Episode 13 - Vheins Battle Arena


?- Tournament Arc starts here  -

Hari ini Turnamen di Vheins Battle Arena dimulai.

Penonton dari penduduk lokal Vheins, pendatang dari kota-kota sekitar bahkan turis-turis dari negeri terdekat sampai luar benua Azuria-pun, antusias untuk datang menonton Turnamen yang diselenggarakan rutin setiap tahun ini.

Karena teknologi masih terbatas di era ini, mereka rata-rata datang menggunakan kuda pribadi atau menumpang transportasi umum yang adalah delman alias caravan menuju Greenhill. Mobil sudah ditemukan, meski hanya segelintir orang dari negara tertentu yang memilikinya. Belum secara merata dimiliki semua negara secara komersil.

Beberapa dari mereka yang datang menonton, berasal dari Guild yang mencari talenta-talenta baru, untuk di rekrut secara profesional ketika para pelajar tingkat 1 ini lulus nanti. 32 orang yang ikut bertanding nanti pastilah memiliki panggung yang lebih di mata para pencari bakat ini. 

Arenanya berbentuk seperti stadion sepak bola. Bentuk Arenanya persegi panjang, terbuat dari batu beton putih, dengan kolam air mengelilingi keempat sudut Arena. 

Setelahnya... Arena dikelilingi sepenuhnya oleh bangku penonton. Yang keramaiannya juga bisa disetarakan dengan ramainya penonton sepak bola. Di depan bangku penonton, disediakan 5 kursi untuk masing-masing peserta grup turnamen. Disediakan untuk 4 peserta dan 1 instruktur mereka. Totalnya ada 8 sisi yang dipisah oleh tangga.

Di belakang bangku peserta, disediakan bangku penonton dari kelas masing-masing yang adalah mereka yang tidak ikut bertanding. Baru di belakangnya lagi adalah kursi penonton secara bebas. 

Lapangan tanding ini juga didesain khusus untuk membantu semua elemen secara seimbang. Lantai batunya bisa digunakan penyihir elemen tanah untuk jadi medium mereka. Air disekeliling Arena, juga bisa dimanfaatkan mereka yang memiliki kemampuan elemen air.

Arena juga dilindungi sebuah barrier yang tidak kasat mata, transparasinya bahkan melebihi transparasi kaca. Hampir-hampir tidak terlihat namun membungkus Arena tanpa menganggu estetikanya. Jadi sihir-sihir dahsyat yang berbahaya di desain agar tidak mengenai penonton. 

Setiap Arena selesai digunakan. Maka secara otomatis Arena yang hancur-hancuran sekalipun bisa kembali seperti semula dan bisa digunakan seperti semula, untuk pertandingan selanjutnya. Yang adalah salah satu teknologi sihir yang dikembangkan Vheins sendiri.

***

Lalu di ruang tunggu, 

Lasius memberikan nasehat. "Ingat, anak-anak! Kalian empat orang terpilih! Aku percaya pada potensi kalian berempat! Kuperingatkan. Kalian tak harus menang tapi berusahalah sebaik mungkin. Kalian Mengerti?!"

Jawab empat orang terpilih itu serentak. "MENGERTI!"

"Bagus nak! Lakukan yang terbaik." kata Lasius sambil meninju telapak tangannya sendiri dengan ekspresi senyum bersemangat.

***

Kembali ke empat hari lalu, saat 16 pelajar tersisa bersaing untuk terpilih, mewakili Ignis di turnamen.

"Cukup!" ucap Lasius. "Aku sudah memutuskan siapa-siapa saja yang akan ikut turnamen. Empat orang yang ikut bertanding mewakili Ignis adalah..."

"Alzen, Kau yang pertama aku pilih!" Tunjuk Lasius.

"Haa!? Aku?!" Alzen tak menduga-duga.

"Tak diragukan lagi, pengetahuanmu akan sihir lebih unggul dari yang lainnya.” puji Lasius. “Kau bisa menggunakan sihir-sihir tingkat tinggi dan sudah terlatih dalam hal staminamu. Itu bagus! Meski beberapa kali aku lihat kau masih sering kelelahan ketika menggunakan sihir tingkat tinggi. Tapi tak masalah jika kau bisa mengaturnya dengan baik. Kamu aku pilih!"

"Baik guru!" jawab Alzen tegas sambil menegakkan diri.

"Chandra, kau yang kedua!"

"Beneran!?" Badan Chandra terlihat gemetar setelah mendengarnya. “Si-siap pak!”

"Untuk menjadi pintar... bergaulah dengan yang pintar. Hal itu ada padamu selama latihan ini. Kau bertumbuh secepat dan sebaik Alzen. Maka dari itu kau kupilih."

"Ma... Makasih guru!" Ekspresi Chandra terlihat gembira sekali, Ia bisa saja tersenyum sepanjang hari karenanya.

"Ketiga! Kamu... Lio!"

"Siap!" balas Lio hormat. “Pastilah...” Bisiknya dalam hati.

"Dari semua yang ingin sekali ikut turnamen dan memiliki kemampuan yang layak. Kau adalah orang yang paling ambisius soal turnamen ini. Terlebih, dari beberapa kali duel denganmu. Aku merasakan tinju dan tendanganmu menjadi semakin kuat dari hari ke hari. Kau memiliki Stamina paling baik di angkatan Ignis tahun ini. Maka dari itu kau kupilih!"

"Semua ini berkat guru!" Lio menunduk dan hormat padanya.

"Halah! Ngapain sih kamu begitu." Lasius malah meledek. “Sudah, sudah!”

“Hee?” dalam posisi menunduk, Lio memelas dan sedikit kesal.

"Ini semua karena kalian berlatih sungguh-sungguh,” kata Lasius. “Dan hasil yang bicara."

Ranni berdiri pesimis di paling belakang 16 orang yang tersisa, menunduk ragu, memejamkan mata dengan was-was "Aduhh... Aku pasti gak bakal kepilih. Aku kan sudah masuknya telat, urutan paling ter-"

"Ranni!" Teriak Lasius.

"Ya!?” Ranni langsung mendongak. “Ya, ya, ya, ya!?"

"Kau yang keempat." tunjuk Lasius.

"Be... Beneran!?" tanyanya yang masih tidak percaya.

"Hei! Kamu maju sini. Ngapain dibelakang situ."

Perlahan Ranni maju ke depan berjejer bersama 3 orang terpilih yang lainnya. "Ta...Tapi aku kan... Kalah..." ucapnya sambil menahan tangis.

Lasius membalasnya dengan menggelengkan kepala. "Itu tidak benar. Aku melihat potensi pertumbuhan yang besar dalam dirimu. Kamu cepat belajar, Kamu mau kerja keras, Kamu juga gigih. Walau terlambat lumayan lama, tapi kamu mampu mengejar mereka. Ya... meski kamu ini, agak pesimistis sih... Haha! Tapi kamu yang keempat!"

"Haa? Bu-bukan karena aku wanita kan?"

"Tentu saja! Bukan..." balas Lasius. "Jadi kau mau atau tidak?"

"Ma- Mau guru!" Jawabnya lantang.

"Oke!” ucap Lasius sambil memetik jari. “Jadi kalian berempat yang akan ikut turnamen 3 hari kedepan. Sekarang beristirahatlah. Yang tak terpilih. Kalian bukan kekurangan skill, hanya saja kurang beruntung. Mataku lebih melihat potensi besar dalam 4 orang ini."

12 orang lainnya yang tak terpilih hanya bisa menerima hasilnya saja.

“Kalian berempat! Beristirahatlah segera dan semangat!”

“YA !!”

***

"Selamat datang di... Vheins Magic Tournament!"

Penonton ramai berteriak membalas sambutan MC itu. (Master of Ceremonies, atau pembawa acara.)

MC menjelaskan peraturan turnamen, sambil menunggu peserta bersiap-siap. "Hari ini! Magic Tournament akan berlangsung kembali! Kita akan menyaksikan pertarungan pelajar tingkat 1. Wajah-wajah baru yang menghiasi kompetisi ini setiap tahunnya! Hanya ada 32 peserta dari ratusan pelajar tingkat 1 yang terpilih. Seleksi yang sulit, telah mereka lalui untuk sampai disini! Akan tetapi hanya akan ada 1 pemenang!"

Balas sorak-sorai teriakan penonton.

Seorang penonton berambut pirang pudar berkacamata mengenakan jubah penyihir yang terlihat mewah, berkomentar di bangku penonton dengan tangan terlipat. “Akhirnya turnamen ini di selenggarakan lagi. Gara-gara Fall of Dalemantia tahun lalu. Seluruh negara jadi sibuk ke sana.”

“Hush!” Tegur rekan di sampingnya. “Tidak perlu dibahas lagi, itu isu sensitif. Negara tiran itu sudah jatuh, dan setelah semua ini. Kelima negara Azuria yang lain akan hidup damai dan bebas dari perang.”

“Apa kau yakin?” Balas si pria kacamata itu.

"Pertandingan hari ini adalah pertandingan Round of 32!” Sahut MC. ”Dan hanya ada separuhnya yang akan lanjut ke babak selanjutnya. 8 grup dari masing-masing elemen yang ikut bertanding akan membawa nama kelas yang diwakili."

"DAN !!" Sambung MC. "Di ronde ini, kita akan acak masing-masing peserta untuk bertanding. Bisa saja kalian melawan teman kelas kalian sendiri atau bertanding dengan peserta dari kelas lainnya yang adalah Counter-Element kalian. Yang pasti hanya yang terbaik yang akan menang!"

Riuh sorak-sorai penonton bersautan-sautan sekali lagi.

"Selanjutnya biar saya serahkan pada panitia dan komentator yang mengambil alih jalannya turnamen."

Lalu panitia mengocok undi untuk setiap pertandingan yang akan dimulai. Jadi tidak dari awal semuanya di pilih secara acak ketika pertandingan sebelumnya sudah selesai. 

Hal ini dilakukan untuk yang muncul belakangan memiliki keuntungan yang sama dengan yang muncul lebih awal. Karena semuanya tidak tahu dengan siapa mereka akan bertanding nantinya. 

"Panitia sudah mendapatkan dua nama untuk pertandingan perdana ini!" Komentator membacakan undinya. "Fia! Dari Kelas Liquidum, Melawan ... "

"Alzen! Dari Kelas Ignis!"

Serentak penonton berteriak antusias menyaksikan turnamen ini.

"Haa? Aku sudah tanding duluan nih?" Alzen terlihat tak siap. Sambil menoleh ke teman-temannya.

"Tenang saja Alzen..." Chandra merangkul Alzen. "Lawannya kan dari kelas Liquidum. Yang rata-rata Role Support. Jadi kau akan menang dengan mudah. Tinggal JEDAR pake sihir petir."

“Haduh!” Lio menepuk dahinya. “Kenapa belum-belum Fia sudah bertanding saja. Lawannya kamu lagi Alzen.”

“Fia?” Alzen mengingat-ingat. “Ohh! Cewek rambut biru yang waktu itu ya.”

“Tolong jangan kejam-kejam sama dia ya.” pesan Lio. Dia murni seorang Healer, kenapa dipilih bertanding di turnamen sih!”

"Baiklah! Ini akan menjadi mudah." Alzen sudah memancarkan percikan listrik di tangan kanannya. Seolah ia ingin melancarkan One-Hit Kill (Sekali serang langsung kalah).

“Eits, Alzen!” Lasius memperingatkan. “A... a... tidak boleh menggunakan elemen lain selain elemen kelas kita.”

Angguk Alzen, “Aku mengerti guru!’ lalu segera ia bergegas turun ke Arena.

Alzen dan Fia masuk dalam arena. Tekanan mental pasti terjadi disini, Karena ini adalah pengalaman pertama buat seluruh pelajar tingkat 1 Vheins. Bertanding dalam pertarungan sihir sedemikian rupa dan ditonton puluhan ribu penonton, baik dari kaum penyihir maupun non-penyihir. 

Arena yang dipakai disini adalah yang dipakai juga sewaktu Alzen dan Aldridge mengikuti Ujian tes beasiswa. Beberapa bulan lalu.

"Sebelum bertanding..." kata MC menjelaskan. "Ada baiknya aku ingatkan sekali lagi untuk mengikuti peraturan yang ada."

"Pertama! Yang kalah adalah yang terpental dan tercebur dalam kolam di sekeliling arena atau sampai ada yang meneriakkan AKU MENYERAH! Lebih dulu."

"Kedua! Dilarang membunuh lawan tanding kalian, apapun yang terjadi. Dengan alasan apapun juga, tak sengajalah atau lepas kendalilah. Tanpa terkecuali. Kalian tidak hanya didiskualifikasi tapi juga terkena hukuman penjara. Jadi tolong kendalikan sihir kalian jika dirasa terlalu berbahaya."

"Ketiga! Untuk peserta yang bisa menggunakan lebih dari satu Elemen. Dibatasi hanya boleh mengeluarkan Elemen yang sesuai dengan kelasnya saja. Jadi Ignis hanya boleh menggunakan sihir api, Liquidum hanya boleh menggunakan sihir Air. Jika melanggar, maka akan dinyatakan kalah dan didiskualifikasi."

“Sejak dua bulan terakhir, aku sudah bisa kendalikan elemen apa yang boleh dan tidak kukeluarkan.” Pikir Alzen.

“Kata Lio, Alzen ini punya 3 elemen ya.” Pikir Fia. “Gi-gimana nih...”

Penonton bersuara memberikan tanggapan mereka masing-masing dan membuat ramai Battle Arena ini. Banyak yang kaget mendengar ini dan tak setuju. Tapi tak sedikit pula yang setuju. Karena tahun lalu turnamen tidak diselenggarakan karena perang besar. Maka dari itu, tahun ini Arena dihadiri dengan lebih banyak penonton.

MC berhenti berbicara dan dilanjutkan Komentator yang berada di pinggir tengah atas Arena. Dilindungi dinding kaca yang dilapisi Barrier.  

"Kami harus memberlakukan peraturan yang ketiga ini demi pertandingan yang adil.” kata Komentator. 

"Dan pertandingan pertama... Fia Vs Alzen !! ... Dimulai!"

Fia adalah murid dari Liquidum, Ia hanya bisa menggunakan Elemen air dan senjatanya adalah tongkat sihir dari logam yang membantu mengeluarkan sihir air dengan lebih baik. Ia memiliki sosok postur tubuh yang kecil, tingginya kurang dari 150cm, pendek sekali. Berambut panjang berwarna biru muda dan sifatnya yang pemalu membuatnya terlihat lemah.

“Baiklah!” ucap Alzen dengan semangat. “2 bulan lebih masa latihanku tidak untuk hal yang sia-sia.”

Alzen memulai sihir duluan. Ia menggerakan gerakkan tangannya dengan memutar. 

 "Fire Cloak !!" 

Alzen menyelimuti diri-nya dengan api.

"Waa...Waa...Waa! Gawat!" dengan gugup Fia menancapkan tongkatnya ke tanah, yang terbuat dari beton yang tahan sihir dan kuat. 

"Aqua...".

Sembari diselimuti api, Alzen mengumpulkan api di tangannya dan membentuk sebuah tombak. 

"Flame Lance !!" 

Alzen menembakannya dengan kecepatan tinggi lurus pada Fia di depannya.

Lalu, dari hentakan tongkat Fia, 

"...Protection !!" 

Fia membungkus dirinya di dalam bola air yang tebalnya 6 kali lebih besar dari tubuhnya, Air yang membungkus dirinya itu melindungi dirinya dari segala serangan api yang datang, dan memadamkan api serangan api Alzen yang tak menembus dinding Airnya.

“Huft... untung tidak terlambat.” Kata Fia dengan gugup, sambil membungkus dirinya di dalam air.

"Aqua Protection ya?” kata Alzen sambil melangkah mundur. “Aku sebenarnya juga bisa sihir itu dan tahu kelemahannya.” Pikirnya. “Padahal kalau bisa elemen petir, aku bisa langsung menang nih!" Alzen garuk-garuk kepala sambil berpikir. "Kalau begitu..."

"Flame..." 

Alzen membentuk api di kepalan tangannya dan melompat. 

"Burst !!" 

Api itu menyebar sampai selebar lapangan untuk menyerang Fia.

Tapi tetap saja, dari segala sisi. Sihir air Fia melindungi dirinya dengan baik dari apapun serangan api yang datang.

“Meski aku unggul secara elemen,” Pikir Fia. “Dan tahu cara mengalahkannya. Tapi aku takut mencobanya.” Selagi mengamati-amati, tubuhnya gemetar.

"Yah... masih tidak berguna juga ya." Alzen berlari mendekat. "Kalau begitu..."

***

Sementara itu, di bangku penonton Ignis.

"Alzen... kau terlalu berlebihan dan buang-buang tenaga." komentar Chandra saat menonton. "Lagian kenapa kamu bertarung seperti Battlemage sih?!"

“Kumohon Alzen, jangan sakiti Fia.” kata Lio yang menontonnya dengan was-was sambil terus menepuk-nepukkan kaki ke lantai.

***

"Dual..." 

Kedua tangan Alzen diselimuti api sekali lagi dan mendorongnya kebelakang punggungnya. Lalu, dengan cepat ia melesatkan kedua tangannya kedepan, 

"Fire Pierce !!" 

Dan menikam perisai air Fia dari jarak dekat.

Serangan itu hampir mengenai Fia yang berada di dalam bungkusan air tersebut, keseimbangannya goyah dan dirinya yang berdiri di pinggir arena, hampir terjatuh karenanya. Namun...

"Adududuh! Aku jatuh!" 

“Berhasil!” kata Alzen.

Namun Fia segara mengangkat tongkatnya dan menggerakan air dibelakangnya. “Ini saatnya!”

WOOOOSSSHHH !!

"Kraken Tenta !!" 

Air itu dibentuk Fia seperti tentakel raksasa dari air kolam di pinggir arena.

“Hah!?” Alzen tak siap, seketika sebuah tentakel raksasa yang terbuat dari air keluar dari kolam secara tiba-tiba. "Ce-Celaka! Aku...”

SYUSSSSHH !!

“UAAARRGGGHH !!” Tentakel itu memukul telak Alzen membentur dirinya ke tanah. "Ohogg!” Alzen memuntahkan darah dari mulutnya. Dan setengah sadar ia melihat tangannya merah. “Da-darah!?”

***

“Dasar bodoh!” sahut Chandra dari bangku penonton. “Kamu terlalu banyak main-main sih!”

“Bukan,” jawab Lasius. “Alzen daritadi juga mencoba menyerang dan segera mengalahkannya. Tapi api Alzen sulit menembus air yang melindungi Fia. Dia tidak diuntungkan secara elemen dan sesaat keadaan berbalik.”

“Cih! Aku benar-benar lupa.” Lio menepuk dahinya.

“Kenapa?” tanya Chandra spontan.

“Yang latihan untuk turnamen. Bukan hanya kita saja.”

***

Sebelum Alzen sempat bangkit, 

"Ka... Kamu ini kuat!” kata Fia dengan gugup. “Ja-jadi! Aku harus kalahkan kamu dengan segera!" Fia terlihat gelisah dan panik namun berusaha fokus pada sihirnya. Kali ini Ia akan mendepak Alzen ke samping dengan tentakel air-nya yang masih aktif dengan maksud mengeluarkannya dari arena. "Rasakan ini!"

PUSSSHHH !!

Alzen yang kesakitan dan belum sempat bangkit, dengan mudah di hempaskan tentakel raksasa itu.

“Hah... hah... Aku takut sekali, tapi aku sudah,” kata Fia dengan gugup dan nafas tersengal-sengal. “Menang...”