Episode 10 - Rakus, Egois dan Dendam.


Pak klimis berjalan masuk ke dalam rumah sambil berkata, “Ayo masuk juga.”

Aku bangkit dari kursi lalu berjalan mengikuti Pak klimis masuk ke dalam rumah.

Seperti yang aku harapkan, tidak hanya bagian luar, bahkan bagian dalam rumah tersebut sangat indah. Di ruang keluarga, sofa panjang di ruang tamu terlihat mewah. Foto keluarga di dinding berbaris rapi dan seirama dengan hiasan rumah lainnya. Lampu gantung silinder memberi pencahayaan pada ruangan dan memberi kesan tenang dan indah. Lantai dengan ubin berwarna biru muda bermotif teratai selaras dengan ruangan.

Aku terus berjalan mengikuti arah yang di tuju oleh Pak klimis, hingga akhirnya sampai ke dalam ruang makan. Meja makan di ruangan ini terbuat dari kayu yang telah dibuat sedemikian rupa, sangat indah. Meja makan dari kayu ini cukup tebal, kursi yang empuk dan tegap dipilih sebagai pendamping meja kayu tersebut.

Di atas meja terdapat vas bening kecil berisi batu sebagai hiasan serta lilin sebagai penerangan dan penguat nuansa damai pada interior ruangan ini. Ruangan ini di desain dengan kaca-kaca transparan hingga aku bisa menikmati pemandangan luar ruangan.

Di atas meja sudah berjejer berbagai hidangan yang didominasi oleh makanan laut. Dan terdapat kue kecil dengan sebuah lilin kecil yang telah disiapkan, kue itu tidak seperti yang aku bayangkan, aku kira kuenya akan sangat besar dengan tinggi sekitar lima lapis, namun kue itu sangat sederhana.

Setelah melihat sambil menilai semua yang ada di rumah ini, aku merasa seperti ... kurang kerjaan.

Pak klimis mengambil posisi duduk di antara istri dan Alice, sedangkan aku duduk sendiri di seberang meja makan.

Apakah pesta ulang tahun memang seperti ini?

Ini tidak terlihat seperti pesta ulang tahun bagiku, walaupun kurasa memenuhi syarat karena ada kue dan lilin.

Tapi ini lebih terasa seperti perjamuan makan atau ... sejenisnya. Hmm ... atau acara lamaran? Aku merasa agak canggung di sini. Aku adalah orang asing di antara keluarga kecil ini.

Aku menoleh ke samping Pak klimis, di sana duduk seorang wanita yang terlihat seperti diusia tiga puluhan, namun masih terlihat cantik dan menawan. Dia adalah ibu dari Alice.

“Sore tante,” ucapku ramah sambil tersenyum.

“Sore,” balasnya sembari tersenyum.

Apa yang harus aku lakukan? Ini masih sore, jadi tidak tepat untuk langsung makan malam ... ah, apa aku di undang untuk makan malam juga? Atau malah akan diusir langsung setelah Pak klimis tiup lilin?

“Ehem, Alice, coba ambilkan korek di kamar.” Pak klimis berkata sambil memanddang Alice.

“Di kamar?” jawab Alice bingung.

“Iya, di kamar papa, ada di kantung kemeja, tolong ambilkan ya!” ucap Pak klimis.

“Siap Pa!” Ucap Alice sambil memberi hormat lalu pergi.

“Sekarang giliran kamu!” ucap Pak klimis sembari menoleh ke arah istrinya.

“Oke, Danny, jawab pertanyaan tante jujur ya.”

“Eh? Ah, iya tante.”

Untuk yang terjadi selanjutnya ... aku merasa seperti tersangka kasus korupsi. Terus ditanya dengan sangat mendetil oleh ibu dari Alice.

Dia sangat cerewet.

Padahal aku kemari hanya untuk datang , memberi hadiah, lalu pergi.

Mmm ... tidak lupa makan dulu.

Tapi kenapa begini?

Tiba-tiba terdengar langkah kaki menuju ruang makan.

“Pa, koreknya tidak ada!” ucap Alice yang tampak suram.

“Oh, ya udah kalau begitu, kita langsung makan saja.”

Ah? Apakah dikeluarga ini waktu makan malamnya jam segini? Bukankah ini terlalu awal? Tapi ... ya sudahlah, setidaknya aku bisa cepat makan lalu pulang.

Selesai makan, aku memberikan hadiah yang telah aku persiapkan untuk Pak klimis, lalu secepatnya langsung pamit untuk pulang, akan tetapi aku ditahan untuk mengobrol dengan Pak klimis sampai malam datang. Setelah puas mengobrol, aku akhirnya bisa pulang.

Namun, sebelum pulang, Alice meminta aku untuk menemaninya ke taman di dekat rumahnya. Aku berjalan beriringan dengan Alice yang sibuk melihat langit berbintang.

“Danny, tadi ibuku tanya apa saja?” tanya Alice padaku.

Aku mengingat insiden mencekam itu dan tidak bisa tidak menggigil, itu membuatku sedikit trauma. Pantas saja banyak orang yang bilang kalau ibu mertua itu kejam. Tunggu ... dia bukan ibu mertua.

“Haha, bukan apa-apa,” jawabku singkat.

“Bohong!” balas Allice cepat.

“Haha....” Aku membalas dengan tawa canggung.

“Dia pasti bertanya yang aneh-aneh, maaf ya, dia memang begitu,” ucap Alice.

“Tidak apa-apa, jangan dipikirkan,” balasku.

“Lihat itu!” ucap Alice sambil menunujuk lamgit.

“Ada apa?” tanyaku bingung.

“Lihat, kalau bintang itu ... itu ... dan itu di satukan, terliihat seperti kupu-kupu,” ucap Alice sambil menunjuk bintang di langit.

Aku melihat arah yang dia tunjuk dan mencoba membayangkan garis menyatukan titik-titik bintang itu menjadi sebuah gambar.

Keren.

“Lihat, kalau yang itu seperti pesawat tempur, dan yang itu terlihat seperti bazoka. Haha, yang itu terlihat seperti helikopter.”

Aku menunjuk bintang-bintang di langit dan melakukan apa yang Alice lakukan sebelumnya, sementara Alice hanya tersenyum melihat aku.

Tidak tahu berapa lama aku dan Alice berada di taman, tapi ini menyenangkan. Lalu, akhirnya aku dan Alice pulang ke rumah masing-masing.

Ini hari yang melelahkan.

Aku sedikit bingung, lalu ... untuk apa kue dan lilin itu?

**

Alice membawa kamera digital favoritnya sembari bersenandung menuju kamarnya. Kamarnya ini adalah tempat paling suci, tidak ada orang lain yang boleh masuk kecuali dia ... tanpa terkecuali orang tuanya sekalipun.

Dia masuk lalu menyalakan komputer, kemudian memindahkan foto-foto yang baru saja dia ambil. Menyalakan printer dan mencetak foto itu dalam kertas foto. Setelah selesai, Alice berjalan menuju salah satu dinding di kamarnya, lalu menempelkan foto itu.

Bersama dengan ribuan foto lainnya.

Itu adalah foto Danny saat sedang berbincang dengan orang tuanya, dia mengambilnya dengan diam-diam.

Ribuan lainnya juga adalah Danny. 

Ada foto Danny saat masih kelas enam SD, dia memakai seragam merah-putih sedang mengemut permen dan memasang wajah bahagia.

Ada foto Danny saat SMP, dia sedang memakai seragam biru-putih dan berlari mengejar Rito.

Dan banyak foto-foto Danny lainnya.

Dia sudah melakukan ini sejak lama, lebih tepatnya setelah kejadian itu.

Alice selalu bertanya-tanya, apakah Danny masih ingat dengan hari itu?

**

“Risky, Rani maunya makan bakso!” ucap seorang gadis bernama Rani pada Risky Tohir, atau yang biasa Danny panggil Rito.

“Rani, warung baksonya tutup,” ucap Rito pada gadis bernama Rani itu.

Rani adalah pacar dari Rito, mereka sudah lama berpacaran, namun...

“Kamu ini ya, usaha cari warung lainlah, kayak mantan Rani yang dulu, dia pasti ngelakuin apapun buat Rani!” ucap Rani.

“Tapi warung bakso yang lain itu jauh, mending makan yang lain saja, ya?” balas Rito lembut.

“Kamu jahat, kamu jahat, kamu jahat,” ucap Rani memukul bahu Rito, “kamu bantah aku, padahal ayah Rani saja gak pernah bantah Rani.”

“Bukan begitu, tapi kondisinya gak memungkinkan,” balas Rito cepat.

“Apa sih susahnya? kalo mantan Rani pasti gak bakal protes,” ucap Rani marah.

“Aku bukan mantan kamu!” ucap Rito agak keras.

“Kamu jahat, kamu jahat, kamu jahat ... Kalo mantan Rani yang dulu pasti gak bakal bentak Rani, kamu jahat!!!” balas Rani dengan nanar.

Rito merasa muak dan marah dengan jalan pikiran Rani, akan tetapi dia tahan.

“Baiklah, kita cari warung bakso yang lain,” ucap Rito pada Rani.

“Hmm ... Rani sudah gak lapar, Rani mau pulang saja,” ucap Rani lalu melangkah pergi.

Akhirnya mereka tidak jadi untuk makan malam bersama.

Rito memandang langit malam yang penuh bintang, indah, itulah yang dia pikirkan. Namun, bukan yang dia rasakan.

Ini bukan yang pertama kali terjadi, sudah sering Rani terus marah-marah pada Rito dengan alasan tidak jelas, mengungkit-ungkit tentang masa lalu dan membandingkan Rito dengan mantan pacarnya yang lama.

Rito ingin putus dari Rani, itu tentu saja.

Namun, dia merasa ini bukan waktu yang tepat.

Rito kembali ke rumah. Suasanya sangat sepi, karena hanya dia dan neneknya yang tinggal disana, ayahnya sudah lama meninggal dan ibunya pergi bekerja ke luar negeri.

Rito pergi ke dapur, lalu membuat segelas kopi, dia merasa sepi.

Membawa kopi itu ke kamar tidurnya, lalu meletakkan di atas meja belajarnya, kopi itu terasa hangat, namun kehangatan kopi itu tidak menghangatkan hati Rito.

Rito berjalan menuju jendela dan melihat ke langit, terdapat bulan indah yang menghiasi tirai malam bersama gemerlap bintang. Dia iri pada bulan, karena tidak pernah kesepian. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba awan datang dan menutupi bulan, dia iba, karena dia merasakan apa yang dirasakan bulan.

Rito melangkah menuju rak bukunya, dia menatap semua koleksi bukunya, semua tentang militer dan sejenisnya, tapi ada satu yang berbeda, itu adalah buku tebal dan kumal.

Rito membuka buku tua itu dan melihat tulisan-tulisan lamanya, di dalamnya berisi banyak puisi-puisi yang dia tulis untuk Rani dulu. Namun, semua itu tidak berarti lagi.

Rito mengambil kopi yang telah dia buat tadi, meneguknya sekaligus. Saat membuat kopi ini, dia menambahkan banyak gula, akan tetapi manis yang bibirnya rasa terasa pahit untuk hatinya.

Selesai menghabiskan kopi itu, Rito berbaring di kasur sambil menatap ke langit-langit kamarnya, mengepalkan tangannya, dia sudah membuat keputusan, lalu perlahan menutup mata.

Keesokan harinya, saat jam istirahat.

Rito berjalan menuju kelas Danny.

“Dan, dimana si ketua kelas?” tanya Rito pada Danny sambil melirik ke sekeliling kelas XI A.

“Eh, ngapain cari ketua kelas?” tanya Danny penasaran.

“Aku ada perlu dengan dia?” balas Danny cepat.

“Dia mungkin di perpustakaan, dia kan anak teladan,” ucap Danny.

“Oke, aku pergi dulu,” ucap Danny lalu pergi.

Pada siang hari.

Di sebuah restoran.

Rani dan Rito duduk berhadapan.

“Rani, silahkan pesan apa saja yang kamu mau,” ucap Rito sambil tersenyum.

“Kok tiba-tiba sih, lagi ada apa memangnya?” tanya Rani sambil membuka menu makanan.

“Haha, ini hari yang tidak akan terlupakan,” jawab Rito.

Tiba-tiba, ada seorang gadis datang lalu duduk di samping Rito.

“Siapa kamu?” tanya Rani sambil mengerutkan dahi.

“Perkenalkan, namaku Chaca,” ucap gadis itu datar.

“Risky, siapa dia? Kok tiba-tiba duduk di samping kamu?” tanya Rani marah.

“Oh, perkenalkan, dia pacar aku,” ucap Risky sambil tersenyum pada Chaca, “Aku mau mengenalkannya pada mantan pacar aku,” ucap Alise sambil menoleh ke arah Rani.

Rani tertegun lalu segera mengerti, dia berdiri lalu berteriak “Kamu ... brengsek!!!” teriak Rani lalu berlari keluar dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ini yang kamu mau?” tanya Chaca tanpa ekspresi.

“Haha, aku tahu ini salah,”

Namun, setidaknya aku bisa menyembuhkan luka di hatiku, pikir Rito.