Episode 36 - Menang Telak



Gildur murka, menerjang tiap musuh yang datang, termasuk sesulur perak yang serasa tiada habisnya. Pun dengan bantuan Ragnarok, nyatanya ia masih kewalahan.

"Brengsek!"

Sulur perak menyeruak dari tanah, membelit lengan kirinya, disusul sepasang lagi yang nekat menjerat kedua kaki lelaki tinggi-besar itu. Tak mau kalah, Gildur bersikeras bergerak mendekati Ragnarok, tentu karena ingin lekas-lekas bebas. Selangkah demi selangkah diseretnya kaki-kaki itu di atas tanah kelabu memuakkan.

"Belum cukup," ujar Shota seraya merogoh ranselnya. Bukan botol merica seperti sebelumnya, tetapi kali ini tampak seperti pemantik api. "Jangan nangis, ya." Bocah bergigi gingsul itu bergegas menyulut sulur peraknya hingga menyala-nyala.

Di tengah riuhnya arena, terdapat sepasang lawan yang terlibat duel sengit. Bane, selaku ketua asrama sore takkan sudi bertekuk lutut di hadapan seorang berandal licik. Lawannya, Sully, menyeringai manakala asyik memutar-mutar sebilah pisau.

"Mundur!" Bane membentak, meski tahu pasti akan hasilnya. "Kalian tidak akan sanggup menembus pertahanan kami." Dia menyiagakan pedang besar serta sebuah perisai dari baja.

"Begitukah caramu menjamu tamu?" Sully cengengesan, sesekali melempar-lempar pisau bergeriginya. "Jujur, aku memang takkan mampu menembus pertahanan kalian. Akan tetapi, aku bisa melewatinya!"

Bane terhuyung ke belakang, kesulitan menghadang laju Sully yang tahu-tahu ada di belakangnya. Terlalu cepat, bahkan hanya untuk diamati. Buruknya, zirah perak Bane menambah beban psikologisnya yang nyaris ambruk.

"Ba-bagaimana bisa?"

"Ah, kita belum kenalan, ya?" Pemuda berkupluk itu mengerling ke belakang. "Aku Greg Sullyvan, Si penunggang angin dari asrama malam. Salam kenal!"

Tampaknya salam perkenalan itu telah menjawab semuanya. Sully adalah lucid dreamer tercepat di arena, sementara Bane termasuk prajurit lamban. Lantas, mereka memang tidak cocok diadu.

“Tunggu dulu!” Bane seketika mengacungkan pedangnya, berkilat-kilat merah, tegak-lurus terhadap angkasa. “Aku belum kalah.”

Entah mengapa, pedang tersebut bergoncang dahsyat, memaksanya pemiliknya lekas-lekas melempar ke atas. Bane berteriak, bersambut pecahnya Sang pedang menjadi kumpulan pisau-pisau kecil. Ada sekitar delapan bilah, melayang-layang siaga.

“Wah-wah, boleh juga.” Sully tersenyum licik.

“Serbu!” Selaras ayunan lengan kiri Bane, kesemua pisau pun memelesat ke arah target.

Sully bersiap, agak membungkukkan badan, seraya menggenggam pisau bergeriginya erat-erat. Tatkala serbuan pisau maut mendekat, ia dengan sigap beralih posisi ke kanan, tempat pertempuran masing-masing lucid dreamer. Pisau-pisau Bane yang telah deprogram sedemikian rupa tentunya masih mampu mengunci target sejauh puluhan meter. Maka dari itu, mereka seketika memelesat mengikuti Sully.

“Bagus!” Lelaki berjanggut tipis itu berseru girang. Bagaimana tidak? Ia sukses memancing senjata Bane menjadi malapetaka bagi rekan-rekannya.

Sekitar empat orang terlibat dalam perkelahian sengit, sontak saja terganggu oleh kedatangan gerombolan pisau tajam. Mereka terpaksa mengambil langkah mundur, sementara kubu lain kian nekat merangsek masuk.

“Oy! Tahan sebentar!” Secepat kilat, Shota menggiring perak-peraknya menjadi tembok besar. Setidaknya, itu bisa menghambat pergerakan musuh.

“Bodoh!” Gildur langsung bereaksi. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk menarik paksa sulur-sulur Shota hingga terangkat dari tanah. 

Lagi-lagi, nasib buruk menghampiri asrama pagi. Baru saja bisa mengembus napas, kini mereka kembali dihadapkan pada situasi sulit. Bane tak punya pilihan selain mengubah pisau-pisaunya menjadi bentuk semula. Shota pun tak bisa berkutik tatkala katu as-nya diremukkan begitu saja oleh Gildur.

“Jangan lewatkan kesempatan ini!” Sully memberi isyarat agresi terakhir, disusul amukan para punggawa asrama malam. “HABISI SEMUANYA!”

Mampukah perlawanan diupayakan? Sanggupkah Bane, Shota, beserta anggota asrama pagi lainnya melindungi menara mereka? Tiada yang tahu. Namun, keberhasilan kubu asrama malam juga belum terjamin sepenuhnya. Pasalnya, mega di angkasa mendadak berarak ke tengah, tampak mengelabu dan berkemilau.

“Apa-apaan lagi ini?” omel Gildur menengadah.

“Jangan hiraukan itu!” celetuk Sully, coba memokuskan rekan-rekannya. “kita hampir menang.”

Kubu asrama sore kian terkikis, sedikit demi sedikit terdorong ke belakang. Satu-dua orang dari mereka nekat menyerang, tetapi akhirnya kalah juga oleh sergapan musuh. Tinggal beberapa langkah lagi sebelum mencapai menara hitam bersinar-sinar itu.

“Sedikit lagi,” lirih Bane, mengangkat kedua tangannya, terpaku pada langit.

Sungguh beruntung. Anggota asrama malam yang kelewat nafsu menyerbu pertahanan musuh, pada akhirnya melupakan Bane. Dia tertinggal di belakang, tersembunyi di antara pepohonan, menunggu keajaiban tiba.

BRAK!

“Aduduh!” Shota terhuyung sesaat tembok peraknya ambruk. Bocah itu kehabisan upaya, begitu pun yang lain.

Tiada lagi pertahanan tambahan. Kini, kondisinya benar-benar mengerucut. Pertarungan antara tim penyerang melawan tim bertahan. Siapakah yang akan menang?

“TIME FREZE!”

ZBLARR!

Petir menggelegar, serta-merta menyambar semua punggawa asrama malam. Mereka seketika membeku, jatuh ke tanah layaknya patung memuakkan. Tak terkecuali Gildur, yang keduluan membeku sebelum mencapai Ragnarok.

Arena hening, lepas dari segala macam amukan brutal. Orang-orang asrama pagi perlahan bangkit, memandangi lawan mereka yang terbujur kaku. Sedetik setelahnya, Bane keluar dari hutan, menatap rekan-rekannya penuh kebanggaan.

“Skill pamungkasku.” Pemuda berkacamata kotak itu tersenyum. “Saatnya menyelesaikan pertandingan.”

“He-hebat!” sanjung Shota terkagum-kagum.

“Bagus!”

“Mantap!”

“Syukurlah.”

Bisa menghirup udara kemenangan adalah anugerah terbaik bagi Bane dan kawan-kawan. Ya, meskipun belum pasti, setidaknya mereka punya kesempatan kedua. Untuk itu, rencana demi rencana dikerahkan sembari memulihkan tenaga.

“Skill-ku hanya berlangsung selama sepuluh menit. Maka dari itu, kita harus menghancurkan Ragnarok terlebih dulu. Jika pemacu tenaga mereka dirubuhkan, beban kita semakin mengecil.” Berlagak khas pemimpin, Bane coba memberi pengarahan. “Setelah sepuluh menitnya berakhir, kita prioritaskan Si pembuat Ragnarok sebagai target. Mengerti?”

“YA!” Semuanya menyahut serentak.

Pembalasan dimulai. Shota, sesuai arahan tambahan Bane, bergegas membangun pagar-pagar perak di sekeliling menara mereka. Sementara itu, di bawah pimpinan Bane, punggawa asrama pagi yang lain beramai-ramai menghajar Ragnarok. Cukup sulit, sebab jarum itu punya kemampuan mengisap lucidity.

“Jangan gunakan atribut kalian. Kita harus mendorong benda ini sampai tercabut dari tanah!” instruksi Bane. “Satu, dua, TIGA!”

Enam orang menyatukan tenaga mereka, serentak mendorong Ragnarok sampai tergeser satu-dua senti. Namun, itu belumlah cukup. Di luar dugaan, ternyata Ragnarok menancap kelewat kuat. Bahkan, nyaris menyamai sebuah pohon.

“Bagaimana ini?” 

“Terus saja mendorong!” timpal Bane, mengerahkan tenaga terkuatnya.

Senti demi senti serasa mengangkat berton-ton batu di atas seutas tali. Satu per satu, anggota asrama pagi berjatuhan. Mereka tak kuasa memindahkan benda sedemikian kuat itu. Hingga, pada akhirnya hanya Bane yang masih tegar, bersusah-payah memperjuangkan kemenangan tim.

“Kami tidak boleh kalah,” gumamnya tersengal-sengal. “Kesempatan kedua, tidak semua orang memilikinya. HYAA!”

Berderak! Ragnarok akhirnya berderak. Pelan tapi pasti, benda tersebut ambruk ke tanah, menghapus kelam di seantero arena. Kendati demikian, Bane masih tidak percaya dirinya berhasil. Pemuda itu terperangah, memandang kedua tangannya yang meruntuhkan jarum raksasa itu seorang diri.

“Berhasil!”

“Akhirnya!”

“Masih ada harapan!”

“Baiklah. Ayo perkuat pertahanan kita!”

Pagar perak telah siap. Tinggal menunggu kepastian dari garis depan. Sayang, Roland sudah lama dilumpuhkan. Asrama pagi benar-benar butuh perubahan rencana.

“Tidak ada kabar dari Roland. Selain itu, kita belum melihat Sarasvati di sini. Mungkin, dia bertugas menjada markas asrama malam,” tukas seseorang.

“Kau benar,” sahut Bane. “Agaknya, kita harus mengirim bantuan. Ming-wa, Panji, Rufuss, kalian pergi ke garis depan! Sisanya tetap di sini bersamaku.”

“SIAP!”

Tiga pergi, meninggalkan empat orang di garis belakang. Kini jumlah keduanya imbang. Pada dasarnya, ini tetap saja merugikan bagi Bane. Sebab, mereka yang mulanya menang jumlah saja masih kewalahan, apalagi ketika tidak punya apa-apa untuk diunggulkan.

Hitung mundur menuju gelombang pertarungan kedua. Awan kelabu diangkasa berangsur-angsur menipis, serta-merta mengikis es semu yang membekukan punggawa asrama malam. 

“Bersiap,” ucap Bane tatkala melihat jemari Gildur bergerak-gerak. “Mundur ke belakang pagar!”

“Kurang ajar!” Sully meregangkan ruas-ruas lehernya seraya berdiri tegak. “Tak kusangka ada skill semacam itu.”

“Bedebah kotor! Mereka merusak Ragnarok!” Si lelaki tinggi-besar menyumpah. “Takkan kuampuni!”

Mendekati puncak pertandingan, kedua kubu dihadapkan pada masalah yang sama. Berpacu dengan waktu, berpacu dengan segenap tenaga yang ada. Bane berserta rekan melawan Sully beserta teman-temannya. Siapakah yang unggul? Siapakah yang pantas menjuarai kompetisi ini? Yang jelas, siapa pun yang menang, dialah asrama yang paling tangguh.

“SERANG!” Sully memajukan telunjuk.

“SERBU!” Bane merespons penuh keberanian.

Agresi dimulai. Kedua kubu sama-sama bersikeras menginvasi kekuasaan. Namun, kali ini asrama pagi telah dilengkapi rencana matang. Mereka segera berpisah, menghadapi asrama malam satu lawan satu. Shota di depan menara menghadapi kecepatan Sully, sedangkan Bane menghadang Gildur dengan gagah berani. 

“Sulurmu takkan sanggup mencapaiku!” Sully melompat-lompat di udara selayaknya rintik hujan. Orang itu lenyap, lalu kembali muncul di posisi berbeda.

“Aku akan berusaha!” Shota bersikukuh menggiring sulur-sulurnya mengiringi langkah Sully. Walau terkadang sulurnya menubruk ke sana-kemari, dia tetap mencoba fokus mengejar musuh. “Dapat!” Cukup mengejutkan! Kaki kiri Sully terbelit, belum terlalu kencang.

“Bodoh!” pemuda beralis tebal itu melompat, lebih tinggi dari sebelumnya, hingga sulur Shota putus. Setelah itu, dia memelesat menuju menara.

Di sisi lain, Bane berkutat pada pertarungannya sendiri. Gildur, meski tanpa Ragnarok, ternyata masih cukup kuat. Ia menahan tiap tebasan lawan, lalu mencuri kesempatan dengan mendaratkan sejumlah tinju ke perisai Bane.

“Aku pernah melihatmu di seleksi asrama,” ujarnya menyeringai. “Kau kalah, bukan?”

“Diamlah!” timpal Bane seraya mengayun pedang, bersungut-sungut. 

TING!

“Mengapa kau berusaha sedemikian kerasnya?” Gildur mencengkeram pedang Bane, mendorongnya ke bawah sekuat tenaga. “Kalaupun kalah, kemungkinan kau tereleminasi masih kecil. Bisa saja temanmu yang tidak berkontribusi sama sekali di pertandingan ini.”

“Kubilang diam!” Bane menyentak segenap tenaga, membuat pedangnya bebas dari sergapan musuh. “Kau tidak berhak mendikteku!” Ia kembali menebas.

“Aku menghargai keberanianmu!” respons Gildur seraya menangkap ujung pedang lawannya. “Tapi, kepalamu benar-benar keras, ya!”

Dia seketika membesar, dua kali lipat dari ukuran semua, membuat Bane tertutup bayangan. Pertarungan ksatria melawan seorang raksasa, sudah jelas akan pecah di tengah arena. 

Bane tahu dirinya takkan sanggup bersaing dengan Gildur. Maka dari itu, ia sepakat memecah pedangnya menjadi pisau-pisau kecil, dan mencoba menemukan kesempatan bagus untuk menyerang. Bagaikan lalat pengganggu, gerombolan pisau tersebut hilir-mudik menyeberangi kepala Gildur, serta-merta membuyarkan pengelihatannya akan Bane.

“Teman-temanku bukan tumbal! Mereka juga ingin menang dan berjuang bersama-sama.” Bane menyeru berapi-api. “Aku bukan sepertimu, orang kuat yang dikuasai hasrat besar. Aku ini adalah orang lemah yang membutuhkan teman untuk berjuang dan menang!”