Episode 14 - Tidak Sabar dan Frustasi



Untuk mencapai tahap penyerapan energi tingkat pertama, tubuh harus mampu menyerap energi murni yang ada di alam melalui pernafasan dan pori-pori. Waktu paling baik melakukan proses penyerapan energi adalah pagi hari sejak subuh hingga fajar, karena pada saat itulah energi murni di alam berada dalam kondisi paling murni. Karena itulah aku memulai latihan sejak sebelum subuh, dengan memakai kaos, celana training, dan sepatu kets, aku ijin berolahraga di luar. Lari pagi hingga taman, lalu berlatih penyerapan energi di taman. Jam setengah enam pagi aku kembali lari pulang ke rumah. 

Lalu setelah itu kulanjutkan dengan berangkat sekolah hingga sore hari. Sepulang sekolah aku melakukan berbagai latihan fisik dan kuda-kuda dilanjutkan lari sore hari. Kemudian pulang ke rumah sekitar jam delapan malam. 

Awalnya, orang tuaku sempat bertanya-tanya kenapa tiba-tiba aku rajin berolahraga. Dengan santai kujawab karena aku ingin membentuk tubuhku menjadi atletis agar lebih terlihat menarik. Setelah itu, orang tuaku tidak lagi bertanya-tanya, malah mereka memberikan dukungan dan semangat padaku.

Jujur saja, semua latihan itu terasa cukup berat bagiku. Mengingat sejak kecil aku tidak terbiasa melakukan latihan fisik kecuali saat pelajaran olah raga di sekolah. Namun aku merasakan keanehan pada tubuhku. Pada saat berlari, aku tidak merasakan kelelahan. Mungkin pada sesi latihan pagi wajar jika aku tidak merasa lelah, mengingat jarak lari ku tidak terlalu jauh. Namun pada sesi latihan sore, bahkan setelah berlari hampir satu jam non stop aku tidak merasa lelah. Pada saat rasa lelah mulai menjangkitiku, tiba-tiba saja kurasakan ada hawa panas merambat disekujur tubuhku, kemudian rasa lelahku kembali menghilang. 

Firasatku mengatakan keanehan tersebut ada hubungannya dengan tenaga dalam Sadewo yang mengalir melalui aliran darahku. Karena itu aku pulang hingga jam delapan malam. Aku berlari selama hampir empat jam nonstop dengan kecepatan cukup tinggi! Entah berapa jarak yang ku tempuh saat berlari karena aku tidak memiliki alat untuk menghitungnya. Sedangkan smartphone kutinggalkan di rumah. Tapi aku yaking sekali, bahkan pelari marathon profesional belum tentu sanggup melakukan hal yang sama denganku. 

Namun setelah selama seminggu aku berlatih, meskipun kurasakan tubuhku menjadi jauh lebih fit dan ada perkembangan pada tenaga luar-ku, namun aku tidak merasakan adanya aliran energi murni yang berhasil kuserap. Tanpa tenaga dalam, aku tidak bisa mengeksekusi jurus-jurus iblis sesat dengan sempurna. Beberapa gerakan yang kulakukan seperti kehilangan esensinya. 

Lebih parahnya lagi, saat aku nekat mengeksekusi beberapa gerakan tanpa menggunakan tenaga dalam, tubuhku justru mengalami cidera yang tak bisa dibilang ringan. Misalnya saja, sebuah jurus yang memerlukan kelincahan gerakan kaki telah membuat kakiku terkilir hingga agak membengkak. Menyebabkanku harus masuk sekolah dengan jalan terpincang-pincang keesokan harinya. Tapi untung dan anehnya, hanya dalam waktu satu hari berikutnya, luka itu sudah bisa dibilang sembuh. Memang pada dua malam ketika menjelang tidur, aku merasakan kakiku yang terluka dijalari kehangatan dari dalam. 

Sedangkan untuk bertanya pada Kinasih mengenai kenapa aku masih belum berhasil berlatih pengolahan tenaga dalam agaknya cukup sulit, mengingat dia tidak memberikan nomor kontaknya padaku. Satu-satunya cara adalah menemuinya di apartemen, tapi jujur saja aku agak sungkan untuk datang kesana. Tapi, aku benar-benar tidak tahu di bagian mana aku melakukan kesalahan dalam latihan ini. Semua kulakukan persis sesuai instruksi Kinasih dan buku jurus iblis sesat. 

Sempat terpikir olehku untuk melakukan sedikit modifikasi, namun karena aku sama sekali tidak tahu mengenai pengolahan tenaga dalam, aku khawatir modifikasi yang kulakukan justru malah akan mencelakakanku. 

Akhirnya, aku tidak sanggup lagi menahan diri. Pada akhir pekan, aku segera berangkat pagi-pagi menuju apartemen Kinasih di Jakarta Barat. Masih menggunakan moda transportasi yang sama, aku sampai ke apartemen tersebut kurang lebih empat puluh lima menit. Jauh lebih cepat dibandingkan saat pertama kali aku datang ke apartemen ini. 

Namun sesampainya di apartemen, aku kebingungan sendiri karena tidak tahu mesti melakukan apa agar bisa bertemu dengan Kinasih. Akhirnya aku bertanya pada sekuriti lobi mengenai proses yang dibutuhkan agar bisa masuk menemui Kinasih. Sayangnya, mereka juga tidak bisa memberikan ijin tanpa konfirmasi penghuni unit apartemen. Tapi kurasa masih ada cara lain, kenapa tidak menghubungi Kinasih dari sini? Tidak mungkin pihak sekuriti lobi tidak memiliki akses untuk menghubungi penghuni unit apartemen. 

"Bisa nggak pak kalau dihubungi dari sini penghuni suite nya? Unit nomor K/2089, namanya Kinasih.” 

“Sebentar ya dek.” Sekuriti lobi tampak mengerenyitkan keningnya lalu tampak mencari-cari sesuatu di layar komputer. “Namanya Kinasih?” sambung sekuriti tersebut.

“Iya pak.”

Sekuriti tersebut mengangguk sedikit sambil tetap mengerenyitkan keningnya. Kemudian dia mengambil gagang telepon dan mencoba menghubungi penghuni unit K/2089. Aku berdiri dihadapan sekuriti tersebut penuh harap sambil menguping pembicaraan telepon antara sekuriti dan penghuni unit apartemen.

“Permisi… mbak. Ada yang mau menemui mbak… Iya, namanya Riki. Katanya mau menemui Kinasih. Iya, unit K/2089. Aha… Oh… Oh gitu. Iya, terima kasih banyak mbak.”

“Gimana pak?” tanyaku tak sabaran tanpa menunggu sekuriti meletakkan gagang telepon. 

“Maaf dek, penghuni unit K/2089 tidak ada yang bernama Kinasih.”

Jawaban sekuriti membuatku tertegun. Mungkinkah Kinasih menggunakan nama lain di apartemen ini? Bisa saja dia memang menggunakan nama lain, mengingat saat terakhir kemari aku juga tidak bertanya pada pihak sekuriti. Kinasih telah menungguku di lobi dan langsung membawaku ke atas. Bahkan saat aku mendaftarkan namaku di buku tamu dan menukar kartu identitas, dia menunggu di kejauhan. 

“Lalu, penghuninya namanya siapa pak?” 

“Maaf dek, saya nggak bisa kasih tahu. Alasan keamanan,” jawab sekuriti dengan muka agak malas. “Tapi kadang-kadang memang ada yang menyewa unit apartemen dari pemilik aslinya. Mungkin yang adek cari cuma penyewa saja, dan sekarang sudah pergi dari unit itu,” lanjut sekuriti itu lagi. 

“Kalau saya ke atas, untuk ketemu sama penghuninya dulu bisa ngga pak?”

“Nggak bisa, dek.”

Aku masih belum sepenuhnya percaya penghuni unit apartemen yang sekarang bukan lagi Kinasih. Bisa jadi yang mengangkat telepon dari sekuriti tadi memang dia, tapi tidak mau mengaku dan tidak mau menemuiku. Tapi bisa jadi apa yang dikatakan oleh sekuriti tersebut benar adanya. Tapi masa iya hanya dalam waktu seminggu saja Kinasih sudah tidak tinggal di apartemen ini lagi? Lalu secepat itu unit apartemen digunakan oleh penghuni lain?

Aku hanya bisa menggaruk kepala yang tidak gatal. Kinasih menghilang begitu saja tanpa memberikan kabar apapun padaku. Memang sih dia tidak memiliki kewajiban untuk memberitahukan kepergiannya padaku. Bisa jadi dia menganggap pertemuan dan percakapan-percakapan kami hanya angin lalu saja. Aku saja yang terlalu berlebihan menganggap kami sudah memiliki hubungan pertemanan. 

“Baik, pak. Terima kasih, pak,” ucapku sambil melengos pergi. 

Lalu bagaimana aku meneruskan latihan pengolahan tenaga dalam jika sama sekali tidak memiliki seorangpun yang membimbingku?

Perjalanan pulang dari apartemen Kinasih jadi terasa sangat panjang. Pikiranku dipenuhi oleh berbagai praduga mengenai Kinasih. Semakin lama aku memikirkannya, semakin aku merasa khawatir. Apa mungkin Lembah Racun Akhirat telah mencium kejadian pertarungan antara Sarwo dan Kinasih, sehingga menyebabkan Kinasih harus pergi meninggalkan apartemennya?

Jika memang itu yang terjadi, maka alasanku berlatih pengolahan tenaga dalam semakin menguat. Bukan tidak mungkin Lembah Racun Akhirat juga mencium keberadaanku. Aku harus bisa melindungi diriku sendiri. 

Setelah melihat kiri dan kanan guna memastikan tidak ada orang yang bersikap mencurigakan di dalam bis. Aku kembali membuka buku jurus-jurus iblis sesat, konsentrasiku langsung tercurah sepenuhnya pada buku ini. 

Secara keseluruhan, jurus iblis darah adalah jurus tingkat pemusatan tenaga dalam. Artinya jurus ini mengakomodir jurus dan pukulan sakti hingga tingkat pemusatan tenaga dalam. Jurus ini terdiri dari seratus dua puluh empat jurus yang terbagi dalam tiga tingkatan tenaga dalam serta empat pukulan sakti yang bisa digunakan saat tenaga dalam telah mencapai tingkat pembentukan dasar dan pemusatan tenaga dalam. Tapi bahkan untuk mengeksekusi jurus-jurus awal yang paling dasar saja diperlukan tenaga dalam tingkat penyerapan energi. 

Aku menghela nafas pelan, sepertinya tak ada jalan lain. Aku hanya bisa meneruskan latihan pengolahan tenaga dalam sesuai petunjuk yang diberikan Kinasih dan buku jurus iblis sesat. 

Aku tidak langsung pulang ke rumah, tapi mencari tempat yang cukup nyaman untuk berlatih pengolahan tenaga dalam dan latihan fisik. Tempat yang tepat menurut pikiranku adalah taman di dekat rumahku. Taman tempatku biasa berlatih itu memang cukup luas, sehingga privasiku saat berlatih tidak akan terlalu terganggu. Untungnya saat berangkat ke apartemen Kinasih tadi aku sengaja menggunakan kaus dan celana training, untuk berjaga-jaga kalau di apartemen nanti aku berlatih. Sayangnya hal itu tidak terjadi. 

Sesampainya di taman, aku langsung memulai latihan pemanasan lalu dilanjutkan dengan berlari. Seperti biasa, aku berlari hingga satu jam nonstop berputar-putar di jogging track taman. Meskipun pakaianku basah oleh keringat yang bercucuran, tapi staminaku masih kuat. Setelah meminum air untuk menggantikan cairan tubuh, aku memulai latihan kuda-kuda. 

“Hei, lagi latihan beladiri juga?”

Saat sedang asyik berlatih, tiba-tiba saja sebuah suara dari samping mengejutkanku. Aku segera menghentikan latihan dan menengok ke arah datangnya suara. Seorang pria yang usianya kurang lebih seumuran denganku tampak memperhatikanku sambil tersenyum. Dia mengenakan pakaian latihan bela diri berwarna hitam. 

“Eheh…” Aku hanya senyum-senyum sambil menghindari kontak mata dengannya. Entah kenapa aku merasa sedikit malu dipergoki sedang berlatih kuda-kuda seorang diri. 

“Kamu pendekar silat juga ya? Dari perguruan mana?” Pria itu melanjutkan pertanyaannya. 

Deg!

Jantungku serasa berhenti mendengar pertanyaannya. Kakiku bahkan menggeser mundur sedikit, bersiap mengambil langkah seribu. Aku yang masih paranoid setelah mengalami penculikan oleh Sadewo dan penyergapan oleh Sarwo menjadi sangat sensitif dengan kalimat yang berhubungan dengan dunia persilatan. Hatiku langsung bertanya-tanya, apa pria ini juga orang dunia persilatan?