leena langsung bergerak cepat, menargetkan senjata kesayangan musuhnya itu.

“JANGAN SEKALI-KALI KAU SENTUH DIA !!” Amarah Luiz meluap-luap dan ia langsung mengayunkan aliran pedang listriknya itu ke Leena.

“Haha! Dia jadi kacau dan penuh celah!” Leena memanfaatkan momen itu dan langsung merubah target serangnya.

Sewaktu Luiz berlari menghampirinya, Leena langsung bergerak memutar dan menebas betis belakang Luiz yang sedang kacau. 

“UAAGGGHHH !!” Luiz tersungkur jatuh, lututnya lah yang menopang tubuhnya sekarang. “KAU !! AKAN KU !!” 

“Diam! Dan...” Leena menendang punggung Luiz. “Jatuh sana!”

“HWAAAAA !!”

BYURRR !!

“Dan pemenangnya! Leeeena !! Dari Lumen!”

“WOOO !!” Sahut sorak-sorai penonton.

“Leena!” 

“Leena!” 

“Leena!”

“Huft... melelahkan, sangat melelahkan.” Setelah menang, Leena menjatuhkan pedangnya dan duduk di tanah sambil tarik nafas sebentar. “Huahhh... Lega sekali, Lega... Aku tak tahu senjatamu begitu penting bagimu. Dan aku juga tahu rasanya memiliki senjata yang begitu penting. Aku tidak akan menghancurkannya lah. Dasar bodoh!”

“Kau pikir ini sudah selesai Hah?!” Ancam Luiz yang masih murka sambil perlahan-lahan naik kembali dengan memanjat menggunakan tangan yang begitu berurat saking kesalnya. Namun yang lebih mengerikannya lagi, ia naik dengan aliran listrik ungu yang diperkuat mengalir pada air di sekitarnya. Hingga seluruh kolam memiliki percikan listrik ungu yang kuat.

“Hah!? Pertarungannya kan sudah... kau mau apa lagi sih!”

“Aku tidak peduli! Yang pasti. MATI SAJA KAU !!”

“BLACK THUNDER STREAM !!”

BZZZZZZSSSTT !!

“Tu-tunggu!” Leena tidak siap.

CTARRRRRR !!

***