Episode 14 - All-Out Duel


“Hah... hah... Aku takut sekali, tapi aku sudah,” kata Fia dengan gugup dan nafas tersengal-sengal. “Menang...”  

Setelah merasa lega, Fia langsung kelelahan.

“Siapa bilang!” Sahut Alzen dengan tegas dalam posisi siap mendarat ke kolam pinggir Arena.

“Flame Burst !!”

Alzen menyemburkan api ke bawah dan membuat daya dorong ke arah sebaliknya yang ia manfaatkan untuk kembali berpijak di atas Arena.

“Hahh...!? Hosh... hosh... Dia kembali! Kalau begini sih.” kata Fia lemas, sambil bersandar di atas tumpuan tongkatnya. “Aku sudah tidak kuat lagi.”

“Kudengar dari Lio kamu seorang Healer tulen.” kata Alzen sambil berjalan mendekat. “Tapi ternyata, bisa bertarung juga.”

“Di-dia akan menyerangku,” Pikir Fia. “Tapi paling tidak.” 

“Aqua...”

"Flamethrower !!" 

Alzen dengan cepat mengarahkan tangan kanannya ke arah Fia sambil terus berjalan mendekat, dari tangannya Alzen menyemburkan serangan api ke Fia, meski dirinya masih bangkit bertahan menahan rasa sakit serangan Fia sebelumnya.

“Ti-tidak sempat lagi...” Fia panik. “Tidak cukup stamina dan Aura lagi untuk membentuk Aqua Protection secara sempurna.”

BRUUUSSSHHH !!

PLUUUPP!

“Hee!? Apinya? Berhenti?” Fia terheran-heran.

 Alzen muncul kurang dari selangkah di depan Fia.

“Maaf ya... Aku tidak berencana kalah di pertandingan pertama.” kata Alzen yang setelah selesai berbicara, langsung mendorong Fia yang berdiri di pinggir Arena. 

"Aaa... aku... aku... Aku Jatuh!"

"Salahmu sendiri, bertarung di ujung batas arena seperti itu." kata Alzen selagi melihat Fia tercebur. “Memang benar kata pak Lasius, saat staminamu habis di hadapan musuh yang masih bisa bertarung. Maka kamu akan tidak bisa apa-apa lagi selain menyerah.” 

"Pertandingan selesai! PEMENANGNYA !! Alzen dari kelas Ignis!"

Penonton ramai kembali. Sambil menerikan, ‘Ignis !! Ignis !! Ignis !!”

"To...Tolong! Aku tak bisa berenang!" Sahut Fia.

Alzen melihat kebawah, "Hee? Ternyata dalam juga kolam Arenanya."

“Tolong aku Alzen!”

Alzen menggunakan sihir airnya dan mengangkat Fia ke atas untuk menolongnya. “Bagaimana sih, penyihir elemen air tidak bisa berenang.”

Diatas Arena, Fia yang basah kuyup. "Hah... hah... Ahh sial! Aku kurang beruntung saja. Langsung bertemu salah satu penerima beasiswa dari ronde pertama. Ahh! Sial, sial, sial !!"

"Haha! Sial apanya? Kamu lawan yang kuat, lihat nih! Aku berdarah-darah dan baju robek-robek begini karena benturan kamu tadi." Alzen mengusap-usap hidungnya yang berdarah. "Masih lebih bagus dari basah kuyupkan?"

“Haa.. aah!” kata Fia. “Tapi tetap saja aku kalah! Kalau tak ada batas arena ini. Kau pasti sudah kalah!" Fia melampiaskan kekesalannya dengan menunjuk Alzen.

"Kalau tak ada peraturan satu elemen. Kamu juga sudah disengat sihir petirku!" Alzen mengeluarkan percikan petir di tangannya.

"...!?" Fia menelan ludah. "I... iya, untung saja ini arena..." katanya sambil menunduk.

“Sudah! Ayo naik,” Alzen mengulurkan tangan. “Tidak usah minder begitu. Pada dasarnya kamu ini seorang Healer kan.”

***

“Hah... syukurlah Fia baik-baik saja.” Lio bernafas lega. “Untung saja dia kalah dari awal. Makin lama makin sulit kan lawannya. Aku tidak mau dia terluka!” 

“Ckckck,” kata Chandra sambil geleng-geleng kepala. “Sesaat tadi kupikir Alzen benar-benar kalah. Tapi dalam sekejap keadaan berbalik. Dia ini sebenarnya hebat atau beruntung saja sih!” 

Sementara Lasius hanya melipat tangan tanpa berkomentar, tapi ia terlihat tersenyum sedikit. Rasa bangganya tidak diucapkan namun dapat dilihat.

***

Pertarungan selanjutnya, 

"Pertandingan selesai! PEMENANGNYA !! Luxis dari kelas Stellar!"

"Luxis... Luxis... Luxis!" sorak-sorai dukungan para wanita yang adalah fans orang ini.

Dan Luxis membalas mereka dengan ciuan di jarinya, lalu dengan gagah mengangkat tangan ke hadapan para pendukungnya. 

Luxis adalah penyihir es dari kelas Stellar. Ia berambut pirang panjang, berkacamata, di kelas dikenal sebagai pria cantik. Dengan pakaian jubah putih seperti pangeran kerajaan dan senjatanya adalah tongkat sihir seperti rapier. Ia jadi idaman para penonton wanita muda.

***

Pertarungan selanjutnya... "Joran dari kelas Terra Vs Sinus dari kelas Umbra."

“Umbra? Kelas apa itu?” tanya Chandra ke Lasius. “Bukannya Vheins cuma punya enam kelas?”

“Mereka bukan kelas,” jawab Lasius. “Umbra adalah perwakilan kelas Stellar yang fokus pada sihir elemen kegelapan. Jadi Umbra pada dasarnya bukanlah kelas secara terpisah. Mereka belajar bersama-sama di kelas Stellar.”

“Hoo... gitu.” kata Chandra. “Kelas Stellar diisi bermacam-macam elemen ya.” 

“Kalau tidak salah,” pikir Alen. “Anak berambut hitam acak-acakan itu kan?”

Sementara itu di Arena,

"Buset!? Lawan gue Golem !!?" Sinus sudah berkeringat dingin memandang lawan yang harus dihadapi di depannya.

Lawannya adalah seorang wanita kekar berotot, bernama Joran. Ia berkulit sawo matang dengan banyak luka sayatan di wajah dan tangannya. Memiliki rambut putih panjang dengan tinggi 2,3 meter. Dan orang seperti ini yang akan jadi lawan Sinus.

“Gi, gimana caranya melawan wanita kekar yang besar ini?!” Sebelum bertandingpu, Badan Sinus sudah lemas dan bercucuran keringat dingin.  

Joran datang mendekat, dan langsung berlari melancarkan serangan pertamanya dengan tubrukan badan besarnya. “HWAAARRRAAAA !!”

"A... A... A... Aku menyerah !!" Teriak Sinus merinding ketakutan sambil bersujud menutupi kepalanya seperti seorang pengecut. “AKU MENYERAH !!”

Di bangku penonton Umbra.

“Haa?” Kesal instruktur Umbra, yang bernam Volric. Hingga urat kepalanya timbul. “Anak itu! Sudah kupilih untuk bertanding kok malah menyerah sebelum bertanding!”

“Wajar kan?” Kata Velizar tanpa menolehkan wajahnya. “Baru pertandingan pertama saja, lawannya sudah seperti itu.”

“Tapi tetap saja! Jangan langsung menyerahlah!” Bantah Volric.

 “...” Sementar Nicholas hanya duduk melipat tangannya tanpa berkomentar.

"Apa? Pertarungan yang cepat sekali!” Kata Komentator. “Pemenangnya Terra. Joran!"

***

Setelah itu, saat Sinus kembali di bangku penonton Umbra,

"Gimana sih kamu! Sudah kupilih tapi malah langsung nyerah!" Bentak Volric.

"Gila aja! Kayak gitu dilawan, Bisa remuk semua badanku!" balas Sinus yang masih merinding ketakutan.

"Ahh... kalau lawannya begitu aku juga lebih baik menyerah." ucap Velizar datar, seperti orang yang malas akan segala sesuatu.

"Kalau wanita kekar itu sampai bertarung melawanku. Aku tak akan kalah darinya." ucap Nicholas dengan senyum lebar yang menyeramkan.

"Kau memang kartu as kita!" balas Volric, instruktur mereka. "Tapi kapan giliranmu bertanding nih!"

“Sama sepertimu guru, aku juga menunggu-nunggu giliranku.” balas Nicholas. 

***

“Pertarungan selanjutnya... Chandra dari Kelas Ignis Vs Nirn dari Kelas Ventus."

“Yes! Giliranku!” ucapnya dengan antusias.

“Berjuanglah Chan!” Alzen menyemangati, meski dirinya saat ini babak belur.

“Tunggu saja Alzen, aku pasti menang!” katanya sambil berjalan turun.

“Hoo... kamu percaya diri sekali.” Ledek Lio.

***

Alzen dan lawannya, Nirn. Telah berdiri dan saling berhadapan di atas Arena. 

"Wah... Wah... Wah... Api melawan angin ya? Kira-kira siapa yang akan menang ya." Nirn mengeluarkan Dual Dagger sebagai senjatanya.

Nirn memiliki badan gemuk yang membuatnya terlihat bulat, agak kontras dengan elemen angin yang fokus pada kecepatan. Ia memakai pakaian hijau dengan rambut batok berwarna pirang kecoklatan dan tampang yang pas-pasan. 

"Tunggu, tunggu... Memangnya boleh bawa senjata ya?" tanya Chandra.

"Tentu saja, Dasar bodoh!" 

"Geez, aku merasa terlalu percaya diri, tapi lihatlah Daggernya terlihat tajam sekali!" Chandra agak sedikit ketakutan dan mulai memikirkan strategi. " Mengingat apa yang sudah di ajarkan pak Lasius. Kalau begitu bertarungnya harus jarak jauh nih."

Nirn yang gemuk, memutar-mutar pisaunya. 

“Aero Enchanting !!”

Kedua pisau besinya kini diselimuti angin yang bisa terlihat oleh mata. Membuat ketajaman senjatanya meningkat.

"Oke! Aku coba ikutin caranya si guru gila itu bertarung." Chandra mengeluarkan sihir dan mengitari dirinya. 

"Fire Stance !!"

"Ohh... tidak mau menyerang duluan ya?" Nirn terus memutar-mutar pisaunya di kedua tangannya. "Tapi jangan salah! Aku juga bisa serangan jarak jauh!"

"Wind..." 

Nirn menghentikan putaran pisaunya dan mengayunkannya secara vertikal secara bergantian. 

"Cutter !!" 

Membuat tebasan angin yang datangan bergantian untuk mencabik-cabik Chandra.

"Kalau begitu..." Chandra bergerak cepat ke samping. "Tinggal menghindar saja..."

Melihat Chandra bergerak kesamping, arah tebasan Nirn-pun bergerak sesuai arah Chandra menghindar.

“Arah serangannnya terus mengikutiku ya?” Pikir Chandra sambil menghindar. “Tapi tenang, aku sudah belajar menghadapi situasi ini!” 

Chandra masih bergerak memutar, ia tak berani mendekati Nirn karena semakin dekat dirinya ke pusat serangan, semakin cepat Wind Cutter Nirn mengenai Chandra dan akan semakin sulit juga untuk dihindari.

Tangan kanan Chandra berselimut api, lalu ia hempaskan secara vertikal untuk menyerang Nirn dari jauh.

“Fire Blast !!”

Hempasan api berukuran besar menuju ke arah Nirn.

“...!?” Nirn bergerak secara reflek yang sudah terlatih. Ia langsung menghentikan tebasan anginnya dan langsung menancapkan kedua pisaunya ke tanah. 

“Aero Barrier !!”

Hempasan Angin yang bergerak dari bawah ke atas segera melindunginya dan arah haluan api Chandra terhempas ke atas karenanya.

“Ini dia!” Chandra langsung bersiap menyerang dengan pukulan api yang sangat besar, berkobar-kobar di tangan kanannya. “HYAAAA !!”

"Di... dia!?" Nirn melihat ke belakang. "Disana!"

Nirn langsung reflek menunduk, memutar tubuhnya 360 derajat

“Whirlwind !!”

Dan menebas dengan kedua Daggernya. Ke arah manapun yang ada di dekatnya.

"Celaka!? Dia menyadarinya?!" Chandra tanpa bisa berpikir panjang. Langsung meninju ke arah Nirn untuk menyerang sekaligus membuat pertahanan.

"Fire Burst !!"

“UAGHHHH !!” perut Chandra terluka sepeti disayat pedang. “Sa-sakit!!”

“HWAAA !! PANAS! PANAS!” Nirn belari kocar-kacir dengan api yang membakar dirinya. Nirn segera membuang kedua pisaunya ke tanah dan meng-cast sebuah sihir di tangan kanannya. Lalu menepuknya tepat di bagian dada.

“Wind Burst !!” 

Hingga keluar dari dalam tubuhnya sebuah hempasan angin yang luar biasa untuk segera memadamkan api yang membakar tubuhnya.

“Si-sihir apa itu?” kata Chandra sambil memegangi perutnya yang tersayat dan mengeluarkan darah. “Luka ini, benar-benar sakit sekali.”

“HWRAAAA !! Panas tahu! Dibakar begitu!” teriak Nirn dengan nada kesal. Sambil mengambil kembali pisaunya yang terjatuh.

“Haa? Dia masih bisa betarung. Lemak-lemak ditubuhnya pasti melindunginya dengan baik ya.” Pikir Chandra.

Sihirnya dibantu dengan medium senjatanya, tangan Nirn dimundurkan ke belakang, lalu dengan cepat ia menggerakan ke depan.

"Aero Stab !!"

Menimbulkan tembakan angin yang terfokus, dengan satu lintasan lurus ke satu titik di depannya.

“Meski sakit begini,” Pikir Chandra merintih kesakitan. “Terpaksa deh.”

Chandra meninju lantainya dengan sihir api dan membuat debu untuk kamuflase diri.

"Apa!?" Nirn menoleh kanan-kiri. "Tidak ada!?"

"Flame Side Kick !!"

"Sejak kapan!?" Perut di sisi kanan Nirn, terkena serangan Chandra secara telak. "UAGHHH!!"

"Pa-Panas! Panas!" Perut Nirn seperti terkena sentuhan langsung dari knalpot yang menyala, Kulitnya melepuh akibat serangan barusan. "Se-Sejak kapan kau, berada disampingku?!"

"Apa ada keharusan bagiku untuk menjawabnya?" kata Chandra yang sudah diatas angin. 

“Flamethrower !!”

Dengan kedua tangannya menyemburkan api yang sangat besar, secara terus menerus ke Nirn, lawannya.

Nirn menyilangkan kedua Daggernya, membentuk pusaran angin yang menahan semburan api Chandra, untuk tidak mengenai dirinya.

Beberapa detik kemudian... Serangannya. Lalu dari dalam kabut, Nirn muncul dengan badan dibanjiri keringat. Namun yang jelas, ia bangkit kembali.

"Senjatanya!? Berubah?!"

"Aku adalah pengguna Aura tipe Magic dan Enhancer." Dagger Nirn sekarang bertambah panjang, meski panjang Daggernya masih sama. Tapi kini pusaran angin membuat daggernya jadi sepanjang pedang. "Inilah kekuatanku yang sebenarnya."

"Aku tak peduli!" Chandra melancarkan serangan sihirnya kembali... Kini Ia meninju secara cepat dan terus menerus.

"Rapid... Fireball !!"

"Percuma saja!" Bentak Nirn.

"Bola Apinya? Satu persatu dibelah!?"

Pedang angin Nirn kini mampu membelah bola api yang datang padanya. Dengan bantuan sihir angin ia mampu bergerak cepat dan membelah bola apinya jadi dua.

"Jarak jauh tak berfungsi lagi. Dan dari tadi aku hanya membuang-buang Auraku yang terbatas ini.” Chandra berlari mendekat. “Kalau begitu, aku harus mengakihirinya sekarang... "

"Ohh... sekarang ganti serangan jarak dekat ya! Baiklah... kau akan jadi lebih mudah buat kucabik-cabik!"

Setelah berlari mendekat, Chandra meninju Nirn keras-keras dengan tangan kanannya yang diselimuti api yang kini sudah mulai mengecil dan melemah. “Aku harus menang!”

Namun, Nirn menangkisnya dengan menyilangkan kedua pedang anginnya. "Percuma! Percuma!"

Chandra sekilas terlihat tersenyum, dengan tangan kirinya ia meninju perut gemuk Nirn keras-keras.

"UAGHHH!!" Nirn memuntahkan darah. "Panas! Panas sekali! Perutku! Aduh perutku! Panas!"

"Hosh...Hosh..." Chandra terlihat berkeringat dan kelelahan. "Baru kalah kalau sudah menyerah atau masuk ke kolam ya... Hosh... Hosh... Sepertinya dia gak akan menyerah. Tapi saat dia berkata panas-panas itulah kelemahannya terbuka lebar."

"Sialan! Makanya aku benci lawan sihir api... Panasnya bukan main!" Nirn menggerutu. "Ehh?"

Chandra tersenyum sejenak. “Hmph! Kalau serangan ini tak berhasil juga, maka aku yang akan kalah.” katanya dalam hati.

Semburan api datang di hadapan Nirn, datang seperti sebuah tsunami api. Tepat! Di depan matanya.

“Terima ini Nirn !!” Sahut Chandra dengan segenap Aura yang tersisa.

"Wuaahhh! Apa-apaan itu!!?” Nirn terkejut dan ketakutan melihat bara api yang menjulang tinggi siap membakarnya. “Air! Air! Mana air!" Nirn terus mencari-cari, tapi sumber air yang tersedia hanyalah pinggir kolam. “Haa! Apa boleh buat!" 

BYUUUURR !!

Nirn melompat jatuh dengan sendirinya ke kolam pinggir arena.

"Seseorang telah tercebur di kolam pinggir arena. Hasil pertandingan telah ditentukan... Pemenangnya! Adalah! Chandra dari kelas Ignis!"

Chandra mengangkat tangan kanannya keatas sebagai pose kemenangan, melihat seluruh penonton 360 derajat menyoraki kemenangannya.

"Chandra!" 

"Chandra!" 

"Chandra!"

“Ignis!”

“Ignis!”

“Ignis!”

Chandra tersenyum senang atas kemenangnya. “Ahh... Aku capek sekali.”

BRUGGH !!

Chandra langsung terkapar di atas Arena.

***